ANMELDEN"Ini hukuman karena kamu terlalu lancang, Tante. Bilang parfum orang lain murahan, padahal lubangmu sendiri selalu mengemis minta diisi di sini," ejek Bara. Crek crek crek...Jarinya bergerak semakin brutal di dalam, memilin titik paling peka Marissa hingga wanita itu mendesah pasrah."Ah Bara, tolong... Tolong penuhi lubang Tante ...""Bilang dulu, kalau Tante butuh punyaku untuk memenuhi lubang Tante!""Ah... iya, Tante memang butuh punyamu, Bar... cepatlah... Penuhi lubang basah Tante ..." rintih Marissa, lubangnya berkedut jepit menjari Bara.Bara menarik jarinya keluar, menimbulkan bunyi plop yang basah. Dia melepas sabuk celananya dengan satu tangan. Klik. Bunyi logam beradu memecah kesunyian. Tanpa menggunakan pengaman atau aba-aba, Bara mengarahkan kejantanannya yang sudah menegang keras ke lubang basah Marissa, lalu menghantam masuk dari belakang dengan satu sentakan penuh amarah.Jleb! Spruut!"Aaaaahh!" Marissa menjerit kencang saat daging tebal Bara melesak sampai m
Bara melangkah keluar dari ruang loker. Kemeja kerjanya sudah diganti dengan kaos ketat hitam dan jaket kulit yang tersampir di pundak. Langkah kakinya mantap menyusuri lorong menuju meja resepsionis depan.Di balik meja, Bang Jaka masih sibuk dengan pinsetnya, kali ini memperhatikan kaca kecil untuk merapikan bulu hidung."Bang, saya balik dulu," kata Bara sambil menepuk meja.Bang Jaka tersentak, hampir saja menusuk hidungnya sendiri. Dia menoleh dengan wajah gusar. "Sialan lo, Bar! Ngagetin aja!"Bara hanya menaikkan alisnya tipis. "Jadwal Sabtu-Minggu jangan lupa dicatat. Biar dua member VIP itu gak ngamuk lagi."Bang Jaka menghela napas, meletakkan pinsetnya. "Iya, udah gue amanin. Tapi beneran ya, Sabtu lo kudu dateng pagi. Gak mau gue digencet bini si Anton lagi. Tadi pas keluar dari kamar VIP, mukanya udah kayak abis menang lotre."Bara tersenyum miring, mengingat kembali sisa cairan Siska yang masih menempel di handuk kecil di dalam tasnya."Beres, Bang. Duluan," ucap Bara si
"Eungh! Bara... kamu pegang apa..." Siska tersentak. Kepalanya langsung mendongak ke atas dengan mata terpejam rapat. Tubuhnya yang tadi lemas mendadak kaku, tersengat sensasi nikmat yang datang tiba-tiba."Saya cuma memastikan posisi pinggul Tante tidak bergeser saat diregangkan," ujar Bara dengan nada nakal yang berbisik di dekat telinga Siska. Jari tangannya justru semakin gencar menekan dan menggesek area intim tersebut melalui kain."Ih, kamu mah... bohong banget... ah!" Siska meremas ujung matras yoga hingga kukunya yang merah menyala memutih. Siksaan peregangan dari Bara benar-benar membuatnya kembali melayang."Gimana, Tante? Mau lanjut latihannya atau mau saya buat lebih lemas lagi?" tanya Bara, menyeringai puas melihat kain di selangkangan Siska mulai kembali basah oleh cairannya sendiri."Kamu... nakal banget... eungh! Tekan lagi, Bar... cepat!" Siska meracik desahan pasrah, melupakan rasa sakit di otot pahanya demi siksaan nikmat dari jari-jari Bara.Bara terkekeh pendek.
Bara melepaskan tautan bibir mereka. Siska terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Lipstik merahnya berantakan, tercoreng hingga ke sudut dagu. "Tante kenapa buru-buru sekali? Masih ada banyak waktu," ujar Bara sambil menyeringai. Tangannya dengan santai meraba ritsleting belakang baju Siska. Sreeek. Siska memekik tertahan saat kain ketat itu melorot, memamerkan punggung mulus yang langsung merinding saat kena udara AC. Bara sengaja menghembuskan napas hangat di tengkuknya, membuat Siska menggeliat seperti kucing betina. "Bar, jangan nakal," desis Siska, meski pinggulnya justru sengaja mundur, menabrak kejantanan Bara yang sudah menegang di balik celana bahan hitam itu. Bara terkekeh pelan. Dia membalik tubuh Siska hingga menghadap dinding. "Tante yang mulai tadi. Masa sekarang mau menyerah?" Plak. Bara menepuk pantat Siska dengan cukup keras, membuat si wanita memekik kaget sekaligus senang. "Ah! Bara, kamu benar-benar..." "Benar-benar apa? Benar-benar bisa bikin Tan
Bara melangkah keluar dari lobi utama gedung HDK Group. Dia memacu motor tuanya membelah jalanan Jakarta, lalu berhenti di depan sebuah ruko berlantai tiga bertuliskan Mega Gym.Begitu pintu kaca didorong, bau minyak otot dan suara dentum musik disko langsung menyengat. Di balik meja resepsionis, seorang pria berbadan seperti kulkas dua pintu dengan kaos kutang hitam sedang asyik mencabuti bulu ketiak menggunakan pinset. Bang Jaka."Bang," sapa Bara."Eh, kunyuk! Dari mana aja lo? Baru kelihatan batang hidungnya!" seru Bang Jaka. Pinsetnya terlepas, menjatuhkan sehelai bulu ke atas meja."Ada urusan, Bang," jawab Bara datar. "Mulai minggu ini, saya cuma bisa ambil jadwal kerja hari Sabtu dan Minggu saja."Bang Jaka melotot sampai matanya hampir keluar. Dia menggebrak meja hingga botol suplemen di dekatnya melompat. "Lah! Kagak bisa gitu dong, Bar! Gila lo ya? Jadwal lo padat begini mau lo pangkas?!""Saya ada kesibukan lain, Bang. Nggak bisa diganggu."Bang Jaka menjambak rambutnya se
Bara menatap tepat ke manik mata Handoko. Dia tidak berkedip."Saya mau akses penuh," jawab Bara tegas."Akses penuh?" ulang Handoko pelan."Ke seluruh jaringan perusahaan. Saya mau lihat laporan keuangan pusat. Saya mau tahu rute distribusi dari semua pelabuhan yang dikuasai HDK Group. Saya mau tahu semua daftar anak perusahaan yang Bapak sembunyikan di luar negeri. Semuanya."Senyum di wajah Handoko perlahan memudar. Matanya menyipit. Hening menyelimuti ruangan besar itu. Hanya terdengar suara dengung halus dari pendingin ruangan.Handoko mengambil cerutunya kembali. Dia memutarnya perlahan dengan jari telunjuk dan ibu jari. Asap tipis masih keluar dari ujung cerutu yang menyala. Abu putih jatuh sedikit menodai celana kain mahalnya. Handoko tidak mempedulikannya."Kamu terlalu ambisius, Bara," kata Handoko pelan. Suaranya kini terdengar mengancam. "Kamu baru satu hari bekerja di cabang kecil. Kamu baru menangkap satu tikus gudang.""Tikus gudang itu bekerja untuk Anton. Dan Anton be







