เข้าสู่ระบบBab 50. PEMILIK HATI BUSUK Demikian juga teman-teman satu kelas, mereka hanya bisa mencibir dalam hatinya. Para mahasiswa juga bingung, karena pihak kampus tidak pernah menegur atau memberi skors atas semua kelakuannya. Sepertinya Dewa memang sudah malas untuk belajar yang baginya tidak penting. Hal ini tentu saja sangat wajar, dengan usia aslinya yang sudah ribuan tahun, bagi Dewa sudah bukan waktunya lagi untuk belajar sesuatu yang tidak penting bagi peningkatan Kanuragan nya. Hanya saja dia mencoba mengikuti kehidupan tubuh yang ditempatinya. Waktu berlalu tanpa terasa, satu semester sudah terlewati di kampus Nusantara. Nama Dewa sudah sangat terkenal sebagai biang kerok dan kekuatannya membuat tidak ada satu mahasiswa pun yang berani ribut dengannya. Selama satu semester, tidak ada satupun mahasiswa yang tahu, kalau Universitas Nusantara ini adalah milik orang tuanya. Semua mahasiswa hanya tahu, kalau Dewa berlatar belakang seorang kong
Bab 49. CENGKRAMAN MAUT Dewa menatap komandan pengawal keluarga Tanoto di depannya dengan tatapan datar, bagi Dewa manusia seperti George tidak pantas dipandang dengan dua mata. George lebih pantas dipandang dengan mata terpejam, karena kesombongannya tidak seimbang dengan kemampuannya. “Kamu….” Terdengar suara yang cukup pelan dari mulut Dewa, sementara jaringan tangannya bergerak memberi isyarat agar George datang mendekat. Begitu mendengar perkataan Dewa, tenggorokan George seakan langsung mengering, jakunnya terus bergerak naik turun untuk menelan ludah. Sedangkan kedua kakinya entah kenapa bergetar sendiri, membuat keperkasaan nya sebagai komandan pasukan langsung tercoret dengan telak. George tetap berdiri diam ditempatinya, dia sama sekali tidak berani untuk berjalan mendekat kearah Dewa. Sementara itu Shanti dikejauhan, sedang berdiri terpaku melihat pengawal andalannya sama sekali tidak berguna. Melihat George sama sekali tidak men
Bab 48. SENTILAN MAUT Setelah menjalani waktu pemulihan dari lukanya, dia segera mencari pekerjaan baru usai pensiun dari tentara khusus. Dan kebetulan ada rekannya yang memberi informasi, kalau keluarga Tanoto membutuhkan pengawal pribadi. Dengan jalur khusus, serta latar belakangnya dari prajurit khusus, akhirnya dia diterima bekerja sebagai pegawai pribadi. Setelah sekian lama bekerja di keluarga Tanoto kemampuannya benar-benar teruji dan tidak mengecewakan. Akan tetapi hari ini, sepertinya dia sedang terkena batunya, karena lawan yang dihadapi bukanlah pria biasa. Dengan ekspresi sombong dan merendahkan, George segera mendekati Dewa, setelah Shanti menunjuk ke arahnya. Sementara itu Dewa yang sedang mencengkram tinju Siswo, terlihat cuek melihat kedatangan bala bantuan dari pihak Shanti. Sebagai seorang pendekar Kanuragan, tentu saja dia sudah bisa mendeteksi kekuatan orang-orang yang baru saja datang. “Cih… kirain minta bantuan pe
Bab 47. BALA BANTUAN DATANG Suara itu membuat siapapun yang mendengarnya merasa gigi mereka tiba-tiba saja menjadi ngilu. Meskipun sudah meremas tangan pengawal itu sampai patah, Dewa belum berani melepas genggamannya. Ekspresi wajah Dewa tampak dingin laksana di kutub, dia memandang pengawal itu dan Siswo serta Shanti dengan datar. “Lepaskan. Tangan temanku!” bentak Siswo sambil melayangkan tinjunya ke kepala Dewa. Meskipun dia sudah melihat sendiri kekuatan Dewa yang mampu merupakan tangan rekannya, Siswo sama sekali tidak takut. Melihat tinju Siswo melayang ke arahnya, Dewa sama sekali tidak panik. Bahkan saling santainya, dia tidak melepaskan genggaman di tangan pengawal itu. Tap… Tangan Dewa seperti Magnet yang berdekatan dengan besi, karena begitu cepat dan mudahnya tinju Siswo yang hampir mengenai kepalanya ditangkap dengan tangan satunya yang bebas. Tentu saja Siswo sangat terkejut dan panik, pikirannya langsung tertuju pada Apa yang
Bab 46. TINJU YANG GAGAL Bugh… “Aww…!” Baru juga di senggol bahunya, tubuh wanita itu seketika terhuyung dan jatuh di lantai basement. Dewa hanya melirik dengan tatapan sinis ke arah wanita itu tanpa ada sedikitpun niat untuk menolongnya. “Berhenti…! Dasar pria tak berpendidikan, awas kamu telah berani mencelakai aku!” ancam wanita itu sambil mengambil ponsel di tas mahalnya. “Siswo, cepat datang ke basement bank Himbara, saya diganggu orang,” perintah wanita itu pada seseorang melalui ponselnya. Sementara itu Dewa yang sudah kesal dengan sikap wanita itu sudah sampai di dekat mobilnya, tepat dengan kedatangan dua orang pria berbadan kekar yang menemui wanita itu. “Saya bu, tugas apa yang perintahkan kepada kami?” kata Siswo setelah sampai di depan wanita itu. “Kamu tangkap pemuda itu, dia sudah berani mendorong tubuhku hingga jatuh.” Siswo dan rekannya langsung mengikuti arah jari telunjuk wanita itu, seketika Siwo dan rekannya bergegas lari
Bab 45. BERTEMU WANITA KURUS CS wanita itu segera menatap Dewa dengan tatapan penuh selidik, setelah melihat pakaian mahal yang dikenakannya, CS itu segera berkata, “Bapak, mari ikut saya.” Dewa segera bangkit dari duduknya, kemudian mengikuti CS wanita itu menuju sebuah ruangan tertutup. Begitu sampai di ruangan khusus itu, CS wanita berbicara dengan rekannya, “Pak Ardi, bapak ini ingin membuat rekening untuk transaksi saham.” Ternyata petugas yang ada di ruangan ini bernama Ardi, dia seorang pria berusia empat puluh tahunan dengan pakaian rapi. Dengan senyum ramah, dia segera menjabat tangan Dewa, dan mempersilahkan Dewa untuk duduk. Setelah CS wanita itu pergi, Dewa segera mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke Bank Himbara ini. Dalam pembicaraannya, Dewa menyampaikan kalau dia sudah mempunyai akun Virtual yang sebelumnya sudah di gunakan untuk transaksi perbankan. Setelah dilihat di komputernya, nama Dewa langsung muncul dalam akun Virtual.
Bab 38. KETUA BEM YANG SIAL Ketua BEM ini bernama Rudi, mempunyai postur tubuh tinggi dan berambut gondrong. Begitu masuk kedalam kantor dosen, dia segera menemui dosen Anggoro yang mempunyai tubuh kekar. “Saya pak, ada apa ya?” lapor Rudi begitu sampai di depan dosen Anggoro. “
Bab 34. OM TABIB GANTENG Kehebohan seketika terjadi di rumah kecil pak Nur, saat bu Sari dan yang lainnya melihat segumpal daging segar sebesar kepala bayi, tergeletak di “Ini.. ini apa?” “Apakah ini daging yang tumbuh di kaki pak Nur?” “Mana mungkin? Lihatlah kaki pak Nur, kulitny
Bab 32. PEMUDA SAKTI Dengan penghasilan yang kecil serta tidak menentu, tentu saja mereka tidak mampu membawa pak Nur berobat ke Rumah Sakit. “Permisi… permisi…” Tiba-tiba terdengar seseorang meminta jalan, sambil menggeser warga yang sedang berkerumun di depan rumah pak Nur. Wa
Bab 31. BERBOHONG DEMI KEBAIKAN Dewa segera mengarang cerita yang tidak masuk akal, kalau dia masuk ke dunia jin, sehingga dia tidak terlihat. Tentu saja Dewa tidak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya, kalau pemilik tubuh yang ditempatinya sudah mati dan dia yang sekarang berasal da







