Startseite / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 19: Adu Mekanik di Gudang Beras Pak Bos

Teilen

Bab 19: Adu Mekanik di Gudang Beras Pak Bos

last update Veröffentlichungsdatum: 02.05.2026 00:32:51

"Madun! Ke mana saja kamu?! Beras dua ton belum dipindah, kamu malah asyik menghilang!" teriak Pak Bos dari depan gudang.

Madun yang baru sampai di pasar dengan motor bututnya langsung meloncat turun. Wajahnya masih sisa-sisa segar sehabis "perawatan" di klinik Bidan Siska semalam. "Maaf Pak Bos, tadi ban motor bocor, harus ditambal dulu!"

"Banyak alasan! Cepat bantu Rini di dalam! Dia sedang rekap data tapi karung-karungnya menghalangi jalan!" Pak Bos mengomel sambil berlalu pergi dengan sarun
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 343: CD yang Tertukar

    ​Pukul 17.30 sore. Menteng perlahan-lahan mulai memasuki waktu senja ketika angin malam mulai berhembus membawa kesejukan setelah teriknya hari. Di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa, suasana tampak jauh lebih tenang dibandingkan badai amukan nafsu yang baru saja terjadi di balik pagar kemuning beberapa jam lalu.​Gendis duduk di tepi ranjang king-size berseprai merah marun. Ia mengenakan kembali seragam putih-abu-abunya, namun ada satu hal ganjil yang langsung mengusik pikirannya saat ia merapikan pakaian di depan cermin besar sudut kamar.​Ketika ia hendak mengenakan pakaian dalam miliknya yang tadi sempat dilepas dan diletakkan tergesa-gesa di atas karpet bulu, jari-jarinya menyentuh sebuah kain katun berenda dengan ukuran yang jauh lebih besar dari miliknya.​Gendis mengangkat kain tersebut tinggi-tinggi dengan mata membelalak heran. Itu bukan celana dalamnya yang berwarna merah muda bergambar beruang kecil. Itu adalah celana dalam wanita dewasa berwarna hitam legam dengan ak

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 342:Jam Pulang

    ​Pukul 15.00 sore. Menteng kembali diselimuti oleh cuaca terik yang menyengat trotoar aspal. Di depan gerbang SMA Pelita Bangsa, deretan angkot dan kendaraan roda dua berjejer padat menyambut jam kepulangan para siswa. Di antara kerumunan remaja berseragam putih-abu-abu yang berhamburan keluar, Gendis melangkah keluar gerbang dengan ransel tersampir di satu bahunya.​Meskipun jam pelajaran hari itu diisi dengan ujian matematika dan sejarah yang melelahkan, pikiran siswi berusia tujuh belas tahun itu sama sekali tidak berada di dalam kelas. Sejak bel istirahat pertama tadi pagi, bayangan suara bariton Madun dan janji "menu spesial" di jalur belakang kemuning terus berputar-putar di dalam kepalanya, menciptakan gelombang denyutan hangat yang tak kunjung reda di bagian intinya.​Gendis tidak langsung naik angkot umum menuju rumahnya. Sesuai instruksi mutlak sang kakek sakti, ia berjalan kaki menyimpang lewat gang setapak di balik rimbunnya pohon kemuning tua—jalur rahasia yang menghubung

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 341: Bara di Istana Menteng

    ​Pukul 02.15 dini hari. Suasana di kawasan Menteng terbungkus dalam keheningan malam yang pekat. Lampu-lampu jalan memancarkan pendar kuning redup, sementara udara luar terasa dingin menyelimuti dahan-dahan pohon kemuning di sekitar RM Jagoan Rasa.​Namun, di dalam kamar utama istana sang jagoan desa, udara dingin sama sekali tidak mampu menyentuh kulit. Ruangan luas berlantai kayu jati tua itu masih mengepulkan sisa-sisa hawa panas yang keluar dari tubuh tiga manusia yang terbaring di atas ranjang king-size.​Vanesha, sang istri sah, tertidur lelap dengan kepala bersandar di dada kiri Madun, napasnya teratur setelah badai jos gandos mereda beberapa jam lalu. Di sisi sebelah kanan, Gendis—sang daun muda berusia tujuh belas tahun—terkulai lemas dengan posisi kaki setengah melingkar di atas paha Madun, bibirnya yang ranum sedikit terbuka, menyisakan jejak peluh dan tetesan kenikmatan di sudut dagunya.​Madun sendiri berbaring telentang dengan mata terbuka lebar dalam gelap. Di dalam tub

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 340: Pesta Jos Gandos

    ​Pukul 19.30 WIB. Efek Ramuan Jamu Perangsang Rawa Lele Generasi Ketiga benar-benar merasuk hingga ke sumsum tulang belakang Vanesha dan Gendis. Di bawah pendar lampu kamar tidur yang temaram, batas antara kesadaran dan insting kehewanan melebur menjadi satu. Kamar utama RM Jagoan Rasa berubah menjadi medan tempur gairah yang membara, dipenuhi desahan napas berat dan aroma rempah jamu yang pekat.​Madun, sang jagoan desa yang berdiri di pusat pusaran nafsu tersebut, menatap kedua wanita di hadapannya dengan seringai maut yang semakin melebar. Di hadapan mereka, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter berdenyut-denyut kencang, mengeluarkan uap panas tipis seolah siap mencabik-cabik apa saja yang menghalanginya.​"Mau mulai gaya apa dulu malam ini, Vanesha, Neng Gendis? Sesuai semboyan kita: Jos Gandos—sekali tancap langsung bikin lemas tak berdaya!" seru Madun dengan suara baritonnya yang menggelegar memenuhi ruangan.​Serbuan Ganda Tanpa Ampun​Vanesha langsung mer

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 339: Ramuan Malam Jahanam di Kamar Utama

    ​Pukul 19.15 WIB. Suasana di dalam kamar utama RM Jagoan Rasa mendadak berubah menjadi arena ritual rahasia yang dipenuhi aroma rempah tajam bercampur wewakioran dupa gaharu. Lampu tidur berpenutup kain merah marun memancarkan pendar temaram, menyinari ruangan luas yang berlantaikan kayu jati tua mengkilap.​Di tengah ranjang king-size yang beralaskan seprai tebal, Vanesha dan Gendis duduk berdampingan. Vanesha mengenakan negligee satin hitam berenda tipis yang membalut tubuh indahnya dengan sempurna, sementara Gendis masih mengenakan jaket hoodie kebesarannya yang menutupi bikini merah muda basah dari Curug Menteng, membuat pesona kontras antara sang istri sah yang dewasa dan sang daun muda yang imut tampak begitu membakar mata.​Madun berdiri di dekat meja rias sudut kamar. Di hadapannya terbentang sebuah botol kaca tua berukuran sedang yang berisi cairan pekat berwarna hitam legam—Ramuan Jamu Perangsang Rawa Lele Generasi Ketiga, racikan paling ekstrem warisan leluhur rawa yang ter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 338: Interogasi di Bawah Lampu Teras Menteng

    Suasana di pelataran depan RM Jagoan Rasa mendadak membeku. Cahaya lampu neon kuning dari teras restoran menyorot tajam ke arah dua sosok yang baru saja turun dari pelana Yamaha RX-King hitam.​Vanesha berdiri tegak dengan postur tubuh menyilang tangan di dada. Matanya yang tajam menyipit, mengamati setiap detail penampilan Gendis: rambut panjang yang basah dan berantakan, jaket hoodie kebesaran yang dikenakan untuk menutupi tubuh, serta sisa-sisa jejak kelelahan dan rona merah kemerahan di wajah sang daun muda. Tidak hanya itu, aroma khas air pegunungan bercampur keringat dan sisa cairan intim yang menguap tipis dari tubuh mereka berdua seolah memberikan sinyal paling telak yang tidak bisa disembunyikan lagi.​Madun melangkah turun dengan santai dari motor, mencabut kunci kontak RX-King sambil memasang senyuman maut preman pasar malam yang tidak pernah kenal rasa bersalah. Di balik celana pendek pantainya, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter beristirahat tena

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status