Share

Syarat Penaklukan

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-05-08 18:08:23

Cengkeraman tangan Leo di bahu Ratna mengerat, menarik wanita itu bangkit dari lantai dengan satu entakan kasar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, sang dewa bedah mendorong tubuh sintal istri musuhnya itu hingga menabrak keras tepi meja jati peninggalan Kades Tirto.

"A-akh! Pelan sedikit, Tuan..." erang Ratna tertahan, meski kedua matanya memancarkan gairah liar yang sudah tak terbendung.

"Kau yang menawarkan diri, Ratna. Di ruanganku, di wilayahku, aku yang mengatur ritmenya," desis Leo memati
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rayuan Desa Wanita   Timbangan Keadilan

    Langkah berat sepatu pantofel Leo menggema di lorong utama Pasar Induk yang mulai ramai oleh pedagang siang itu.Pria berjas putih itu menyeret tubuh Togar menggunakan satu tangan yang mencengkeram erat kerah kemeja sang rentenir.Togar yang masih lumpuh akibat tekanan saraf cervicalis hanya bisa membelalakkan matanya ngeri. Tubuh kurusnya terseret tak berdaya melewati genangan air kotor dan sisa-sisa sayuran busuk.Leo menghentikan langkahnya tepat di persimpangan los sayur dan daging. Pria itu melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh Togar jatuh di tengah jalan aspal.Marni berjalan di belakang Leo dengan langkah tergesa. Wanita itu membawa timbangan kuningan miliknya yang tadi dilemparkan oleh Togar.Puluhan pedagang yang sedang menata ulang lapak mereka langsung menghentikan aktivitas. Mereka berkerumun membentuk lingkaran besar, menatap sang lintah darat yang kini tergeletak tidak berdaya."Kau berani menyiksa anak buahku di pasarku sendiri?!" teriak

  • Rayuan Desa Wanita   Ruang Penyimpanan yang Sempit

    Togar melemparkan selembar kertas bermaterai ke atas meja kayu usang.Pria berbekas luka bakar itu memaksa Marni duduk di kursi plastik yang reyot di tengah ruang penyimpanan bawah tanah. Bau apak tanah dan kentang busuk memenuhi ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut.Hanya ada satu bohlam lampu kuning redup yang menggantung di langit-langit beton."Tandatangani surat hutang sepuluh juta ini, Marni," paksa Togar menyodorkan pena plastik ke depan wajah wanita itu."Kau tidak punya modal lagi untuk berdagang esok hari. Tanda tangan ini adalah satu-satunya caramu bertahan hidup."Marni memalingkan wajahnya menolak menatap kertas tersebut."Saya lebih baik menjadi kuli cuci piring daripada harus menjadi budak lintah darat kalian!" tolak Marni dengan suara bergetar.Togar mencengkeram rahang Marni menggunakan tangan kirinya. Pria itu memaksa janda muda tersebut menatap lurus ke arahnya.Engsel pintu kayu tebal di belakang Togar tiba-tiba berder

  • Rayuan Desa Wanita   Tengkulak Sayur Mayur

    Pasokan sayur di los utara Pasar Induk mengering pada hari ketiga pemboikotan.Karsa tidak lagi menggunakan kekuatan preman untuk menghalangi pembeli secara langsung. Sang juragan memutar strateginya dengan mencekik langsung para petani gunung yang menyuplai bahan pangan mentah ke wilayah tersebut.Truk-truk pengangkut kubis dan wortel dihentikan di pos retribusi liar dua kilometer sebelum memasuki kecamatan.Seorang pria bertubuh kurus kering dengan bekas luka bakar di leher kirinya menginjakkan sepatu lars hitamnya di tengah los utara.Itu adalah Togar, tangan kanan Karsa yang bertugas sebagai rentenir pemungut hutang di kalangan pedagang kecil."Pasar ini bukan panti asuhan, Ibu-ibu!" teriak Togar memukul meja kayu menggunakan tongkat rotan.Togar berjalan menyusuri lorong sempit yang dipenuhi aroma sayuran layu dan sisa lumpur."Siapa yang tidak membayar uang keamanan dua kali lipat hari ini, lapaknya akan kututup permanen!"Para pedagang kecil hanya bisa menundukkan kepala. Merek

  • Rayuan Desa Wanita   Anatomi di Tengah Keramaian

    Puluhan ibu rumah tangga dari desa teh berdiri bergerombol di luar batas gapura Pasar Induk kecamatan sejak pukul enam pagi.Mereka menatap nanar keranjang belanjaan anyaman bambu yang masih kosong melompong.Tiga preman bertato mondar-mandir membawa pentungan kayu di tengah jalan aspal. Mereka memastikan blokade pasokan pangan berjalan tanpa ada satu celah pun yang terbuka untuk warga desa."Itu dokter kota yang berani menantang Juragan Karsa," bisik seorang pedagang tempe menyembunyikan timbangan besinya."Dia datang sendirian menyerahkan nyawanya," sahut pedagang lainnya dengan nada gemetar ketakutan.Leo berjalan santai melewati deretan lapak kayu yang berjejer rapat. Langkah konstan pria itu terhenti tepat di persimpangan los daging potong.Belasan pria berbadan tegap menyumbat seluruh akses jalan ke depan. Mereka memegang balok kayu, rantai besi, dan pisau daging berkarat.Juragan Karsa duduk di atas kursi plastik di depan sebuah meja los daging kosong. Pria berkemeja sutra itu

  • Rayuan Desa Wanita   Boikot Pangan

    Keranjang anyaman bambu terlempar keras menghantam tiang beton gapura perbatasan.Tomat dan cabai merah berserakan hancur di atas aspal kering yang retak.Beberapa ibu-ibu desa berlarian mundur melindungi barang belanjaan mereka yang tersisa.Tiga pria bertato berdiri merentangkan tangan menghalangi akses jalan utama menuju arah kota kecamatan."Mulai hari ini, tidak ada satu pun warga desa teh yang boleh menginjakkan kaki di pasar induk!" teriak preman berambut gondrong.Pria itu menendang keranjang sayur hingga terpental ke dalam selokan berlumpur."Juragan Karsa sudah mengeluarkan perintah mutlak sore ini. Siapa pun yang berani melanggar akan pulang merangkak tanpa kaki!"Preman kedua menarik parang panjang dari balik punggungnya dan menancapkannya ke batang pohon mahoni.Bunyi dentingan logam itu membuat anak-anak yang sedang bermain kelereng lari ketakutan mencari perlindungan.Maya menatap tajam dari balik batas aman pagar kayu desa.Janda kembang itu memegang erat gagang sapu i

  • Rayuan Desa Wanita   Reruntuhan Masa Depan

    Debu kering berterbangan di atas lapangan tanah SD Inpres yang atapnya ambruk dua minggu lalu.Tiga tenda terpal berwarna biru didirikan seadanya sebagai ruang kelas darurat. Suhu udara di dalam tenda itu mencapai tiga puluh lima derajat celcius di bawah terik matahari siang.Leo berdiri di ambang gerbang sekolah yang sudah reyot. Mata hitamnya memindai kondisi fasilitas pendidikan desa yang sangat memprihatinkan tersebut.Nida sedang berdiri di depan papan tulis kapur di dalam salah satu tenda. Guru honorer itu mengusap peluh di dahinya menggunakan punggung tangan, namun tetap mempertahankan senyum keibuan pada murid-muridnya.Suara deru mesin diesel mendadak memecah konsentrasi belajar.Sebuah ekskavator berwarna kuning menyala merangsek masuk menghancurkan sisa pagar bambu sekolah.Asap hitam mengepul dari knalpot alat berat tersebut. Lengan besinya terangkat tinggi, bersiap meratakan sisa bangunan kelas yang masih berdiri setengah.Lima pria berbadan tegap berjalan mengawal ekskav

  • Rayuan Desa Wanita   Kania Yang Ketagihan

    Kekalahan telak di halaman rumah Maya pagi itu menjadi tamparan paling memalukan bagi Bahar seumur hidupnya.Uang seratus juta memang kini ada di tangannya, tapi harga dirinya sebagai penguasa gelap desa telah hancur lebur diinjak-injak oleh pemuda kota itu.Di sebuah gubuk reyot di pinggir perkebu

  • Rayuan Desa Wanita   Membayar Hutang Seluruh Warga Desa

    Sofa reyot di ruang tamu itu seakan menjadi saksi bisu runtuhnya moral dan akal sehat. Udara pagi yang mulai menyusup dari celah jendela tak mampu mengusir aroma pekat percintaan liar yang masih menggantung di ruangan tersebut.Leo bersandar dengan dada telanjang yang dipenuhi bekas cakaran dan gig

  • Rayuan Desa Wanita   Membungkam Suroto

    Pintu kayu gudang berderit terbuka, menampilkan sosok Leonardo Xaverius yang melangkah keluar dengan rahang mengeras. Hujan rintik di luar telah berhenti, menyisakan kabut dingin dan jalanan tanah yang becek.Di kejauhan, kepulan asap dari obor Suroto terlihat menembus kegelapan, diiringi teriakan

  • Rayuan Desa Wanita   Kania Pertama Kali Merasakan Sentuhan

    Nampan kayu di tangan Kania bergetar hebat hingga cangkir teh di atasnya bergemerincing. Mata bulat gadis lugu itu menatap nanar ke arah pakaian dalam renda milik Sekar yang tergeletak sembarangan di dekat kaki Leonardo.Di udara gudang yang sempit ini, aroma pekat perpaduan keringat dan cairan cin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status