MasukANJRIT DEGDAN BANGET BUND! Teh emas Sultan Azfar fix udah ditetesin racun mematikan sama sosok misterius. Nayla yang polos malah bawa nampan itu tanpa curiga! Apakah Sultan bakal terminum racunnya atau Nayla yang dituduh lagi?! Makin gak sabar nunggu bab selanjutnya yang makin klimaks? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW, dan tumpahin KOMENTAR kalian! Jangan lupa berikan SUPPORT terbaik kalian secara ugal-ugalan buat author lewat koin atau hadiah. SUPPORT kalian adalah bensin utama biar bab baru cepet up!
Selir Safiya membuka sebuah kotak kayu kecil berukir di dalam kamarnya yang remang.Di dalamnya, masih tersimpan rapi sebuah botol kaca tanpa nama yang memantulkan kilau mematikan.Safiya menyunggingkan senyuman tipis yang teramat dingin, menyiratkan pendar kejahatan yang tak terhingga."Semuanya... akan berubah mulai hari ini," bisik Safiya pelan sebelum menutup kembali kotak kayu itu dengan denting halus.Pagi itu, aktivitas di seluruh penjuru istana kesultanan Al-Qamar tampak berjalan seperti biasa.Para pelayan sibuk mengelap pilar, prajurit berzirah tegak berjaga di setiap sudut lorong, dan para pejabat kerajaan keluar masuk ruang kerja Sultan membawa gulungan perkamen.Tidak seorang pun dari mereka yang menyadari bahwa seseorang sedang melangkah anggun, membawa benih kematian di balik lipatan lengan jubah sutranya.Di lorong sunyi menuju area dapur khusus kamar utama, seorang sosok berjubah melangkah perlahan namun pasti.Penutup kepalanya ditarik rendah hingga setengah wajahnya
Sejak wanita tua itu mati secara tragis di dalam sel penjara bawah tanah, Selir Layla tidak pernah benar-benar tidur dengan tenang.Setiap kali kegelapan mulai menyelimuti sudut-sudut kamarnya, rasa bersalah yang mencekik selalu datang lebih dulu merayap sebelum kantuk menyapa.Di dalam kamar riasnya yang megah, nyala api pada lampu minyak sudah hampir padam.Layla tertidur di atas ranjang dengan tubuh yang bergolak gelisah, jemarinya mencengkeram erat kain seprai sutra.Dalam alur mimpinya yang amat kelam, sosok wanita tua itu kembali muncul menembus kegelapan.Ia berdiri diam di lorong penjara yang basah dan berbau karat.Wajahnya pucat bagai mayat, dan suaranya yang serak bergema memantul di dinding batu."Aku menepati janjiku padamu....." desis wanita tua itu seraya melangkah maju perlahan."Aku tidak pernah menyebut namamu saat disiksa... Lalu kenapa kau tetap meracuniku sampai mati...?"Layla berlari ketakutan dalam mimpinya, namun lorong gelap itu mendadak menjadi kian panjang t
"Buka gulungan perkamen itu dan berikan aku pendapatmu, Nayla," perintah Sultan Azfar dengan nada dingin namun tegas.Kepercayaan... tidak selalu lahir dari peristiwa besar penyelamatan nyawa di medan perang.Kadang, ia tumbuh perlahan, tanpa suara, dari hal-hal paling kecil yang sering diabaikan orang.Dan sore itu, di balik dinding-dinding batu, Sultan kembali meminta sesuatu yang tak pernah ia minta dari orang lain: sebuah pendapat jujur dari seorang Nayla.Ruang kerja Sultan tampak jauh lebih padat dari biasanya.Tumpukan laporan gulungan perkamen kian menggunung di atas meja mahoni besar.Sultan memanggil Nayla sore itu, bukan untuk membawakannya secangkir teh melati hangat, bukan pula untuk sekadar merapikan sisa lilin dan menyapu meja.Pria itu memanggilnya untuk menilai sebuah cetak biru rancangan tata ruang arsip kesultanan yang baru.Sultan membentangkan perkamen lebar itu di atas meja, lalu menunjukkan beberapa draf gambar dengan guratan tinta hitam.Ia menopang dagunya deng
"Cari perhiasan itu sampai dapat! Geledah seluruh kamar pelayan tanpa ada satu pun yang terlewat!"Teriakan melengking Selir Safiya memecah ketenangan pagi di sayap timur paviliun mewah.Belum genap seminggu suasana istana tenang setelah malam-malam penuh cerita, keributan hebat kembali pecah.Suasana damai seolah lenyap dalam sekejap ketika perhiasan emas bertahtakan kalung zamrud kesayangan Selir Safiya mendadak hilang tanpa jejak.Dan seperti biasa, seolah-olah skenario ini sudah ditulis rapi sebelumnya, semua tuduhan langsung mengarah pada satu nama.Nayla Azura."Ada apa ini? Mengapa kalian menggeledah kamar kami dengan kasar?" tanya seorang pelayan senior seraya menahan pintu kamarnya yang didorong paksa."Diam kau! Ini perintah Selir Safiya!" bentak dayang kepercayaan Safiya seraya melempar tumpukan kain ke lantai."Ada tikus yang berani mencuri kalung zamrud milik Selir!"Safiya sengaja membuat kepanikan luar biasa sejak fajar baru menyingsing.Dayang-dayangnya berteriak hister
Sore menjelang malam itu, saat seluruh deretan pekerjaan utama di area kerajaan hampir tuntas diselesaikan, Sultan Azfar justru memanggil Nayla kembali.Bukan karena gadis pelayan itu telah melakukan sebuah kesalahan fatal yang merugikan paviliun.Bukan pula karena ada setumpuk dokumen pekerjaan baru yang mendesak untuk ditata.Melainkan belaka karena rasa penasaran tersembunyi yang mendadak mengusik benak sang penguasa Al-Qamar.Di dalam keheningan ruang kerja megah sang Sultan, Nayla sibuk merapikan gulungan laporan, botol tinta hitam, stempel berukir emas, serta surat-surat diplomatik yang selesai diperiksa.Suasana terasa teramat sepi, hanya dipecahkan oleh gesekan pena bulu dan nyala lilin yang menari menembus kegelapan.Hanya ada Sultan Azfar dan Nayla di ruangan luas tersebut.Sultan Azfar mendadak menutup laporan tebal di tangannya dengan ketukan pelan yang bergema.Pria berwajah dingin itu tidak langsung membuka berkas berikutnya.Jemari tegapnya yang berhias cincin batu zamru
Di balik megahnya dinding batu dan kemewahan istana Al-Qamar, ada sebuah dapur kecil yang tersembunyi di sudut bawah paviliun.Tempat itu sederhana, hanya bersuhu hangat oleh tungku kayu bakar, namun selalu menjadi ruangan favorit bagi Nayla untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya dari himpitan intrik Istana.Nayla berjalan pelan menyeberangi lantai batu sambil membawa nampan kayu berisi beberapa cangkir teh hangat aromatik.Di meja kayu panjang ruang istirahat tersebut, Sofyan sudah duduk santai sambil mengunyah sebutir kurma manis dengan ekspresi wajah konyol seperti biasanya.Tak lama setelah Nayla meletakkan nampannya di atas meja, pintu kayu dapur berderit terbuka.Bu Suraya dan Rania masuk seraya membawa beberapa keranjang anyaman berisi kain sutra dan rempah-rempah wangi.Begitu matanya menangkap sosok Nayla, Rania langsung menjatuhkan keranjangnya begitu saja dan menghambur memeluk Nayla secara heboh."Aku kangen banget sama kamu!" jerit Rania dramatis seraya memeluk leher







