Share

Bab 165

Author: Elyssa
Sampai di sana, Fredric tiba-tiba kembali menoleh ke arah Darlene yang duduk di seberangnya.

"Jangan-jangan kamu tertarik sama klienku ini?"

Kenward tidak membantah maupun mengiakan, hanya balik bertanya dengan nada datar, "Kamu sudah terima kasusnya?"

"Belum ...."

"Kalau begitu dia bukan klienmu."

Fredric membuka mulut, tetapi tidak menemukan celah untuk membantah.

Suasana di meja makan seketika menjadi canggung. Namun, Kenward tetap tenang dan berkata dengan santai, "Jangan pedulikan aku. Kalian lanjutkan saja."

Darlene dan Fredric terdiam. Ketiganya saling terdiam, sampai akhirnya Fredric menjawab ponselnya.

"Baik, baik ... saya segera ke sana."

Setelah menutup telepon, Fredric menoleh ke Darlene, lalu ke Kenward.

"Ada sedikit urusan di pihak klienku. Aku pamit duluan. Biaya makan sudah kubayarkan, kalian berdua silakan lanjut mengobrol."

Saat hendak pergi, dia membungkuk mendekat ke telinga Darlene dan berbisik pelan, "Nanti kita kontak lagi."

Fredric pun pergi terlebih dulu. Namun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 172

    Setelah Peter selesai rapat dewan, dia langsung mengemudi menuju Gedung Konferensi Internasional, bahkan hampir menerobos lampu merah. Sambil melirik jam dan menghitung waktu, dia berlari begitu turun dari mobil.Saat dia mendorong pintu aula terbuka, Darlene tepat sedang melepaskan karya rancangannya dari kepala model di atas panggung. Hiasan rambut itu tidak simetris.Ketika Darlene mengaitkan dua ujung renda logam yang menjuntai, dalam sekejap hiasan rambut tersebut berubah menjadi sebuah model tiga dimensi.Peter tersenyum penuh arti. Darlene menang. Bahkan sebelum nilai diumumkan, dia sudah bisa memastikan hasilnya.Tepuk tangan menggema dari bangku penonton.Adelio, yang baru kembali dari toilet, berdiri dengan wajah penuh semangat dan bertepuk tangan.Tak jauh dari sana, Swara juga ikut bertepuk tangan, ekspresinya dipenuhi ketidakpercayaan. Darlene tidak mengatakan apa pun. Dia hanya memperlihatkan karyanya kepada para juri dengan tenang. Dia percaya, karyanya sendiri sudah cuk

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 171

    Dilihat dari sisi perhiasannya saja, hiasan rambut karya Darlene adalah yang paling menonjol.Swara menatap Darlene yang sedang menunduk serius mengoperasikan mikroskop. Semakin lama dia melihat, alisnya semakin berkerut."Aku benar-benar nggak tahu kalau bos kita punya keterampilan setinggi ini?" Fanny menyenggol Niken dengan sikunya."Apa mataku yang salah? Dia ini pakai teknik pemasangan seperti apa? Aku sama sekali nggak melihat capit logamnya," ujar Niken dengan wajah tercengang.Di barisan depan, Garry dan Lorentio yang duduk di kursi VIP masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri."Wanita bernama Darlene ini ...." Garry terlebih dulu membuka mulut, tatapannya tidak lepas dari panggung. Lorentio malah merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ekspresi wajahnya berubah-ubah.Bagi orang awam, menyaksikan proses pembuatan perhiasan secara langsung adalah hal yang sangat membosankan. Adelio sudah hampir tidak tahan setelah duduk selama dua jam. Namun demi melihat Darlene, dia bertahan

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 170

    "Darlene, semangat!"Belum sempat Darlene mengeluarkan karya setengah jadinya, sorakan penyemangat sudah lebih dulu terdengar dari bangku penonton.Darlene mendongak dan melihat Adelio berdiri di tribun, melambaikan tangan dengan bersemangat ke arahnya. Dia tertegun. Tak lama kemudian, Adelio ditegur oleh petugas dan dengan wajah masam duduk kembali.Adelio datang menonton kompetisi desain perhiasan saja sudah cukup mengejutkan bagi Darlene. Tidak disangka, dia bahkan berteriak memberi semangat padanya di depan umum. Hal itu membuat Darlene merasa serba salah dan kebingungan.Di meja kerja sebelah, meskipun mengenakan riasan manis dan elegan, Gianna tetap tidak bisa menyembunyikan ketidakpuasan di wajahnya.Apa maksud Adelio? Kenapa dia hanya memberi semangat pada Darlene saja?Gianna tidak percaya bahwa dengan dirinya berdiri begitu jelas di atas panggung, bahkan tepat di samping Darlene, Adelio bisa tidak melihatnya. Perubahan sikap Adelio terhadap Darlene sebenarnya bukan sesuatu ya

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 169

    "Nggak usah, aku nggak butuh apa-apa. Lagian, kamu sudah kasih aku banyak sekali barang.""Kali ini berbeda ... kali ini untuk merayakan kamu juara."Saat mengatakan itu, Kenward melirik ke arah Darlene. Pandangan mereka tanpa sengaja bertemu.Darlene segera mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk merapikan koper. Lengkungan senyum di bibir Kenward semakin jelas.Garry dan Lorentio sama-sama merasa pemandangan Kenward dan Gianna yang tampak enggan berpisah itu benar-benar mirip sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Mereka pun tak bisa menahan diri untuk menghela napas dan merasa iri pada pasangan muda."Kamu itu ... yang direkomendasikan Pak Peter, ya ...."Baru pada saat ini Garry benar-benar memperhatikan Darlene."Pak Garry, Pak Lorentio ...." Darlene menyapa dengan inisiatif sendiri. Namun, tatapan Garry padanya malah penuh rasa tidak suka."Dulu kamu yang datang sendiri minta kesempatan padaku, tapi akhirnya bahkan nggak menyerahkan karya jadi." Ucapan Garry membuat ingatan D

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 168

    Darlene tersenyum tipis, lalu bertanya pada Gianna, "Bu Gianna bayar berapa untuk sewa Pak Kenward jadi asisten? Dua ratus juga?"Kata "juga" itu membuat senyum di wajah Gianna sedikit membeku. Dia segera merangkul lengan Kenward, "Kenward, kok Darlene bilang begitu sih? Mana mungkin kamu semurah itu?""Pokoknya kalau dia jadi sopir pengganti, tarifnya 200 ribu," kata Darlene sengaja mengungkitnya.Melihat reaksi Gianna, jelas dia tidak tahu bahwa malam itu Kenward yang mengantar Darlene pulang.Darlene memang ingin bercerai dari Kenward. Namun, itu tidak menghalanginya untuk menikmati perasaan puas setelah membuat Gianna tidak nyaman.Tatapan Gianna ke arah Kenward jelas penuh rasa ingin tahu tentang apa sebenarnya yang dimaksud dari "dua ratus" antara Kenward dan Darlene. Sayangnya, pandangan Kenward sama sekali tidak beralih dari wajah Darlene."Bukan cuma jadi sopir pengganti 200 ribu," kata Kenward santai, "Temani tidur juga segitu."Ucapan itu keluar begitu saja dari Kenward. Kal

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 167

    Saat itu, Gianna masih menjabat sebagai manajer di departemen desain perhiasan Grup Bramantyo.Di mata Swara, Gianna adalah sosok yang sangat berbakat. Selain itu, Gianna juga cantik. Swara merasa, pria mana pun yang normal tidak mungkin tidak menyukai perempuan yang cantik sekaligus berbakat seperti Gianna.Namun, perempuan seperti Gianna malah menganggap Darlene sebagai pesaingnya. Karena itu, Swara merasa Darlene seharusnya memang memiliki sesuatu yang luar biasa.Setelah sketsa itu selesai digambar, Darlene baru menyadari bahwa Swara berdiri di sampingnya sejak tadi."Ada perlu apa?" tanya Darlene.Swara tersentak kembali ke dunia nyata. Dia hendak menyerahkan kopi itu, tetapi begitu dilihat, kopinya sudah dingin."Nggak apa-apa ...."Dengan sedikit canggung, Swara meneguk kopi dingin itu sendiri, lalu berkata, "Aku lihat kamu menggambar dengan sangat serius, jadi nggak berani mengganggu. Tapi, tema final kali ini terlalu abstrak. Jadi kamu berencana mendesain robot? Tapi bukankah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status