เข้าสู่ระบบBagaimana rasanya jika kita memiliki suami, mertua, adik ipar yang toxic? Seperti kisahnya Embun Hartawan. Don't Judge Book by it's Cover, Lempar Batu Sembunyi Tangan, Air Tenang Menghanyutkan, adalah peribahasa yang membenarkan dalam kisah rumah tangganya Embun. Belum lagi Embun harus dihadapkan dengan keluarga pasangan yang terlalu cinta harta, membuat mereka pelit. Tidak hanya itu, sifat pelit itu ternyata menurun kepada anaknya yang menjadi suami Embun, yaitu Toro Kusnadi. Peribahasa "Buah Tidak Jatuh Jauh dari Pohonnya" membenarkan dalam kisah Embun. Wajah polos dari suami Embun, mertua, dan iparnya menjadi senjata andalan mereka untuk berlindung dibalik topeng palsu itu. Ditambah lagi keluarga dari suami memiliki saudara angkat yang menjadi sendok dalam rumah tangga Embun. Kerikil dalam rumah tangga Embun yang seolah melemparinya, semakin lama semakin berubah hingga kerikil-kerikil kecil menjadi Batu yang semakin besar, yang terus menghantam rumah tangganya. Bagaimana akhir kisah cinta Embun? Apa sajakah bentuk dari batu yang menghantam rumah tangga Embun? Apakah dirinya akan sanggup mempertahankan rumah tangganya? atau merelakan rumah tangganya hancur?
ดูเพิ่มเติมLAURA'S POV
“Father please!” I cried as the whip hit my back, ripping into my skin because of the thorns on it. I cried profusely and pleaded that my step father spare me but all my pleas fell on deaf ears.
I lived with my mother after the death of my father and after a while, my mother remarried. My step father was the sweetest before he got married to my mother but he changed.
As soon as he got into the house, he became the worst, he made sure he seized every opportunity to hit me but whenever my mother was around, he became nice and sweet.
“I’ll make life unbearable for you until you plead for death.” He snarled as he hit me again. I couldn’t cry out loud because he threatened to make sure the number of my lashes increased if I cried out.
Holding back my tears, I wondered what I'd done to make him hate me so much. I was so happy when he joined the family but now it seemed like I met my doom with him.
The whip dropping to the back of my neck jolted me out of my thoughts, I was already on the floor and crying, I looked up to meet his gaze and it was burning with anger.
Staggering and finding a way to stand up, I rushed down from where I was to another side of the room. The pain was unbearable and although I’d tried to hold back my tears, I couldn’t do it.
“I’m sorry.” I apologized amidst tears but he wasn’t listening to me and I knew just then that he’d made his mind up to not spare me.
I sobbed bitterly and prayed silently that my mother would come back home. I silently prayed that my mother would open the door and eventually find out how horrible her husband had been to me. I had no more strength to run or even plead for mercy anymore.
Giving up, I closed my eyes as the pain hit me one after the other. This is what usually happens whenever my mother leaves me alone with my stepfather.
I shouldn’t have agreed to the marriage when my mother sought my consent.
The remarriage only brought me pain and agony, constant torture and frequent prayers to be taken away by the grim reaper. Whenever other kids my age say things about their father, I only keep shut and listen to them.
I wanted to be able to say nice things too but how would I be able to do that when my real father is dead and my stepfather is a beast.
The lashes stopped suddenly and I just laid down there in pain, the sound of the door closing shut made me realize that he left the room already.
I don’t deserve to be treated like this, I was treated like a slave in my own mother’s house. At age eighteen I already have bruises adults even older than me didn’t have. Not even slaves were treated this way.
I curled up in a ball and cried till my eyes threatened to fall out of their sockets. The agonizing pain I felt in my stomach made me fling my eyes open and there he was.
His shadow hovering over me again, my lips quivered and I tried to stand up but I was stripped of every ounce of strength left in me.
“What do you think you’re doing?” He asked, his voice coming out in a roar and every growl of his got to me.
“You think wretched bitches like yourself get to sleep?!” He added before yanking me up with my hair and my head spun.
The pain pulsated through every part of my body as he dragged me out of the room and outside. I closed my eyes, I couldn’t fight anymore.
Maybe this is it. Maybe this is when he’ll kill me and I can finally be at peace.
Picking me up by my throat, he threatened that he’d kill me if I didn’t follow his lead to where we’re going and I have to stop crying.
I swallowed the bile at the back of my throat in fear and I felt a hard slap across my face, I staggered for a while before holding onto one of the trees for support.
“You better behave or you’ll have yourself to blame!” He growled and I struggled to stand properly. Part of me wanted to just challenge him and tell him to kill me if he feels I’m some sort of bad luck.
Not saying anything, I followed him as we made our way through the woods and soon, he stopped in his tracks. Stopping with him and moving closer to see the men standing in front of us, I froze.
My stepfather went to them and they spoke for a while, all they said was inaudible so I couldn’t hear. Curious, I watched as one of them left the group and soon returned with another man.
It was easy to tell that he’s an Alpha. The ground shook with every step he took and his face was pitch black because of the hoodie he had on.
He stopped in front of us as he removed his hoodie but I couldn’t get a clear view of his face because I couldn’t look directly at him. His pheromones are so strong that I fell to my knees weak at once.
He crouched in front of me and lifted my face so I was staring at him. My heart beat so fast that it felt like it was going to jump out of my chest.
He had shoulder length hair that spilled over his face. His face was set in a hard, determined expression as his red eyes glazed with anger and I swallowed my spit again when he touched me.
He took my neck in his hands and his grip was so tight that I found it difficult to breathe properly as I threw my head back and let the tears fall freely.
Who is this man and why did my stepfather bring me here?
“You can have her, she’s all yours.” I heard my stepfather say.
"Mbak Embun, mari kita berganti pakaian yang lain." Perias itu menghampiri dan membantu Embun untuk masuk kedalam rumah. "ini, usap air matanya." Toro mengulurkan kertas lunak persegi kepada Embun. Tisu itu tak cukup mengeringkan air mata Embun. Dirinya terus mengeluarkan air mata didalam kamar. Embun bertanya kepada perias, apakah make up diwajahnya luntur. Perias itu menggelengkan kepalanya dengan bibir yang melebar. "Sabar ya mbak, pasti sedih sekali." Nada perias menenangkan hati Embun. Hanya menganggukkan kepala yang menjadi tanggapan Embun. Alih-alih bisa mereda air yang mengalir di pipi, justru air itu semakin deras membasahi pipi. Embun merasa dirinya hanya seorang diri yang ditinggalkan oleh keluarganya. "Yang sabar ya mbak, tidak perlu didengar." Alunan suara perias terus mengiringi hati Embun. Siang itu, Lambung Embun dan nasi belum bertemu, musik di perut menjadi irama dari pengumuman bahwa dirinya telah lapar.
“Ayo, ayo. Duduk di sini, Bu.”Melihat rombongan Bu Minah yang sedang memasuki tempat acara, Ayah Toro nampakmenyambut para rombongan keluarga angkatnya itu secara langsung dan mencarikantempat duduk paling depan. Semua itu berbanding terbalik dengan sikap dirinya terhadapbesannya. Orang tua Embun beserta rombongannya hanya melihat dengan datar saja.Sesekali, untuk mengusir rasa take nak hati, ibunya Embun tersenyum ke arahtetangganya yang sedang berada di kursi panitia penyambutan tamu.Tak lama, sosok ayah Toro dan panitia acara menghampiri beberapa orang yangrupanya telah menduduki kursi barisan pertama. Mereka diminta untuk pindah darikursi yang telah mereka duduki, sebab rombongan Bu Amina dinilai lebih berhakuntuk duduk di kursi paling depan ini. "Mungkin memang sudah diatur sedemikian rupa ya Bu,kita memang dari awal diminta untuk duduk di sini, bukan duduk di kursi bagiandepan. Tapi saya lihat, para panitia merasa tidak enak dengan kita semua."Ibu Sejuk hanya ters
“Selamat pagi.” Embun kemudian tersenyum kepada orang yangada di dalam dan membungkukkan badan menuju ke kamar Toro yang pintunya tepatberada di dekat Bu Minah.Mata yang melihat dengan sinis dari bawah hingga ke atas melihat Embun membuatEmbun sangat risih dengan sikap itu.Embun masih sabar dengan perlakuan saudara angkat keluarganya Toro itu. Dirinyamemilih untuk berdiam diri di dalam kamar Toro dengan tukang make up yang sudahmenunggunya."Sudah makan belum, kamu?!" Tanya mamanya Toro ketus kepada Embun.Embun hanya menggelengkan kepalanya."Jam segini kok belum makan, nanti pingsan saja." Imbuhnya. Bu Minahnampak sumringah mendengar ucapan mamanya Toro kepada Embun saat itu.Entah setan apa yang merasuki mamanya Toro sehingga sikapnya sedikit berubahkepada Embun. Padahal sebelumnya, mama kandung suaminya itu bersikap lebihlembut padanya.Alih-alih memikirkan kejanggalan tersebut, ia pun memutuskanuntuk membuka gadgetnya dan mengirim pesan melalui aplikasi hijau.Ia menca
Embun merasakan tangan Esta menggenggam erat tangannya. Iamasih merasa was-was, khawatir kembali menerima kalimat toksik saat nanti bertemudengan ibu angkat Toro lagi."Kak, bagaimana kalau nanti aku melihat orang itu? Akutidak bisa berpura-pura tak terluka di depan semua orang. Rasanya berat sekalikak." "Sudah, tidak usah dipikirkan. Itu urusan kakak."jawab Esta tegas."Kakak mau apa? jangan melakukan hal yang fatal ya kak. Kasihan Ayah danIbu." Sahut Embun.Esta tak menjawab tetapi semakin mempercepat langkah kakinya, hingga membuatEmbun tertarik."Agak cepat, biar kita bisa cepat juga siap-siap. Kan kamu harus di makeup juga." Ucap Esta dengan suara naik turun karena melajukan langkahkakinya.Sesampainya di sana, Embun dan Esta disuguhi dengan pemandangan yang super epikdengan seseorang yang disebut-sebut sedang pingsan karena kelelahan. Namundirinya terlihat sehat dan santai dengan kaki kanan berada di atas kaki kiri,juga ditambah dengan gadget yang ada di tangannya.
"Sudah kamu istirahat saja. Besok kamu kan sehariandipajang di pelaminan itu.” Esta mengusap perlahan punggung Embun dari atas ke bawahuntuk menenangkan adiknya yang sedang bersedih. “Yang penting kamu hati-hati.Besok kami pulang, do'akan kami juga supaya selamat sampai tujuan. Semoga kamubisa
"Mas, aku mau bicara. Boleh?" Ucap Embun dengansuara lirihnya tepat ketika Toro baru saja memasuki kamar dan merebahkan diridi kasur usai menemui tamu yang datang.Tamu tersebut adalah keluarga besar Toro yang baru datang menjelang tengahmalam.Embun menghela nafas panjang lalu berbalik menghada
"Ma, Embun pakai baju yang mana ya untuk menemui tamu?" Ucap Embun malam itu yang sedang berada di kampung Toro dalam acara ngunduh mantu."Pakai itu saja sudah bagus, sudah sopan. Lagi pula siapa yang akan melihat malam-malam begini. Orang-orang juga tidak akan memperhatikan." Jawab mama mertua Em


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.