แชร์

BAB 13

ผู้เขียน: arctrs_
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-04 12:51:08

Dion mengerutkan alisnya. Ia melangkah mendekat ke arah asisten pribadi Zayne. "Tunggu. Sora lagi mendampingi syutingku. Memangnya apa keperluannya?"

"Ada audit dokumen evaluasi hak cipta dan draf klausul proyek baru yang harus divalidasi Mbak Sora hari ini, Mas," jawab asisten itu datar.

"Apa harus sekarang? Nanti saja lah. Aku bilang sendiri ke Pak Zayne nanti," balas Dion.

Asisten Zayne menggeleng pelan. "Pak Zayne berpesan tidak akan memberi toleransi penundaan."

"Maaf ya, Dion. In
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 26

    Cahaya hangat matahari pagi menyusup lewat celah tirai jendela kaca besar, jatuh tepat di atas permukaan ranjang. Sora mengedipkan matanya perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan silau ruangan yang asing baginya."Ngh, pegal sekali rasanya," bisik Sora pelan.Rasa pegal dan linu seketika menyengat seluruh persendiannya saat ia mencoba menggeser posisi duduk. Sora menunduk, menyadari dirinya hanya dibalut selimut tebal hingga ke dada.Ingatan tentang malam tadi seketika berputar ulang di kepalanya. "Astaga, apa yang udah aku lakuin?" Pipi Sora merona hebat. Harus ia akui, Zayne sangat gentle dan sabar. Walaupun sempat ada rasa sakit di awal, kepedulian pria itu membuat Sora akhirnya bisa menikmati setiap detiknya tanpa rasa takut sedikit pun.Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Zayne melangkah masuk dengan kemeja santai berwarna abu-abu yang kainnya agak longgar dan lengan tergulung rapi. Wajahnya terlihat begitu segar, tampan, dan penuh energi.Sora mengernyit heran di bali

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 25

    Kabin bianglala itu menggantung sunyi di titik tertinggi. Di luar kaca, lampu-lampu kota kelihatan melamun di bawah langit malam, tapi perhatian Sora sepenuhnya terkunci pada pria di hadapannya.Zayne masih menatapnya. Ibu jarinya yang hangat mengusap pelan bibir bawah Sora yang sedikit basah sisa ciuman tadi."Malam ini... tidur dengan saya."Suara Zayne tidak tergesa-gesa. Ia memberikan ruang kepada Sora untuk memutuskan pilihannya. Sora menahan napas. Jantungnya berdengung kencang.Tanpa disadari, memori lama Sora kembali tersulut. Perasaan takut dan mual yang kerap menyelimutinya tiap kali ada pria yang mencoba menyentuhnya.Dulu bersama Dion, setiap kali pria itu menuntut lebih, tubuh Sora selalu menolak. Kulitnya meremang dingin dan ada rasa tidak nyaman yang menjerit supaya dia menjauh. Dion selalu protes kalau Sora terlalu kaku seperti kayu, sampai Sora percaya kalau dirinya memang bermasalah.Tapi detik ini, saat tatapan Zayne mengunci matanya... benteng pertahanan itu anehn

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   Bab 24

    "Kenapa Pak Zayne bilang aku pacar Bapak?" tanya Sora penasaran begitu mereka berjalan meninggalkan gadis berseragam sekolah tadi. Zayne melirik Sora santai, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Biar dia cepat pergi. Saya tidak nyaman diajak bicara sama orang asing, apalagi kalau bukan kamu." Jawaban santai namun tajam itu membuat dada Sora berdesir hangat. Pipinya mendadak merona merah, namun ia memilih diam dan pura-pura sibuk memandangi jajaran mesin permainan di sekitar mereka. Langkah mereka terhenti di depan sebuah wahana Basketball Shootout pasangan—permainan lempar bola basket dua ring yang skornya diakumulasikan bersama untuk mendapatkan hadiah utama di bagian atas rak display. Zayne menunjuk sebuah boneka beruang cokelat berukuran sangat besar yang berdiri gagah di rak paling atas. "Kamu suka beruang?" Sora menoleh, matanya berbinar melihat boneka jumbo itu. "Suka! Lucu banget, Pak." "Sini," panggil Zayne seraya melambaikan tangan, melipat lengan kemeja putihnya

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   Bab 23

    Mobil sedan hitam Zayne membelah jalanan kota yang padat. Di dalam kabin yang tenang, Sora melempar pandangannya keluar jendela. Langkah keputusannya meninggalkan kamar rawat Dion tadi masih menyisakan sedikit desiran lega di dadanya. Saat mobil melintasi pusat perbelanjaan di pinggir jalan raya, mata Sora tak sengaja menangkap papan lampu neon besar di lantai dua bangunan tersebut. Suara samar denting permainan dan warna-warni lampu bertuliskan Arcade Zone terlihat jelas dari kaca mobil. Sora menahan pandangannya di sana beberapa detik. "Pak Zayne... pernah ke tempat seperti itu?" tanya Sora tiba-tiba, menunjuk ke arah papan lampu neon tersebut. Zayne melirik sekilas lewat kaca spion tengah. "Tempat permainan? Belum pernah. Terlalu berisik." Sora tersenyum kaku lalu cepat-cepat menarik pandangannya. "Ah... begitu, ya. Yasudah, Pak, tidak jadi. Lain kali mungkin aku bisa pergi sendiri saja. Takutnya Pak Zayne nggak nyaman." Zayne tak membalas ucapan itu. Namun, detik berikutnya,

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 22

    Lewat celah sempit itu, pemandangan di dalam kamar terpampang jelas. Dion bersandar di bantal dengan tangan digips, sementara Vivianne duduk di tepi kasur, menundukkan tubuhnya rapat-rapat. Kedua orang itu sedang berciuman dengan sangat mesra dan intens. Nyuutttt. Jantung Sora mencelos. Ingatan kelam itu seketika berputar hebat di kepalanya—malam pertama saat Dion terpergok berselingkuh dengan Vivianne. Sensasi sesak, hancur, dan dikhianati yang dulu pernah merobek dadanya kembali membakar ingatan Sora. Melihat bahu Sora yang mendadak kaku dan napasnya yang tertahan, Zayne secara refleks mengulurkan telapak tangannya untuk menutup mata Sora. "Tidak perlu melihatnya," bisik Zayne di belakang punggung Sora. Namun, Sora tidak ingin membiarkan dirinya larut dan tenggelam dalam kelemahan masa lalu. Dengan gerakan mantap dan tegas, Sora menepis lembut tangan Zayne dari matanya. Ia menatap Zayne dengan binar mata yang kini berkilat penuh keberanian. "Saya tidak apa-apa, Pak Zay

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 21

    "Sayang, kamu sudah makan belum? Wajahmu pucat sekali lho ini," ujar Vivianne manja, menyentuh kening Dion yang dibalut perban. Dion menggeleng lemah, melirik jijik pada nampan bubur rumah sakit di atas meja. "Belum. Makanan di sini rasanya seperti kertas basah. Aku lagi pengen makan sup iga." "Aduh, tapi kan jauh dari sini, Sayang? Kalau pesan online gimana? Mau nggak, Sayang?" tanya Vivianne. "Nanti dingin dong," jawab Dion dengan nada manja. Sora menghela napas. Rasanya melihat pasangan di depannya ini membuat tensi darahnya naik seketika. "Aku saja yang pergi membelinya," sela Sora tenang seraya merapikan tali tas di bahunya. "Aku naik taksi ke sana. Supnya bisa dibungkus pakai wadah pemanas." Dion tersentak pelan. Pria itu menatap Sora sejenak—sadar betul bahwa wanita itu masih mengingat jelas restoran favoritnya—sebelum akhirnya membuang muka gengsi. "Terserah kamu." "Nah, gitu dong! Bagus kalau peka. Cepat ya, Sora!" seru Vivianne senang. Sora hanya mengangguk ti

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status