MasukRara dan Dina terlihat begitu serius menyelesaikan tumpukan dokumen dengan raut wajah kesal. Mereka berdua sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Kiran, hal itu membuat Kiran merasa bersalah."Maafkan aku! Aku tidak seharusnya mengatakan hal itu," kata Kiran mencoba untuk minta maaf pada Rara dan Dina, "A-aku hanya..., maksudku aku mungkin terlalu lelah dengan semua dokumen ini!"Namun Rara dan Dina sama sekali tidak menolehkan kepalanya ke arah Kiran. Kiran menggigit bibirnya sebelum duduk di meja kerjanya. Dia bisa saja berjalan pergi tanpa menyelesaikan pekerjaannya, namun dia tidak bisa meninggalkan Rara dan Dina yang sudah menemaninya sejak pertama bekerja di sini.Kiran dapat melihat Rayhan berdiri di sudut pintu keluar dengan senyuman lebar penuh kemenangan. Rayhan ingin Kiran merasakan sendiri jika dunia tidak berputar hanya di sekelilingnya. Ada aturan tak tertulis yang harus dijalani oleh setiap orang.Waktu berjalan begitu cepat sampai tak terasa jam sudah menunjukkan ja
"Laki-laki sialan itu benar-benar menyebalkan!" maki Kiran saat duduk di meja kerjanya."Siapa?" tanya Rara penasaran melihat Kiran marah, "Bukankah Nona Denna perempuan?""Bukan Nona Denna," balas Kiran tak tahu harus mengatakan apa, "Pokoknya aku tidak membiarkan anak-anakku bersikap seperti laki-laki itu!""Kamu punya anak?" seru Rara semakin bingung dengan apa yang dikatakan Kiran.Kiran menepuk dahinya sendiri karena hampir mengatakan bahwa Zayyan dan Zahran adalah anaknya. Dia harus menyembunyikan identitas mereka berdua demi keselamatan Si Kember. Meski awalnya Zayyan dan Zahran tidak setuju namun pada akhirnya mereka memenuhi permintaan Kiran."Maksudku saat nanti aku punya anak," kata Kiran tak ingin Rara curiga, "Aku akan mendidik anak-anakku untuk bisa menghormati orang lain,"Sebelum Rara dapat berkata lebih banyak lagi, Dina menaruh tumpukan dokumen di meja kerja Kiran dan Rara sambil menghela napas kasar, "Pak Hendra meminta kita untuk menyelesaikan semua ini hati ini!"
"Apa Mommy baik-baik saja?" tanya Zayyan terlihat begitu khawatir."Perempuan itu licik, aku tidak ingin Mommy terluka," tambah Zahran tak kalah khawatir dari saudara kembarnya.Kiran tersenyum tipis melihat tingkah kedua anak kembarnya. Baru kali ini ada yang mengkhawatirkannya seperti ini. Hal itu tentu membuat hati Kiran menghangat setelah apa yang dia lalui beberapa tahun ini."Apa kalian lupa jika aku Mommy kalian? Tidak ada yang bisa membuat Mommy takut!" jawab Kiran sambil merentangkan kedua lengannya untuk memeluk Si Kembar.Senyuman lebar menghiasi wajah Zahran dan Zayyan sebelum berlari ke pelukan Kiran. Tanpa mereka sadari Rayhan melihat semua kejadian itu, dia segera berlari mencari keberadaan Kiran dan kedua anaknya setelah Aldi mengatakan jika Denna menemui Kiran.Di belakang Rayhan, Erina mencoba untuk mengatur napasnya setelah berlari-lari kecil menyusul Rayhan yang tiba-tiba keluar dari ruang rapat. Namun dia sama sekali tidak menyangka jika Rayhan melakukan semua itu
Rekan-rekan kerja Kiran sama sekali tidak mengira jika mereka bisa berbicara santai dan bercanda bersama dengan Zahran dan Zayyan. Selama ini kedua anak itu terkenal nakal sampai banyak karyawan menghindari mereka berdua."Aku tidak mengerti kenapa anak-anak kecil itu tidak bisa menyelesaikan soal yang mudah," kata Zahran dengan raut wajah begitu serius."Mereka tidak tahu jawaban dari 427 ditambah 84," sahut Zayyan mendukung perkataan Zahran."Memangnya kamu tahu jawabannya? Berapa?" goda Rara sambil menahan tawa."511!" jawab Si Kembar hampir bersamaan."Kalau 351 dikurangi 37?""314...,"Berbagai pertanyaan dilemparkan oleh Rara dan rekan-rekan kerjanya yang lain. Mereka semua begitu tertarik untuk mengetahui kemampuan dari anak CEO perusahaan Bintara.Senyuman tipis menghiasi wajah Kiran saat Si Kembar selalu bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh rekan-rekan kerjanya. Rasa bangga menyelimuti hati dan perasaan Kiran karena Zahran dan Zayyan bisa tumbuh dengan begitu baik di t
"Kenapa diam? Bukankah ada yang ingin kamu katakan?" tanya Rayhan sambil menatap tajam Denna."Ti-tidak...," jawab Denna mencoba untuk tetap tenang, "A-aku hanya ingin memastikan kabar yang aku dengar,""Katakan pada orang yang mengatakan hal itu untuk berpikir ulang jika ingin terus hidup tenang," kata Rayhan santai namun penuh peringatan.Erina yang berdiri di belakang Denna perlahan mengangkat kepala untuk melihat raut wajah Rayhan. Dia menelan ludah beberapa kali saat matanya bertemu dengan mata hitam Rayhan. Ada sorot kekecewaan yang membuat dada Erina terasa sesak."Say-sayang aku ha-hanya...," Erina tak menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan pada Rayhan, "Mak-maksudku, aku merasa...,""Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskan padaku," potong Rayhan sambil menghela napas perlahan, "Aku akan memberimu penjelasan setelah ini,""Aku salah, seharusnya aku tidak langsung mempercayai kabar yang aku dapatkan," kata Erina pelan marasa bersalah."Jangan munafik!" bentak Denna tak taha
"Apa aku harus berada di sekolah sampai jam sekolah berakhir?" tanya Zayyan dengan nada merajuk."Tentu saja," jawab Kiran singkat sambil mengambil tas Zayyan dan Zahran."Pasti akan sangat membosankan," sahut Zahran sambil menghela napas sedikit keras.Kiran mencubit pipi Zahran untuk kesekian kalinya dengan gemas. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran kedua anaknya itu. Seharusnya mereka akan senang saat bertemu dengan teman-teman seumuran mereka."Bermainlah dengan teman-teman yang lain. Jangan sampai membuat mereka menangis!" pesan Kiran sebelum Si Kembar melangkah masuk gerbang sekolah."Jangan lupa makan bekal yang sudah Mommy buat!" tambah Kiran sedikit keras dengan raut wajah terlihat sedikit khawatir."Nyonya, tenanglah. Mereka akan baik-baik saja," kata Aldi sambil tersenyum tipis melihat kekhawatiran Kiran."Aku tahu," jawab Kiran, "Aku mengkhawatirkan guru dan teman-teman sekelas mereka,""Dan jangan pernah panggil aku 'Nyonya'!" tambah Kiran penuh peringatan.Aldi
Kiran melangkah penuh percaya diri diiringin dengan senyuman ramah masuk ke dalam perusahaan Bintara. Tak lupa Kiran menyapa satpam dan resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan Bintara dengan sopan. Dia juga antri di depan lift bersama karyawan lainnya dengan hati yang berdebar-debar. Saat Lift
"Kita nggak akan pernah memaafkan Om Aldi karena menjauhkan kita dari Mommy!" teriak Zayyan sambil menatap Aldi dengan kesal."Kalian jangan menambah wanita di sekitar Daddy kalian!" kata Aldi sambil memijat kepalanya yang terasa pusing memikirkan ulah Si Kembar."Kita nggak nambah wanita di sekita
Hari ini merupakan hari pertama Kiran bekerja di perusahaan pusat, setelah sebelumnya dia bekerja hampir 3 tahun di perusahaan cabang yang ada di kota Y. Baju kerja berwarna biru gelap dan riasan tipis menambah kesan profesional Kiran dalam bekerja.Kiran menenangkan detak jantungnya saat berada di
Setelah menunggu sekian lama, Si Kembar akhirnya melihat Kiran berjalan bersama pegawai lainnya menuju kantin tempat mereka duduk saat ini. Senyuman lebar menghisai bibir Si Kembar, mereka berdua segera bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud berlari menuju Kiran."Kalo kalian berlari seperti it







