登入Pikiran Sabrina melayang jauh, menembus dinding-dinding masa lalunya yang kelabu. Berdiri di lobi kantor yang megah ini, ia mendadak disergap oleh sekelumit kesadaran yang getir. Selama ini, dia tidak benar-benar memiliki banyak teman. Hidup yang keras dan penuh perjuangan di masa lalu telah memaksa Sabrina untuk mengunci fokusnya hanya pada dua hal. Bekerja membanting tulang dan mengejar beasiswa demi bertahan hidup. Di saat gadis-gadis seusianya sibuk berkumpul, berbelanja, atau sekadar bergosip di kafe, Sabrina harus berlari dari satu tempat kerja paruh waktu ke tempat kerja lainnya. Pilihan hidup yang kaku itu membentuk tameng tak kasatmata di sekelilingnya. Jadilah tidak ada yang mau mendekat. Orang-orang menganggapnya terlalu sibuk, terlalu tertutup, atau mungkin terlalu membosankan untuk d
Kael sengaja mengosongkan seluruh jadwal kerjanya pagi ini. Tidak hanya itu, demi kenyamanan dan privasi sang istri, ia bahkan telah membuat janji dengan dokter spesialis kandungan terbaik di kota ini secara privat. Tidak ada antrean, tidak ada pasang mata yang menatap penasaran. Kini pintu mobil mewahnya terbuka perlahan. Kael turun terlebih dahulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya dengan luar biasa hati-hati. Lorong klinik eksklusif itu tampak sepi, hanya menyisakan langkah kaki mereka berdua yang bergema pelan."Pegang tanganku, Sayang. Pelan-pelan saja," bisik Kael lembut.Sabrina menyambut jemari suaminya, melangkah turun dengan perasaan yang masih agak mengambang."Kael, apa tidak berlebihan? Aku baru hamil empat minggu, bukan sedang sakit parah.""Tidak ada ka
Kael melangkah keluar, langsung disambut oleh tiga pasang mata yang memancarkan kecemasan luar biasa. Adrian, Ganda, dan Nyonya Maureen masih berdiri di posisi yang sama seperti setengah jam lalu, seolah tidak berani bergeser satu inci pun sebelum mendapatkan kepastian. Dokter pribadi keluarga O’Shea keluar mengekor di belakang Kael, wajahnya tampak menyunggingkan senyum tipis yang langsung membuat kerutan di dahi Adrian sedikit mengendur."Kael, bagaimana keadaan adikku?" Ganda langsung menyambar, menahan napasnya menunggu jawaban. "Dia... dia tidak apa-apa, kan?" Kael tidak langsung menjawab. Pria itu menatap Ganda datar, lalu mengulurkan tangan kanannya yang sejak tadi mengepal. Di atas telapak tangannya yang lebar, tergeletak sebuah benda pipih panjang de
"Sabrina!" Kael menggendong Sabrina ala bridal style, membawanya keluar dari kamar mandi dengan langkah tergeser-geser panik. Perlahan, ia membaringkan tubuh pucat istrinya di atas ranjang king size mereka. Kedua tangan Kael bergerak cepat, menepuk-nepuk halus pipi gembil Sabrina sembari mendekatkan sebotol minyak aromaterapi ke hidung istrinya."Sayang, bangun... hei, lihat aku," bisik Kael, suaranya bergetar hebat. Melihat tidak ada respons dari kelopak mata yang terpejam rapat itu, Kael langsung merogoh saku celananya dengan tangan gemetar. Ia mendial sebuah nomor darurat."Dokter, ke kamar utama sekarang juga! Istriku pingsan!" perintah Kael tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav sebelum langsung memutuskan panggilan sepihak. Ketegangan di lantai atas ternyata menimbulkan kegaduhan yang cukup berarti. Adrian, Ganda, dan Nyonya Maureen yang sejak tadi diliputi rasa bersalah di ruang tengah langsung bergegas naik begitu melihat dokt
Kelopak mata Sabrina melebar sempurna. Pertanyaan Ganda yang begitu frontal meruntuhkan seluruh dinding pertahanannya. Di dalam kepalanya, kalender siklus bulanannya mendadak berputar cepat, menghitung mundur hari demi hari sejak dia dan Kael masih berada di bawah langit Pulau Socotra.Satu minggu. Dua minggu. Tiga minggu berlalu begitu saja.Astaga, dia melewatkannya."A-apa maksudmu?" Sabrina terbata-bata, suaranya mendadak cicit dan bergetar hebat. "Siklusku... siklusku memang kadang berantakan kalau aku sedang stres atau kelelahan setelah penerbangan panjang. Apa-apaan sih?"“Apa kau tidak merasakan perubahan badanmu? Jangan pura-pura tidak tahu,” desak Ganda tak sabaran.“Diamlah,” tegur Kael pada sang kakak ipar. Kael tidak membiarkan istrinya tersudut lebih lama. Dengan gerakan tegap dan cepat, dia langsung bangkit dari sofanya. Tubuh tingginya sengaja bergeser, berdiri kokoh tepat di depan Sabrina, memotong sisa pandangan menginterogasi yang dilayangkan
Kael menghela napas pendek, lalu dengan gerakan perlahan memindahkan tubuh Aliz ke lengan salah seorang pelayan wanita yang sejak tadi menunggu di dekat tangga."Bawa Aliz ke kamar tamu. Pastikan selimutnya terpasang dengan benar," perintah Kael dengan suara baritonnya yang rendah."Baik, Tuan," bisik pelayan itu sopan, sebelum akhirnya melangkah menjauh, membawa sang balita naik ke lantai atas. Kini, hanya ada empat orang dewasa yang tersisa di ruang tengah tersebut. Keheningan mendadak merayap, menghimpit atmosfer ruangan saat tiga pasang mata para orang dewasa yang tersisanya. Semuanya menatap lurus ke arah Kael dengan binar harap-harap cemas yang begitu kentara."Grandma, jangan salah paham dulu. Sabrina tidak sedang hamil."Binar di mata tua Nyonya Maureen seketika meredup. "Maksudmu? Tapi reaksi mualnya tadi..""Kami sepakat untuk menunda punya anak," potong Kael cepat, mematahkan spekulasi yang sejak tadi menggunung di kepala keluarga besar O'Shea. "Setidaknya sampai
"Jangan berharap banyak. Aku jarang berada di sini," gumam Kael datar. Sabrina bangkit dari lantai, merapikan gaun sutra hitamnya yang kini sudah tidak berbentuk. Ia mendekat dengan langkah ragu, mengi
Deru mesin mobil sport Kael membelah sunyinya jalanan protokol dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Di dalam kabin yang kedap suara, atmosfer terasa mencekam. Kael mencengkeram kemudi, matanya terus melirik kaca spion setiap beberapa detik, memastikan tidak ada sorot lampu yang mengi
Denting lonceng di pintu butik Le Vian terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Sabrina. Begitu mereka melangkah masuk, manajer butik langsung mengunci pintu kaca besar itu dari dalam dan membalik papan nama menjadi Closed. Di bawah pendar lampu kristal yang mewah, butik itu kini berubah m
“Sadar, Sabrina Sableng! Sabrina gendeng!” Sabrina terus merutuki diri. Entah sudah berapa kali gadis itu menepuk pipinya kanan dan kiri. Berharap yang barusan hanyalah mimpi, tetapi kenapa rasanya panas ya?







