MasukChang Yun mencoba untuk merangkak menjauh dari Li Mi yang berjalan dengan terseok-seok ke arahnya. Pedang di tangan lelaki itu telah terangkat dan siap untuk menghujam tubuh Chang Yun. Tiba-tiba dari arah samping kanan Li Mi meluncur beberapa kerikil ke arah tubuhnya.Lelaki itu menoleh lalu menangkis dengan pedang biru di tangannya. Trang! Trang! Dua kerikil berhasil di tangkis, namun satu kerikil berhasil menembus lehernya hingga darah pun menyembur keluar dari lubang di lehernya tersebut. Li Mi menatap penuh amarah ke arah Bayu Seta.Namun tubuhnya tak bisa berbuat banyak, dengan satu lemparan kuat pedang biru itu menembus perut Bayu Seta. "Mati kau bajingan sialan..." umpat Li Mi lalu sejurus kemudian tubuh nya roboh di atas tanah bersimbah darah. Beberapa saat kalinya terlihat kejang lalu diam tak bergerak lagi. Bayangan hitam di tubuhnya pun ikut lenyap masuk ke dalam tubuh Li Mi. Bayu Seta merintih kesakitan. Chang Yun berusaha bangkit meski dengan susah payah. Darah mengal
Jaka Geni semakin terpesona oleh godaan Putri Nanyang. Dia lupa dengan Tabib Dewa.Yang saat ini ada dalam pikirannya adalah Putri Nanyang. "Bagaimana kamu bisa secantik ini putri?" tanya Jaka. Putri Nanyang tersenyum manis. Di bukanya pakaian pemuda itu hingga nampak tubuh penuh otot dan perkasa milik Jaka Geni. Tangan gadis itu membelai lembut dada sang pemuda hingga ke perut membuat Jaka memejamkan matanya menahan perasaan yang hampir meledak."Tubuhmu sangat kekar dan gagah, jujur saja aku baru pertama kali melihat lelaki bertelanjang dada di depan mataku. Kamu adalah pria istimewa yang pertama dalam hidupku," ucap Putri Nanyang dengan suara lembut dan basah. Jaka Geni semakin tak bisa menahan hasrat yang telah dia pendam. Dengan gerakan sedikit kasar, dia cengkram bahu Putri Nanyang lalu menarik pakaian itu hingga melorot kebawah. Jaka Geni terpana melihat keindahan yang menawan di depan matanya. Wajah Putri Nanyang memerah melihat tatapan liar pemuda itu. Entah kenapa, hasra
Li Mi melompat saat tinju Chang Yun menerjang ke arah batu. Dalam sekali pukul batu itu hancur berantakan. Aura petir membungkus setiap pecahan batu tersebut. Li Mi berteriak marah lalu menerjang ke arah Chang Yun. Tangan Li Mi bergerak cepat ke arah gadis itu. Chang Yun menangkis menggunakan lengannya. "Gadis bodoh!" umpat Li Mi. Saat telapak Li Mi berhasil di tangkis oleh Chang Yun, dari telapak itu sesuatu menembus lengan Chang Yun seperti kekuatan tak terlihat. Chang Yun terhempas setelah kekuatan itu melabrak dadanya. Tubuhnya terguling beberapa kali di atas tanah berbatu. Li Mi tertawa cekikikan. "Masih bocah sudah berlagak jago di hadapan ku, sungguh menyebalkan!" Chang Yun merangkak di atas tanah untuk mencoba berdiri. Dia merasakan dadanya sesak setelah terkenal pukulan Li Mi yang sangat aneh. "Dia berada di tanah Langit. Sudah pasti aku tidak akan mampu melawannya..." lirih Chang Yun. Li Mi menggerakkan bahu nya yang terasa sakit dan linu. "Sial, ternyata buka hany
Pasukan kerajaan memburu Bayu Seta hingga ke dalam hutan Luoyang. Mereka melacak jejak kaki lelaki tua itu. Li Mi memimpin pasukan itu bergerak ke dalam hutan. Meski dia baru saja tiba dari selatan, tapi perburuan ini membuatnya bersemangat. "Kaisar akan mengakui ku jika aku berhasil menangkap tahanan ini." batin Li Mi penuh ambisi. Bayu Seta terus bergerak hingga sampai di sebuah sungai kecil. Di sana ternyata ada lima orang prajurit yang tengah bertugas menjaga aliran air. "Siapa itu!" teriak salah satu penjaga. Bayu Seta melemparkan pecahan batu ke arah lima orang tersebut. Tiga di antaranya tewas seketika terkena lemparan batu yang tepat menembus kepala mereka. Dua prajurit itu berteriak keras lalu menyerang Bayu Seta. Pertarungan pun terjadi. Lelaki tua itu melawan dengan serius. Hanya empat jurus dua prajurit itu pun tumbang. "Pengganggu," ucap Bayu Seta lalu bergerak meninggalkan tempat itu. Beberapa saat kemudian Li Mi datang ke tempat dimana ada lima mayat tergeletak.
Yang Chu dan Yo Fan masuk ke dalam kamar sang putri. Mereka menatap sekitar dan tak mendapati hal yang mencurigakan. Setelah yakin tak ada siapa-siapa di kamar itu, mereka berdua pun pamit pergi setelah meminta maaf karena telah mengganggu ketenangan Putri Nanyang. Gadis itu pun menutup pintu dan menguncinya. Saat dia masuk ke dalam kamarnya dilihatnya Jaka Geni sedang duduk di pinggiran kasur. Putri Nanyang heran, bagaimana kedua orang tadi tidak melihat keberadaan Jaka Geni, padahal ruangan itu tak begitu luas. Sembunyi dimanakah pemuda itu? pikir gadis itu penasaran. "Siapa yang mengijinkan mu duduk di atas tempat tidurku?" tanya Nanyang sambil bersandar di pintu. Jaka Geni segera beralih dan duduk di lantai kamar yang terbuat dari batu pualam. Terasa dingin dan menyegarkan. Putri Nanyang tersenyum lucu melihat kelakuan Jaka Geni yang terlihat serba salah. Jaka Geni selama ini menjadi orang yang di puja dan di kejar-kejar wanita. Namun kali ini,dia salah tingkah di depan Putr
Jaka Geni tak bisa berucap apa pun melihat pemandangan yang terlalu mempesona. Dia tertegun dan hanya menatap gadis itu tanpa berkedip hingga tanpa dia sadari... Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Jaka dengan cukup keras. Pemuda itu tersadar seketika dan melihat seorang gadis yang tengah menatapnya dengan wajah cemberut. Wajah itu terlihat memukau sehingga Jaka tak berkutik dan hanya cengengesan sambil mengusap pipinya yang baru saja kena tampar. "Siapa kamu!? Apakah kamu buronan yang di bicarakan Cheng tadi?" tanya Putri Nanyang. Jaka Geni tidak langsung menjawab, dia menatap sejenak mata gadis itu. "Aku memang buron. Tapi aku bukan penjahat." kata Jaka Geni.Mata putri Nanyang menatap tajam. Lalu tiba-tiba tangan Nanyang menarik Jaka Geni masuk ke dalam ruangan miliknya. "Kamu tunggu di dalam kamar ku, ada prajurit wanita datang kesini," ucap Nanyang lalu meninggalkan ruangan itu. Jaka menatap ruangan yang di penuhi bunga dalam pot dan lukisan ikan sungai Yangtze. "Indah
Setelah berhari-hari berlatih di hutan Yao Chang, akhirnya Chang Yun berhasil menguasai kekuatan petir tahap ke tujuh. Itu artinya dia siap mendalami pelatihan yang lebih keras lagi. Yaitu berlatih Ajian Gledek Sambar Nyawa. Jaka Geni bangga dengan pencapaian Chang Yun yang menurutnya luar biasa.
Para prajurit itu semakin naik ke atas bukit. Utari Dewi baru merasakan hawa kehadirannya setelah jarak mereka cukup dekat. "Celaka!" seru gadis itu dalam hati. Dia segera memakai pakaiannya lalu melesat kembali ke dalam hutan. Para prajurit pun sampai di tempat Utari mandi tadi. Mereka celinguk
Sesosok tubuh yang tergeletak itu bergerak. Perlahan dia duduk sambil mengerang. Dia pegang kepalanya yang terasa sakit. "Apa yang terjadi..." ucap pemuda itu sambil mengernyit menahan sakit. Dia mencoba mengingat terakhir kali yang terjadi pada dirinya. "Aku ingat... Pemuda berpakaian putih itu
Pertarungan Jaka Geni dan Jiang Liang masih berlangsung dengan sengit. Mereka sama-sama mengeluarkan jurus andalan. Jaka Geni yang biasa bertarung menggunakan tangan kosong, sedikit kelimpungan bertarung melawan ahlinya ilmu pedang. Apalagi Jiang Liang terkenal dengan kec







