ANMELDENKota terasa berbeda ketika seseorang tahu ia akan meninggalkannya. Bukan karena bangunan berubah, melainkan karena cara mata memandang lebih pelan, lebih menyimpan.
Seeyana menjalani hari-hari terakhirnya dengan ritme yang sengaja diperlambat. Ia menyelesaikan pekerjaan tanpa menambah apa pun. Mengembalikan buku pinjaman. Menutup percakapan lama dengan sopan. Tidak ada pesta perpisahan. Tidak ada pengumuman dramatis.Ia memilih sunyi yang rapi.Pertemuan terakhir dengan Ravent terjadi tanpa janji resmi. Mereka bertemu di taman kota tempat yang sama dengan awal keputusan. Siang itu cerah, bangku-bangku terisi, dan dunia berjalan seperti biasa.Ravent datang membawa dua botol air. Ia menyerahkan satu tanpa kata. Seeyana menerimanya.“Kapan berangkat?” tanya Ravent.“Lusa,” jawab Seeyana.Ravent mengangguk. “Cepat.”“Cukup,” balas Seeyana.Mereka duduk berdampingan, bukan berhadapan. Jarak bahu ada, tapi tKeputusan jarang datang sebagai momen tunggal. Ia lebih sering hadir sebagai serangkaian tindakan kecil yang, tanpa disadari, sudah membentuk arah. Seeyana merasakannya pada Senin pagi, ketika ia tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Bukan karena gelisah, melainkan karena ia ingin memulai hari tanpa gangguan. Ia membuka laptop, meninjau kembali presentasi regional yang sudah ia lakukan dengan baik terlalu baik untuk dianggap kebetulan. Ponselnya bergetar. Email dari kantor pusat. Bukan jawaban final. Tapi permintaan lanjutan: diskusi tahap berikutnya, agenda terlampir, jadwal fleksibel. Ia menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Permintaan itu seperti pintu yang dibuka setengah cukup lebar untuk masuk, cukup sempit untuk mundur tanpa suara. Ia membalas singkat Saya tersedia Kamis sore. Tidak ada deklarasi. Tapi itu satu langkah ke depan. Di lantai yang sa
Pilihan paling sulit bukan antara benar dan salah, melainkan antara dua hal yang sama-sama masuk akal dan sama-sama menuntut konsekuensi.Seeyana menyadarinya pada Selasa pagi, ketika dua agenda bertabrakan di kalendernya. Yang pertama: presentasi lanjutan proyek strategis di depan direksi regional. Yang kedua panggilan resmi dari kantor pusat di kota lain undangan seleksi internal untuk posisi yang selama ini ia anggap sebagai “kemungkinan jauh”.Undangan itu bukan kejutan. Ia telah masuk radar sejak lama. Tapi waktunya terasa seperti ujian yang disengaja.Ia menatap layar tanpa segera memutuskan. Kedua hal itu penting. Keduanya hasil dari kerja panjang. Dan yang paling mengganggu keduanya tidak bisa ditunda.Ia menutup kalender, berdiri, dan berjalan pelan ke jendela. Kota di bawah bergerak seperti biasa tidak peduli pada dilema personal siapa pun.Untuk pertama kalinya setelah lama, Seeyana tidak tahu jawaban cepat.Di ruang r
Ujian berikutnya tidak datang dari ruang rapat atau email berlabel urgent. Ia datang dari tempat yang lebih dekat tempat yang biasanya dianggap aman.Seeyana menyadarinya pada Senin pagi, ketika kalender pribadinya berbunyi. Undangan makan siang dari seseorang yang sudah lama tidak ia temui: mentor lamanya di awal karier. Nama itu membawa campuran rasa hormat dan kewaspadaan.Ia membaca pesan itu perlahan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada agenda jelas. Hanya kalimat singkat Aku ingin menyusul kabarmu.Dulu, undangan semacam itu selalu ia terima tanpa pikir panjang. Sekarang, ia menandai kalender dengan tanda tanya kecil. Ia membalas sopan, meminta tujuan pertemuan dan durasi.Balasan datang cepat. Terlalu ringan.Santai saja. Nostalgia.Nostalgia, pikir Seeyana, sering menjadi pintu masuk yang paling halus.Ia tetap setuju, dengan satu penyesuaian makan siang singkat, tempat umum, satu jam. Tidak lebih.Pertemuan i
Tidak semua ancaman datang sebagai benturan. Sebagian hadir sebagai kebiasaan lama yang mencoba menyelinap kembali, kali ini dengan wajah yang lebih sopan.Seeyana menyadarinya pada awal pekan, ketika satu email berlabel urgent masuk tanpa konteks yang jelas. Tidak ada data. Tidak ada lampiran. Hanya permintaan singkat agar ia “memberi lampu hijau” sebelum jam makan siang.Dulu, ia mungkin akan bertanya sambil mengiyakan. Sekarang, ia membaca dua kali, lalu membalas satu kalimat:Mohon ringkasan tertulis dan risiko yang teridentifikasi. Saya akan meninjau setelah itu.Balasan datang cepat. Terlalu cepat.Ini sudah biasa kita lakukan. Tidak perlu dirumitkan.Kalimat itu seperti gema dari masa lalu—ringan, akrab, dan berbahaya.Seeyana menutup laptop sejenak. Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap kota yang bergerak tanpa menunggu persetujuan siapa pun. Ia tahu: inilah retakan kecil yang menguji normal baru.Ia
Tidak ada hari yang benar-benar menandai kapan sesuatu berubah menjadi kebiasaan. Normal baru tidak datang dengan pengumuman, ia menyusup melalui pengulangan.Seeyana menyadari itu pada Selasa pagi, ketika ia membuka agenda dan tidak lagi terkejut melihat blok rapat tambahan. Tangannya bergerak otomatis: membaca, memilah, menghapus yang tidak perlu, menegosiasikan sisanya. Tidak ada ketegangan di rahang. Tidak ada tarikan napas berlebihan.Ia tidak lebih kuat dari minggu lalu. Ia hanya lebih terbiasa menjaga garis.Di ruang kerja, dinamika tim perlahan menyesuaikan. Orang-orang mulai mengajukan pertanyaan lebih awal, bukan di menit terakhir. Beberapa kebiasaan lama masih mencoba bertahan email mendadak, permintaan samar tetapi kini cepat tertangkap karena kontrasnya jelas.Yang samar terlihat mencurigakan.Salah satu manajer lintas divisi menghampirinya selepas rapat. Nada suaranya bersahabat, tapi matanya menghitung.“Kamu ketat
Program itu resmi dimulai pada hari Senin, tanpa seremoni. Tidak ada pengumuman besar, tidak ada email massal yang mengutip nama Seeyana berulang-ulang. Hanya satu undangan kalender tambahan dan satu folder baru di sistem internal. Cukup untuk menandai perubahan, tidak cukup untuk mengganggu ritme.Seeyana menyadari sejak pagi beban tidak datang sebagai lonjakan, melainkan sebagai distribusi ulang. Tugas-tugas kecil berpindah tangan. Rapat-rapat singkat menyelip di sela jadwal. Tidak berat jika dilihat satu per satu tapi terasa jika dihitung keseluruhan.Ia menandai semuanya. Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk membaca pola.Di rapat koordinasi pertama, fasilitator yang sama muncul. Nada masih ramah. Bahasa masih bersih. Tapi kini ada ekspektasi yang lebih spesifik.“Kita akan butuh respons cepat,” katanya. “Kadang di luar jam kerja.”Seeyana mengangkat tangan, tidak tergesa. “Sesuai kesepakatan, respons di luar jam kerja dijadwalkan da







