تسجيل الدخولMobil hitam yang membawa Adam meluncur mulus melewati jalur pintas yang telah dipetakan oleh Luna. Jalanan seolah berpihak padanya hari ini; tidak ada kemacetan berarti. Saat mobil berbelok memasuki area kediaman Papa Rajes, Adam melihat pagar besi tinggi itu sudah terbuka lebar, dijaga oleh tim keamanan yang memberikan hormat sigap saat ia melintas.Halaman depan masih nampak lengang dari kendaraan tamu, namun aura kemegahan sudah terasa. Lampu-lampu kristal yang tergantung di pepohonan mulai berpijar lembut, menyambut senja yang mulai turun.Begitu mobil berhenti, Adam tidak membuang waktu. Ia melangkah lebar menuju area studio pribadinya yang terletak di sayap kanan rumah. Di sana, Luna sudah menyiapkan segala keperluan terakhirnya.Dengan gerakan cekatan namun tenang, Adam mengganti kemeja kerjanya yang sedikit lembap dengan kemeja putih baru yang kaku dan rapi. Ia mengenakan jas navy, hasil desain khusus yang selaras dengan tema Arkadia Series, yang melekat sempurna di bahunya
Pagi itu, Adam berdiri di podium lobi utama Rajawali Jaya Group. Ratusan pegawai dari berbagai divisi berkumpul, menciptakan suasana yang sedikit tegang namun penuh rasa penasaran. Adam tampil rapi, namun aura garang yang sempat terlihat saat kasus Bima kini telah berganti menjadi wibawa seorang pemimpin yang mengayomi.Di sampingnya, Luna berdiri sigap dengan beberapa berkas, sementara pengeras suara memastikan suara Adam terdengar hingga ke sudut-sudut ruangan.“Selamat pagi semuanya,” suara Adam menggema, tenang namun tegas. “Seperti yang kalian tahu, besok adalah hari yang sangat spesial bagi saya dan keluarga kecil saya. Saya ingin berbagi kebahagiaan ini dengan kalian semua, orang-orang yang telah membantu membesarkan Rajawali Jaya.”Adam terdiam sejenak, menatap wajah-wajah pegawainya. “Saya memohon maaf karena keterbatasan tempat dan privasi keluarga, saya tidak bisa mengundang seluruh ribuan pegawai ke lokasi acara. Namun, kebahagiaan saya tidak akan lengkap jika kalian tid
Halaman luas kediaman Rajes kini telah berubah menjadi area konstruksi estetik yang sibuk. Truk-truk besar bermuatan bunga segar dan rangka besi dekoratif berjajar di area parkir. Suara denting palu yang bertemu rangka besi dan instruksi kru dekorasi menciptakan suasana yang penuh energi sekaligus mendebarkan.Areta berdiri di tengah taman, masih dengan gaya kasual namun matanya yang tajam sebagai desainer tak melewatkan satu detail pun. Di sampingnya, Veronica berdiri dengan anggun, memegang kipas kecil sambil memantau pekerjaan para kru.“Mbak Shinta, pastikan posisi lampu fiber optic di pohon ini tidak terlalu rapat,” ujar Areta sambil menunjuk sebuah pohon peneduh yang kini mulai dililiti kabel-kabel halus. “Aku ingin cahayanya tampak seperti kunang-kunang yang terbang alami, bukan seperti lampu hias toko.”Shinta, sang dekorator, segera menginstruksikan anak buahnya untuk menyesuaikan posisi lampu. “Siap, Mbak Areta. Kami akan buat pendarannya sehalus mungkin agar serasi dengan
Sinar matahari sore menembus jendela kaca butik Areta Niku, memantulkan kilau pada deretan manekin yang mengenakan koleksi terbarunya. Di dalam, Areta tampak sibuk. Setelah ketegangan soal teror Bima mereda, ia memutuskan untuk menyalurkan energinya dengan merapikan butik.Lengan kemeja putihnya masih tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan tangannya yang cekatan mengelap meja kayu estetik di tengah ruangan. Ia merasa tenang karena tahu Arkadia sedang berada di tangan yang aman bersama Mama Veronica di rumah.Lonceng di pintu berdenting, tanda seorang tamu masuk.Seorang wanita berusia sekitar 40-an dengan penampilan sangat elegan masuk sambil tersenyum ramah. Ia menjinjing sebuah tas kulit berkualitas tinggi yang tampak penuh.“Selamat sore, Mbak Areta? Saya Shinta dari L’Amour Decoration,” sapa wanita itu. “Maaf jika saya datang sedikit lebih awal dari jadwal kita.”Areta segera menurunkan gulungan lengan bajunya sedikit dan menyambut jabat tangan Shinta. “Sore, Mbak Shinta.
Setelah keheningan yang mencekam selama beberapa menit, Adam akhirnya bersuara. Suaranya rendah, serak, namun penuh tekanan yang tidak terbantahkan.“Luna, hubungi tim IT. Saya ingin rekaman CCTV di depan gerbang rumah Papa Rajes dalam satu jam terakhir disisir habis. Cari kurir paket itu. Jika dia menggunakan motor atau mobil, saya ingin nomor platnya ada di meja saya sebelum matahari terbenam.”“Baik, Pak,” sahut Luna cekatan, jarinya langsung menari di atas layar iPad-nya.“Dan satu lagi,” Adam menatap ke luar jendela, melihat jalanan yang seolah bergerak terlalu lambat baginya. “Hubungi Pierre. Tanya dia secara pribadi, apakah ada pihak di Paris yang merasa dirugikan dengan kesuksesan koleksi Arkadia Series. Jika teror ini berhubungan dengan bisnis Areta di sana, aku akan menutup mulut mereka selamanya.”Saat mobil berbelok memasuki area perumahan elit Papa Rajes, Adam melepaskan kancing jasnya, seolah mempersiapkan diri untuk pertempuran. Luna bisa melihat dari spion bagaimana
Malam harinya, setelah Arkadia terlelap, Areta duduk bersandar di headboard tempat tidur sambil menggenggam ponselnya. Ia memutuskan untuk menghubungi Pierre secara langsung lewat panggilan internasional, tak sabar ingin mendengar detail keberhasilan koleksi musim keduanya di Paris."Pierre! Aku baru dengar kabar dari Adam kalau koleksi kita sukses besar. Benarkah?" tanya Areta dengan nada antusias begitu panggilan tersambung."Areta! Ah, desainer bintangku! Benar sekali," suara Pierre terdengar bersemangat di seberang sana. "Paris jatuh cinta pada sentuhan lembutmu. Koleksi Arkadia Series ini punya jiwa, Are. Mereka bilang ini bukan sekadar baju bayi, tapi seperti pelukan seorang ibu."Mereka sempat berbincang selama lima belas menit mengenai angka penjualan, rencana produksi untuk musim berikutnya, hingga kemungkinan pembukaan gerai fisik baru di kawasan Le Marais. Namun, di sela-sela pembicaraan teknis itu, Areta menangkap nada suara Pierre yang sangat ceria setiap kali menyebut
"Jangan melunjak!" potong Areta cepat, wajahnya memerah. "Tempel sendiri! Gunakan penggaris pola atau apa pun kalau tanganmu tidak sampai. Jangan manja."Areta segera melangkah pergi menuju area workshop dengan langkah cepat, menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa panas. Di dapur, Adam hanya bis
Hari yang dinanti tiba. Nyonya Dewi datang ke butik dengan pengawalan ketat, membawa putrinya, Siska, yang akan menjadi pengantin. Kini, gaun mahakarya Areta sudah terpasang sempurna pada tubuh Siska, sebuah gaun putih gading dengan detail payet yang berkilau seperti embun pagi.Areta sedang berlutu
Adam tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dengan gerakan santai yang tetap terkesan culun, ia mengangkat kantong belanjaannya dan berpura-pura mencium lengannya sendiri, lalu mengernyitkan dahi seolah ikut bingung."Oh, ini? Iya, Are. Tadi aku tidak dapat ojek di depan pasar, jadi aku jalan sed
"Nah, sudah jadi," ucap Adam saat meletakkan piring berisi telur "hancur" dan roti bakar ke atas meja kecil.Areta menatap hasil karyanya dengan bangga meski berantakan. "Ini sarapan pertama yang kubuat... secara teknis kita buat bersama. Terima kasih sudah sabar denganku, Adam."Mereka akhirnya du







