เข้าสู่ระบบBerkorban demi menutupi kekurangan sang suami, adalah hal yang saat ini dilakukan Zahra, setelah lima tahun menikah, kini Zahra tiba tiba mengaku tak dapat memiliki keturunan karena mandul. Setelah mendengar kabar tak menyenangkan itu, kini Fatimah hilang respeck pada Zahra menantunya, hingga ia mencoba menjodohkan Roni pada wanita pilihannya, dan memaksa Roni untuk menceraikan Zahra.
ดูเพิ่มเติม“라플라스 지역에 도움이 필요하다는군요.”
성녀의 집무실에서 서류를 처리하던 내 손이 멈칫했다.
‘오늘은 무슨 말을 하나 했더니.’
그거야?“그…말씀하시려, 굳이 제 집무실까지 오셨군요.”
나는 천천히 고개를 들었다.
“란티아스 대신관님.”
내 시선에 그의 특별한 은빛 머리카락에 닿았다.
달빛 아래에서는 달빛을 머금고, 태양 아래에서는 태양 빛을 머금는다는 백은빛 머리카락을 하나로 묶여서 단정하게 아래로 흘렀다.
란티아스의 금빛 눈동자가 살며시 휘어진 다정한 미소는 늘, 공평하게 비추었다. 그럴 때마다 사람들은 신의 환생 같은 그를 찬양하곤 했다.
하지만 나는 그의 미소가 잘 만들어진 차가운 가면처럼 느껴졌다.
“아니지요.”
란티아스가 여유롭게 웃으며 들어와 소파에 자리를 앉았다.
“오늘은, 먼 길 가시는 성녀님을 위해”
그는 테이블에 있던 찻잔에 김이 모락모락 피어오르는 찻물을 부었다.
“ 특별한 차가 마련되어 제가 직접 준비해드리는 거랍니다.”
‘차를 마셔야 한다?’
성력으로 간단히 피임하면 될 일을 굳이 저런 방식으로 취한다는 건…. 여전히 내가 자기 손안에 있다는 걸 뼈저리게 알라는 뜻이겠지.“그럼, 이 한 장만 마무리하고 가겠습니다.”
나는 마지막으로 집었던 서류를 읽어 내려갔다.
순간 종이 위로 그림자가 드리워지자 고개를 들었다.
‘미친놈, 그새 못 참네.’
어느덧 다가온 란티아스가 내 턱 끝을 살며시 잡아 위로 들어 올렸다.
포개진 말캉한 두 입술.살짝 벌어진 틈으로 뱀 같은 그의 혀가 밀려 들어왔다. 란티아스의 혀가 잇몸을 느릿하게 핥았다. 마치 방금까지도 무엇을 마셨는지 확인하려는 것처럼, 내 입안 구석구석을 쓸고 지그시 눌렀다.
그런데도 끝끝내 내 혀만큼은 닿지 않았다.
쪽쪽.
란티아스의 손이 어깨 위에 자연스럽게 내려앉았다. 그의 손가락이 슬립 원피스의 어깨끈을 옆으로 끌어내렸다.
‘어쩐지 신녀들이 단추가 많은 옷이 아니라 이런 원피스를 입히더라니.’
튀어나온 풍성한 젖가슴.
가슴 위에 정점은 이미 부풀어 꼿꼿하게 고개를 들고 있자, 란티아스는 가볍게 웃었다.“언제부터 여기가 이렇게 발딱 썼을까요?”
그가 손가락으로 유두 끝을 튕기자, 아래의 음부가 절로 조였다 풀렸다.
“처음 왔을 때는 부끄럽다고 안으로 숨어들었는데 말이죠. 한껏 빨아야 나오는 것이었는데.”
“그 교육을 친히, 해주신 분이 대신관님이시죠.”나는 그의 한 손을 붙잡고 아래로 끌어 내렸다. 판판한 배를 지나자 나는 살며시 허벅지를 벌렸다.
“왜 유두가 발기되었는지 확인 보시는 것도 대신관님의 일 아닌가요?”
“…그렇죠.”란티아스가 싱긋 웃었다.
“누구의 좆을 여기에 물었는지. 물어보면 될 테니.”
그는 내가 앉은 의자를 돌려, 제 쪽을 향하게 했다.
나는 다리를 더 활짝 벌려 양팔 팔걸이에 하나씩 올렸다. 하지만 여전히 내 시선은 손에 쥔 서류로 향했다.
내 벌어진 다리 사이로 란티아스가 천천히 고개를 묻었다. 그 앞에는 평범하고 얌전한 흰 속옷이 젖어 보이는 살을 가리고 있었다.
란티아스는 얇은 천 위를 혀끝으로 지그시 누르며 위에서 아래로 쓸어내렸다.“하…….”
억눌려 있던 그의 거친 숨결이 마침내 뜨거운 신음이 터졌다. 나는 서류를 내려다본 채 태연하게 물었다.
“정액 냄새가 나요?”
“글쎄요.”란티아스는 서늘한 목소리로 답하며 속옷을 옆으로 치웠다. 활짝 벌린 빠꿈한 보지는 물기에 젖어 붉은색을 보이며 오므렸다 벌렸다.
“성녀님의 처녀 향기만 짙군요.”
“그럼, 된 거 아닌가요?”그가 주는 쾌락에 조금도 사로잡히지 않은 척 건조하게 말했다.
“과연 그럴까요?”
란티아스의 입김이 젖은 살결 위로 닿았다.
“다른 신관의 흔적을 이 깊숙한 곳에다 숨겼을지.”
뭉툭하고 굵은 혀가 벌어진 날개살 사이를 느릿하게 오고 갔다.
“흐…!”
“성녀님의 날개살이 이리도 맛있다는걸.”란티아스의 목소리가 더욱 낮아졌다.
“그 새끼들이 알고 있다는 것만으로도 화가 나는군요.”
“하아…그게…왜!!읏!!”그의 코끝이 숨어버린 음핵을 빼내려 그곳만 집요하게 짓눌렀다.
감춰져 있던 끝이 끝내 부풀어 모습을 드러냈다.“으읏!!”
나는 이를 악물었다.“그들에게 던져 준 먹이가, 제가 아니었나요?”
서류의 내용은 이미 파악한 나는 그에게 관심이 없는 척 종이에서 눈을 떼지 않았다.
그의 혀가 더 깊숙이 밀고 들어왔다.
‘미친…!! 무슨 혀가 몇 번을 넣어도..!!’
내 손가락보다 굵어!들썩이는 허리를 억지로 눌렀지만, 탐욕스러운 보지는 이미 잔뜩 흥분해서 애액을 질척하게 흘려보내고 있었다.
“하앙…으읏..”
나는 깃펜을 쥔 손에 힘을 주었다.“하시려면. 제대로 해주세요. 대신관님.”
나는 쥐고 있던 펜의 깃털 끝을 드러난 유두에 문질렀다.
“하아앙! ”
등이 가볍게 휘었다.
“이…런 펜보다 못하시다면….”
나는 입꼬리를 올리며 그를 내려다봤다.
“저는, 밤새 이 깃펜으로 자위를 해야 하는 군요.”
내가 일부러 자신을 도발하기 위해 그런 말을 한다는 것을 란티아스는 모를 리가 없었다.
그런데도 그는 물러서기는커녕 내 허벅지를 붙잡은 손에 더 힘이 들어갔다.
젖은 보지를 훑는 까슬한 혀가 더욱 집요하게 보지를 헤집었다.내 아래에서 음부를 핥는그를 슬쩍 내려다본 뒤 나는시선을 돌렸다.
‘그래. 당신은 보지물을 삼키고 싶어서 환장하지.’
당신이 없는 사이,
당신이 허락하지 않는 좆이 들어갔는지 궁금할 테니까.“서류는 제대로 보고 계십니까?”
“하아…당연하죠.”나는 흐트러지는 호흡을 억누르며 종이를 내려다봤다.
“ 이건…. 루티 지방에 올라…온. 전염병에 대한 내용이고,”
츄릅…!란티아스의 혀가 질구에서 빠져나와 위로 올라갔다. 동시에 굵은 손가락 두 개가 젖은 구멍 안으로 들어왔다.
“하아…급하신가 보네요.”
나는 간신히 호흡을 고르며 말했다.
찌걱찌걱
“어째서요?”
“벌써 손가락을 쓰시잖아요.” “흠….”란티아스가 손가락으로 보지살을 벌렸다.
“읏!”
“이미 보지물을 흥건하게 흘리고 계신 요 우물이,”그의 탁해진 금안이 둥글게 튀어나온 음핵에 박혔다.
“제 손가락을 먹고 싶다고 해서요.”
여유롭게 휘어진 눈매와 달리 그의 시선은 사납게 달아올랐다.
“여길 한 두 번만 여길 씹어대도 좋다고 질질 흘리면서.”
그의 시선이 신음을 참아내는 내 얼굴로 향했다.
“지금은 여유롭군요.”
‘이래서 내가 너를 좋아하는 거겠지. 나의 리리.’란티아스가 튀어나온 음핵을 입 안으로 깊이 빨아드렸다.
“으….!!”
속살이 바짝 조이며 펼쳐진 두 손가락을 서로 맞붙게 했다.
찌걱찌걱
“하아…!! 대... 신관님!!!”
“제가 성녀님을 싸게 하는 게 빠를까요?”란티아스가 혀끝으로 부푼 클리를 희롱했다.
“거기 서류에 서명하시는 것이 빠를까요?”
나는 빠르게 서명하려 유두를 자극하던 펜을 다시 서류 위에 올렸다. 그러나 란티아스가 나를 책상 가장자리에 앉혔다.
졸지에 서류에서 멀어졌다.
“이래야 공평하지 않겠어요?”
그가 해맑게 웃었다.
“성녀님.”나는 아랫입술을 깨물며 그를 째려봤다.
“라스!”
참다못한 내가 그의 애칭을 불렀다. 나만이 부를 수 있는 애칭.
“왜죠? 성녀님”
란티아스의 목소리가 낮아졌다.
“즐겼잖아. 내가 네 물보지를 빨아 댈 동안.”
“이…거..!!”Hari ini adalah hari bahagia yang dinanti Rina dan Rizki tiba, hari pernikahan yang hendak mengubah status mereka menjadi menikah.Pagi ini, Zahra yang telah bersiap dengan penampilan elegannya, penampilannya cantik namun wajahnya tak berhias senyuman.Matanya meremang, penuh air mata yang seketika dapat menghapus make up di wajahnya."Kalau ini memang takdir kita, aku akan terima mas," ucap Zahra yang berusaha tegar.Sementara Rina dan Roni yang kini telah bersiap dengan penampilannya masing masing, sebuah gaun berwarna putih menghiasi tubuh mungilnya dengan sangat cantik.Bibir nya tersenyum, dan merona. Ekspresi wajah bahagia itu tak hilang dari wajah ayu gadis mungil yang akan segera mendapat gelas istri tersebut.Masalah akan Zahra, sementara terlupakan. Belum lagi memikirkan kemana pergi nya Zahra setelah kembali ke Jakarta?Dan Roni yang kini sudah siap menyambut kedatangan calon menantu yang tidak lain adalah sahabatn
"Gimana Jes, udah jadi kan? undangannya juga udah disiapkan?""Udah Ron, ini udah aku siapin semuanya," ucap Jesika seraya memberikan sejumlah undangan pada Roni.Lagi lagi perkara sakit hati, Zahra tak dapat menahan air mata kala melihat keakraban yang terjadi kepada Jesika dan suaminya.Meski mulut sudah mencoba mengucap iklas namun hati rasanya masih belum bisa. Berat dan sulit adalah rasa untuk mengikhlaskan cintanya."Lusa hari pernikahannya, akan kah aku sanggup?" batin Zahra dengan air mata yang kembali menetes."Jes, setelah ini kita cek gaun nya ya, kalau sudah siap langsung saja dibawa pulang, waktunya kan udah ngga lama lagi.""Iya Ron, mungkin lebih baik begitu. biar kita jadi lebih santai nantinya," jawab Jesika yang membuat Roni mengangguk.Entahlah, pemandangan yang terjadi rasanya mengarahkan pikiran Zahra pada pernikahan mereka, meski sebenarnya tidak ada hubungannya.Ditengah tengah perbincanga
Rina gadis mungil yang kini tersadar paska operasi, perlahan matanya terbuka. Penglihatannya tampak buram, orang pertama kali yang ia lihat tampak tersenyum padanya, namun entah siapa pemilik senyum manis itu.Berulang kali Rina mengerjap ngerjapkan matanya, agar penglihatannya tak lagi buram, setelah cukup jelas memandang, ternyata wajah manis itu milik Rizki.Laki laki yang tidak lain adalah calon suaminya. laki laki itu tersenyum membuat hati Rina tenang, dengan pandangan mata yang tertuju tajam menatapnya."Abang," ucapnya lemah.Alih alih menjawab, laki laki berkaca mata itu justru meneteskan air mata. Tanda bahagia karena melihat orang tersayangnya membuka mata.Tak berkata apa pun, Rizki yang seketika mendekap tubuh Rina, dengan sangat erat, berharap tak akan terjadi hal sama diantara mereka."Abang kenapa nangis?" tanya Rina setelah dekapan Rizki terlepas.Perlahan jari jari lentik itu mengusap air mata yang tamp
Kembali dengan aksi pengintaian nya, Zahra yang kembali ke rumah Roni untuk mengintai Roni yang sedang mengurus pernikahan. Pagi ini kembali ia melihat Roni memasuki mobilnya, Namun pandangan nya seketika tertuju pada Fatimah yang kini keluar dengan sebuah kursi roda. Matanya terbelalak, kala ia melihat sang mertua."Loh ibu kenapa? kenapa dia pake kursi Roda?" gumam Zahra dengan pandangan tak berkedip.Pandangannya terputus setelah melihat mobil Roni melaju, dengan cepat Zahra pun mengikutinya."Ikuti mobil didepan ya pak," ucap Zahra pada sopir taxy.Setelah diikuti, ternyata mobil Roni terhenti dihalaman perusahaan tempat nya bekerja."Ternyata mas Roni mau kerja," batinnya dengan pandangan tak berkedip memperhatikan tubuh Roni yang kini sudah memasuki gedung.Sementara Roni yang kini melangkah menuju ruangan Jesika. Mengetuk pintunya, dan lalu masuk."Ron, ada apa?""Jes, aku minta bantuan boleh?"
Pagi ini, Zahra memulai aktifitasnya didapur, karna hari ini ART nya sedang cuti pulang kampung. Namun bukan hal baru bagi Zahra jika harus memasak untuk sarapan pagi suaminya, pasalnya ada ART sekali pun selalu ia yang menyiapkan sarapan khusus untuk Roni. Dengan gerak lincah dan luwes kini Zahr
"Sayang, tadi aku ketemu sama Aliya, ngga nyangka banget setelah sekian lama aku ngga ketemu dia, akhirnya aku bisa ketemu sama dia lagi," ucap Roni yang membuat Zahra mengerutkan dahi dan seketika terdiam.Ia berusaha untuk mengingat siapa wanita dibalik nama Aliya itu, namanya terdenga
"Jadi Jesika mau kamu yang pegang pembangunan hotelnya di Surabaya?""Iya sayang, aku terima kerjaan itu bukan karena apa apa, aku hanya ingin provesional aja dalam bekerja, jadi aku harap kamu ngerti ya, karena aku ngga akan mecem macem dan ngga akan aneh aneh. Makanya sebelum kerjaan i
"Roni, kamu harus lihat ini, ibu ngga nyangka kalau ternyata istri kamu itu ada main sama laki laki lain dibelakang kamu, keliatannya aja baik tapi ternyata..." ucap Fatimah seraya memberikan beberapa lembar foto pada Roni. Kali ini Fatimah yakin jika Roni akan marah dengan Zahra.Perlah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม