ANMELDENTerdengar suara tangisan histeris Mbah Tejo, sesepuh desa yang bertugas menjaga barak darurat di sebelah klinik. Pria tua itu memukul-mukul kaca jendela dengan wajah yang bersimbah air mata dan dipenuhi kepanikan luar biasa."Mbah Tejo? Ada apa, Mbah?!" tanya Tresna, sedikit membuka celah jendela tanpa melepaskan kendali energinya pada wadah obat."Anak-anak pengungsi, Mas! Tiga anak dari desa seberang mendadak berhenti bernapas di dalam barak! Kulit mereka sudah membiru semua, Mas!" lapor Mbah Tejo dengan suara gemetar hebat, meratapi kondisi para korban yang kian kritis di luar."Gusti... bakterinya sudah menyerang pusat saraf pernapasan mereka, Mas!" pekik Clara spontan, wajah dokternya seketika pucat pasi mendengar laporan tersebut. "Kalau dalam lima menit mereka nggak dapat penawar ini, mereka nggak akan bisa diselamatkan lagi!""Clara, selesaikan sisa campurannya sekarang juga! Biar aku yang urus anak-anak itu duluan!" perintah Tresna dengan suara bariton yang menggelegar penuh
Tresna berlari sekencang mungkin membelah jalanan setapak desa, diikuti Clara dan Silvi yang bersusah payah mengejar dengan pakaian yang masih basah kuyup. Begitu mereka tiba di depan halaman klinik, pemandangan di sana jauh lebih kacau dari yang dibayangkan.Asap hitam pekat ternyata berasal dari tumpukan ban bekas yang sengaja dibakar di depan pagar pembatas. Di sana, sudah berkumpul kerumunan ratusan warga dari desa seberang yang berteriak histeris dengan wajah beringas."Keluar kamu, Mantri Sialan! Berikan obatnya pada kami!" teriak seorang pria berkaus dekil sambil mengacungkan sebatang kayu besar."Jangan biarkan warga desa seberang mati kelaparan dan membusuk karena karantina ini! Kalian sengaja mau membunuh kami?!" sahut warga lainnya, menyulut api lebih besar ke tumpukan ban."Mundur kalian semua! Jangan bikin rusuh di sini!" bentak beberapa pemuda karang taruna Sukamaju yang mencoba menahan pagar pembatas agar nggak jebol."Mas Tresna! Gusti... banyakkk banget orangnya!" pek
Di seberang kolam, Juragan Karso merangkak kepayahan dengan sisa tenaganya. Namun, sebuah bongkahan batu raksasa seberat ratusan kilogram mendadak runtuh dari langit-langit, tepat jatuh menimbun tubuh lemas Juragan Karso hingga pria tua serakah itu ndak bisa bergerak lagi."Tresna... tolong aku... obatnya... akhhh!" rintih Karso terputus-putus, sebelum akhirnya runtuhan batu yang lebih besar menimbun wajahnya sepenuhnya."Mas Tresna! Cepat kembali ke sini! Batunya makin banyak yang jatuh!" jerit Silvi terpaku menatap langit-langit yang perlahan terbelah.Tresna melompat kembali ke arah kedua wanita itu, matanya melirik ke sekeliling lorong masuk yang kini sudah tertutup total oleh longsoran batu kapur yang masif."Jalur atas sudah tertutup, Clar, Sil! Nggak ada jalan kembali ke tebing!" ujar Tresna taktis sembari menyapu pandangan ke arah aliran air kolam yang berarus deras ke dalam celah bawah tanah."Lalu kita lewat mana, Mas?! Kita bakal mati konyol di dalam sini?!" tanya Clara den
"Karso, jangan gila! Kalau kamu meledakkan tempat ini, kamu juga akan mati tertimbun!" seru Clara, mencoba memperingatkan konsekuensi fatal dari tinggakan nekat pria tua itu."Mati? Hahaha! Aku nggak peduli lagi! Kalau aku nggak bisa sembuh, maka kalian semua harus ikut mati bersamaku!" teriak Karso histeris, tawa gila memekakkan telinga kembali keluar dari tenggorokannya yang rusak."Serahkan seluruh sisa obat herbal itu, Tresna! Atau kita semua hancur!" tuntut Juragan Karso dengan napas yang memburu pekat.Pria tua yang sudah kehilangan akal sehatnya itu mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi, tepat berada di atas tombol merah detonator bom rakitan tersebut. Sifat keras kepalanya banget membuat situasi di dalam gua berada di titik paling berbahaya."Mas Tresna... gimana ini? Aku takut banget," tangis Silvi mulai pecah, tubuhnya lemas bergelayut di lengan kiri Tresna."Tenang, Sil. Jangan menunjukkan kelemahan di depan kecoak tua ini," bisik Tresna tetap tenang, matanya mengunci perger
Clara dan Silvi segera bergerak cepat, merayap mundur dan menyembunyikan tubuh mereka di balik bongkahan batu stalagmit yang besar.Suara sepatu bot militer itu terdengar semakin dekat, memantul di dinding-dinding batu gua yang basah.TAK! TAK! TAK!"Mana senternya?! Sorot ke sebelah kiri! Jangan sampai ada yang kelewatan!" teriak salah satu anak buah Karso di ujung lorong.Tresna tidak bergerak sedikit pun. Tubuh tegapnya melekat sempurna pada bayangan batu raksasa, mengandalkan hawa gelap guna menyembunyikan keberadaannya.Menggunakan radar alami dari aliran energi Batu Wulung, Tresna menghitung jumlah langkah kaki yang mendekat."Ada lima orang," batin Tresna, menyeringai dingin dalam kegelapan.Begitu dua orang pengawal terdepan melangkah melewati batas batu tempatnya bersembunyi, Tresna langsung bergerak secepat kilat. Kedua tangannya menjulur keluar, mencengkeram bagian belakang kepala kedua pria itu, lalu membenturkannya dengan sangat keras.BRAAAK!"Ugh!" Kedua pengawal itu la
"Ahhh... Mas Tresna... punya kamu nggak ada duanya," rintih Silvi parau saat perlahan-lahan menurunkan pinggulnya, membiarkan ukurannya yang besar melesak masuk membelah kehangatan tubuhnya.SLRRRUUUPP!"Ugh, jepitanmu nggak kalah padat sama Clara," erang Tresna, tangannya langsung naik mencengkeram pinggul ramping Silvi untuk menahan bobot tubuh janda desa tersebut.Silvi memejamkan mata. Kepalanya mendongak ke atas menahan sensasi penuh yang mendesak rahimnya.Tanpa menunggu komando, janda kembang itu langsung mengayunkan pinggul naik turun dengan ritme cepat dan berani. Dia mengambil kendali penuh di atas tubuh tegap Tresna, memanjakan sang mantri desa dengan goyangan khas wanita berpengalaman.PLOK! PLOK! PLOK!"Nghhh... Mas... enakkk banget! Goyanganku mantap nggak, Mas?" tanya Silvi manja di sela-sela desahannya yang kian melengking memecah keheningan gua alam."Mantap bener, Sil. Terus, yang cepet," puji Tresna parau, menikmati servis agresif dari Silvi.Melihat Silvi yang begi







