ログイン"Nona? Apa ada masalah? Tampaknya Nona tadi berteriak?" Tanya salah satu penjaga dari luar kamar tidur. "Oh, tidak!" Celaka! Saat Viona memanggil Fez tadi, ia rupanya sedikit kencang dalam bersuara! "Apa kau yakin?" Penjaga itu masih ragu apakah sang Nona yang dijaganya benar-benar dalam kondisi baik-baik saja. "Tapi, saya mendengar Nona seperti berteriak! Saya perlu memastikan kalau Nona tidak ada masalah di dalam. Maaf saya harus masuk!" Tanpa aba-aba, pria tegap berseragam serba hitam itu masuk. Untunglah Viona sudah memasukkan handphone-nya ke dalam laci sebelum penjaganya ada di ruangan yang sama. "Nona?" Ia memastikan lagi. Mereka begitu over protektif pada istri Don-nya, bahkan seekor semut dan nyamuk pun tak boleh melukai wanita yang digadang-gadang membawa garis keturunan baru sang mafia. "Aku baik-baik saja, kalian tak perlu berlebihan." Satu orang penjaga berada di depan pintu dan satu lagi masuk mendekati Viona. "Nona, mohon mengertilah bahwa kami men
Sendirian. Itu yang lebih dirasakan Viona sekarang."Nona, mau dimasakkan apa hari ini?"Itu saja pertanyaan yang setiap hari dia dengar. Renzo akhir-akhir ini jarang ada di rumah selain malam hari.Suaminya sibuk mengurusi keamanan dirinya 24/7. Sedangkan sebenarnya dia lebih membutuhkan teman untuk diajak bicara daripada puluhan pengawal yang menjadi garda terdepan keamanan."Nona?" Chef itu menanyainya lagi."Oh, maaf..." ia terbangun dari lamunannya. "Apa yang kamu tanyakan tadi?"Chef itu tersenyum, "Apa yang ingin Anda makan hari ini, Nona? Tadi Tuan Rossi mengatakan pada saya kalau sebaiknya saya bertanya lansgung tentang apa yang ingin Anda makan...""Aku... sepertinya hanya ingin daging dimasak dengan kentang seperti kemarin..." Jawab Viona malu-malu."Ohh... maksud Nona semacam beef stew?" ia mengkonfirmasi lagi.Nona muda yang kelelahan karena usia kehamilan di trimester ketiga itu mengangguk."Baik, ada request lagi, Nona?" Ia mencatat baik-baik makanan apa yang Viona dan
Kejadian tembakan yang memecahkan kaca jendela kamar mandi bukanlah kejadian biasa.Bagi keluarga mafia, itu adalah sebuah kode keras. Renzo memutar otak bagaimana caranya ia melindungi istrinya kalau sewaktu-waktu dia sedang tak berada di mansion.Ini adalah sebuah ancaman."Viona, mulai detik ini, kamu tidak boleh jauh dariku..." ultimatum suaminya terdengar menegangkan dan serius.Ini bukan waktunya main-main. Terlebih kandungan Viona sudah terlihat makin membesar.Kira-kira siapa pelakunya?Keduanya sepakat untuk pindah sementara dari mansion dan mencari tempat yang aman. Pergi ke luar negeri adalah salah satu caranya. "Kita ke Rusia!" Suaminya sudah bulat mengambil keputusan. Viona dan Renzo akan menetap di sana sampai menjelang lahiran. Kalau perlu sampai bayi itu beranjak besar...Viona tak punya pilihan selain menurut apa kata sang suami. Kali ini memang keselamatan mereka di atas segalanya."Berkemaslah dan kita akan berangkat dengan private jet malam ini juga. Kita pastika
Perdebatan antara tetua tak membuahkan hasil.Paman Renzo ingin hal ini harus segera ia cari solusinya."Renzo, kau sudah sadar?" sore harinya ia datang ke mansion tempat tinggal keponakannya itu."Paman, aku tidak mabuk tadi..." ia masih saja memasang tampang dingin karena tak mau terlihat lemah di hadapan orang lain."Hah, bedebah! Semua orang yang di sana itu tahu kalau kamu mabuk dan kamu tak sekuat itu, Renzo!" timpalnya melemparkan sebuah amplop dari klinik terpercaya para mafia."Apa ini?" tanya Renzo bingung."Hasil tes DNA mu dengan Silvano, cocok!" Pamannya menekankan kata cocok agar Renzo menaruh perhatian pada yang akan mereka bicarakan.Kedua alisnya bertaut. Ia tahu kalau anak itu memang sangat mirip dengannya."Siapa yang sudah tahu ini?""Semua orang kecuali dirimu!" Jawab pamannya enteng. Terdengar menyepelekan. Lantas Renzo mulai tertarik setelah ia disepelekan oleh pamannya."Bagaimana bisa aku adalah orang terakhir yang tahu hal sepenting ini?" Dia melempar amplop
Viona tak bisa lama-lama berada di ruangan itu.Tangisnya sudah pecah dan tumpah. Baru saat ini ia merasakan hal yang baru, menangisi lelaki yang sejatinya ia tak pernah cintai, saat tahu bahwa laki-laki itu punya masa lalu.Terpampang jelas sudah bahwa cinta itu masih ada dan menyala di tatapan Vikoriya pada suaminya."Sial..." Viona mengumpat untuk pertama kali. Kakinya tersandung meja credenza yang ada di hadapannya. "Apa yang terjadi, Little Snake?" Renzo bertanya dengan penuh kekhawatiran.Semenjak perutnya sudah terlihat membesar, perhatiannya mendadak meningkat.Kau hanya mengkhawatirkan sesuatu terjadi pada bayiku daripada apa yang terjadi padaku, Renzo. Aku sudah tahu sekarang kedokmu!"Aku tidak apa-apa, Renzo. Lepaskan tanganmu!"Ia menolak bantuan Renzo untuk berjalan ke kamarnya.Ini adalah hal yang menyebalkan untuk pria maskulin seperti dirinya. Viona sejak dulu hingga sekarang nampaknya memang masih sekeras batu."Sayang," ucapan Renzo yang terdengar di telinga sudah
"Mengapa dia tak mau bertemu denganku? Aku adalah ibunya! Ibu kandungnya.. rasanya ini mustahil..." Viktoriya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Viona.Ini sama halnya dengan sebuah strategi licik untuk menjauhkan dirinya dari anak semata wayangnya itu.Viona berekspresi datar."Anaknya sendiri yang mengatakan kalau dia tak mau bertemu!"Kalimat Viona makin membuat suasana tegang. Ia sempat melirik melihat lelaki yang selama ini ia percaya justru terlihat akrab dan lengket bersama musuh. "Alex, bagaimana ini?" Viktoriya menggenggam tangan pria itu.Sesaat Alex menyadari kalau Viona melihat dan memperhatikan gerak-geriknya.Ada hal yang membuatnya mengendus sebuah kejanggalan. Terkesan Viona yang tidak kooperatif."Viona.. kamu sekarang belum tahu rasanya terpisahkan dari anakmu karena kamu belum jadi seorang ibu. Paling tidak.. kamu adalah seorang perempuan kan? Coba kalau kamu ada di posisi Viki..."Tatapan Viona tajam ke arah pria itu. Sejak kapan Alex makin terdengar akrab
"Apa maksudnya teman dekat? Mama pacaran dengan orang ini?" protesnya sambil meninggikan suara."Silvano.. biar Mama jelaskan!"Silvano merasa kecewa pada wanita yang telah melahirkannya. Bagaimana bisa dia bersama dengan seorang lelaki dan bermesraan begitu. Itu sama sekali tidak menghargai perasa
Renzo tak bisa menjawab.Semua bukti sudah jelas, ia memang merahasiakan semuanya dari Viona.Termasuk kekhawatiran keluarganya terhadap istrinya itu."Kenapa?" Viona mendekat dan mengangkat handphone itu dengan tangan kanannya.Lalu ia menunjukkannya pada Renzo.
"Kumohon... jangan..." Viona memohon agar Renzo memberikan jeda padanya.Sedari tadi ia tak bisa menahan diri untuk diam.Berbagai macam erangan dan desahan itu muncul begitu saja dan membuat kamar mandi tak lagi tenang."Setelah ini kamu akan memintaku untuk tidak berhenti, Viona..."Saat ini, Vio
"Sepicik itukah dirimu, Viona?"Pria yang sudah mendekati kepala empat itu mengomentari apa yang dikatakan istrinya."Terserah bagaimana penilaianmu. Yang jelas.. aku ingin uang itu kembali pada ayahku.""Bagaimana bisa uang yang dibayarkan untuk membayar hutang d







