LOGINAmetys yang tadinya seorang piatu miskin, tiba-tiba menjadi pewaris kedua dari keluarga konglomerat dan memiliki seorang tunangan tampan bergelar CEO. Dia tidak naif, tentu saja menjadi kaya dan berkuasa adalah naluri alamiah dari sifat manusia. Apalagi memiliki seorang pelindung bernama Kalingga, yang memiliki sifat dingin namun mampu menghangatkan. Usia yang berjarak cukup jauh bukanlah sebuah halangan, nyatanya mereka mampu berkerja sama untuk mencapai tujuan yang tidak berbeda. Ini tentang arti keluarga, cinta dan kekuasaan. Mampukah Ametys melaluinya?
View MoreI knew coming back to Redemption Creek was a mistake the second my battered Honda coughed its last breath on Main Street.
It's now Ten years of running, hiding, surviving. And now I was back where it all began, with seventeen dollars in my wallet and bruises I could not explain away anymore.
The engine ticked as it cooled. I pressed my forehead against the steering wheel, tasting blood where I had bitten my lip too hard. My ribs screamed with every breath—courtesy of Derek's boots three nights ago in that motel parking lot outside Tucson.
"You cannot run forever, Jenna," he had said, his voice cold as winter. "I will find you again."
But I had run. Again.
A rumble split the air. Deep. Mechanical. The kind that made your bones vibrate.
I lifted my head and saw them. Six motorcycles rolling down Main Street like they owned it. Leather. Chrome. The devil's head patch on their backs—red eyes, fangs bared.
Devil's Reign MC.
My blood turned to ice.
The lead bike pulled up beside my car. The rider kicked down the stand and swung off in one fluid motion. Tall. Broad-shouldered. Dark hair touching his collar. When he pulled off his helmet, the world tilted sideways.
Colt Richardson.
Those steel-gray eyes locked onto mine through the windshield, and for three heartbeats, neither of us moved. His jaw was harder now, shadowed with stubble. Scars traced his knuckles. The boy I had loved wore a man's face now—all sharp edges and controlled fury.
He crossed to my door and yanked it open. "Get out."
Not "Hello." Not "Jenna, is that you?"
Just a command.
I stumbled out on shaky legs. The other riders had stopped, engines idling, watching us like wolves circling prey.
"Colt—"
"Ten years." His voice was granite. "Ten years, Jenna. Not a word. Not a letter. Nothing."
"I can explain—"
"You ran." He stepped closer, and I backed against the car. "The night before our wedding. You ran."
The wedding. God, I had almost forgotten. White dress bought on layaway. His grandmother's ring. Promises I could not keep because my father—
"My father said he would kill you," I whispered. "He said if I married you, he would put a bullet in your head."
Colt's expression did not change. "Your father's been dead for five years."
The words hit like a slap. "What?"
"Heart attack. Died in his club's garage." He tilted his head, studying me like I was something broken. "You did not know."
I could not breathe. Could not think. My father—dead. The man who had controlled every second of my life. The man whose threats had chased me across state lines.
Gone.
"You are wearing Devil's Reign colors," I said, my voice cracking. "My father's enemies."
"Your father's club fell apart after he died. We absorbed what was left." Colt's smile was sharp. Dangerous. "I run Redemption Creek now, Jenna. Every street. Every back road. Every person who walks through here answers to me."
One of the other riders laughed. "Boss, this girl? The one who—"
"Shut up, Razor." Colt never took his eyes off me. "Why are you back?"
Because I had nowhere else to go. Because Derek would not stop hunting me. Because I was so tired of running I could barely stand.
But I said none of that.
"My car broke down."
"Try again."
"I needed—" My voice broke. "I needed somewhere safe."
"Safe?" He laughed, cold and bitter. "You think running back to the man whose heart you shattered makes you safe?"
"Please." I hated how small I sounded. "Just let me stay a few days. I will leave. I promise."
"Like you promised to show up at the church?" He leaned in close enough that I smelled leather and motor oil and something darker. "Like you promised you loved me?"
"I did love you." The words ripped out of me. "I still—"
His hand shot out and gripped my chin, forcing me to look at him. His thumb brushed my split lip, and I flinched.
The change in him was instant. His eyes went flat. Cold.
"Who hit you?"
"No one. I fell—"
"Jenna." My name was a warning. "Who. Hit. You."
"It does not matter."
"It matters to me." His grip tightened just enough to make his point. "You are in my town now. Under my protection. Whether you want it or not."
"I do not need your protection."
"That split lip and those bruises say something different." He released me and stepped back. "Razor, get her car towed to the garage. Jenna, you are coming with me."
"I am not going anywhere with you."
He smiled then, and it was the most frightening thing I had seen all week. "You can ride behind me, or I can throw you over my shoulder. Your choice."
The other riders were watching now, waiting.
I was so tired. So broken.
"Fine."
Colt handed me his helmet. "Hold on tight. I drive fast."
As I climbed onto the bike behind him, his words from ten years ago echoed in my memory: *"You are mine, Jenna. Always."*
I wrapped my arms around his waist, felt the heat of him, the solid muscle that had not been there when we were kids.
He was right about one thing.
I was back in Redem
ption Creek.
But I had a terrible feeling I would not be leaving.
Not without paying for every promise I had broken.
Saat jamuan makan malam akan segera dimulai, datang seorang pemuda berpenampilan klimis yang diketahui bernama Han, sekretaris merangkap asisten pribadi Kalingga yang terlihat sedikit kerepotan dengan barang bawaannya. Cahyo selaku ketua pelayan di kediaman Batara langsung menghampiri untuk membantu. Tahu kalau Han adalah salah-satu orang penting bagi Kalingga, Mahesa dengan sigap mempersilahkan Han untuk duduk. Dan karena lirikan maut sang atasan, lelaki itu memberanikan diri untuk duduk di kursi yang kosong."Anda tidak perlu repot-repot untuk membawa hadiah, Tuan." Dilihat sekilas pun, barang-barang yang dibawa Han bukanlah sesuatu yang murah. Mahesa semakin menebak-nebak tentang apa yang diinginkan oleh Kalingga."Itu bukan apa-apa, Tuan Mahesa. Hanya hadiah kecil bagi seseorang yang sudah menolong saya sebelumnya." Ucap Kalingga dengan senyum datar andalannya.Mahesa jelas merasa bingung, belum mengerti, "apakah saya melewatkan sesuatu?" Dia mungkin sudah tua, tapi dia belum pik
"Membuat kekacauan di hari pertama pindah sekolah? cih, memalukan!""Begitukah seorang putri Mahesa Batara bertindak?"Ametys mengabaikan sosok Karina yang baru saja keluar dari mobilnya, beriringan dengan dirinya yang akan masuk ke dalam rumah. Tidak bisakah orang itu diam sekali saja saat melihatnya? mengapa dia terus mengoceh seolah tidak sanggup jika melihat dunia ini damai.Demi kesehatan telinganya, Ametys tetap melanjutkan langkah meski pada akhirnya harus berhenti di ruang keluarga. Di sana, Mahesa tengah duduk di kursi tunggal sambil berbicara bersama Gama dengan mimik serius. Tahu kalau dirinya tidak punya kesempatan untuk kabur, Ametys berjalan mendekat dan menyapa singkat demi kesopanan semata.Lelaki paruh baya itu tersenyum kecil saat memandang putrinya, "tidak keberatan jika duduk sebentar?" menunjuk sebuah kursi di depannya dengan isyarat mata.Melihat Ametys yang begitu patuh tanpa membantah, Mahesa memulai sesi wawancaranya. "Lukamu sudah diobati?" Gadis itu sedikit
Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit setelah Ganesha hadir sebagai wali Ametys di sana. Kepala sekolah terdiam mengamati situasi, sedangkan Nyonya Mahendra seperti baru saja kehilangan suaranya. Meski tidak tahu asal-usul maupun latar belakang lelaki muda di depannya ini, dia tentu tidak bodoh untuk bersikap kasar seperti sebelumnya. Sedangkan sosok lain bernama Aftha yang tak lain dan tak bukan adalah orang kepercayaan Ganesha, kini sudah dapat memahami situasi. Sebenarnya, ini hanyalah permasalahan di antara dua remaja. Namun pihak lain malah ingin memperpanjang sehingga dia tidak punya pilihan lain selain menerima dengan senang hati. "Jadi, pihak terkait ingin menyelesaikan masalah ini seperti apa?" Nyonya Mahendra berkedip dua kali, terlihat ragu namun mencoba mengembalikan keberaniannya seperti tadi. "Orang yang paling dirugikan di sini adalah putri saya, dia adalah korbannya. Jadi, gadis itu tentu harus menanggung akibat dari perbuatannya. Tidak ada kata maaf untuk s
"Tidak biasanya kamu datang tanpa memberitahu. Ada apa?" Mahesa menatap Ganesha yang kini sudah mengambil tempat duduk tepat di depannya. Dua lelaki berbeda usia namun memiliki paras yang mirip itu saling menatap satu sama lain. "Papa sudah menyetujui surat kerjasama dengan pihak Atmadja Grup?" Ganesha menyimpan sebuah berkas di atas meja yang langsung diambil oleh sang ayah tanpa menunda, "itu berbagai keuntungan yang akan kita dapatkan jika menerima tawaran ini." Pemuda itu tetap melanjutkan meski raut wajahnya tidak terlihat baik. "Pihak mereka tidak mengatakan apa-apa sebelumnya." Setelah melihat secara detail apa yang tertera di dalamnya, Mahesa kembali menatap sang putra. Ada raut kebingungan di sana saat melihat Ganesha yang memberikan pandangan rumit. "Ada apa?" Ganesha menegakkan punggungnya lalu berbicara dengan nada lebih pelan, "apa Papa tahu kalau Kalingga mendatangiku saat pesta malam itu?" pertanyaan itu dijawab dengan sebuah anggukan pelan oleh Mahesa, "apa dia
Setelah melewati sesi perkenalan singkat yang menurut Ametys tidak terlalu penting, gadis itu kini sudah duduk manis di kursi bagian belakang karena kebetulan hanya itu yang kosong. Dia tetap terlihat tenang meski merasakan tatapan penasaran dari para penghuni kelas. Dia juga dapat mendengar bisikan
Perjalanan menuju sekolah terasa cukup canggung meski suara musik dari radio yang dinyalakan menggema di dalam mobil mahal milik Hadyan. Remaja tampan itu begitu fokus dengan jalanan yang dilaluinya, sedangkan Ametys hanya diam dengan patuh karena tidak pintar dalam membuka percakapan. Rasanya, lebi
Acara perayaan untuk memperkenalkan Ametys sebagai bagian dari keluarga Barata sudah selesai. Meski itu terasa cukup membosankan, namun Ametys menyukai makanan yang dihidangkan di sana. Dia baru akan masuk ke dalam kamarnya, sebelum suara seseorang menghentikan langkahnya. “Tunggu!” Ametys menge
Tak ada yang bertanya bagaimana perasaannya saat sang ibu meninggalkannya seorang diri. Tak ada yang bertanya bagaimana perasaannya saat harus menjalani hidup serba kekurangan tanpa adanya sosok pegangan. Tak ada yang sekedar menanyakan kabarnya saat satu atau dua hari dirinya tidak masuk sekolah. T
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.