LOGINPisau daging menghantam talenan kayu berulang kali. Suara tulang ikan yang terpotong bergema di lorong pasar desa.Percikan air amis membasahi ujung celemek plastik pedagang. Bau anyir darah ikan bercampur dengan aroma lumpur pagi memenuhi udara.Nida meletakkan selembar uang sepuluh ribuan yang terlipat rapi ke atas meja lapak. Wanita itu mengambil sekantong plastik hitam kecil berisi ikan asin dan seikat bayam layu."Pagi ini belanjaanmu lumayan mewah, Nida," sindir sebuah suara sumbang dari arah belakang punggungnya.Nida memutar tubuhnya perlahan. Tiga wanita paruh baya berdiri sejajar menghalangi jalan setapak pasar yang becek.Mereka adalah kelompok ibu-ibu yang sering memonopoli area pasar. Pemimpinnya bernama Parti, seorang rentenir panci yang memiliki reputasi buruk di desa."Hanya ikan asin biasa untuk lauk Kang Jaya, Bi Parti," jawab Nida menundukkan kepala.Ia bermaksud melangkah ke sisi kiri untuk melewati mereka.Dua wanita di belakang Parti segera menggeser posisi. Mere
Gelas kaca berisi kopi hitam diletakkan pelan ke atas meja kayu. Maya berdiri di samping kursi kerja Leo sambil membawa nampan kosong."Nida sudah mulai bekerja membersihkan ruangan ini tadi pagi, Tuan," lapor Maya merapikan tumpukan dokumen medis.Janda kembang itu menatap ragu ke arah sang dokter. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan kalimatnya."Saya tahu Anda memiliki ketertarikan padanya," ucap Maya melangkah mundur."Wanita itu berbeda dari kami semua. Dia memegang prinsip kesucian yang tidak bisa ditembus oleh uang atau kekuasaan."Leo menyesap kopi hitamnya dalam satu tarikan napas. Pria itu meletakkan kembali gelasnya ke atas meja tanpa suara."Karakter manusia dibentuk oleh batas toleransi tekanan fisik mereka," balas Leo menyandarkan punggungnya."Aku akan menguji batas toleransi itu sore ini."Sepatu pantofel Leo menginjak tanah basah di pekarangan sebuah rumah sederhana. Dinding bilik bambu bangunan itu tampak miring ke arah kanan.Jam di pergelangan tangan Leo
Jari tangan Nida mencengkeram erat pinggiran meja nakas. Buku jarinya memutih menahan emosi."Tiga ribu rupiah tidak akan cukup untuk menutupi biaya makan kami," tolak Nida menatap tajam pria paruh baya itu. "Apalagi untuk membayar tagihan obat-obatan suamiku."Karta mengangkat bahunya acuh tak acuh. Ia menutup buku catatan hitamnya dengan satu bantingan pelan."Itu harga standar untuk gabah berpenyakit, Nida.""Ambil uang tunai ini sekarang, atau kau membiarkan gabahmu membusuk di lumbung reyotmu," ancam sang tengkulak beras.Jaya mencoba bangkit dari bantalnya. Wajah pria itu memucat menahan nyeri dari kaki kirinya."Kami akan mencari pembeli lain, Pak Karta. Silakan keluar dari ruangan ini," usir Jaya dengan suara parau."Silakan saja mencari pembeli lain.""Tapi ingat, semua truk ekspedisi di kecamatan ini berada di bawah kendaliku," cibir Karta berbalik menuju pintu.Tengkulak tua itu memutar knop pintu."Tidak ada satu pun sopir yang berani mengangkut gabah kalian keluar dari pe
Nida melepas pelukannya dari tubuh Jaya secara perlahan. Wanita itu mengusap sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan.Ia berdiri tegak menatap lurus ke arah Leo yang masih memegang kain kasa berdarah."Terima kasih atas pertolongan pertama Anda, Dokter," ucap Nida menundukkan kepalanya sedikit.Nada suaranya terdengar sangat formal. Jarak tubuhnya tertahan dua meter dari posisi Leo berdiri.Leo membuang kain kasa kotor itu ke sudut ruangan. Pria itu mengunci pandangannya pada sepasang bola mata cokelat terang milik Nida.Tidak ada percikan ketertarikan di sana. Hanya ada rasa hormat dari seorang warga kepada petugas medis."Arterinya sudah tersambung," lapor Leo melipat pisau bedahnya. "Tapi tulang tibia dan fibulanya hancur. Dia butuh pemasangan pen platina secepatnya."Nida menelan ludah. Tangannya meremas kuat ujung rok cokelatnya yang basah oleh air hujan."Berapa biaya untuk operasi pemasangan platina tersebut?" tanya Nida tanpa mengalihkan pandangannya."Bawa dia ke
"Putar kemudi ke arah jalur tanah merah," perintah Leo melipat laporan logistik di tangannya.Truk boks besar berlogo medis itu berbelok tajam. Ban bergerigi tebal menggilas aspal desa yang mulai tergenang air kecokelatan.Nyai Arum menginjak pedal gas secara konstan. Wanita yang kini menjadi asisten logistik itu mengenakan kemeja katun rapi, bertindak sangat patuh di sebelah sang dokter."Kita membawa seratus dus cairan infus dan obat antibiotik dari kota," lapor Nyai Arum menatap lurus ke depan.Leo menurunkan sedikit kaca jendelanya. Suara rintik air siang itu perlahan mendominasi kabin truk."Jalanan ini melintasi area sekolah dasar tua. Kurangi kecepatanmu," instruksi Leo.Matanya menangkap siluet sebuah bangunan memanjang berdinding batako di sisi kiri jalan.Cat bangunan itu mengelupas parah. Kerangka atap kayunya melengkung tajam ke bawah menahan beban air hujan yang terus bertambah deras.Seorang pria bertelanjang dada sedang memanjat tangga bambu di sisi luar dinding kelas.
Tangan kanan Leo memutar tubuh Nyai Arum menghadap tumpukan karung goni beras.Pria itu menekan pangkal leher wanita tersebut menggunakan ibu jari dan telunjuknya secara bersamaan.Nyai Arum mencoba meronta dalam pengaruh obat halusinasi. Kuku-kukunya menggores punggung tangan sang dokter secara acak akibat sistem sarafnya yang menolak intrusi fisik asing tersebut."Aku sedang mengunci jalur saraf sumsum tulang belakangmu," ucap Leo mengabaikan goresan berdarah di tangannya.Leo menekan tiga titik saraf detoksifikasi di pangkal leher dan tulang punggung wanita itu. Sengatan rasa panas langsung membakar pembuluh darah Nyai Arum detik itu juga. Mulut wanita itu terbuka lebar meraup pasokan oksigen di udara.Proses pembuangan racun memicu lonjakan suhu tubuh. Keringat dingin membanjiri dahi dan pelipis Nyai Arum menembus pori-pori kulitnya dengan kecepatan tinggi."Panas... badanku terasa direbus," keluh Nyai Arum menggeliat gelisah di atas tumpukan beras mentah.Gairah biologis ya