แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Yunita
Hari itu, aku cukup tahu diri dengan memberi Clarissa waktu untuk menyelesaikan urusannya.

Baru lewat pukul satu dini hari aku pulang dengan santai.

Namun, begitu membuka pintu, Clarissa sudah berdiri di sana dengan wajah muram.

"Kamu dari mana? Aku sudah nelepon berkali-kali."

Aku yang sedang menguap tiba-tiba berhenti sejenak, dengan nada datar aku menjawab, "Pergi lihat pameran mobil sama teman."

Clarissa jelas tidak percaya. Tatapannya menyapu tubuhku dari ujung kepala hingga kaki.

Dia pasti mengira aku akan menangis, mengamuk, bahkan mencoba bunuh diri.

Tak pernah terlintas di benaknya bahwa aku justru tidak melakukan semua itu dan malah pergi bersenang-senang.

"Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?"

"Bagaimanapun juga Kevin itu adikmu. Kalau kamu masih punya sedikit hati nurani, jangan sakiti orang yang nggak bersalah."

Aku menggeleng pelan, tetap tenang.

"Dia adikku. Aku nggak akan lakukan apa pun pada dia."

Di tengah percakapan, aku tiba-tiba teringat sesuatu. "Dia sedang sakit, mungkin karena syok. Besok pergilah jenguk dia."

Seketika seluruh ruangan diliputi keheningan.

Clarissa sampai seperti kesulitan mengeluarkan suaranya.

"Kamu ... nyuruh aku jenguk dia?"

Aku tahu apa yang membuatnya begitu terkejut. Dulu, jangankan menyuruh Clarissa menemui pria lain.

Melihatnya berbicara sedikit lebih lama dengan pria lain saja sudah cukup membuatku menginterogasinya selama tiga hari seperti orang kesurupan.

Kalau dipikir-pikir sekarang, memang saat itu aku sudah gila.

Tiba-tiba pergelangan tanganku dicengkeram erat. Mata Clarissa dipenuhi kebingungan, sementara suaranya sedikit bergetar.

"Jevian, sebenarnya kamu ini kenapa?"

Aku melepaskan tangannya. Nada suaraku tetap tenang.

"Nggak ada apa-apa. Jangan terlalu dipikirin."

Setelah seharian berjalan-jalan, tubuhku benar-benar lelah.

Wajah Clarissa murung saat mengejarku dari belakang. Namun tepat ketika tangannya hampir menyentuhku, ponselnya tiba-tiba berdering.

Begitu panggilan tersambung, terdengar tangisan pilu ibuku dari seberang sana.

"Kevin mencoba bunuh diri! Entah siapa yang nyebarin foto ranjangnya. Dia syok lalu nelan obat!"

Seketika Clarissa menoleh menatapku dengan sorot mata tajam yang dipenuhi amarah.

Aku sedikit terpaku. Memang, di kehidupan sebelumnya, akulah yang melakukan hal semacam itu.

Tapi kali ini, apa hubungannya denganku?

Sebelum sempat menjelaskan, dia sudah menyeretku ke dalam mobil tanpa memedulikan penolakanku sedikit pun.

Sesampainya di rumah sakit, ibuku langsung berlutut di hadapanku.

Wajahnya dipenuhi tatapan memohon demi anak yang sangat dicintainya.

"Anggap saja Ibu mohon padamu. Bisa nggak kamu relakan Clarissa buat adikmu? Adikmu benar-benar kasihan."

Melihat Ibu membela tanpa menutupinya sama sekali, dadaku makin terasa sesak.

Bukankah orang yang seharusnya dikasihani itu aku? Sejak kecil tertukar dengan orang lain, lalu tumbuh besar di desa dalam kehidupan yang penuh penderitaan.

Sejak usia empat tahun, aku sudah memanjat tungku untuk belajar masak. Sedikit saja ibu angkatku tidak puas, tamparannya langsung mendarat di wajahku.

Saat berusia dua belas tahun, aku terpaksa putus sekolah dan dikirim ayah angkatku bekerja di pabrik tekstil. Ibu jari dan telunjukku pernah tergilas mesin hingga cacat permanen.

Namun pada hari pertama aku diakui kembali sebagai anak mereka, ibuku justru berkali-kali memandangku dengan jijik dan penuh keraguan.

"Benarkah dia anak kita? Kok kampungan banget?"

Lamunanku buyar oleh suara tangisan Ibu. Aku perlahan menoleh ke arah Clarissa dan mendapati dia sedang menatapku tanpa berkedip.

Seolah-olah dia juga sedang menunggu jawabanku.

Aku tersenyum tipis, lalu kembali menatap Ibu.

"Tentu saja boleh. Hanya saja, surat nikahnya nggak bisa aku kasih. Tapi Clarissa tetap bisa terus nemanin Kevin."

Ekspresi Ibu seketika membeku.

Sementara itu, Clarissa melangkah menghampiriku, menarik lenganku, lalu menghimpitku ke dinding.

"Kamu yang bikin masalah, sekarang malah mau jadiin aku alat buat bayar utang?"

"Jevian, sebenarnya di matamu aku ini dianggap apa, sialan?!"

Teriakannya mengguncang telingaku. Di akhir kalimat, suaranya bahkan tercekat menahan tangis.

Melihat kedua matanya memerah, aku justru makin bingung.

"Bukankah memang ini yang kamu mau?"

Selama ini Clarissa memang tidak pernah menyukai perjodohan ini. Di matanya, aku hanyalah pria kasar dan kampungan.

Meski sudah menikah denganku, dia tetap tidak berhenti berhubungan dengan banyak pria lain di luar sana.

Jadi, kenapa sekarang dia malah bersikap seperti ini?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 8

    "Jevian, adikmu sudah tahu dia salah. Di rumah dia nangis terus sampai matanya bengkak. Dia terus pengin datang minta maaf sama kamu. Kamu ini kakaknya, masa tega sih mempermasalahkan adik sendiri?"Ibu membujukku dengan berbagai alasan sambil memainkan perasaanku, wajahnya menunjukkan kasih sayang seorang ibu.Namun, perutku justru terasa mual.Tatapanku perlahan berhenti di wajahnya. Tak lama kemudian, wajahnya sendiri mulai memerah karena kikuk."Kenapa kamu lihatin Ibu seperti itu?""Apa Ibu nggak capek berpura-pura terus?"Begitu kalimat itu keluar, wajah Ayah dan Ibu langsung membeku."Kamu ini bicara apa?"Aku hanya tersenyum tipis sambil menggeleng."Tujuan kalian datang ke sini sebenarnya bukan karena aku, 'kan?"Wajah mereka kembali berubah. Setelah sesaat diliputi kecanggungan, sorot mata keduanya kembali dipenuhi harapan.Namun sebelum mereka sempat membuka mulut, aku kembali melanjutkan, "Apa pun tujuan kalian, aku nggak akan bantu."Ibu langsung berseru dengan nada tinggi

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 7

    "Kalian benar-benar bikin aku muak."Begitu kalimat itu terlontar, senyum palsu di wajah semua orang langsung membeku.Jantung Kevin seolah berhenti berdetak. Dengan tubuh gemetar, dia mendongak dan mendapati Clarissa sedang menatapnya dengan wajah dingin.Dengan suara berat, Clarissa mengulanginya, "Aku sudah tahu semuanya. Semua ini ulahmu."Pipi Kevin bergetar hebat, dengan tatapan memohon yang terpancar jelas dari matanya."Bukan begitu, Clarissa. Nggak seperti yang kamu pikirkan.""Aku cuma khilaf sesaat. Aku terlalu takut kehilangan kamu, jadi tanpa sadar aku ….""Tanpa sadar?"Wajah Clarissa langsung dipenuhi amarah. Dia mengangkat tangan dan mencengkeram bahu Kevin dengan kuat."Mengunggah foto-foto itu juga tanpa sadar? Membawa wanita yang pernah nyakitin kakakmu buat memfitnahnya juga tanpa sadar? Kalau itu yang kamu sebut 'tanpa sadar', berarti kamu benar-benar mengerikan!"Usai berkata begitu, dia langsung mendorong Kevin hingga terjatuh ke lantai.Ayah dan ibunya berteriak

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 6

    Setelah mengungkapkan rahasia yang selama ini kupendam, dadaku justru terasa jauh lebih lega.Aku tak lagi memedulikannya, lalu berbaring di ranjang pendamping dan memejamkan mata.Namun sesaat kemudian, tubuhku tiba-tiba dipeluk dengan lembut.Clarissa ternyata sedang gemetar. Dia menggenggam tanganku erat, sementara tatapannya dipenuhi hawa dingin."Jevian, aku nggak tahu kalau selama ini kamu ngalamin semua itu. Tunggu kabar selanjutnya dariku."Setelah mengucapkan kalimat itu, kami kembali ke ranjang masing-masing dan menghabiskan malam dalam diam.Tiga hari kemudian, begitu keluar dari rumah sakit, Clarissa langsung mencari Yara.Dari luar wanita itu terlihat garang, tetapi nyalinya ternyata sangat kecil. Dia masih sempat mendongakkan kepala sambil berteriak, "Kalau kalian berani mukul aku, aku akan lapor polisi!"Namun baru saja kata-kata itu keluar, salah seorang pengawal Clarissa langsung menendangnya hingga tersungkur ke lantai.Pengawal itu kemudian menindih dan menekannya ku

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 5

    Aku sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Tanpa memedulikan bahwa Clarissa sedang hamil, kutampar dia hingga terjatuh ke lantai.Aku menatapnya dengan dingin saat dia memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.Wajah Clarissa seketika pucat pasi. Dia menatap perutnya dengan panik. Begitu melihat beberapa tetes darah mengalir, seluruh tubuhnya langsung membeku.Namun sedetik kemudian, aku mendorong orang-orang yang menghalangi, mengangkat tubuhnya, lalu berlari menuju ruang gawat darurat."Dokter! Tolong! Dokter!"Para dokter dan perawat segera berdatangan, lalu membawanya masuk ke ruang IGD.Baru setelah mendengar teriakan Kevin, aku tersadar dari kepanikan.Aku menunduk menatap darah yang mulai mengering di kedua tanganku, sementara punggungku langsung dibanjiri keringat dingin.Kevin mencibir dengan sorot mata penuh kebencian."Dasar binatang. Perempuan saja kamu pukul. Nah, sekarang anakmu sendiri juga bakal mati. Hahaha!"Bola matanya berputar licik, lalu dia kembali mengejek,

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 4

    Ibu ikut menimpali, "Kevin, jangan takut. Kami ada di sini. Katakan saja semuanya."Kevin melirik ke arahku sebelum akhirnya memberanikan diri membuka mulut."Clarissa, Kakak sudah bohongin kamu. Sebelum menikah dia sudah punya pacar, bahkan setelah menikah pun hubungan mereka nggak pernah putus. Dia sering diam-diam nemuin wanita itu."Kepalaku langsung berdengung. Tanpa sadar aku membentaknya, "Omong kosong apa yang kamu bicarakan ini?!""Biarkan dia bicara!"Clarissa menahanku, lalu menatap Kevin dengan sorot mata dingin."Dari mana kamu tahu? Apa lagi yang kamu tahu?"Kevin menatapku dengan penuh kemenangan. Kilatan licik melintas sesaat di matanya.Namun nada bicaranya justru terdengar seolah-olah dia sedang memikirkan kepentinganku."Kak, sampai di titik ini aku sudah nggak bisa terus bantuin kamu terus bohongin Clarissa."Setelah berkata begitu, dia bertepuk tangan. Tak lama kemudian, seseorang mendorong pintu dan masuk ke dalam.Begitu melihat Yara Wardhana, darahku seolah berh

  • Putra yang Tak Pernah Dipilih   Bab 3

    Di tengah kekacauan itu, Kevin akhirnya berhasil diselamatkan.Begitu melihatku, dia langsung meraung sambil meringkuk mundur, seolah-olah aku adalah monster yang mengerikan."Jangan dekati aku! Foto-fotoku sudah kamu sebarin. Memangnya kamu masih belum puas?! Sana pergi!"Ayah dan Ibu segera berdiri menghalangi kami. Tatapan mereka yang penuh kewaspadaan terasa tajam bagai bilah pisau.Rasa amis darah memenuhi tenggorokanku. Dengan suara berat, aku berkata, "Aku nggak nyebarin foto ranjang kalian. Kalau nggak percaya, laporin saja ke polisi sekarang."Sambil berkata begitu, aku menunduk hendak mengambil ponselku.Namun sedetik kemudian, Clarissa langsung merebutnya dan membantingnya ke lantai."Apa semua ini masih belum cukup kacau buatmu?!"Suara ponsel yang hancur bergema di sepanjang lorong rumah sakit.Seseorang mengenaliku dan diam-diam mulai merekam dengan ponselnya."Itu 'kan, pria yang terkenal karena berkali-kali mergokin istrinya selingkuh.""Kasihan juga. Ayah dan ibunya sa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status