LOGINTak pernah dianggap oleh keluarga suami, adalah hal biasa untuk Lily. Wanita cantik itu tetap bersikap baik, sekalipun keluarga sang suami selalu merendahkannya. Puncaknya, dua tahun menikah tapi Lily tak kunjung mengandung, segala hinaan keluar dari mulut ibu mertua, dan lagi wanita itu hanya diam di kala mendapatkan hinaan. Lily terkenal sabar, meski sebenarnya hatinya terluka. Pun sayangnya Lionel tak pernah peka dengan kondisi hati Lily. Sampai suatu saat ada sosok wanita yang masuk dalam kehidupan Lily dan Lionel. Semua menjadi sangat kacau dan berantakan. Lily selalu dibandingkan dan dianggap sebagai istri bodoh. Lantas, bagaimana kelanjutan rumah tangga Lily dan Lionel? Sosok baru di tengah-tengah rumah tangga mereka, nyatanya telah berhasil membuat genggaman suami istri nyaris terlepas. *** Follow me on IG: abigail_kusuma95
View MoreTubuh Lily membeku mendengar suara wanita asing dari seberang sana. Suara yang tak pernah dia dengar sebelumnya. Pun selain dirinya, tak pernah ada yang mungkin berani menjawab telepon suaminya. Namun, siapa wanita asing itu? Jutaan pertanyaan muncul di kepalanya, menimbulkan sesak di dada. “Kau siapa?” tanya Lily, berusaha tenang. “Ah, aku adalah teman Lionel. Maaf, aku harus tutup dulu. Nanti kalau Lionel sudah keluar dari toilet, aku akan menyampaikan padanya,” ucap wanita itu—yang langsung menutup panggilan secara sepihak. “Tunggu—” Tuttt … tuttt … Panggilan sudah tertutup. Lily tampak sangat kesal. Dia mencoba kembali menghubungi nomor suaminya, tapi yang dia dapatkan adalah penolakan. Hatinya bergemuruh tak menentu menunjukkan rasa yang tak nyaman. “Siapa wanita itu?” gumam Lily seraya meremas ponselnya. Lily tidak bisa tenang, dia mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Wanita cantik itu ingin segera meminta penjelasan pada sang suami, tapi bagaimana bisa? Tadi, di ka
Lily berada di sebuah kafe kecil yang hangat di Brooklyn. Wanita cantik itu duduk di sudut dekat jendela, menyaksikan salju yang turun dengan lebat. Butiran-butiran salju berputar dan menari di udara sebelum akhirnya mendarat di jalanan yang sudah mulai tertutup lapisan putih. Suasana di dalam kafe terasa nyaman, dengan aroma kopi yang menggoda dan suara gemerisik gelas serta obrolan pengunjung lainnya. Di hadapan Lily ada Ryan, sosok yang sudah lama tidak bertemu dengannya, tersenyum sambil menyeruput cappuccino. “Kau terlihat semakin cantik Lily. Lama tidak bertemu, membuatmu semakin cantik,” puji Ryan dengan senyuman hangat di wajahnya. Pria tampan itu tak tahu sedikit pun dalam memberikan pujian pada Lily—yang memang terlihat luar biasa cantik. Lily hanya memoles wajahnya dengan riasan tipis. Coat berwarna cream dengan paduan celana panjang hitam, dan atasan berwarna hitam membuatnya tampil elegan. Pun tak lupa boat berwarna cream senada dengan coat sebagai penyempurna penampil
Pagi menyapa dengan lembut di tengah musim salju, saat butiran salju turun perlahan dari langit, menutupi dunia di luar dengan selimut putih yang bersih. Di dalam mansion megah mereka, Lily dan Lionel duduk di meja makan yang elegan, dikelilingi oleh ornamen-ornamen indah dan lampu gantung yang berkilau. Suasana hangat dan nyaman menyelimuti mereka, kontras dengan dinginnya cuaca di luar.Lily menatap jendela besar yang menghadap ke taman, di mana salju menutupi setiap sudut, menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Wanita cantik itu menghirup aroma kopi yang baru diseduh, yang menghangatkan suasana hati dan tubuhnya. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara, tetapi suasana hati Lily terasa jauh dari hangat. Wanita cantuk itu masih terbayang-bayang pesan yang dikirim oleh wanita asing bernama Paloma kepada suaminya. Meskipun dia berusaha untuk mengabaikannya, rasa kesal dan cemburu itu terus mengganggu pikirannya.Lily menatap Lionel, yang tampak tenang dan santai, menikmati sara
“Terima kasih sudah mengantarku, Amelia.” Lily melukiskan senyuman paksaan di wajahnya, di kala mobil Amelia telah berhenti di depan mansion-nya. Senyuman yang dia paksakan seharian ini, agar Amelia tidak curiga bahwa perasaannya kali ini sangat campur aduk. Amelia menatap cemas Lily yang tampak berbeda seharian ini. “Kau benar baik-baik saja, kan?” tanyanya khawatir. Lily mengangguk. “Ya, Amelia. Tentu aku baik-baik saja. Jangan khawatir.” Amelia terdiam sejenak, merasa ragu akan jawaban Lily. Namun, dia menyadari dirinya tak bisa bertanya lebih dalama. Sebab, bagaimanapun Lily sudah berumah tangga. Berbeda di masa dulu di mana Lily masih belum menikah, bisa bercerita banyak hal. “Baiklah, Lily. Sampai jumpa lagi. Jika nanti kau hadir di acara reuni, tolong kabari aku, ya?” pinta Amelia pada Lily. Lily mengangguk, dengan senyuman hangat di wajahnya. Detik selanjutnya, dia membuka seat belt—dan turun dari mobil Amelia. Tepat di kala dia sudah turun, mobil Amelia melaju meningga


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore