FAZER LOGINKevin menunduk sejenak, meresapi beban dari restu yang baru saja ia perjuangkan setengah mati, sekaligus dinding tebal yang baru saja kembali ia hadapi."Saya rundingkan dulu dengan orang tua saya, Om. Nanti saya kabari," jawab Kevin lirih, namun tegas, menjaga wibawanya di hadapan ayah wanita yang sangat ia cintai."Pa, Mama nggak setuju!" teriak Rima, dengan nada tinggi yang memekakkan telinga.Sena menghela napas berat, menoleh pada istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan peringatan. "Ma, yang menjalani mereka berdua. Kita nggak usah ikut campur terlalu jauh.""Tapi, Pa...." Rima melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Kevin seolah menguliti pemuda itu hidup-hidup."Nggak ada tapi-tapian. Biarkan mereka dengan keputusannya," potong Sena final, tidak memberi ruang bagi perdebatan lanjutan.Sena kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Kevin yang berdiri dengan punggung tegap meski sorot matanya menyiratkan lelah."Nanti kalau sudah ada keputusan, hubungi Rosa langsu
Sore yang cerah sama sekali tidak mencerminkan atmosfer di dalam kediaman keluarga Rosa. Sebaliknya, badai besar seolah baru saja menghantam rumah mewah itu. Suara bantingan pintu dan pecahan barang terdengar bersahut-sahutan dari lantai atas.Rima masih tidak bisa menerima kenyataan. Kemarahannya yang sempat tertahan di restoran tadi, kini meledak sepenuhnya begitu mereka menginjakkan kaki di rumah."Kamu benar-benar anak tidak tahu diuntung, Rosa!" pekik Rima dengan napas memburu, berdiri di ambang pintu kamar Rosa yang terbuka lebar. Matanya menatap tajam ke arah koper besar yang tergelosor di atas tempat tidur.Rosa tidak menjawab. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tegang, ia terus memasukkan beberapa pakaian dan barang-barang pentingnya ke dalam koper. Diamnya Rosa justru membuat Rima makin naik pitam."Mau jadi apa kamu di luar sana? Hah?! Kamu pikir hidup dengan modal 'cinta' dari laki-laki miskin itu bisa bikin kamu kenyang?!" cecar Rima lagi, suaranya
Langkah Rosa terhenti tepat di luar lobi restoran. Angin sore berembus, mengiringi kemunculan seorang wanita berpenampilan modis yang tiba-tiba memotong jalannya."Kamu Rosa, kan?"Rosa mundur selangkah, menjaga jarak aman. "Iya, kamu siapa?""Aku Olivia, kekasihnya Kevin." Wanita itu bersedekap, menatap Rosa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Aku peringatkan kamu, jangan pernah mendekati Kevin. Dia milikku."Rosa menatap wanita di hadapannya tanpa kedipan. Riak cemas di hatinya langsung sirna, digantikan oleh rasa percaya diri. "Bukan aku yang mendekatinya, tapi ia yang selalu mendekatiku!" ujar Rosa, suaranya terdengar renyah namun menohok."Bohong! Pasti kamu yang menggodanya!" Olivia mulai emosi, suaranya meninggi hingga memancing perhatian satu-dua orang di parkiran."Kalau dia benar-benar mencintaimu, sekuat apa pun aku menggodanya, ia tidak bakal tertarik," balas Rosa telak, membuat Olivia bungkam sesaat karena syok.Di saat Olivia sudah meng
Rey menyesap kopinya, tatapannya lekat pada Rosa yang tampak gelisah di sofa ruang kerjanya. Suasana kantor yang tenang di lantai atas itu kontras dengan raut wajah adiknya yang kusut."Mama masih memaksamu dengan perjodohan konyol itu?" tanya Rey tanpa basa-basi.Rosa menghela napas panjang, memutar-mutar bolpoin di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia tidak berhenti, Kak. Rasanya seperti dikepung dari segala sisi.""Lalu?""Untungnya Papa masih waras," Rosa mendongak, matanya berbinar kecil. "Papa bilang, kalau aku sudah punya seseorang yang serius, aku hanya perlu membawanya menghadap. Beliau akan menimbang sisanya."Rey meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras yang memecah keheningan. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum jahil yang jarang ia tunjukkan. "Wah, itu lampu hijau yang besar, bukan? Tunggu apa lagi? Ajak saja Kevin!"Seketika, rona merah menjalar dari leher hingga ke telinga Rosa. Ia mendadak sibuk dengan ujung blusnya, mencoba menyembunyikan seny
Rima melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang privasi Rosa, lalu berbisik dengan nada yang jauh lebih dingin dan mematikan. "Menikah dengan Anton akan membuatmu hidup tenang dan nyaman," bisik Rima lagi, kali ini tangannya mencengkeram dagu Rosa dengan cengkeraman yang menyakitkan, memaksa putrinya itu menatap langsung ke dalam matanya. "Tanpa posisi Papa dan Mama, tanpa nama besar keluarga, kamu bukan apa-apa di luar sana, Rosa. Hanya seorang wanita biasa yang harus memeras keringat untuk sekadar makan. Apakah itu masa depan yang kamu inginkan?"Rosa memalingkan wajahnya, melepaskan diri dari cengkeraman sang ibu. Ia merasa muak dengan kata-kata itu, kata-kata yang selama ini menjadi racun yang secara perlahan membunuh kepercayaan dirinya."Jika harus memilih antara kenyamanan semu di dalam sangkar emas ini atau hidup jujur dengan keringatku sendiri, aku akan memilih yang kedua, Ma," jawab Rosa dengan nada suara yang kini lebih mantap. "Setidaknya, saat aku tidur nanti malam, aku t
Tepat pukul dua belas siang, suasana di restoran fine dining itu terasa menyesakkan bagi Rosa. Ia duduk di antara ibunya, Rima, dan Tante Ana yang terus menebar senyum lebar, seolah sedang merayakan sebuah kemenangan besar. Di seberang meja, Anton duduk dengan punggung tegak, wajahnya sedatar papan kayu."Nah, mumpung anak-anak sudah di sini, mari kita pesan makanannya. Bagaimana kalau kita bicarakan tanggal lamarannya bulan depan?" Tante Ana membuka percakapan dengan nada riang yang membuat perut Rosa mual.Rima mengangguk antusias. "Setuju. Rosa, kamu sudah lihat kan foto-foto apartemen yang Mama kirim? Itu hadiah untuk kalian."Rosa memutar gelas air mineralnya. Tangannya sedikit dingin, tapi tatapan Rey sebelum ia berangkat tadi terngiang di kepalanya: Jangan beri celah."Ma, Tante," suara Rosa memecah keheningan yang seharusnya manis itu. Ia meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras. "Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku dan Anton ingin mengatakan sesuatu."Rima berh
Kevin segera mengalihkan tatapan, tangannya mendadak sibuk merapikan letak remote TV yang sebenarnya sudah rapi. Ia berdeham, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik.“Tidak juga,” ucap Kevin rendah. “Cocok malah.”Rosa tertegun. Matanya membulat menatap Kevin, seolah sedang memproses
Cahaya matahari pagi mulai menyelinap malas melalui celah tirai, menari di atas permukaan sofa abu-abu. Rosa mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan menyapu kulitnya.Begitu kesadarannya pulih seutuhnya, Rosa tersentak kecil. Ia baru menyadari kepalanya masih bersandar
Kevin menoleh cepat. Sorot matanya tajam, berusaha menekan keterkejutan yang membakar suasana.“Apa maksudmu, Rosa?” suaranya terdengar seperti geraman rendah yang berbahaya.Rosa tidak berpaling. Di balik matanya yang basah, sisa kehancuran itu kini berganti menjadi tekad nekat. Ia tidak ingin lag
“Aku sedang belajar,” bisik Rosa sambil menunduk, membiarkan rambut menutupi wajahnya yang kuyu. “Belajar melupakan. Tapi ternyata, aku murid yang bodoh. Aku gagal lagi.”Kepalanya terasa seberat batu, perlahan terkulai menuju meja bar yang dingin. Namun, sebelum keningnya menyentuh permukaan kayu,







