LOGIN“Elodie ganti bajunya ya. Mom akan siapkan makan siang,” ucap Rosélia begitu mereka tiba di rumah.Gadis kecil itu tak banyak membantah. Dia berjalan menuju kamarnya dengan tas kecil di gendongannya.Sesekali dia berbalik mengkhawatirkan sang ibu. Namun tak ingin membantah, Elodie memilih mengganti bajunya dulu sebelum nanti menghampiri Rosélia.Sementara itu, sepeninggalan Elodie, tubuh Rosélia luruh. Dia mendudukkan dirinya di kursi yang terletak di depan jendela. Rasanya dia tak sanggup berjalan lebih jauh. Tangannya meraih pitcher kaca dan menuangkan air ke dalam gelas yang ada di atas meja di hadapannya.Tangannya begitu gemetar saat melakukannya. Ingatannya kembali ke masa lalu. Dia pernah merasakannya. Kekerasan yang bukan hanya secara verbal tapi juga fisik.“Maverick,” desisnya.Nama yang sudah lama tidak dia panggil, sudah lama tidak keluar dari mulutnta dan nama yang berhasil menghancurkan hidupnya dengan sempurna, akhirnya detik ini dia kembali mengucapkannya setelah meli
“Siapa Ayah Elodie, Mom?” Pertanyaan itu terus saja terngiang dalam ingatannya. Saat itu, Rosélia sama sekali tak bisa menjawab, dia hanya diam seribu bahasa.Beruntung, Cordelia cepat mengalihkan perhatian anak itu dan mengajaknya untuk segera pergi ke sekolah.“Jangan terlalu di pikirkan. Dia juga akan lupa nanti,” ucap Bastian. Dia tahu jika Rosélia tak fokus karena pertanyaan anaknya beberapa jam lalu.Saat ini, Rosélia tengah duduk menghadap kanvas dan pemandangan pegunungan di balik jendela. Indah, namun keindahan itu sempat teralihkan sesaat oleh pikirannya Rosélia tersadar oleh ucapan Bastian. Lantas dia tersenyum simpul dan mengangguk sebagai balasan.“Mau jalan-jalan hari ini? Mumpung aku libur?” ajak Bastian.“Boleh, mau ke mana?” Rosélia sangat beruntung. Bastian selalu ada di sisinya sejak dulu. Tak pernah pergi meski beberapa kali Rosélia menolak ajakannya untuk menjalin kasih.“Kita cari galeri yang belum pernah kita kunjungi,” jawab Bastian. Dan Bastian selalu tahu
Beberapa bulan terakhir, perasaan Rosélia terasa begitu tak enak. Hubungannya yang baru seumur jagung dengan Bastian entah mengapa membuat Rosélia merasa begitu bersalah pada pria itu.Sekitar empat bulan lalu, akhirnya Rosélia mengiyakan ajakan Bastian untuk menjalin kasih, setelah permintaan itu datang dari Bastian bertahun-tahun lamanya. Saat itu Bastian bahagia bukan main karena akhirnya Rosélia bisa menjadi miliknya. Belum seutuhnya, tapi setidaknya mereka sudah satu langkah lebih maju dari sebelumnya.Rosélia berusaha, berusaha memberikan hatinya seutuhnya hanya untuk Bastian.Setelah lamunan singkat dibersamai dengan suasana sejuk di pagi hari, Rosélia kembali fokus pada kegiatannya. Dia kembali menyiapkan sarapan untuk Bastian dan Elodie."Selamat pagi," sapa Bastian. Seperti biasa, pria itu sudah mandi. Namun kali ini dia tidak mengenakan snelly dan pakaian kerjanya. Dia hanya berpakaian santai."Pagi," jawab Rosélia menoleh sejenak sebelum kemudian dia kembali pada sarapanny
Lima tahun kemudian…Interlaken menyambut dengan ketenangan yang terasa asing bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam hiruk-pikuk kota. Hamparan padang rumput hijau membentang disela bangunan yang didominasi oleh kayu berwarna coklat. Di kejauhan, puncak Jungfrau yang diselimuti salju berdiri anggun.Sungai dengan air sebening kristal. Permukaannya memantulkan langit Swiss yang bersih tanpa cela. Denting lonceng yang berpadu dengan suara kereta yang melintas seolah lagu yang berbisik syahdu di telinga.Orang-orang berjalan santai, beberapa menggayuh sepeda dan sebagian duduk di kafe atau di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi hangat.Seperti seorang wanita yang tersenyum manis dengan secangkir kopi di tangannya, sementara itu tatapan hangatnya begitu fokus pada seorang gadis kecil dengan rambut terurai. Gadis kecil itu berlarian mengejar seekor kupu-kupu di halaman rumah. Di bagian sudut kanan rumah terdapat pohon cukup besar dilengkapi dengan ayunan tempat lain gadis itu berm
Valerie benar-benar mendapatkan karmanya. Gadis itu dinyatakan lumpuh setelah kejadian yang dia alami dua bulan lalu. Hatinya terlalu sakit, kepalanya kerap dibuat pening dan di malam hari, dia akan menangis dalam diam meratapi nasib yang rasanya semakin lama semakin buruk.Kadang nafasnya tiba-tiba memburu saat teringat kepingan kejadian yang menimpanya. Gadis itu merasa kotor. Tiga orang pria tak dikenal menodainya, menyakitinya hingga meninggalkan trauma yang cukup dalam. Namun Valerie diam. Dia tak ingin menginjakkan kaki di Rumah Sakit Jiwa lagi.Biarkan dia membawa trauma dan gilanya sendiri tanpa ada yang mengetahui. Meski dia yakin kedua orang tuanya menyadari hal itu.Sejak keluar dari rumah sakit, hampir setiap hari Valerie selalu datang ke makam Roselia dengan bantuan kursi roda dan Valdez yang mengantarnya. Selama itu juga, Valerie sering melihat Maverick datang.Seperti hari ini, dari kejauhan Valerie menatap nanar makam Roselia dan seorang pria yang tengah menangis terse
Bahkan, dengan segala dosa yang sudah keluarga Deveraux lakukan, Tuhan masih berbaik hati. Semesta masih memperbolehkan mereka menginjakkan kaki di atasnya.Dua bulan lamanya Valerie menjalani perawatan di Rumah Sakit. Rasanya, tempat itu sudah menjadi rumahnya, mengingat betapa seringnya gadis itu datang ke sana.Jika dulu, Evander hanya tinggal memerintahkan dokter menangani putrinya tanpa harus mengkhawatirkan biaya, maka selama dua bulan ini Evander benar-benar banting tulang untuk mencari sejumlah uang.“Nona Valerie bisa keluar nanti siang. Namun sebelum itu, biayanya selama perawatan satu minggu terakhir harus dilunasi dulu, Pak,” ucap resepsionis. “A-ah, iya akan saya usahakan,” jawab Evander.Dia berbalik, berjalan menuju ruang rawat Valerie. Dari balik jendela, Evander bisa menyaksikan bagaimana Valerie tersenyum pada Viviane yang dia yakini hanya senyuman palsu. Dadanya ikut teriris melihat hal itu. Tangan Evander naik dan meremat dadanya yang terasa begitu nyeri.“Maafk
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan







