Share

Bab 8 — Dilahap

Penulis: Gekko
last update Tanggal publikasi: 2026-02-21 13:40:17

Zhang Liu mengepalkan tangan. Dia membalas perkataan Hun Mo dalam kepalanya. 'Aku tidak butuh bantuanmu!'

Dengan penuh tekad, Zhang Liu menarik pedang di pinggangnya. Dia melirik ke arah pria yang terbang menjauh dengan pedangnya. Dalam hati ia bergumam. 'Zhu Pei, lihat saja kau nanti.'

Ular sisik naga itu kini menaikkan kepalanya, menatap sosok Zhang Liu di atas perahu. Mata hijaunya yang besar tampak menyeramkan.

Dengan satu lompatan ganas, Zhang Liu menerjang langsung ke arah moncong raksasa yang sedang menganga itu. Dia menyerang lebih dulu. Pedangnya berputar, menciptakan pusaran angin yang tajam.

Namun pedang Zhang Liu masih tak bisa menebas, atau sekedar memberi luka pada ular itu. Dia kembali mendarat di atas perahunya sambil menggerutu. "Cih, sisiknya terlalu keras."

"Lihat, kan? Kau masih terlalu lemah," celetuk Hun Mo dalam kepala Zhang Liu, nadanya penuh ejekan. "Jika itu aku, aku hanya perlu satu teknik saja untuk mengalahkannya."

Zhang Liu semakin kesal mendengar ocehan Raja Iblis yang mencoba menghasutnya itu.

'Hui Shen, tolong tutup mulutnya,' desis Zhang Liu pada sosok lain dalam tubuhnya.

Hui Shen pun mengangguk setuju, lalu menjentikkan jarinya. Kertas segel muncul di mulut Hun Mo dan membungkamnya.

Setelah tak terdengar lagi suara Hun Mo, Zhang Liu kembali fokus pada musuh di depannya. Ular itu kini menyerangnya. Refleks, dia melompat menghindar. Tapi perahu yang dinaiki Zhang Liu jadi hancur.

Di udara, dia mencoba mencari celah. Pedang Zhang Liu kemudian tertuju pada mata hijau ular itu. Namun seolah sudah tahu arah serangannya, ular itu menutup matanya.

"Grooa!" Ular itu meraung, suaranya memecah ombak hendak menyingkirkan Zhang Liu di atas kepalanya.

Tapi Zhang Liu tak gentar. Ia justru melesat masuk ke dalam rongga mulutnya yang gelap dan lembap, menyusuri kerongkongan seperti memasuki gua berdarah. Itulah tujuannya.

Di dalam perut ular, dinding organ raksasa berdenyut, mengeluarkan cairan hijau yang menggelegak. Itu adalah asam pencerna yang mampu melumerkan tulang.

Zhang Liu menghindari tetesan asam sambil terus menusukkan pedangnya ke daging di sekelilingnya. Ikan kecil dan bangkai hewan bertebaran, terperangkap di dalamnya.

Saat Zhang Liu hendak menebas jantung ular itu dari dalam, sebuah suara menggema di pikirannya.

"Ada cara lain untuk mengalahkannya tanpa membunuhnya, Zhang Liu," ucap Hui Shen.

Seketika Zhang Liu menghentikan gerakannya. Dia mengerjap pelan dan bertanya. 'Cara lain?'

"Pertama pergilah ke inti jiwanya. Gunakan kekuatan dariku untuk menaklukkannya."

Apa itu bisa? Zhang Liu membelalak kaget. "Dia ular yang sudah ada selama ratusan tahun?"

"Teknik penaklukan ini lebih banyak menggunakan kekuatan mental. Seharusnya hanya bisa digunakan saat kau mencapai tingkat ketiga, Nascent Soul. Tapi karena lautan batinmu lebih besar, mungkin saja kau bisa melakukannya," jelas Hui Shen.

Dalam tubuh ular itu mulai bergetar, sehingga Zhang Liu sedikit oleng. Artinya ular itu mulai ingin mencerna dirinya yang ditelan.

Merasa tak ada jalan lain, akhirnya Zhang Liu setuju. "Baiklah. Aku tidak mau mati konyol di sini."

Zhang Liu menatap dua lorong di depannya. Sekarang pilihannya bukan soal kanan atau kiri, tapi soal keberanian untuk mengambil jalan yang lebih sulit. Inti jiwa pasti dijaga lebih ketat daripada jantung biasa.

Dengan tekad bulat, Zhang Liu memilih lorong kanan—yang dipenuhi urat-urat bergerak. Urat-urat di dinding semakin banyak dan aktif. Beberapa bahkan mencoba meraihnya, menjulur seperti tentakel hidup.

Zhang Liu menebasnya tanpa ampun. Darah hijau pekat menyembur setiap kali urat itu putus, menambah bau busuk di sekelilingnya.

Setelah berjalan cukup jauh, Zhang Liu memasuki semacam rongga besar. Di tengah rongga itu, terdapat sebongkah batu berwarna hijau menyala yang mengambang.

"Itu dia," bisik Hui Shen. "Inti jiwa ular sisik naga."

Zhang Liu menatapnya terpukau. Keindahan dan kengerian bercampur jadi satu. Batu itu memancarkan kekuatan luar biasa, bahkan dari kejauhan ia sudah bisa merasakannya.

Tapi inti jiwa itu tidak sendiri. Dari bayang-bayang di sekitar rongga, sepasang mata kecil terbuka. Makhluk-makhluk kecil seukuran anjing, dengan tubuh transparan dan gigi-gigi tajam, mulai muncul dari celah-celah dinding.

Mereka adalah parasit yang hidup di dalam tubuh ular—penjaga alami inti jiwa. Satu per satu, mereka menatap Zhang Liu. Lalu, serempak, mereka menjerit.

Jeritan itu menusuk otak, membuat Zhang Liu memegang kepalanya kesakitan. Dan saat itu juga, mereka menyerang.

Zhang Liu menggeram lalu dengan cepat menggunakan teknik penaklukan dari Hui Shen. "Segel Penakluk Jiwa!"

Pertarungan di dalam rongga inti jiwa pun pecah. Zhang Liu melawan puluhan parasit ganas, lautan batinnya bergejolak.

Sementara di tengah semua kekacauan itu, inti jiwa ular itu menunggu, dan mengamati apakah manusia di depannya layak menjadi penguasanya.

Dari kejauhan, Zhu Pei melihat semuanya. Ia melihat Zhang Liu ditelan ular.

'Huh! Ternyata dia hanya pria lemah. Jika dia mati, kutukan di leherku mungkin akan musnah,' batinnya dengan nada mencemooh. Zhu Pei tak memperdulikannya lagi.

Setelah terbang cukup jauh, kapal besar bernama Kapal Naga Laut Selatan sudah di depan mata. Itu adalah kapal tempat orang-orang berstatus tinggi datang untuk bersenang-senang, dan menghamburkan uangnya. Mirip seperti kasino kelas atas.

Dengan satu lompatan, Zhu Pei mendarat di geladak kapal yang cukup sepi. Dalam hatinya merasa lega karena sudah terbebas dari jeratan pria menyeramkan sebelumnya. Itu yang dia pikirkan.

Zhu Pei merapikan pakaiannya, lalu menatap kaca di sampingnya. Saat bercermin, dia memeriksa lehernya. Garis hitam tanda kutukan itu masih ada di sana.

"Kenapa tanda ini belum hilang juga? Bukankah orang itu sudah mati?" gumamnya sedikit gelisah.

Menggosoknya sampai merah pun tak berguna, karena tanda kutukan itu mengikat jiwa Zhu Pei. Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba sebuah kehadiran dingin menusuk tengkuknya. Diikuti suara berat penuh penekanan.

"Kau kira saat aku mati kau bisa terbebas dari kutukan? Malah, kau akan ikut mati bersamaku."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 117 — Tuan Muda dari Fanghan

    Sementara itu, di kejauhan, Zhang Liu dan Zhu Mei terus berjalan. Perlahan. Tergesa-gesa. Tidak berani berhenti meskipun napas mereka tersengal-sengal. Zhu Mei masih membawa pria besar itu di pundaknya. Tubuh pria itu hampir dua kali lipat berat badannya. Zhang Liu melihatnya. Meskipun tubuhnya sendiri terasa seperti mau hancur, dia masih berusaha membantu. Tangan Zhang Liu yang tidak melukai perut digunakan untuk menyentuh lengan pria asing itu—bukan untuk menggendong, tapi untuk mengalirkan sedikit energi penyembuhan. "Biarkan aku saja," kata Zhu Mei tanpa menoleh. Suaranya terdengar lelah. "Kau fokus sembuhkan dirimu sendiri. Repot sekali." Zhang Liu tersenyum tipis di belakangnya. "Tidak apa-apa. Kau pasti kesulitan karena tinggi badanmu yang berbeda." Zhu Mei berhenti melangkah. Dia menoleh ke belakang, wajahnya merah padam—bukan karena lelah, tapi karena marah. "Kau kira aku pendek?!" Zhang Liu mengerjap. Dia tidak menyangka kalimatnya akan ditafsirkan seperti itu. "Maks

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 116 — Diincar

    "Diam," balas Hui Shen pelan. "Dia sedang belajar."Zhang Liu tidak mendengar mereka. Pikirannya fokus untuk bisa memberikan serangan yang lebih besar pada lawannya.Pedang Tanduk Hitam di tangan kanannya berdenyut. Tongkat Suci di tangan kirinya berdenyut.Sriing!Cahaya putih keemasan dan hitam kebiruan meletus dari kedua senjata itu bersamaan. Gelombang kekuatan menyebar ke segala arah.Pohon-pohon di radius lima puluh meter bergoyang keras, dahan-dahan patah, daun-daun beterbangan seperti badai kecil. Tanah di bawah kaki Zhang Liu retak-retak, membentuk lingkaran dengan dirinya sebagai pusatnya.Dan yang paling penting—Gerombolan harimau putih itu berhenti.Mereka tidak bergerak, tidak mengaum, dan hanya berdiri di tempat mereka masing-masing, kaki-kaki besar mereka terpaku di tanah.Mata biru keperakan mereka menatap Zhang Liu dengan ekspresi yang tidak biasa. Untuk pertama kalinya, mereka ragu.Hun Mo berseru dalam kepala Zhang Liu. "Ini saatnya. Bunuh mereka semua."Tapi Hui S

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 115 — Serangan Gerombolan Harimau Putih

    Zhang Liu dan Zhu Mei masih berdiri di tempat mereka, saling pandang dengan wajah yang berubah tegang. Dari balik pepohonan di sebelah barat, sosok-sosok besar mulai bermunculan satu per satu.Tubuh mereka semua sama besarnya dengan harimau yang baru saja dikalahkan Zhang Liu.Yang berjalan di depan adalah yang terbesar di antara mereka. Tingginya hampir setengah kepala lebih tinggi dari yang lain. Di wajahnya, ada bekas luka panjang dari pangkal hidung hingga ke pipi kanan, membuatnya terlihat lebih ganas dan mengerikan.Mata pemimpin harimau itu menatap Zhang Liu. Lalu pandangannya turun ke tangan Zhang Liu—ke tulang putih kecil yang masih digenggamnya."Grrh." Harimau itu mengeram.Itu adalah bau darah saudara mereka yang baru saja mati. Pemimpin harimau itu mengendus udara."GROOOA!"Raungan pemimpin harimau itu mengguncang seluruh lembah. Daun-daun berguguran dari pohon-pohon di sekitar. Air sungai di kejauhan bergetar, gelombang kecil naik turun seperti air mendidih.Tanah di ba

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 114 — Balik Diincar

    Zhu Mei berdiri mendadak. Kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras."Harimau putih? Itu binatang roh tingkat tinggi!" serunya, wajahnya berubah panik. "Dia gila, ya? Hanya pergi sendirian?"Jing Ling membalas dengan santai. "Biarkan saja. Dia orang yang sangat kuat."Zhu Mei mendengus kasar. Bukan itu yang membuatnya khawatir."Kau tidak mengerti," katanya cepat. "Bukan soal dia kalah atau menang. Tapi jika dia membunuh satu harimau putih, kelompoknya yang lain akan memburunya. Mereka tidak tinggal diam jika salah satu dari mereka mati. Kita semua juga bisa terkena masalah."Tanpa menunggu jawaban, Zhu Mei melesat keluar dari dapur. Langkah kakinya cepat, hampir berlari, melewati lorong dan keluar dari markas.Jing Ling menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu, lalu menghela napas pelan."Kita? Katakan saja kau yang khawatir padanya," gumam Jing Ling sambil tersenyum kecil.Xue Lun yang dari tadi makan dalam diam, akhirnya bersuara."Dia menyukai Zhang Liu, kan?" ka

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 113 — Penyamaranku Gagal, Ya?

    Xue Lun melangkah masuk ke markas. Langkahnya santai, seperti sedang berjalan-jalan di rumahnya sendiri, bukan di tempat asing yang baru pertama kali dia kunjungi.Tatapan Xue Lun menyapu seluruh ruangan. Dari dinding kayu yang masih menyisakan serpihan-serpihan kecil. Hingga langit-langit ilalang yang sedikit reyot di beberapa bagian, perabot sederhana yang Jing Ling tata dengan cukup rapi."Rumah kayu," komentarnya datar. "Tidak terlalu buruk. Setidaknya tidak bocor."Jing Ling yang berjalan di belakangnya menghela napas. "Kau bisa saja bilang 'terima kasih sudah menyambutku', tahu.""Kenapa harus bilang begitu? Aku diundang. Bukan meminta izin."Jing Ling menggeleng. "Sifatmu benar-benar tidak pernah berubah."Jing Ling kemudian menunjuk ke lorong di sisi kirinya."Taruh saja barang-barangmu di samping kamarku di sana," kata Jing Ling sambil menunjuk. "Kamar kosong di ujung lorong. Seprai dan bantal sudah ada. Jangan berantakan, ya."Xue Lun mengangguk tanpa banyak bicara, lalu me

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 112 — Syarat Segel Ketiga

    Ledakan energi hitam meletus di antara mereka. Gelombang kejutnya menyebar ke segala arah, merobohkan pohon-pohon dalam radius puluhan meter. Tanah di bawah mereka retak-retak, membentuk cekungan kecil.Harimau putih itu terpental ke belakang. Tubuhnya yang besar berguling-guling di tanah, menghancurkan bebatuan dan semak-semak yang dilewatinya. Dia berhenti cukup jauh dari Zhang Liu, tergeletak di tanah dengan dada yang berlubang."Ck. Dia cukup tangguh," gumam Zhang Liu. Dia juga tidak baik-baik saja.Zhang Liu berlutut di tanah, satu tangan memegangi dadanya. Napasnya terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, keringat bercampur darah mengalir di pelipisnya.Jubahnya robek di beberapa tempat, bahu kiri, lengan kanan, pinggang. Luka-luka kecil menghiasi sekujur tubuhnya.Tapi dia masih hidup. Dan harimau itu masih bergerak.Perlahan, dengan susah payah, harimau putih itu bangkit. Kakinya gemetar. Napasnya tersengal-sengal, mengeluarkan suara seperti orang yang tercekik."Masih mau bertaru

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status