로그인“Kamu sudah kelar mata kuliah?” tanya Langit tiba-tiba, berusaha mengalihkan perhatian dari wajah manyun Jeeva yang menggemaskan, sambil tangannya perlahan memasangkan sabuk pengaman untuk gadis itu.Jeeva yang kaget dengan perlakuan manis itu tersenyum makin lebar. “Ehm, udah sih, karena dosen jam akhir ini kan lagi gak masuk, kita cuma dikasih tugas aja. Emang kita mau kemana? Pacaran kah?” Jeeva mengedip-ngedipkan kedua matanya, menggoda pria kaku di depannya dengan tatapan jenaka.Langit menyentil pelan kening Jeeva tanpa tenaga. “Otak kamu itu mesum aja!”“Dih! Lagian di cium Mas Langit itu bikin ketagihan tahu, mau lagiii…” rengek Jeeva tanpa malu sedikit pun. Dengan gerakan cepat dan manja, ia langsung mengelendotkan kepalanya di lengan kiri Langit, memeluk tangan kekar itu erat-erat.Langit memilih diam, pura-pura fokus menatap lurus ke depan walau sudut bibirnya kedutan menahan gemas. Otot tangannya mendadak kaku mendapat serangan manja bertubi-tubi.Jeeva yang memang dasar a
“Itu berkas cek di meja yang sudah saya tandatangani. Kalau ada yang belum selesai, tunggu saya kembali, paham?” ucap Langit sambil melangkah keluar ruangan tanpa menoleh sedikit pun.“Baik, Tuan,” jawab Sandy patuh meski dalam hati dia bertanya-tanya kenapa sang CEO jadi begitu kesal terlihat.Langit melangkah panjang menuju lift dan disusul Rendy yang berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. “Tuan mau kemana? Apakah saya antar?”“Tidak. Urus saja kantor, dan handle semua. Jangan hubungi saya kalau tidak penting, paham?!” tegas Langit dingin dan penuh penekanan.“Baik, Tuan.” Rendy mengangguk pasrah, menghentikan langkahnya di depan pintu lift.Langit yang masih kesal dengan sikap keluarganya yang sampai punya pikiran menggabungkan perusahaan memilih meninggalkan kantor dan menuju ke arah kampus Jeeva. Pria berwibawa itu benar-benar tidak habis pikir dengan obsesi papanya dan keluarga La De Coq yang terus-menerus memaksakan kehendak bisnis berkedok perjodohan.Padahal waktu itu jam masih m
Suasana di dalam ruang rapat utama lantai sepuluh itu mendadak melunak, meski atmosfer tegang dan penuh kepalsuan masih sangat terasa di udara. Valerie menghela napas pelan, memasang ekspresi wanita paling bijaksana dan pengertian sedunia demi mencuri hati Tuan Besar Segara."Sudahlah, Pi..." ucap Valerie menenangkan, ia menatap ke arah Papa Langit lalu beralih menatap papanya sendiri dengan senyuman manis yang dipoles sedemikian rupa. "Pa, kita hentikan pembahasan ini kalau Langit emang gak nyaman sama penggabungan perusahaan. Sekarang yang terpenting adalah, masalah di perusahaan Langit sudah selesai, dan kalau sudah aman dan tenang, kita bisa berkumpul lagi membahas masalah masa depan kita berdua, bukan begitu, Langit?" tatap Valerie manja dan sok bijaksana di hadapan sang CEO.Langit mengerjap sejenak, sedikit terkejut dengan perubahan sikap Valerie yang tiba-tiba menjadi sangat dramatis. Namun, ia menyambut celah itu dengan kepala dingin demi segera membubarkan pertemuan yang mem
Langkah kaki tegap Langit menyusur lantai marmer koridor lantai sepuluh gedung Segara Corp dengan irama yang tenang namun penuh arti. Setiap helaan napasnya dihembuskan perlahan, membuang jauh-jauh sisa bayangan manis tentang Jeeva yang sempat mampir di kepalanya beberapa menit lalu. Di balik pintu kayu jati berukir di ujung koridor sana, sebuah pertempuran politik keluarga dan bisnis sudah menantinya.Begitu pintu ruang rapat utama terbuka lebar, atensi seluruh orang yang duduk mengelilingi meja oval megah langsung tertuju padanya. Tuan Besar Segara duduk di ujung meja dengan raut wajah berwibawa namun menyiratkan ketidaksabaran. Di sisi kanannya, Tuan Pierre La De Coq tersenyum tipis nan berkelas, sementara Valerie duduk manis mengenakan blazer kerja pas badan yang mempertegas kesan wanita karier sempurna."Wah, anak kebanggaan Papa akhirnya datang juga. Mengurus perusahaan besar memang menyita waktu ya, Langit, sampai-sampai tamu penting harus menunggu sekian lama," sindir Tuan Seg
"Data kita sudah kembali, meski kita belum menemukan cara mengembalikannya, begitu? kamu serius?" tanya Langit sekali lagi, memastikan pendengarannya tidak salah tangkap di tengah ketegangan yang mendera. Sorot mata tajam pria dua puluh sembilan tahun itu tak bisa berbohong, menyiratkan campuran rasa terkejut, bingung, sekaligus penasaran yang luar biasa pekat.Rendy mengangguk cepat, menyodorkan laporan analitik terbaru di layar tablet sekunder miliknya agar sang atasan bisa melihat langsung buktinya. "Iya, Tuan. Benar-benar pulih seratus persen tanpa ada satupun file krusial yang hilang atau rusak. Sistem keamanan lapis kedua kita yang tadinya sempat terkunci total akibat enkripsi asing, tiba-tiba terbuka sendiri setelah pesan ancaman itu muncul di layar utama."“Dan satu lagi, harga saham kita juga sudah membaik di pasaran. Semua berjalan normal kembali seolah tak terjadi apa-apa, Tuan.” Tegas Rendy membuat Langit semakin penasaran.Langit terdiam kaku. Alis tebalnya bertaut semaki
Suasana di dalam kabin sedan mewah itu mendadak membeku seketika. Di tengah antrean lampu merah, tanpa aba-aba, Jeeva langsung mengulurkan tangan dan menggenggam jemari tangan Langit yang sedang bertumpu pada tuas persneling.Langit refleks menoleh. Wajah dingin sang CEO yang biasanya datar dan tanpa ekspresi itu tiba-tiba menunjukkan salah tingkah yang nyata, bahkan semburat merah tipis tampak jelas menjalar di kedua pipinya.Melihat reaksi salah tingkah itu, Jeeva yang tadinya sempat kaku langsung bergerak cepat. Dengan gestur manis namun berani, ia menarik pergelangan tangan Langit mendekat lalu mengecup punggung tangan pria itu sekilas."Jeeva mau, tangan ini gak boleh megang tangan cewek lain, terutama si Kobra itu. Paham kan, Mas?" ucap Jeeva dengan mata berbinar jenaka namun menyiratkan ketegasan posesif ala remaja jatuh cinta.Langit menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan debar jantungnya yang berantakan. "Apalagi sih kamu ini? Ya gak mungkin aku gak salaman sama reka







