LOGINSepatu pantofel Leo menginjak lantai beton ruko pegadaian di tengah riuhnya suara musik dangdut dari pasar malam.Pria itu menyelinap melewati celah pintu gulung baja yang dibiarkan setengah terbuka.Dua penjaga berbadan besar berdiri membelakangi lorong memegang tongkat kayu pemukul kasti."Hitung ulang bunga utang desa sebelah," ucap penjaga pertama membuang puntung rokok ke lantai."Mereka selalu telat membayar cicilan bulan ini," balas penjaga kedua menginjak puntung rokok tersebut hingga padam.Leo memangkas jarak dua meter di belakang mereka tanpa menimbulkan suara langkah sedikit pun.Dua jari tangan kanannya melesat ke depan menyerupai peluru menekan telak simpul saraf di leher belakang penjaga pertama.Pria itu merosot jatuh ke ubin beton tanpa sempat mengeluarkan erangan. Penjaga kedua menoleh panik melihat rekannya tumbang begitu saja."Siapa kau?!" bentak penjaga kedua mengangkat tongkat kayunya.Lengan kiri Leo bergerak mengunci pita suara pria itu dari arah depan
Suara tangisan tertahan terdengar dari deretan bangku ruang tunggu perawat di lantai dasar Rumah Sakit Terpadu.Puluhan perawat muda berseragam putih duduk menunduk menutupi wajah mereka dengan kedua tangan.Operasional bangsal rawat inap terganggu total pagi itu karena sebagian besar tenaga medis gagal memfokuskan pikiran pada pekerjaan mereka.Leo berjalan menyusuri koridor memeriksa kondisi para pekerjanya dengan langkah kaki yang terukur."Ponsel mereka terus berdering menerima ancaman fisik dari komplotan penagih utang Pusat Pegadaian Gelap," lapor Karina mengikuti langkah Leo dari belakang.Kepala Keperawatan itu menunjukkan layar ponsel yang menampilkan deretan pesan teror bernada kasar."Hampir separuh staf kita menjaminkan ijazah dan kendaraan mereka pada lintah darat itu," lanjut Karina merapikan kacamata kotaknya. "Bunga pinjaman mencapai lima ratus persen per bulan menjebak mereka dalam utang seumur hidup."Keributan besar mendadak memecah kesunyian dari arah gerbang
Suara derap sepatu pantofel Burhan berputar gelisah di depan meja operator ruang siaran. Tangan pria itu terus memukulkan tiang penyangga mikrofon berbahan baja ke lantai beralas karpet tipis.Hawa panas dari mesin pemancar di belakang lemari penyimpanan semakin mendidih menyengat kulit.Leo perlahan menarik tangannya dari perut bagian atas Sisca untuk menghentikan manipulasi saraf diafragma tersebut. Pria itu menyentuh kedua bahu sang penyiar wanita menstabilkan posturnya yang masih gemetar.Sisca meraup udara pengap itu dengan mulut terbuka meredam sisa-sisa lonjakan hormon endorfin di aliran darahnya."Tetap di sini sampai aku membersihkan hama media itu," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Sisca dari lehernya.Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita tersebut dan mengangkat kaki kirinya.Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam daun pintu lemari kayu dari arah dalam. Engsel rapuh itu patah seketika memicu ledakan serpihan kayu jati yang terlempa
Suara statis pemancar mendengung konstan menyelimuti lorong gelap stasiun Radio Suara Distrik menjelang tengah malam.Lampu neon di langit-langit berkedip redup menyinari ubin yang dipenuhi sisa abu rokok.Leo menendang perlahan pintu ruang arsip utama tanpa menimbulkan bunyi derit engsel logam.Pria itu menyusup masuk melewati rak-rak besi berisi tumpukan kaset pita dan gulungan kabel yang berantakan.Di dalam ruang operator yang sempit, Sisca duduk terikat di kursi lipat dengan tangan terkunci ke belakang.Blus putih penyiar wanita itu robek di bagian lengan menyisakan noda kotoran dari parkiran siang tadi.Wajah Sisca tertunduk lemas menahan rasa sakit dari tamparan Burhan yang masih membekas kemerahan di pipi kirinya.Dua preman berbadan kekar berdiri di dekat meja operator mengawasi tawanan mereka sambil memegang tongkat pemukul."Bos Burhan akan memecatmu tanpa pesangon dan menghancurkan karirmu di distrik ini," ancam preman pertama mengetukkan tongkatnya ke meja."Menyiar
Leo merampas telepon satelit itu dari telapak tangan Wina dengan gerakan terukur. Layar gawai tersebut menampilkan deretan angka frekuensi Radio Suara Distrik yang terus berkedip mencari jaringan stabil."Dengarkan siaran langsung ini sekarang juga, Dokter," ucap Wina menekan tombol pengeras suara pada perangkat komunikasi tebal tersebut.Suara statis radio pecah digantikan oleh intonasi berat seorang penyiar pria. Siaran itu menggemakan peringatan darurat ke seluruh penjuru distrik."Rumah Sakit Terpadu menggunakan obat-obatan yang dicampur racun pemandul permanen! Jangan pernah bawa keluarga kalian ke sana jika tidak ingin garis keturunan kalian putus!"Wina mematikan sambungan telepon itu dengan jari bergetar. Janda tangguh itu membuang napas panjang."Mereka menyiarkan berita bohong ini secara berulang sejak fajar," lapor paramedis itu merapikan kerah seragamnya yang sobek. "Pasien rujukan dari wilayah barat memutar balik kendaraan mereka."Beberapa jam kemudian, lorong bang
Ujung sepatu pantofel Leo menghantam keras sisi dalam pintu belakang ambulans rongsokan. Engsel baja berkarat itu patah seketika menghasilkan suara decit logam yang memekakkan telinga. Pintu itu terlempar terbuka menabrak badan mobil derek yang terparkir di dekatnya.Serpihan karat berjatuhan ke atas lantai semen yang dipenuhi noda oli pelumas. Leo melangkah turun dari kabin kargo menembus udara garasi yang berbau sisa gas buang. Kemeja linennya tidak memiliki satu pun lipatan kusut meski baru saja melewati ketegangan ekstrem."Keluar kau dari sana, Dokter!" teriak Jono memutar tubuhnya menghadap sumber suara.Bos armada ambulans itu mencengkeram kunci inggris baja berukuran setengah meter di tangan kanannya. Jono menerjang maju tanpa memedulikan jarak serang maupun formasi belasan anak buahnya di belakang.Pria itu mengayunkan kunci inggris baja lurus mengincar pelipis kiri sang dokter muda. Ayunan itu membawa beban pukulan lima kilogram yang siap meremukkan tulang tengkorak manu
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu
Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m







