로그인"Mari, Bu Gisel. Hati-hati pulangnya. Sudah malam ini," sapa Pak Yono, salah satu staf senior yang kebetulan baru saja hendak meninggalkan gedung kantor. Gisel menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh sambil tersenyum ramah. "Iya, Pak. Terima kasih. Bapak juga hati-hati, ya." Setelah berpamitan, Gisel kembali melangkah menuju pintu utama. Suasana lobi kantor sudah cukup sepi. Jarum jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Ia baru saja menyelesaikan beberapa tumpukkan berkas laporan yang harus diserahkan keesokan paginya, sehingga ia terpaksa harus lembur. Dengan langkah sedikit lelah, Gisel mendorong pintu kaca utama dan keluar menuju pelataran parkir. Ia berniat memesan taksi online untuk pulang karena tidak membawa kendaraan sendiri hari itu. Namun, sebelum sempat berjalan lebih jauh, suara dari pos keamanan membuatnya berhenti. "Mau nunggu jemputan, Bu Gisel?" tanya satpam yang sedang berjaga malam itu. Gisel menoleh dan tersenyum tipis. "Enggak, Pak. Saya mau
Sejak Bhaskar siuman, hubungan keduanya terasa semakin dekat. Gisel tidak lagi ragu menunjukkan perhatiannya, sementara Bhaskar mulai terbiasa menerima kehadiran perempuan itu di sisinya. Hampir setiap pulang kerja, Gisel menyempatkan diri datang untuk menjenguknya. Hingga pada suatu sore di penghujung pekan, dokter yang merawat Bhaskar akhirnya mengizinkannya pulang. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan bahwa kondisinya terus membaik. Respons tubuhnya terhadap obat cukup baik, tekanan darahnya stabil, dan tidak ada keluhan baru yang mengharuskannya tetap dirawat di rumah sakit. Meski begitu, dokter tetap mengingatkan Bhaskar agar tidak terlalu banyak beraktivitas. Ia harus beristirahat di rumah, mengurangi aktivitas yang berat, meminum obat sesuai jadwal, dan menjalani pemeriksaan rutin untuk memantau kondisi jantungnya. Kabar itu disambut lega oleh Lintang bahkan Zio. Gisel pun ikut merasa senang karena akhirnya Bhaskar bisa meninggalkan rumah sakit dan beristirahat di rumah
Hari yang ditunggu-tunggu Gisel akhirnya tiba. Setelah melalui proses hukum yang cukup panjang dan melelahkan, perceraiannya dengan Arash kini resmi selesai. Pengacaranya baru saja mengirimkan pesan yang mengabarkan bahwa putusan perceraian mereka telah berkekuatan hukum tetap dan pengurusan akta cerai bisa dilanjutkan.Gisel membaca pesan itu berulang kali, memastikan dirinya tidak salah memahami isinya. Beban berat yang selama ini menghimpit hidupnya seolah terangkat begitu saja. Pernikahan yang telah membuatnya begitu lama menderita akhirnya benar-benar berakhir.Kabar itu datang di tengah kekhawatirannya terhadap Bhaskar. Beberapa jam sebelumnya, Lintang mengirimkan pesan yang mengabarkan bahwa pria itu sudah siuman. Begitu membacanya, Gisel langsung bergegas meninggalkan pekerjaannya untuk menjenguk Bhaskar. Langkah Gisel menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa hingga akhirnya berhenti di depan kamar VVIP tempat Bhaskar. Di sana, ia melihat Lintang yang baru saja kelua
Gisel bergegas masuk ke rumah sakit bersama Dara. Begitu tiba di ruang tunggu, ia langsung melihat Lintang yang duduk dengan kepalanya yang tertunduk. Di dekatnya, ada Bara yang sedang memangku Zio, sementara di sisi lain, Joji dan Reva berdiri dengan wajah tak kalah cemas. “Tante Lintang...” panggil Gisel dengan suara bergetar. Mendengar suara Gisel, Lintang segera bangkit dan menghampirinya. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia memegang kedua pundak Gisel. “Gisel...” ucapnya lirih. Suaranya pecah, seolah ia sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihannya. Gisel menatap Lintang dengan mata berkaca-kaca. “Tante, sebenarnya apa yang terjadi sama Kak Bhaskar? Kenapa dia sampai begini?” Lintang menunduk sejenak sebelum kembali menatap Gisel. Air matanya mengalir lagi saat akhirnya ia mengungkapkan sesuatu yang selama ini disembunyikan putranya. “Bhaskar punya penyakit jantung bawaan sejak lahir, Sel.” Gisel terdiam. Ia menatap Lintang tanpa berkedip, berusaha memahami kalima
Tiga hari berlalu sejak kepulangan Gisel dari Bali. Selama itu, Gisel sama sekali tidak mendapat kabar dari Bhaskar. Tidak ada pesan atau panggilan telepon darinya. Bahkan yang lebih parah lagi, pria itu sama sekali tidak bisa dihubungi.Selama dua hari berturut-turut, Gisel menyempatkan diri mengunjungi galeri milik Bhaskar saat jam istirahat kantor. Namun, setiap kali datang, ia selalu mendapati pintu galeri tertutup rapat.Gisel sempat ingin menghubungi Joji atau Reva untuk menanyakan keberadaan Bhaskar. Sayangnya, ia baru menyadari bahwa selama berada di Bali, dirinya belum sempat bertukar nomor telepon dengan pasangan suami istri itu. Akibatnya, ia tidak tahu harus mencari informasi tentang Bhaskar melalui siapa lagi.Kegelisahannya juga terasa setiap kali sore tiba. Saat mobilnya memasuki kawasan perumahan orang tuanya sepulang kerja, pandangannya selalu tertuju pada rumah di seberang jalan, yaitu rumah Bhaskar.Biasanya, pada jam-jam seperti itu, Lintang akan duduk di teras sam
“Maksudnya, Mbak?” tanya Gisel dengan suara yang tercekat. Jantungnya berdegup kencang, seolah menolak menerima apa yang baru saja didengarnya.Reva menghela napas, lalu menatap Gisel dengan iba. “Masuk dulu yuk, Gisel. Kita ngobrol di dalam aja.” Ia merangkul pundak Gisel yang masih berdiri kaku di depan pintu, kemudian membawanya masuk.Gisel mengikuti Reva dengan langkah pelan. Ia langsung dibimbing menuju sofa di dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke kolam renang vila. Di samping mereka, kedua anak Reva dan Joji masih tertidur pulas di atas ranjang besar dengan selimut menutupi separuh tubuh mereka. Suasana kamar begitu tenang, berbanding terbalik dengan pikirannya yang mendadak kacau.Reva duduk di samping Gisel, lalu mengusap pundaknya pelan.“Tadi aku juga kaget waktu Mas Joji kasih tahu. Aku bahkan gak sempat ketemu langsung sama Bhaskar sebelum dia pergi. Tiba-tiba saja Mas Joji bilang kalau Bhaskar harus pulang malam ini.”Gisel segera menoleh. Kecemasan terlihat jel







