تسجيل الدخول"Z-Zacky... Biar aku sendiri aja..." gumam Thalia canggung, berusaha menghindar pelan. "Diam di tempatmu, Thalia," potong Zacky tegas dengan nada lembut, menahan bahu mungil gadis itu agar tidak bergerak. Suasana di kamar utama penthouse itu mendadak hening selama beberapa menit. Tangan Zacky masih mengusap helai rambut Thalia dengan sangat telaten, sesekali melirik pantulan wajah polos gadis itu dari kaca cermin di hadapan mereka. "Siapa yang meneleponmu tadi, Zacky?" tanya Thalia akhirnya, berusaha memecah keheningan dengan suara yang sangat pelan. "Papa," jawab Zacky singkat. Thalia menelan salivanya yang terasa pahit. Hatinya ingin sekali meluapkan semua pertanyaan tentang siapa sosok 'Sabrina' yang membuat papa Zacky menelponnya pagi-pagi, namun rasa takut dan harga dirinya menahan lidahnya. 'Aku tidak berhak cemburu... Aku ini siapa?' batin Thalia miris. "Kenapa melamun?" tegur Zacky, nadanya terdengar rendah. Ibu jarinya bergerak menyentuh dagu Thali
"Zacky... Aku sudah selesai mandi, akan bersiap secepatnya," cicit Thalia pelan sambil membuka pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat. Gadis itu melangkah keluar dengan piyama handuk merah muda yang membungkus tubuh mungilnya. Rambut hitamnya terlihat masih basah, terurai pasrah di atas bahu, meneteskan sisa air yang berkilauan di bawah sorotan lampu kamar. Namun, langkah kaki Thalia seketika terhenti kaku di dekat pintu. Pandangannya tertuju pada sosok Zacky yang berdiri membelakanginya di samping ranjang, menggenggam ponsel di telinga. Saat pria itu memutar tubuhnya pelan, manik matanya seketika menggelap memperhatikan sosok Thalia yang berdiri mematung di dekat kamar mandi. [Ada hal yang jauh lebih penting saat itu, Pa,] sahut Zacky datar tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah pucat Thalia. [Hal penting apa sampai kamu tega membiarkan Sabrina di pinggir jalan, Zacky?! Dia baru datang dari luar negeri tapi kamu mengabaikannya!] [Aku sudah minta Ivan unt
Thalia terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar, meski pipinya masih menyisakan bekas lebam tipis. Saya menoleh, ia melihat Zacky sudah bersiap dengan kemeja putih formalnya yang rapi, sedang memasang kancing lengan kemejanya. “Zacky, kamu sudah bangun?!” Thalia bersandar di kepala ranjang memperhatikan pria itu. "Pagi, Thalia. Gimana kondisimu? Udah baikan?" sapa Zacky tenang dengan nada penuh perhatian, membuat pipi Thalia merona. "Udah lebih baik. Kamu udah rapi, mau berangkat kerja sepagi ini?!" Thalia memperhatikan Zacky yang berjalan ke arahnya. Pria itu duduk tepat di samping, menghadapnya, tanpa aba-aba mendaratkan kecupan singkat di bibir merah gadis itu. "Mandi dan bersiaplah. Hari ini kita ke kantor bersama." "Eh? Ke kantor?! Tapi pipi aku kan masih ada bekas lebamnya, Zacky.. Aku malu" keluh Thalia polos seraya memegangi pipinya. "Tidak ada alasan. Hari ini ada hal penting yang harus aku umumkan di depan seluruh karyawan," tegas Zacky santai, membe
Thalia memejamkan matanya, membalas ciuman lembut pria itu dengan mengalungkan tangannya di leher Zacky. Rasa takut dan trauma yang sempat menyiksanya perlahan menguap, berganti rasa hangat dan kepuasan yang menyelimuti hatinya. Zacky melepaskan tautan bibir mereka secara perlahan, ibu jarinya mengusap bibir Thalia yang merona basah. “Thalia, aku siapkan air hangat dulu ya.. Berendamlah agar tubuhmu sedikit lebih rileks..” tanganya mengusap lembut kepala gadis itu penuh perhatian. Thalia hanya mengangguk pasrah, tersenyum melihat perhatian dan kelembutan Zacky padanya. Berbeda jauh dengan perlakuan kasar Arjuna selama ini. Zacky berjalan ke kamar mandi menyalakan air hangat dan menyiapkan keperluan mandi untuk Thalia. Selama ini, dia tidak pernah menyiapkan apapun sendiri, tapi demi gadis itu, Zacky rela melakukan segalanya. “Airnya sudah siap, mau aku bantu mandikan?!” tanya Zacky sambi
"Za-Zacky, cukup!" seru Thalia sambil menangis. Tapi Zacky terus menendang Arjuna seakan meluapkan semua amarahnya yang tertahan selama ini. “Pak Zacky, cukup! Kalau anda terus memukulnya, dia bisa mati!” seru Ivan yang baru saja masuk bersama tim pengawal. Asisten pribadinya itu segera menahan lengan Zacky sebelum pria itu menghabisi nyawa Arjuna sepenuhnya. Napas Zacky terengah-engah penuh amarah yang membuncah. Manik matanya menatap dingin ke arah tubuh Arjuna yang terkulai tak berdaya bersimbah darah. "Bawa pria ini ke markas pusat," perintah Zacky dingin pada para pengawalnya. "Pastikan dia merasakan hukuman paling menyakitkan sebelum kalian menyerahkannya kembali ke pihak kepolisian." "Baik, Pak Zacky!" jawab para pengawal sigap sambil menyeret tubuh Arjuna keluar dari bangunan tua itu. Setelah ruangan itu kembali sepi, Zacky perlahan membalik tubuhnya
”AAWW..." ringisan Thalia tertahan di balik sumbatan kain di mulutnya. Arjuna berlutut di hadapan Thalia, melonggarkan ikatan tali di kaki gadis itu namun tetap membiarkan pergelangan tangannya terikat rapat di belakang punggung. Pria itu kemudian melepas kain sumbatan di mulut Thalia secara kasar. "Hahhh... Hahhh..." Thalia meraup udara segar sambil terbatuk-batuk kecil. "A-Arjuna... Aku mohon... Lepaskan aku..." cicitnya memelas dengan tatapan mata yang penuh air mata. "Lepaskan?" kekeh Arjuna tertawa hambar, jemarinya mengusap pipi Thalia yang lebam akibat tamparannya tadi. "Setelah semua usahaku membawamu kesini, kamu minta dilepaskan? Jangan mimpi, Thalia." "Papa kamu sudah merestui kita," lanjut Arjuna sambil mendekatkan wajahnya ke leher Thalia, menghirup aroma tubuh gadis itu dengan ekspresi penuh nafsu yang menjijikan. "Malam ini, di tempat ini, k







