مشاركة

Putra yang Tak Pernah Dipilih
Putra yang Tak Pernah Dipilih
مؤلف: Yunita

Bab 1

مؤلف: Yunita
"Jevian, kenapa diam saja? Cepat masuk dan lihat siapa perempuan jalang di dalam itu!"

Ibu mendesakku dengan nada tergesa-gesa. Wajahnya tampak penuh kecemasan, seolah begitu mengkhawatirkanku.

Namun kini aku tahu, sandiwara penggerebekan perselingkuhan ini sejak awal memang merupakan rencana mereka berdua, ibu dan putra palsu itu.

Di kehidupan sebelumnya, saat aku sedang berlibur, ibu sengaja datang mencariku untuk memberi kabar itu.

Aku yang diliputi amarah langsung pulang dan berkelahi dengan mereka.

Bahkan aku sampai main tangan terhadap Clarissa hingga dia keguguran.

Meski Ibu berpura-pura sedih, pada akhirnya semua kesalahan justru dilimpahkan kepadaku.

Begitulah, karena ibu kandungku sendiri memilih membiarkan semuanya terjadi, aku kehilangan anakku, kehilangan pernikahanku, bahkan kehilangan pijakan terakhir dalam hidupku.

Aku memejamkan mata yang terasa panas sejenak, menahan rasa sakit yang menyesakkan di dada, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Di kehidupan ini, akhirnya aku mengerti. Cinta bukanlah hal yang paling penting. Uanglah yang paling berarti.

Melihatku pergi seolah semua itu bukan lagi urusanku, mata Ibu membelalak karena terkejut. Dia menggertakkan gigi sebelum mendobrak pintu kamar tidur.

Sesaat kemudian, jeritan nyaring pun terdengar dari dalam.

Kevin buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Wajahnya dipenuhi kepanikan dan penyesalan.

"Bu, aku ... aku mabuk. Aku benar-benar nggak sengaja ...."

Ibu berpura-pura terkejut. Dia berlari menghampiri sambil menunjuk-nunjuk kepala Kevin, memarahi pria itu sambil menangis.

Sementara itu, Clarissa sama sekali tidak panik. Dia mengenakan jubah mandi dengan santai, menyalakan sebatang rokok.

Dia menatapku, nada suaranya terdengar mengejek.

"Sekarang, kamu mau lakuin apa lagi?"

Dulu, saat pertama kali memergoki perselingkuhannya, aku memukuli pria itu hingga telanjang bulat sebelum mengusirnya keluar.

Kedua kalinya, aku menggores wajah asistennya sampai rusak.

Ketiga kalinya, aku bahkan mendatangi perusahaannya dan membuat harga saham mereka anjlok pada hari itu.

Aku sudah tak ingat berapa kali semua itu terjadi. Yang kuingat hanyalah suaraku yang serak karena terus berteriak dan wajahku yang selalu dipenuhi amarah.

Sampai-sampai, setiap kali melihatku, semua orang hanya menunggu tontonan menarik sambil mencibir, "Si gila itu datang lagi buat mergokin perselingkuhan."

Sementara itu, tingkah Clarissa justru makin menjadi-jadi.

Namun di kehidupan ini, aku benar-benar telah melepaskannya. Yang kuinginkan hanyalah hidup tenang dan nyaman.

Tiba-tiba terdengar bunyi gedebuk ketika Kevin berlutut di hadapanku dengan wajah penuh ketakutan.

"Kak, semua ini salahku. Jangan salahin Clarissa. Kalau memang harus nyalahin seseorang, salahin aku saja."

Dia tampak begitu berani dan bertanggung jawab, mati-matian melindungi wanita yang dicintainya.

Benar saja, ekspresi Clarissa sedikit melunak, tetapi tatapannya kepadaku justru makin tajam.

"Jevian, masalah ini aku yang …."

"Kalau sudah nggak ada urusan lagi, aku pergi dulu. Aku sudah ada janji sama temanku."

Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, aku langsung memotongnya.

Usai berkata begitu, aku berpura-pura tidak melihat wajah Clarissa yang membeku karena terkejut, lalu berbalik pergi.

Ibu panik dan segera mengejarku, tetapi saat dia keluar, aku sudah berjalan jauh, meninggalkannya terpaku dengan wajah tercengang.

Tak seorang pun menyangka aku akan bereaksi seperti ini.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 8

    "Jevian, adikmu sudah tahu dia salah. Di rumah dia nangis terus sampai matanya bengkak. Dia terus pengin datang minta maaf sama kamu. Kamu ini kakaknya, masa tega sih mempermasalahkan adik sendiri?"Ibu membujukku dengan berbagai alasan sambil memainkan perasaanku, wajahnya menunjukkan kasih sayang seorang ibu.Namun, perutku justru terasa mual.Tatapanku perlahan berhenti di wajahnya. Tak lama kemudian, wajahnya sendiri mulai memerah karena kikuk."Kenapa kamu lihatin Ibu seperti itu?""Apa Ibu nggak capek berpura-pura terus?"Begitu kalimat itu keluar, wajah Ayah dan Ibu langsung membeku."Kamu ini bicara apa?"Aku hanya tersenyum tipis sambil menggeleng."Tujuan kalian datang ke sini sebenarnya bukan karena aku, 'kan?"Wajah mereka kembali berubah. Setelah sesaat diliputi kecanggungan, sorot mata keduanya kembali dipenuhi harapan.Namun sebelum mereka sempat membuka mulut, aku kembali melanjutkan, "Apa pun tujuan kalian, aku nggak akan bantu."Ibu langsung berseru dengan nada tinggi

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 7

    "Kalian benar-benar bikin aku muak."Begitu kalimat itu terlontar, senyum palsu di wajah semua orang langsung membeku.Jantung Kevin seolah berhenti berdetak. Dengan tubuh gemetar, dia mendongak dan mendapati Clarissa sedang menatapnya dengan wajah dingin.Dengan suara berat, Clarissa mengulanginya, "Aku sudah tahu semuanya. Semua ini ulahmu."Pipi Kevin bergetar hebat, dengan tatapan memohon yang terpancar jelas dari matanya."Bukan begitu, Clarissa. Nggak seperti yang kamu pikirkan.""Aku cuma khilaf sesaat. Aku terlalu takut kehilangan kamu, jadi tanpa sadar aku ….""Tanpa sadar?"Wajah Clarissa langsung dipenuhi amarah. Dia mengangkat tangan dan mencengkeram bahu Kevin dengan kuat."Mengunggah foto-foto itu juga tanpa sadar? Membawa wanita yang pernah nyakitin kakakmu buat memfitnahnya juga tanpa sadar? Kalau itu yang kamu sebut 'tanpa sadar', berarti kamu benar-benar mengerikan!"Usai berkata begitu, dia langsung mendorong Kevin hingga terjatuh ke lantai.Ayah dan ibunya berteriak

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 6

    Setelah mengungkapkan rahasia yang selama ini kupendam, dadaku justru terasa jauh lebih lega.Aku tak lagi memedulikannya, lalu berbaring di ranjang pendamping dan memejamkan mata.Namun sesaat kemudian, tubuhku tiba-tiba dipeluk dengan lembut.Clarissa ternyata sedang gemetar. Dia menggenggam tanganku erat, sementara tatapannya dipenuhi hawa dingin."Jevian, aku nggak tahu kalau selama ini kamu ngalamin semua itu. Tunggu kabar selanjutnya dariku."Setelah mengucapkan kalimat itu, kami kembali ke ranjang masing-masing dan menghabiskan malam dalam diam.Tiga hari kemudian, begitu keluar dari rumah sakit, Clarissa langsung mencari Yara.Dari luar wanita itu terlihat garang, tetapi nyalinya ternyata sangat kecil. Dia masih sempat mendongakkan kepala sambil berteriak, "Kalau kalian berani mukul aku, aku akan lapor polisi!"Namun baru saja kata-kata itu keluar, salah seorang pengawal Clarissa langsung menendangnya hingga tersungkur ke lantai.Pengawal itu kemudian menindih dan menekannya ku

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 5

    Aku sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Tanpa memedulikan bahwa Clarissa sedang hamil, kutampar dia hingga terjatuh ke lantai.Aku menatapnya dengan dingin saat dia memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.Wajah Clarissa seketika pucat pasi. Dia menatap perutnya dengan panik. Begitu melihat beberapa tetes darah mengalir, seluruh tubuhnya langsung membeku.Namun sedetik kemudian, aku mendorong orang-orang yang menghalangi, mengangkat tubuhnya, lalu berlari menuju ruang gawat darurat."Dokter! Tolong! Dokter!"Para dokter dan perawat segera berdatangan, lalu membawanya masuk ke ruang IGD.Baru setelah mendengar teriakan Kevin, aku tersadar dari kepanikan.Aku menunduk menatap darah yang mulai mengering di kedua tanganku, sementara punggungku langsung dibanjiri keringat dingin.Kevin mencibir dengan sorot mata penuh kebencian."Dasar binatang. Perempuan saja kamu pukul. Nah, sekarang anakmu sendiri juga bakal mati. Hahaha!"Bola matanya berputar licik, lalu dia kembali mengejek,

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 4

    Ibu ikut menimpali, "Kevin, jangan takut. Kami ada di sini. Katakan saja semuanya."Kevin melirik ke arahku sebelum akhirnya memberanikan diri membuka mulut."Clarissa, Kakak sudah bohongin kamu. Sebelum menikah dia sudah punya pacar, bahkan setelah menikah pun hubungan mereka nggak pernah putus. Dia sering diam-diam nemuin wanita itu."Kepalaku langsung berdengung. Tanpa sadar aku membentaknya, "Omong kosong apa yang kamu bicarakan ini?!""Biarkan dia bicara!"Clarissa menahanku, lalu menatap Kevin dengan sorot mata dingin."Dari mana kamu tahu? Apa lagi yang kamu tahu?"Kevin menatapku dengan penuh kemenangan. Kilatan licik melintas sesaat di matanya.Namun nada bicaranya justru terdengar seolah-olah dia sedang memikirkan kepentinganku."Kak, sampai di titik ini aku sudah nggak bisa terus bantuin kamu terus bohongin Clarissa."Setelah berkata begitu, dia bertepuk tangan. Tak lama kemudian, seseorang mendorong pintu dan masuk ke dalam.Begitu melihat Yara Wardhana, darahku seolah berh

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 3

    Di tengah kekacauan itu, Kevin akhirnya berhasil diselamatkan.Begitu melihatku, dia langsung meraung sambil meringkuk mundur, seolah-olah aku adalah monster yang mengerikan."Jangan dekati aku! Foto-fotoku sudah kamu sebarin. Memangnya kamu masih belum puas?! Sana pergi!"Ayah dan Ibu segera berdiri menghalangi kami. Tatapan mereka yang penuh kewaspadaan terasa tajam bagai bilah pisau.Rasa amis darah memenuhi tenggorokanku. Dengan suara berat, aku berkata, "Aku nggak nyebarin foto ranjang kalian. Kalau nggak percaya, laporin saja ke polisi sekarang."Sambil berkata begitu, aku menunduk hendak mengambil ponselku.Namun sedetik kemudian, Clarissa langsung merebutnya dan membantingnya ke lantai."Apa semua ini masih belum cukup kacau buatmu?!"Suara ponsel yang hancur bergema di sepanjang lorong rumah sakit.Seseorang mengenaliku dan diam-diam mulai merekam dengan ponselnya."Itu 'kan, pria yang terkenal karena berkali-kali mergokin istrinya selingkuh.""Kasihan juga. Ayah dan ibunya sa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status