Masuk"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" Tanya Justin kepada Dokter yang menangani Violet sebelumnya. "Darah yang keluar dari bagian kepala cukup deras, untung saja anda cepat membawanya ke rumah sakit." "Istri anda benar-benar mengalami benturan sekaligus pukulan yang keras sebelumnya." Lanjut ucap Dokter tersebut menjawab pertanyaan Justin. Justi menghembuskan nafas pelan, merasa gagal melindungi Violet hingga wanita tersebut mengalami hal buruk seperti ini. Tangan Dokter tersebut membuka sedikit seragam pasien yang saat ini Violet gunakan tepat di bagian leher, menunjukkan kepada Justin."Anda bisa melihatnya sendiri Tuan Morgan, sangat jelas bahwa istri anda mengalami kekerasan." "Bekas luka yang ada di leher istri anda ini adalah bekas cekikan tangan, sangat keras hingga memerah bahkan membiru." Ucap Dokter tersebut, lagi. Justin meraih tangan Violet, mengecupnya lama tepat setelah sang Dokter berpamitan keluar dari ruangan tempat Violet menginap. "Maaf, aku benar-benar min
Justin melihat singkat jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya itu, sudah lewat beberapa menit lamanya namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Violet. "William mengatakan bahwa kau datang bersama istrimu." Ucap Chales yang tiba-tiba duduk di samping Justin. "Lantas, mengapa kau duduk disini sendirian? Istrimu yanh dimaksud William itu kau kemanakan?" Lanjut ucap Charles kemudian, celingukan ke arah sekitar mencari sosok istri seorang Justin Morgan. Justin sendiri sedang menunggu kedatangan Violet yang sebelumnya telah berpamitan untuk pergi ke toilet. Benar-benar lama mengingat beberapa menit telah berlalu. "Sedang di toilet, aku juga sedang menunggunya untuk kembali." Jawab Justin. Charles mengangguk pelan bersamaan dengan menepuk bahu Justin, pria tua itu sungguh tidak menyangka jika Justin sudah menikah dan kini telah menjadi seorang suami. Charles dan William adalah sahabat baik ayah Justin, kedua orang tua tersebut benar-benar menyayangi pria itu sep
"Kau datang kemari juga, Vi?" Suara seorang pria yang bertanya kepada Violet tepat di dalam pesta tersebut. Edward Smith. Dokter bedah yang bekerja di rumah sakit dimana tempat itu adalah tempat Elle dirawat sekaligus menjalankan operasi. Violet mengalihkan pandangan matanya, "Dokter Edward, kau datang kemari juga ternyata." Sahutnya. "Keluarga Smith diundang untuk acara pesta ini, aku datang kemari mewakili keluarga." Ucap Edward. Violet merasa sedikit lega setelah kedatangan Edward mengingat dari sekian banyak manusia di pesta yang sedang berlangsung itu, wanita tersebut tidak mengenal siapapun. "Kau terlihat cantik malam ini." Ucap Edward tiba-tiba kepada Violet. Bibir Violet tersenyum manis, mengambil segelas minuman anggur yang ditawarkan oleh seorang pelayan kepadanya tanpa ragu. Edward sudah menyukai Violet sejak lama, pria tersebut belum berani mengakui perasaannya sendiri. "Bagaimana keadaan Ibuku?" Tanya Violet kepada Edward. Edward mengangguk singkat, "O
Justin melongo saat kedua matanya menatap kagum ke arah Violet yang sedang berjalan pelan menuruni tangga. Benar-benar cantik. Dres berwarna merah dengan syal di area leher itu sungguh cocok dengan tubuh Violet. Justin tidak salah pilih kali ini. "Kedipkan mata kau itu, Jusa.." Ucqp Violet tiba-tiba setelah tiba di depan Justin. Justin mengerjapkan matanya pelan kemudian tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak terlihat jika Violet tidak benar-benar memperhatikan bibir itu. Tangan Justin bersiap menerima tangan Violet, wanita tersebut menatap pria itu untuk memastikan. "Kau istriku, Princess." Ucap Justin singkat. Violet segera melingkarkan tangannya tepat di lengan Justin lalu mereka berjalan bersama menuju mobil. Malam ini adalah pesta perjamuan untuk penggalangan amal dilaksanakan. Untuk pertama kalinya Violet datang ke sebuah pesta yang benar-benar mewah sekaligus banyak orang penting di dalam acara tersebut. "Justin.." Suara Gracia tiba-tiba memanggil nama Justin. J
Violet mendongakkan kepalanya, menatap Justin yang berdiri di samping wanita tersebut dan mengedipkan mata kebingungan. Di depan Violet banyak sekali pilihan warna, model sekaligus bentuk pakaian untuk sebuah pesta. Pesta perjamuan untuk amal yang sudah dikatakan oleh Justin sebelumnya. Violet kebingungan, harus menggunakan pakaian seperti apa sekaligus bagaimana agar tidak membuat Justin malu nantinya. "Mengapa kau diam saja, Princess?" Tanya Justin dengan tangan kekar pria tersebut mengusap lengan Violet. Justin sudah menyiapkan semuanya, tugas Violet hanya mencoba kemudian memilih dengan senang hati. "Aku akan mencoba seluruh pakaian ini, Jusa?" Tanya Violet kepada Justin. Justin mengangguk, "Tentu, Princess. Kau akan mencobanya satu persatu." Jawabnya kemudian. Pegawai toko tersebut dengan senang hati membantu Violet untuk mencoba semua pilihan Justin hari ini. Toko pakaian mewah dengan merek ternama, salah satu milik keluarga Morgan alias Justin Morgan adalah pilih
"Besok ada pesta perjamuan untuk amal, banyak orang yang akan hadir di pesta itu dan aku memutuskan untuk mengajak kau." Ucap Justin tiba-tiba. Violet yang sedang sibuk melipat beberapa pakaian, merapikan pakaiannya sendiri sekaligus Justin seketika mendongakkan kepalanya. "Mengajak aku?" Tanya Violet bertanya kepada Justin, memastikan apa yang telah wanita itu dengarkan sebelumnya. Kepala Justin mengangguk singkat sebagai jawaban kemudian fokus kembali dengan ponsel yang ada di tangannya. Violet memutuskan untuk diam dalam keadaan kebingungan, tidak pernah datang ke pesta dan harus menggunakan pakaian macam apa agar tidak membuat Justin malu nantinya. "Bagaimana jika kau pergi sendiri saja, Justin?" Ucap Violet tiba-tiba. "Atau biasanya kau pergi dengan siapa jika ada pesta? Kau pergi dengannga saja, Justin."' "Aku akan di rumah saja, tidak akan kabur dan aku berjanji." Lanjut ucap Violet kemudian. Violet lebih memilih untuk bersikap berani mengingat ingin bagai







