LOGIN"Astaga, sudah malam?""Ya Allah.. kenapa aku sampai harus ketiduran begini, sih?""Kak Rima juga, kok dia tidak bangunin aku?"Aku bermonolog, resah sekaligus menyesal kala mendapati hari telah pun berangsur-angsur gelap. Saat mulai mencuci sekitar pukul dua tadi, Zarima sendiri yang menyarankan, memintaku untuk mendahulukan pakaian kotor bayi-bayinya. Sedangkan pakaian kotor dan bekas nifasnya tadi malam, barulah dicuci setelahnya.Rendam dulu barang setengah jam, biar gampang dicuci, begitu katanya tadi, dan kuturuti itu. Satu hal lainnya yang cukup banyak menghabiskan waktu, adalah kesibukanku bolak balik ke desa untuk mengambil air bersih. Masalahnya juga, mencuci pakaian mereka ini ternyata butuh lebih banyak air bila dibandingkan mencuci pakaian biasa. Bayangkan saja, untuk pakaian bayi-bayinya saja, itu menghabiskan air sebanyak empat jerigen lima literan. Itupun aku tidak terlalu yakin kalau sudah benar-benar bersih.Tiga kali bolak balik ke desa untuk mendapatkan air bers
"Baiklah Mbak, aku terima titipannya. Nanti tolong sampaikan terima kasihku pada siapa pun yang sudah ngasih semua ini."Meskipun sangat yakin Zahira adalah orangnya, tapi pasti akan jauh lebih menenangkan bila tahu persis ini pemberian siapa. "Iya iya, nanti aku sampaikan!" sahutnya. "Intinya Bary, orang tidak mungkin ngasih sesuatu, kalau mereka tidak kenal atau perduli pada kita.""Bahkan, adakalanya itu semacam bentuk kasih sayangnya pada kita lho. Kamu paham kan dengan apa yang kumaksudkan?"Itu dia! Sekarang semakin meyakinkan kalau yang dia maksudkan pasti Zahira. Bukan hendak menolak uluran tangan dari sesama atau semacamnya, tapi andai tidak khawatir justru akan membuatnya kecewa, walau dalam kondisi kepepet sekalipun, aku tidak akan menerima pemberiannya ini.Tentang Yulianti, wanita berhati mulia ini juga sudah sangat tahu apa alasan di balik aku selalu menolak pemberian Zahira. Jadi, tidak mengherankan kalau dia tidak bisa berterus terang, dan hanya berani berselindung
Pezina? Kenapa lagi-lagi aku harus divonis dengan sesuatu yang tidak kulakukan?Sedari awal aku sudah mendebat banyak orang, mengatakan bahwa apa yang mereka sangkakan kepada kami semuanya adalah fitnah. Namun, jangankan yang tidak tahu menahu seperti orang tua ini, orang-orang di sekeliling kami saja malah tidak percaya dengan pembelaan tersebut.Pun, masih dalam balutan rasa yang entah seperti menggambarkannya, perlahan aku turunkan badan, menjumput bulir-bulir beras dan kacang tanah yang jatuh berserakan di tanah barusan.Tapi kemudian, baru saja juga menjumput beberapa bulir, orang tua ini sudah kembali menyalak dengan tajam!"Hei hei, apa yang kau lakukan, ha?" Begitu awalnya sebelum kemudian dia menambahkan, "Bukankah sudah kukatakan, lebih baik aku kasih ke anjing barangku itu daripada disentuh oleh pezina seperti kamu?"Orang tua yang tadinya kupikir adalah malaikat ini sudah terlalu jauh melampaui batasannya! Cepat aku tegakkan badan, lalu membalas!"Pak, tolong jangan terla
Tiba di desa, aku hanya mampir menyimpan pikulan beserta jerigen yang masih kosong di tempat pembuatan batu bata. Setelah itu,aku langsung ke pasar.Pasar yang kutuju adalah pasar yang paling ramai di kecamatan kami. Jaraknya dari tempat pembuatan batu bata hanya sekitar tiga kilometer. Biasanya aku hanya butuh waktu empat puluh menitan untuk tiba di sana."Astaga, kenapa tadi aku tidak kepikiran sama sekali sih?" Aku bermonolog, kaget sekaligus menyesal.Sudah berada di depan sebuah toko barulah aku ingat, kalau tadi aku tidak sempat meminta uang dari Zarima. Bagian terbaiknya, uang dua puluh tujuh ribu milikku, masih tetap berada di saku. Uang ini mungkin cukup, tapi untuk pulang dulu ke ladang itu lebih tidak mungkin lagi.Pun, masuklah aku ke toko dimaksud untuk mendapatkan barang yang dipesan Zarima.Aku memulainya dengan pupur bayi merk R*ta. Harganya empat ribu rupiah, lebih murah seribu rupiah dari yang Zarima sebutkan. Sabun mandinya yang lumayan mahal. Botol kecil saja ha
Tidak ingin membuang-buang waktu, begitu selesai sarapan, aku langsung menghampiri Zarima."Kak," ucapku membuka percakapan, "tadi kamu minta tolong apa?" "Itu Bary," jawabnya, "tembuni tadi malam, nanti tolong tanamkan ya. Pamali lho, kalau terlalu lama dibiarkan."Zarima yang tengah bersiap memandikan bayi-bayinya ini, berkata-kata tanpa menoleh aku. Apa yang dia sampaikan juga memang hanyalah perkara biasa. Hanya saja, tumben dia menyelipkan kata 'pamali' dalam kalimatnya. Pada saat yang sama, mungkin karena mendapati aku yang belum juga merespon, dia kemudian berkata lagi."Iya, tidak apa-apa, nanti saja. Maksudku, tunggulah sampai makanan tenang di perutmu."Sampai di sini barulah langsung kubalas, "Tidak, Kak, sekarang saja, biar aku bisa cari kerjaan lain lagi juga, 'kan? Matahari sudah tinggi, lho!""Iya juga sih," sambungnya.Zarima hanya sampai di situ. Aku juga tidak lagi menambahkan, dan langsung bergeser menyambar gentong-gentong berisi tembuni, juga golok tua untuk men
Zarima tiba-tiba menggerakkan badan, salah satu tangannya dia tautkan ke dinding. Dinding gubuk kami ini terbuat dari anyaman bambu buluh. Butuh sedikit kehati-hatian saat berpegangan padanya jika tidak ingin tergores.Tangannya yang lain pula, bertumpu pada lututnya sendiri. Sepertinya dia hendak meninggalkan tempat duduknya."Kak, kamu butuh apa? Ayo, biar aku saja. Tolong jangan memaksakan diri!" Aku menyela, berkata-kata dengan penuh penekanan, dan tidak ingin bernegosiasi. Terpaksa kulakukan, karena untuk berdiri dari duduknya saja, kulihat dia harus melakukannya dengan sangat susah payah."Tolong ambilkan pakaian anak-anak ini," katanya juga, "Ambilkan saja sekalian buntalannya," tambahnya. Lalu, masih sambil berpegangan pada dinding, pelan-pelan dia duduk kembali di sisi bayi-bayinya.Setelah mengambil buntalan yang dia maksudkan, aku himpun pakaian kotornya menjadi satu, lalu menaruhnya pada suatu tempat. Setelah itu barulah aku beralih pada gentong-gentong berisi tembuni.







