LOGINGelap menutupi seluruh aktivitas bongkar muat pelabuhan menyisakan lampu sorot kuning dari atas tiang derek raksasa. Angin laut berembus kencang membawa aroma garam pekat menembus setiap sudut dermaga.Leo melangkah melewati tumpukan jaring nelayan tanpa memicu sensor keamanan elektronik di sekitar area tersebut.Pria itu menyusup masuk menelusuri lorong sempit di antara deretan peti kemas yang menjulang seperti dinding labirin.Dua algojo bertato jangkar menyudutkan Marina di dekat roda baja derek raksasa. Mereka menekan tubuh wanita itu ke permukaan peti kemas merah menahan kedua lengannya dengan kasar."Kau terlalu banyak mencampuri urusan Bos Bahri siang tadi, Marina," desis algojo pertama mendekatkan wajahnya. "Kepala logistik sepertimu tidak pantas menentang pemilik pelabuhan.""Lepaskan tanganku atau aku akan melaporkan kalian ke otoritas maritim!" ancam Marina meronta kuat menahan perih di lengannya."Otoritas maritim tidak akan mendengar teriakanmu dari dasar laut," ejek
Roda bergerigi Jeep hitam itu melindas genangan air asin di pelataran beton Pelabuhan Logistik Distrik Selatan. Cipratan air laut mengenai tumpukan peti kemas kosong yang tersusun rapi di sisi kiri jalan.Leo mematikan mesin kendaraan tepat saat suara peluit kapal kargo berbunyi panjang menandakan waktu bongkar muat siang.Pria itu membuka pintu kemudi dan melangkah turun membawa satu map dokumen pengiriman di tangan kirinya.Fasilitas kesehatannya membutuhkan alat bedah robotik canggih dari pabrik luar kota untuk menangani pasien operasi besar."Di mana posisi kontainer dengan nomor seri medis yang kujadwalkan hari ini?" tanya Leo menghampiri pos penjagaan dermaga.Penjaga pos itu tidak menjawab dan hanya menunjuk ke arah deretan peti kemas berwarna merah di sayap timur pelabuhan.Pria berseragam pelabuhan itu menundukkan wajahnya menghindari kontak mata dengan sang dokter.Suara tamparan keras beradu dengan deburan ombak terdengar jelas dari arah tumpukan baja tersebut.Leo me
Leo menarik tangannya dari perut Nengsih memutus stimulasi saraf wanita itu.Pria itu memutar engsel pengunci loker dari dalam menggunakan tangan kirinya. Kaki kanannya terangkat dan menendang pintu baja itu menggunakan lutut dengan tenaga penuh.Engsel baja itu patah terlepas dari rangkanya menghasilkan suara dentuman logam memekakkan telinga. Pintu baja terlempar ke depan menabrak dua satpam tepat saat Yanto bersiap melangkah maju."Dokter keparat! Kau menyusup ke markasku!" teriak Yanto mundur selangkah menghindari hantaman pintu.Direktur keamanan itu langsung mengayunkan tongkat setrum bertegangan tinggi mengincar dada kiri Leo. Suara aliran listrik mendesis tajam dari ujung senjata tersebut siap membakar kulit.Leo sama sekali tidak melangkah mundur menghindari serangan bertegangan fatal itu.Pemuda itu justru mematahkan jarak serang dan melangkah maju menembus pertahanan lawan. Lengan kiri Leo menepis pergelangan tangan Yanto ke arah luar dengan satu sentakan kuat.Tong
Dinding beton markas besar Perusahaan Baja Hitam menjulang setinggi empat meter dikelilingi kawat berduri. Sorot lampu sorot bergerak menyapu area parkir luar setiap sepuluh detik.Leo mematikan mesin Jeep hitamnya di balik rimbunan pohon beringin tepat dua menit setelah pergantian hari.Pria itu memanjat tembok beton tanpa menggunakan alat bantu panjat. Otot lengannya menarik tubuhnya melewati celah kawat berduri dengan presisi tanpa merobek kemeja linennya.Leo mendarat tanpa suara di pelataran belakang yang berbatasan langsung dengan ruang logistik.Ia mendorong pintu logam berkarat perlahan menghindari bunyi gesekan engsel. Ruang penyimpanan peralatan taktis itu dipenuhi rak besi berisi tameng dan tongkat baja.Nengsih berdiri di depan meja inventaris menghitung tumpukan seragam hitam. Kepala gudang wanita itu mengenakan kemeja kerja pudar yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya.Seorang penjaga bertubuh gempal mendekati Nengsih dari arah belakang menyeringai mesum. Penjaga
Tumpukan kantong kuning limbah infeksius musnah menjadi abu di dalam tungku insinerator besar. Fasilitas sanitasi beroperasi lancar di bawah pengawasan Wati tanpa manipulasi data tonase fiktif.Aroma karbol mendominasi koridor Puskesmas Elite hingga pertengahan hari. Bidan Ayu berjalan membagikan jadwal piket kepada perawat."Pastikan tabung oksigen bedah terisi penuh," instruksi Ayu. "Dokter Leo ada operasi siang ini."Ekspansi Leo yang mengunci sektor vital distrik memancing respons penguasa bayangan.Sirene mobil patroli menderu membelah aspal. Tiga truk bak terbuka dan dua SUV berhenti serentak menghalangi gerbang pabrik teh dan Puskesmas Elite.Puluhan pria berseragam taktis hitam melompat turun dari bak truk dengan gerakan terlatih."Tarik garis batas sepuluh meter dari gerbang!" perintah komandan lapangan. "Tidak ada kendaraan yang boleh melintas!"Pita merah peringatan ditarik menyegel akses. Para satpam membentangkan barikade besi portabel mengunci pelataran.Direktur
Leo melepaskan tekanan jarinya dari area ulu hati Wati dalam satu gerakan halus. Pria itu menggeser tubuhnya sedikit ke arah kanan tanpa menciptakan gesekan pada lempengan baja panas.Kaki kanan sang dokter meluncur cepat menendang tumpukan drum kosong penampung cairan kimia di luar celah.Drum-drum logam itu berjatuhan menghantam lantai beton menciptakan suara dentuman beruntun yang sangat memekakkan telinga. Anjing pelacak jenis herder itu terkejut dan melolong panik menarik pawangnya mundur menjauhi sumber suara bising."Tetap di posisi ini sampai mesin pembakar itu mati," perintah Leo merapikan kemeja linennya yang basah oleh keringat Wati.Wati hanya mengangguk pelan dengan bibir yang masih sedikit terbuka. Mata janda muda itu memancarkan kepatuhan absolut tanpa menyisakan sikap kritis seorang pencatat angka.Leo melangkah keluar dari celah sempit itu menembus area yang diterangi lampu senter.Romi berdiri tepat di lorong utama mesin insinerator memegang sebuah tongkat besi
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu
Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter







