FAZER LOGIN“Itu tidak mungkin,” kata Broto. Suaranya masih tenang, tapi tangannya yang gemetar tidak bisa disembunyikan lagi. “Reza bilang platnya terdaftar atas nama anak perusahaan Kertanegara Corp,” ulang Adrian, matanya tidak lepas dari ayahnya. “Bagian logistik. Divisi yang Ayah pegang langsung.” “Aku tidak tahu apa-apa soal mobil itu.” “Ayah selalu tidak tahu.” Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang Adrian inginkan. Broto terdiam, seperti baru disadarkan berapa lama pola itu sudah berulang di antara mereka. Alessia berdiri di samping Marlena, mengamati keduanya. Ethan sudah dibawa kembali ke kamarnya oleh salah satu petugas keamanan, meski matanya sempat menoleh ke arah Broto sebelum pintu tertutup—tatapan penasaran seorang anak kecil yang tidak tahu bahwa dirinya baru saja menjadi alasan dua keluarga saling curiga lagi. “Kalau memang bukan Ayah,” kata Adrian, “berarti seseorang di dalam perusahaan kita memakai nama Kertanegara tanpa sepengetahuan Ayah.” “Atau seseorang sengaja m
Alessia membaca pesan itu berulang kali.*Bagus, Alessia. Sekarang Adrian tahu anaknya. Saatnya seluruh Arcadia tahu.*Ia langsung menekan nomor itu. Panggilan tidak tersambung. Sekali, dua kali, tiga kali—tetap sama.“Tidak bisa dihubungi?” tanya Cassandra.Alessia menggeleng.Ambulans sudah membawa Ferdinand dan Wulan ke rumah sakit. Marlena ikut di dalam, sementara Adrian pergi dengan mobil lain untuk menemani ibunya. Reza masih berdiri beberapa meter dari Alessia, memberi instruksi lewat radio.“Periksa semua jalan keluar pelabuhan,” katanya. “Cari rekaman kamera radius lima kilometer. Kendaraan itu tidak mungkin hilang begitu saja.”Alessia mendekat begitu Reza selesai bicara. “Pesan baru masuk.” Ia menyerahkan ponselnya.Reza membaca layar itu. Wajahnya langsung serius. “Saya minta tim siber melacak sumbernya.”“Bisa dihentikan sebelum foto Meridian City tersebar?”“Kita belum tahu apa yang sudah mereka kirim.”Jawaban itu membuat dada Alessia semakin sesak.Mobil Adrian berhent
“Buka halaman terakhir.” Suara pria dari pengeras suara kembali menggema di dalam Gudang 17. Adrian masih memegang map kulit cokelat di tangannya. Di sisi lain ruangan, Wulan bersandar lemah pada kursi setelah ikatannya dilepas. Ferdinand baru saja dibawa masuk oleh dua petugas medis, tetapi wajahnya terlihat semakin pucat. Alessia berdiri di dekat ayahnya. “Jangan dibuka,” bisik Wulan. Adrian menoleh kepadanya. “Kenapa?” “Karena itu yang dia inginkan.” “Kalau tidak dibuka, dia akan menyebarkan foto Meridian City,” kata Alessia. Wulan memandang Alessia. Tatapannya berhenti beberapa saat, seolah ia akhirnya memahami arti foto dan pesan-pesan yang dikirim selama ini. “Foto itu hanya alat,” ujar Wulan pelan. “Laporan Aurora yang asli adalah tujuan mereka.” “Kalau begitu, kenapa mereka menyuruh kami membuka halaman terakhir?” tanya Adrian. “Karena halaman itu bukan bagian dari laporan.” Adrian menatap map tersebut. Ia membuka pengikatnya perlahan. Halaman-halaman pertama beri
“Papa!” Alessia membuka pintu mobil sebelum Cassandra sempat menahannya. “Jangan keluar!” Cassandra menarik lengannya. “Kita tidak tahu dari mana tembakannya!” Namun Alessia sudah melihat Ferdinand terjatuh di dekat mobil. Marlena berlutut di sampingnya. Map kulit berisi **salinan** laporan Aurora masih berada beberapa langkah dari tangan papanya. Tidak ada darah di tubuh Ferdinand. Tembakan itu mengenai tanah tepat di depan kakinya. “Dia tidak kena,” kata Cassandra cepat. Alessia menahan napas lega, tetapi rasa lega itu hanya bertahan sesaat. Pria bermasker di depan Gudang 17 mengangkat pistolnya lagi. “Jangan bergerak!” teriaknya. Marlena memeluk kepala Ferdinand yang masih terbaring di tanah. Wajah pria itu pucat, mungkin karena terkejut atau karena tubuhnya memang sudah terlalu lemah. Ponsel Alessia bergetar. Pesan dari Adrian. **Tetap di mobil. Tim kami sudah bergerak.** Alessia menatap area di sekitar gudang. Ia tidak melihat Adrian atau Reza. Hanya dua mobil gelap
Alessia membaca pesan itu berulang kali. **Kamu punya waktu lima puluh menit.** Video Wulan masih terbuka di layar ponselnya. Wajah perempuan itu pucat. Tangannya terikat pada kursi. Di belakangnya, lampu gudang berkedip-kedip di antara dinding besi berkarat. Napas Wulan terdengar pendek dari rekaman itu, seolah ia berusaha menahan tangis. Alessia langsung menekan nama Adrian. Panggilan pertama tidak tersambung. Ia mencoba lagi sambil berjalan mondar-mandir di ruang keluarga. Kali ini Adrian mengangkatnya. “Alessia?” “Aku dapat video dari mereka,” katanya cepat. “Tante Wulan ada di Gudang 17. Mereka meminta Papa membawa laporan Aurora sendiri. Mereka memberi waktu lima puluh menit.” “Kirim videonya sekarang.” Alessia meneruskan rekaman itu. Marlena berdiri di belakangnya, kedua tangannya menutup mulut. Ferdinand tetap duduk di kursi roda, tetapi wajahnya berubah pucat saat melihat Wulan di layar. Beberapa detik kemudian, suara Adrian kembali terdengar. “Tidak.”
“Tidak.” Adrian menjawab sebelum siapa pun sempat berkata lain. “Kalau mereka membawa Wulan, kita harus pergi,” kata Marlena. Suaranya gemetar. “Kita tidak bisa membiarkannya sendirian.” “Kita tidak tahu apakah ibuku benar-benar ada di sana,” balas Adrian. “Ini bisa jadi jebakan.” “Dia mengirim video,” kata Alessia. “Dia ketakutan.” “Video itu bisa direkam kapan saja.” “Adrian,” Marlena memanggil namanya pelan. “Dia ibumu.” Adrian menutup mata sesaat. Ketika membukanya lagi, wajahnya kembali dingin. “Justru karena dia ibuku, aku tidak akan menyerahkan dokumen apa pun kepada orang yang menculiknya.” “Dan kalau mereka benar-benar membunuhnya?” Marlena bertanya. Tidak ada yang bisa menjawab. Ferdinand masih duduk di kursi rodanya, memandangi perekam suara tua di atas meja. Wajahnya terlihat semakin pucat setelah mendengar suara Bima. “Laporan asli itu ada,” katanya akhirnya. Semua orang menoleh kepadanya. Alessia mengencangkan rahang. “Di mana?” Ferdinand me







