LOGINPada awalnya hidupku berjalan dengan sangat lancar. Aku memiliki teman baik, keluarga yang utuh, dan kekasih yang sangat mencintaiku. Namun, tak ku sangka semua bisa berubah dalam sekejap. Hal ini diawali dengan putusnya hubunganku dengan sang pacar. Ia harus menikah dengan orang lain. Kukira kesedihan ini akan segera berakhir. Namun, semua semakin parah sebab aku adalah saksi kasus pembunuhan seorang penulis. Pelaku pembunuhan itu sekarang berusaha untuk membunuhku. Bagaimana aku bisa hidup tenang? Siapa yang bisa menyelamatkanku sekarang? Kaukah orangnya? Ku mohon biarkan aku hidup!
View MoreI'm in my thoughts. When the teacher explains a subject that I don't like. I thought of something else. Last night I dreamed about a man with blue eyes. He looked at me closely, he said that the time will come soon. Then I woke up. I still don't understand what the dream means. But those blue eyes seemed to hypnotize me. I keep remembering it. The blue eyes were so calm and calm.
"Meghan!" She called me. Makes me stare in shock because of her loud voice. Deafening my ears, it hurts.
"Yes, Ma'am," I replied.
"What are you doing?" She asked me.
"I'm listening to your explanation," I replied. I tried to lie to her. It didn't work.
"My explanation has ended since ten minutes ago," She said. I bowed embarrassed. The lies I told, made me look even more stupid.
"Sorry ma'am," I said. That's the only defense I can say to her.
Mrs. Ester just sighed at my answer. She is a very good teacher. She always took care of me, like this time. She didn't even punish me. I also don't know why she did that. She was always strict with other students in my class.
I packed my things. Put it in my bag. Then I immediately left the classroom. The home bell has been ringing, since fifteen minutes ago. I always come home late. Because I don't like crowds. I don't like walking in a row on a crowded street. I prefer to walk alone. Enjoy everything I see along the way.
When I was walking home, suddenly a man approached me. He wears a dark brown leather jacket, black t-shirt, and dark jeans. He's wearing a hat. I can't see his face.
He gave me a letter, then he ran away behind me. I don't know what he means, I don't understand. I was scared, I ran as fast as I could.
I hit someone. Until I fell. It turns out that she is Mrs. Ester. How is she in front of me? Isn't her house near the school. But at least I was a little relieved. Mrs. Ester asked, "What's up?". I just shook my head. I'm still so shocked by the incident.
"Why are you running so fast?" She asked me.
"There's a man there," I stuttered.
"Who?"
"I don't know, he's really scary me," I said. I'm still a little trembling when I say it.
"I'll take you home," She said.
I nodded in agreement. I'm safe, Mrs. Ester is with me. She will always take care of me. I smiled at her. She also smiled back.
"Why you are here?" I asked her.
"I'm waiting for someone," she replied.
"Who?"
"You don't know him," she replied.
I am quiet. Looks like she doesn't want to answer my question. I kept walking while holding her hand. I have put the letter in my jacket pocket. After I get home, I'll take a look.
Mrs. Esther escorted me to the house.
"Thank you, ma'am," I told her.
"You're welcome, hurry in!" She said.
Then she waved his hand at me, then I replied. I was relieved, I finally got home.
***
My name is Meghan White. I am sixteen years old. In two months, I will be seventeen years old. I went to high school. Now I am in twelfth grade. My parents are named David White and Rebeca White. I'm not a native of Strasbourg City. My parents asked me to move here, a year ago. They always ask me to change places of residence. I don't know the reason.
I go into my room. I put my school bag on the study table. Then I sat on the bed. Take out a sheet of the letter that is in my jacket pocket. The letter looks shabby. The paper is almost brown. It seems was written a long time ago.
The letter turns out to be only three words, be ready Meghan. I was surprised, how did that man know my name? I round my eyes. Strange things just keep happening. The dream is a strange first thing. Then this letter. I feel like I'm being watched.
I immediately save the letter. I don't want my parents to worry about this. I just don't want them asking me to move again. That's annoying for me. Have to adapt to a new environment continuously.
"Meghan," my mother called me.
"Yes, Mom," I replied.
"Get ready soon, we will go to the party," she said.
"Yes mom, I'll be there in fifteen minutes," I replied.
I almost forgot, if today there is a party invitation from one of my father's friends. I prepared quickly. I don't want to disappoint him. I am his only daughter. Then, I have to be elegant for his honor.
The car sped away quickly. I looked out the window. At that time the light was red. The car stopped, I was so shocked. The man looked at me with a sneer.
I feel scared. Why does he look so mad at me? The look in her eyes made me feel scared. Then his car overtook our car. Our car is turning slightly to the right. I heard my dad yelling at him.
"Are you alright?" asked my Dad. He was so worried when he heard my scream.
“I'm fine Dad," I replied.
"Thank God, you're fine," said my dad.
We continued our journey to his friend's house. There were a lot of cars that were neatly lined up in the parking lot.
I got out of the car. Followed by my Daddy and mommy.
"Come in!" invite my mom. I took her hand. I had a bad feeling at that time. Because I saw, the guy's car was also in the line of other cars in the parking lot. I wonder in my mind. Who is he? Why is he also at this party?
I can only hope. I hope this party will go smoothly. And what I was worried about never happened.
Avery membuka pintu depan rumah itu. Ia melihat selotip dan papan tulisan ‘disita’ di sekitar pintunya. Sierra di belakang membawa senter besar untuk menerangkan penglihatan mereka. Mereka masuk dengan perlahan. Mereka berdua tidak menyangka Vanilla berada di rumah ini. Mereka langsung dihadapkan dengan ruang tamu yang kosong. Mereka berdua menelusuri ruang-ruang sekitar untuk mencari Vanilla. Mereka tidak melihat Vanilla di ruangan mana pun. Mereka berdua mengerti bahwa mereka harus mencari dimana Vanilla sedang bersembunyi. Avery dan Sierra langsung tertuju pada sebuah kamar di lantai atas. Pasti itu adalah kamar Vanilla. Mereka membuka pintu yang tidak terkunci itu. Mereka melihat banyak boneka yang sudah berdebu. Interior kamar girly juga menunjukkan bahwa ini benar Vanilla. Di sana ada sesuatu yang janggal. Terdapat sebuah kursi yang terletak di atas sebuah meja. Diatasnya terdapat lubang kotak yang bisa digapai untuk masuk. Avery dan Sie
Saat Avery bangkit dari tempat duduknya, tiba-tiba tangannya ditarik ke luar ruangan oleh Sovann. Ia sangat terkejut, mengingat obsesinya yang meluap baru-baru ini terhadap pria itu. Avery masih coba menstabilkan raut mukanya di hadapan pria itu.Secara tak terduga, Sovann mengeluarkan tempat cincin berwarna merah dari saku seragamnya. Sovann membuka kotak cincin itu, lalu ia pun menunjukkan cincin itu ke depan Avery.“Kalau seperti ini, kau tidak akan pergi lagi ‘kan?” tanya Sovann dengan nada hati-hati.Avery tak menyangka. Pria yang dulunya sering menjahilinya tersebut kini melamarnya. Namun, Avery tidak lupa alasan mengapa ia pergi ke tempat ini. Ia ingin menyelamatkan sahabatnya terlebih dahulu.Tangan Avery menutup kotak cincin itu. Perlakuan tersebut sempat membuat Sovann kaget. Avery pun menjelaskan alasan ia belum bisa menerima cincin pemberian Sovann tersebut.“Aku ingin Vanilla selamat terlebih dahulu. Jika ia dit
Kebiasaan buruk setiap malam Avery adalah diam-diam melihat aktivitas Sovann di media sosialnya. Ia ingin pria itu menyesal setelah dirinya pergi jauh. Naasnya, tampak tidak banyak pengaruh kepergiannya terhadap kehidupan Sovann.Memang sudah saatnya ia berhenti memikirkannya. Avery pun hendak memblokir kontak Sovann guna menghentikan ketergantungannya setiap malam. Ia hanya tersiksa seorang diri hanya karena merindukan pria itu.Jam masih pukul 3 pagi. Avery masih belum bisa tidur sedari tadi. Ini memang tak sengaja melakukannya setiap hari. Insomnia susah dihilangkannya sejak ia pindah. Ia terus memikirkan bagaimana kabar Sovann yang selalu hadir di pikirannya.Namun di sisi lain, Avery tidak menyesal pindah ke kota ini. Jika ia tidak keluar dari zona nyamannya, mungkin hidupnya akan seperti itu-itu saja. Ia akan menjadi orang biasa di antara teman-temannya yang pintar itu.Kecantikannya juga tertutup oleh teman-temannya yang cantik itu. Ia setidaknya m
Saat Vanilla mengambil cutter itu, akhirnya ia juga membawa sebuah laptop untuk berjaga-jaga. Ia juga ingin memilih tempat yang aman untuk bunuh diri. Ia tidak ingin ditemukan di dalam kamarnya.Vanilla pergi ke rumah keluarganya yang dulu. Setelah sekian lama, akhirnya ia pulang. Kira-kira sudah dua tahun ia meninggalkan rumah ini.Dulu, rumah ini terasa seperti istana yang menahannya untuk keluar. Rumah ini seperti penjara, namun sangat nyaman. Sangat sedih melihat terdapat tulisan papan dan selotip yang bertulis ‘disita’ di beberapa bagian rumah.Rupanya rumah ini ikut ditangguhkan untuk membayar utang perusahaan orang tuanya itu.Rumah ini belum ada yang menempati lagi. Sepertinya, rumah ini akan terbengkalai sebagai aset perusahaan yang dihutanginya itu. Vanilla pun nekat masuk ke dalam dan cukup terkejut mengetahui pintu rumah ini sama sekali tidak terkunci.Ia mendapati potongan kayu yang seperti dicongkel dengan besi. Sepertinya
"Namanya Cerise Park, guys!!" teriak Sierra kepada kedua sahabatnya sambil memasuki kelas dengan heboh."Cerise?" ucap Vanilla mengulangi nama itu."Anak kelas sebelah, ya?" sela salah satu teman sekelasnya yang menguping pembicaraan mereka."Seirra, kamu pasti cembokir kan, dia deket banget sama Al
Vanilla menangis mendengar kata-kata pria itu. Dia tidak pernah membayangkan bahwa situasi seperti ini bisa terjadi, di mana tubuhnya yang selalu dijaga bisa saja dikotori oleh pria tersebut.Pria itu pun mendekatkan wajahnya sambil berbisik, "Aku akan mempermudah urusan kau dengan kasus itu. Intiny
Pameran itu diatur oleh panitia acara yang biasa mengadakan acara semacam itu. Vanilla berusaha untuk memverifikasi pemikirannya dengan mendekati salah satu pengunjung yang antusias."Apa ini fan meeting pertama kali penulis Han?" tanyanya.Penggemar tersebut pun menjawab, "Benar. Awalnya Aithne Han
Pukul 10.30 malam sudah berlalu. Ravi tiba-tiba merasa tidak enak saat melihat jam. Rasanya ada sesuatu yang penting yang dia lupakan.Ravi segera memeriksa ponselnya, tapi tidak ada pesan baru. Dia tertegun melihat aplikasi obrolan di ponselnya. Nama yang dipasang di bagian atas adalah 'Vanilla Kim






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.