LOGINSuasana di kantor pusat Rajawali Jaya terasa lebih tenang sore itu, namun tidak di meja kerja Luna. Wanita yang dikenal sebagai “tangan kanan” Adam yang paling tangguh itu kini hanya terduduk diam. Di hadapannya, sebuah amplop putih bersih terletak di atas meja marmer yang biasanya dipenuhi tumpukan berkas dan jadwal CEO.Selembar surat di dalamnya terasa begitu berat, meski hanya terdiri dari beberapa paragraf. Surat pengunduran diri.Luna menyentuh permukaan amplop itu dengan ujung jarinya. Menjadi sekretaris Adam bukan sekadar pekerjaan baginya, itu adalah identitasnya selama bertahun-tahun. Ia yang mengatur setiap detak napas perusahaan ini, ia yang menjadi tameng Adam di saat-saat tersulit, dan ia pula yang menjadi saksi bisu kembalinya cinta Adam dan Areta.“Apa aku benar-benar sanggup meninggalkan semua ini?” bisiknya pada keheningan ruangan.Namun, bayangan wajah Pierre seketika melintas di benaknya. Pierre, pria Paris dengan senyum santai dan selera humor yang mampu merunt
Suasana di ruang tengah yang tadinya ceria mendadak berubah haru ketika Adam dan Areta menyampaikan rencana kepindahan mereka. Mama Veronica yang sedang memangku Arkadia seketika mempererat pelukannya pada sang cucu, seolah takut malaikat kecil itu akan dibawa pergi detik itu juga.“Pindah? Secepat itu?” suara Veronica sedikit bergetar. Ia menatap Adam dan Areta bergantian dengan tatapan memohon.“Adam, Are ... apa tidak bisa ditunda sebentar lagi?” Veronica mulai melakukan negosiasi, matanya nampak berkaca-kaca. “Bagaimana kalau menunggu Arkadia bisa jalan dulu? Setidaknya sampai dia benar-benar lancar bicaranya. Dia masih terlalu kecil untuk pindah ke lingkungan baru.”Areta mendekat, duduk di samping ibunya dan mengelus lengannya lembut. “Ma, rumahnya tidak jauh kok. Hanya beda kecamatan saja.”“Tetap saja beda rumah, Areta!” potong Veronica cepat. “Begini saja, bagaimana kalau kalian saja yang menginap di rumah baru itu setiap akhir pekan? Seperti staycation. Mama sangat tidak
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden otomatis di kamar baru mereka. Areta perlahan membuka mata, merasakan kehangatan yang melingkupinya. Ia mendongak dan menemukan wajah Adam yang tampak begitu damai dalam tidurnya, sangat berbeda dengan sosok CEO yang dingin saat di kantor.Areta tersenyum manis, jemarinya hampir saja menyentuh rahang suaminya yang tegas. Namun, sedetik kemudian, kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia melirik ke bawah selimut sutra mereka, teringat akan pergulatan manis semalam yang menjadi penutup sempurna hari pernikahan mereka.Wajahnya mendadak panas. Dengan gerakan panik yang kikuk, Areta menarik selimut lebih tinggi, menutupi hingga ke dagunya. "Duh, bagaimana ini ...," gumamnya gelisah, jantungnya berdegup kencang karena rasa malu yang tiba-tiba menyerang.Pergerakan Areta membuat Adam terusik. Pria itu menguap kecil, mengucek matanya dengan malas, lalu bukannya menjauh, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Areta dan menariknya
Di dalam mobil yang melaju membelah keheningan malam, Adam tidak melepaskan genggaman tangannya dari Areta. Ia bisa merasakan jemari istrinya yang sedikit dingin dan gelisah—sebuah tanda bahwa separuh hati Areta masih tertinggal di kamar bayi tadi.“Dia akan baik-baik saja, Are,” bisik Adam lembut, seolah bisa membaca setiap kecemasan yang berputar di kepala istrinya. “Kamu adalah ibu yang luar biasa. Justru karena kamu ibu yang hebat, kamu berhak mendapatkan waktu untuk bernapas sejenak. Arkadia pasti bangga punya Mama yang bahagia.”Areta hanya tersenyum tipis, mencoba mengusir rasa bersalahnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Adam, merasakan detak jantung suaminya yang tenang dan stabil, hingga akhirnya mobil mulai melambat dan berbelok memasuki sebuah kawasan yang sangat asri.Kejutan di Balik GerbangMobil berhenti dengan perlahan. Adam tidak langsung membukakan pintu, ia membiarkan Areta melihat sendiri apa yang ada di depannya.“Kita sudah sampai,” ujar Adam lirih.Aret
Mobil hitam yang membawa Adam meluncur mulus melewati jalur pintas yang telah dipetakan oleh Luna. Jalanan seolah berpihak padanya hari ini; tidak ada kemacetan berarti. Saat mobil berbelok memasuki area kediaman Papa Rajes, Adam melihat pagar besi tinggi itu sudah terbuka lebar, dijaga oleh tim keamanan yang memberikan hormat sigap saat ia melintas.Halaman depan masih nampak lengang dari kendaraan tamu, namun aura kemegahan sudah terasa. Lampu-lampu kristal yang tergantung di pepohonan mulai berpijar lembut, menyambut senja yang mulai turun.Begitu mobil berhenti, Adam tidak membuang waktu. Ia melangkah lebar menuju area studio pribadinya yang terletak di sayap kanan rumah. Di sana, Luna sudah menyiapkan segala keperluan terakhirnya.Dengan gerakan cekatan namun tenang, Adam mengganti kemeja kerjanya yang sedikit lembap dengan kemeja putih baru yang kaku dan rapi. Ia mengenakan jas navy, hasil desain khusus yang selaras dengan tema Arkadia Series, yang melekat sempurna di bahunya
Pagi itu, Adam berdiri di podium lobi utama Rajawali Jaya Group. Ratusan pegawai dari berbagai divisi berkumpul, menciptakan suasana yang sedikit tegang namun penuh rasa penasaran. Adam tampil rapi, namun aura garang yang sempat terlihat saat kasus Bima kini telah berganti menjadi wibawa seorang pemimpin yang mengayomi.Di sampingnya, Luna berdiri sigap dengan beberapa berkas, sementara pengeras suara memastikan suara Adam terdengar hingga ke sudut-sudut ruangan.“Selamat pagi semuanya,” suara Adam menggema, tenang namun tegas. “Seperti yang kalian tahu, besok adalah hari yang sangat spesial bagi saya dan keluarga kecil saya. Saya ingin berbagi kebahagiaan ini dengan kalian semua, orang-orang yang telah membantu membesarkan Rajawali Jaya.”Adam terdiam sejenak, menatap wajah-wajah pegawainya. “Saya memohon maaf karena keterbatasan tempat dan privasi keluarga, saya tidak bisa mengundang seluruh ribuan pegawai ke lokasi acara. Namun, kebahagiaan saya tidak akan lengkap jika kalian tid
Jean-Pierre bergegas menghampiri Areta yang terduduk lemas. Saat ia menarik lengan Areta untuk membantunya berdiri, sebuah benda plastik kecil terjatuh dari saku mantel yang tersampir di kursi. Jean-Pierre tertegun sejenak saat melihat dua garis merah yang sangat jelas di atas lantai studio yang di
Areta sudah memutar tubuhnya, langkah kakinya yang cepat dan tegas menggema di lantai marmer yang mengkilap menuju lift. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh sensor pintu, sebuah lengan kokoh menghadang jalannya.Adam berdiri tegak di depan pintu lift. Tidak ada lagi bahu yang membungkuk lesu
Salah satu orang suruhan di belakang Renata berbisik dengan suara gemetar, "Nona ... sebaiknya kita pergi. Pria ini ....""Diam kamu!" bentak Renata pada orang suruhannya, lalu kembali menatap Adam. "Adam, aku akan bayar berapa pun! Kamu mau uang? Aku kasih! Tapi tolong bilang pada bosmu untuk ber
Areta menunggu momen yang tepat. Begitu ia mendengar suara gemericik air dan denting piring dari arah dapur, pertanda Adam sedang sibuk membereskan bekas sarapan mereka, ia segera bangkit dari kursinya. Dengan langkah berjinjit dan jantung yang masih berdegup kencang, ia menyelinap masuk ke dalam ka







