로그인Besok paginya, Arkan berpamitan pada Fiona. Untung lah ibunya ini sudah memiliki asisten rumah tangga sehingga ia tak perlu khawatir lagi meninggalkannya seorang diri.
Setelah puas mendengar tangisan Fiona yang tak menginginkannya pergi, barula Arkan pergi ke rumah sewa. Oh.. perasaan ini jadi berat sekali. Lagi-lagi dia harus menebalkan hatinya karena harus berpisah dengan orang-orang yang dikasihinya. "Hai.." sapa Arkan saat Aluna membuka pintu.Genggaman tangan Arkan melemah. Perlahan dua tangan mungil yang sedang di dekapnya itu terlepas. Pria ini memalingkan wajah, seperkian detik ia mengembalikan wajah itu ke semula. Dimana ada Aluna yang berjalan mendekat. Berhadapan sejajar dengannya. Aluna meraih jas pria itu. Merapikan dasi yang terlihat miring. Mengancingkan jas coklat muda yang ia pakai dan mengusap bahu jas tersebut untuk memberikan kesan terakhir. Wanita ini mengangkat wajahnya. Mata itu nampak terkejut. Apa yang barusan ia lakukan? Lupakah Aluna jika keduanya adalah sepasang mantan? Arkan menatap wanita itu dengan hangat. Seolah cinta yang dulu sempat patah kini kembali tumbuh dengan sehat. Sejenak keduanya membeku dalam kebisuan. Seakan menikmati rasa baru yang tumbuh dalam hati keduanya. Abi dan Ditha tertawa melihat orang tuanya bersama. Mereka bermain. B
Hari berjalan dengan baik, enam bulan ini banyak sekali perubahan yang terjadi di warung ayam yang sudah berganti nama ini. Begitu juga dengan pemilik warungnya. Hari ini Langit akan mempersunting Adelina. Astaga. Ini adalah pernikahan kali kedua tapi benar-benar membuatnya gugup. Nekat tidak namanya kalau menikahi wanita yang ia suka sejak pertama kali melihatnya? Ya, dia suka si perempuan cerewet itu sejak pertama kali melihatnya. Untuk pertama kalinya, Langit bertemu dengan wanita secantik Adelina. Walau awalnya Langit menghempaskan perasaannya karena Adelina adalah bagian keluarga Arkan namun ia tak bisa menutupi perasaan itu. Terlebih saat mengetahui jika Adelina memiliki kisah hidup yang kelam sama seperti dirinya. Dua jiwa rapuh yang bertemu dan melebur jadi satu. Langit pun tak ragu lagi untuk menikahinya. "Udah siap belum, mas? Lama banget!" Gerutu Sinar sejak tadi melihat Langit bercermin di kaca b
Besok paginya, Arkan berpamitan pada Fiona. Untung lah ibunya ini sudah memiliki asisten rumah tangga sehingga ia tak perlu khawatir lagi meninggalkannya seorang diri. Setelah puas mendengar tangisan Fiona yang tak menginginkannya pergi, barula Arkan pergi ke rumah sewa. Oh.. perasaan ini jadi berat sekali. Lagi-lagi dia harus menebalkan hatinya karena harus berpisah dengan orang-orang yang dikasihinya. "Hai.." sapa Arkan saat Aluna membuka pintu. Aluna menatap mantan suaminya dari atas ke bawah. Pria itu memakai setelan kemeja putih dengan lapisan jaket diluarnya. "Aku ingin berpamitan dengan anak-anak." Aluna ingat jika hari ini adalah hari keberangkatan mantan suaminya. Ia lalu memanggil si kembar. Arkan memilih berdiri di depan teras. Saat Aluna menyuruh pria itu untuk masuk, ternyata ada taksi yang diluar sudah menunggu Arkan. "Cepat, nak. Ayah mau berangkat!" Seru Aluna pa
Langkah Langit terhenti. Dia kembali memutuskan berhenti dan bersembunyi setelah melihat reaksi Sinar dari dalam bilik ini. Sinar menepis tangan Aamir yang menyentuhnya. Namun pria ini sedikit membungkuk dan menatap Sinar dengan penuh kesungguhan. "Aku tahu sudah membuat kesalahan, Sinar. Tapi apa yang kukatakan adalah kebenaran." Ucap Aamir menatap lekat. "Aku belajar itu dari kesabaranmu. Ketulusanmu padaku itu menyentuh hatiku.. sebab itulah, izinkan aku menunjukan keseriusanku padamu." Sinar ikut membalas tatapan itu. Matanya menatap ragu tapi keseriusan dari sorot mata Aamir tak mampu ditolaknya. Pria itu seakan bersungguh-sungguh mengucapkannya. Tak ada salahnya jika Sinar memberikan kesempatan. "Baik, mas. Tapi aku juga tidak mau memaksakan perasaanku padamu." Sinar sadar diri. Dia hanya wanita dari kalangan biasa. Tak mampu untuk bersanding dengan pria luar biasa seperti Aamir. Namun, A
Setelah dengan gagah berani menghadap kedua calon mertuanya, Langit pulang ke rumah dalam keadaan tergesa-gesa.Astaga! Dia lupa jika Aamir tadi mengatakan jika ingin bertemu dengan seseorang. Arghh! Langit curiga jika itu Sinar.Nomor ponsel Sinar malah sulit sekali dihubungi. Langit sampai tak bisa berpikiran positif.Bagaimana kalau pria itu membawa kabur adiknya? Atau mungkin menghamili Sinar?! Ya, Ampun. Tapi kan Aamir tidak sebajingan itu.Dengan cepat Langit tiba sore ini di rumah miliknya."Benar dugaanku!" Langit memukul setir mobilnya.Ia lalu keluar dari mobil dan menghempaskannya kasar. Di depan situ ada mobil berwarna burgundy terparkir rapi. "Hey!" Tegur Langit.Aamir sampai mengkerut melihat pria yang baru datang ini. Dasar tidak sopan! Padahal Aamir berusia jauh lebih tua tapi Langit sembarangan memanggilnya."Sedang apa kamu disini?" Tanyanya."Menemui adikmu tapi daritadi dia
"Cindy!" Teriak seorang wanita. "Ditha!" Abi sampai berhenti berlari melihat adiknya jatuh tersungkur. Ditha susah payah berdiri sambil menangis. Ia menunjuk anak bertubuh gempal yang baru saja mendorongnya. Arkan menoleh dan mendapati Ditha yang terjatuh. Ia pun segera membayar pesanannya dan berlari menuju anaknya. "Kenapa kamu mendorongnya?" tanya ibu anak ini. "Dia jatuhin es krim Cindy!" Cindy kesal. Kakinya dihentak-hentakkannya ke lantai dengan keras. Abi memeluk Ditha yang menangis. Dia mengusap punggung adiknya. "Ditha, kamu nggak apa-apa, sayang? Ada yang luka nggak?" Arkan menyergap dan memeriksa sekujur tubuh putrinya. "Ayah. Ditha di dorong kakak itu!" Abi menunjuk Cindy yang tengah merengek di depan ibunya. Arkan melihat ke arah dimana Abi meluruskan telunjuknya. Matanya melotot. Begitu juga dengan wanita dewasa disana. O
"Nindi.."Aluna melihat nama dari pengirim pesan tersebut dan tersenyum kecil. Ternyata, Arkanlah yang mengiriminya pesan terlebih dahulu. Wanita yang menjadi mantan terindah bagi suaminya.[ "Aku baik. Bagaimana kabarmu?" ] balas wanita itu.Aluna kembali menggeser pesan milik Nindi. Ternyata ini
Aluna kembali memoles bedak di wajahnya. Di poles lagi hingga Aluna menatap getir bayangan yang ada di wajahnya.Begitu aneh! Aluna kembali menghapus bedak yang tadi mampir ke wajahnya.Sekali lagi, Aluna melihat merk skincare dan juga make up yang kemarin dibelinya. Sebuah merk tersohor dari neger
Tiga bulan kemudian.. "Aluna!" Aluna menoleh. Wanita ini baru saja menghapus make upnya di depan cermin. Saat Aluna mendekat, Mawar memberikan satu set parsel. "Eh apa ini, mbak?" "Lotion, sabun dan lulur. Untukmu dari produk r
"Kita pindah malam ini.""Pindah? Mau pindah kemana??" Tanya Aluna bingung."Kemana saja! Yang penting kita bisa terbebas dari cengkraman mama!" Jawab Arkan tegas.Aluma tertegun sesaat. Dia masih berdiri di tempatnya karena tak mengerti apa yang terjadi. Tiba-tiba saja







