공유

Bab 4

작가: Rain
Aku hendak menolak, tapi suara Baskara terdengar kembali.

“Maaf hari ini sudah merepotkanmu. Malam nanti aku kasih uang makanmu.”

Kata-kata penolakan yang ingin keluar tertahan di bibirku. Akhirnya, aku pun setuju. Lagi pula, aku akan segera pergi. Bisa mendapatkan sedikit tambahan uang tak ada salahnya.

Setelah memastikan Dimas aman, aku keluar membeli bahan makanan.

Namun saat kembali… terdengar teriakan seorang anak dari halaman.

“Mama!”

Akal sehatku seketika hancur. Aku menendang pintu dengan keras, berlari secepat mungkin ke halaman.

“Dimas! Dimas!”

Tubuh mungilnya tergeletak di tanah. Baju barunya yang bersih kini penuh debu. Baskara tampak membungkuk hendak menggendongnya.

“Mama!” Dimas berteriak sambil menoleh ke arahku dengan susah payah, matanya merah berair.

Jantungku seperti diremas, sakitnya membuat dadaku sesak. Aku panik, sayuran di tanganku jatuh berserakan. Aku mendorong Baskara menjauh dan berlutut mengangkat tubuh kecil Dimas ke pelukanku.

“Kamu kenapa, Dimas? Jangan buat Mama khawatir.”

Dimasmenatapku, darah perlahan mengalir dari hidungnya.

“Mama… sakit…”

Baskara mengerutkan alis, sorot matanya penuh cemas.

“Mustika… jangan panik dulu. Tangga itu nggak tinggi. Dimas akan baik-baik saja,” ucapnya, mencoba menenangkanku.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Dimas bisa jatuh!”

Bulu mata Baskara bergetar, napasnya mendadak berat.

“Itu...”

“Aku yang nggak sengaja menabraknya tadi.”

Helena berdiri di atas anak tangga, menatap kami dari posisi lebih tinggi. Nada suaranya penuh rasa bersalah.

“Mbak, maaf ya… aku benar-benar nggak tahu kalau dia berdiri di belakangku. Begitu berbalik, aku malah menabraknya.”

“Dimas… cepat jelaskan kalau aku nggak sengaja.”

Aku menoleh, menatap tajam Baskara, seakan ingin melubangi wajahnya dengan pandanganku.

“Helena tadi…”

Helena mendekat, merangkul lengan Baskara.

“Dimas… kamu percaya sama aku, ‘kan?”

Baskara mengerutkan kening, untuk pertama kalinya dia tak berani langsung menjawab. Halaman rumah seketika tenggelam dalam kesunyian yang menegangkan.

“Mama… sakit…”

Suara Dimas menyadarkan akal sehatku. Aku buru-buru menggendongnya, membawanya keluar dari halaman.

“Mustika, tunggu bentar, biar aku antar...” Baskara berusaha menghentikanku.

“Dimas!”

Suara Helena meninggi, sontak menghentikan langkah Baskara.

Aku merasakan kegaduhan di belakang, tapi justru membuat langkahku semakin mantap. Tinggal tiga hari lagi sebelum aku pergi. Aku sudah tak sanggup menunggu.

….

Setelah dokter memeriksa, seluruh tenagaku terasa habis terkuras. Dimas yang baru selesai dibalut perban menatapku dengan mata memerah. Kalimat pertamanya justru sebuah permintaan maaf.

“Ma, Dimas minta maaf. Dimas sudah buat baju baru ini kotor.”

Hatiku tersayat. Penyesalan yang mendalam berubah menjadi air mata, mengalir tanpa henti.

“Maafin Mama, Dimas. Maafin Mama.”

“Mama yang salah. Harusnya Mama nggak pergi beli sayuran. Ini semua salah Mama.”

Dimas menahan sakitnya, tersenyum padaku.

“Ma… Dimas mau pulang,” ucapnya pelan.

Aku mengangguk cepat.

“Ya, kita pulang.”

Malam itu, tak ada seorang pun di rumah. Setelah memastikan kondisi Dimas, aku buru-buru mengemas barang-barang. Keesokan paginya, aku dan Dimas berangkat ke stasiun.

Saat melewati rumah sakit, aku melihat Baskara. Dia membawa sekantong buah, berjalan tergesa-gesa menuju pintu masuk rumah sakit, seolah sedang mencari seseorang.

Sekilas sindiran melintas di mataku. Aku memeluk erat Dimas dengan penuh kasih sayang. Mulai hari ini, kami tak lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.

….

Di sisi lain, Baskara menarik Helena yang tampak enggan mencari perawat.

“Permisi, Sus. Aku sedang mencari pasien anak atas nama Dimas Haryanto.”

Perawat mengerutkan keningnya.

“Dimas Haryanto? Tadi malam sudah keluar dari rumah sakit. Ibunya bilang, mereka buru-buru pulang ke kampung halaman.”

Brak!

Kantong buah jatuh ke lantai. Sorot mata Baskara mengeras. Tanpa ragu, dia berbalik dan berlari keluar.
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 10

    Perempuan yang Baron sebut sebagai sosok cerdas dan tangguh itu… benarkah Mustika?Kenapa selama ini Baskara sama sekali tak tahu?Pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu pikiran Baskara, membuatnya kebingungan.“Oh iya, Mas. Omong-omong, kenapa Mbak Mustika balik lagi ke desa? Apa di kesatuan nggak nyaman?”Baskara ingin menjawab, dia membuka mulutnya, tapi tak sepatah kata pun keluar.Apa lagi yang harus dia bilang?Bilang di kesatuan tak ada yang mau mengakui Mustika dan Dimas?Bilang mereka selama ini hanya dipandang sebagai kerabat miskin yang hanya menumpang ketenaran dan selalu diremehkan?Bagaimana mungkin dia akan mengatakannya?Bagaimana mungkin dia berani mengatakan kebenarannya?Di tengah rasa malu yang menyelimuti dirinya, terdengar suara wanita dari belakang.“Baron, ayo balik ke desa.”Baron menoleh, lalu melambaikan tangannya.“Oke, Mbak! Mbak Mus, coba lihat siapa yang datang?”Baskara berbalik, wajahnya menegang.“Mustika.”Langkahku terhenti. Ada kilatan ketidaksabaran di

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 9

    Wajah perempuan itu terlihat agak tenang.“Aku nggak tahu soal orang lain, tapi suamiku bukan orang yang seperti itu,” ucapnya pelan.“Awalnya, aku juga sempat takut… takut mempermalukannya. Apalagi di desa, banyak wanita intelektual yang juga menyukai suamiku.”“Tapi…”Perempuan itu menunduk, menatap bayi di pelukannya dengan sorot mata yang begitu lembut.“Tapi suamiku pernah bilang, sejak menikahiku… dia akan memperlakukanku dengan baik seumur hidup. Katanya, dia adalah kepala keluarga, lahir dari tanah pedesaan, sama sepertiku. Kalau ada orang yang merendahkanku… itu karena mereka lebih dulu merendahkannya.”“Dia juga bilang… karena sering nggak di rumah karena tugas tentara, semua urusan dalam dan luar rumah, aku yang urus. Dia merasa berutang banyak padaku. Bahkan kalau nanti dia melipatgandakan kebaikannya padaku, tetap nggak akan pernah cukup untuk menebusnya.”Bayi yang sudah kenyang itu mengangkat tangan mungilnya, menggosok-gosok mata.Perempuan itu tampak dengan lembut meny

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 8

    Sementara dia… bergabung ke militer, menempuh jalan hidup yang dipilihnya sendiri.Baskara tak berani mengakui.Di balik sikap benci dan dinginnya yang selalu dia tunjukkan padaku dan Dimas… sebenarnya tersimpan rasa bersalah yang besar.Galaknya hanya topeng, tapi hatinya pengecut.Karena itulah, meski dia tahu…Bahwa aku tinggal di desa selama delapan tahun demi berbakti pada orang tuanya.Tahu aku menunggunya selama delapan tahun.Tahu betapa tulus dan tanpa pamrihnya aku.Tahu betapa sungguh-sungguhnya perasaanku padanya.Dia tetap tak mau mengakui.Dan tak berani mengakui.Setiap kali melihatku dan Dimas, yang terbayang di benaknya adalah kebobrokannya sendiri.Karena demi melarikan diri dari hidup yang tak ingin dia jalani, dia telah mengurung seorang gadis tak bersalah selama delapan tahun.Tanpa sadar, tangannya kembali terulur hendak mengambil rokok. Namun, suara seorang perempuan dari seberangnya menghentikan gerakannya.“Mas… bisa tolong ambilkan air panas?”Perempuan itu te

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 7

    Baskara tak tahu bagaimana reaksi Helena. Sekalipun tahu, dia tak akan terlalu memikirkannya.Begitu keluar dari aula, dia menyandarkan tubuhnya yang lesu ke dinding. Dia menarik sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisapnya dalam-dalam hingga asap memenuhi rongga dadanya.Barulah setelah menghembuskan napas panjang, dia seperti hidup kembali.Musik dari dalam aula masih terus berdentum. Baskara hanya melirik sekilas, sebelum akhirnya berbalik pergi.Dia rindu… rindu yang samar pada kampung halaman.Dia membuka pintu gerbang halaman.Malam ini, cahaya bulan begitu terang, jatuh menerangi kebun sayur yang terlihat sedikit berantakan.Dua petak tanah. Tidak besar, juga tidak kecil. Begitu melihatnya, jelas hasil tangan orang yang terbiasa bekerja di kebun. Tanahnya diratakan dengan rapi, garis-garisnya teratur.Hanya saja, beberapa tunas liar yang tumbuh sembarangan merusak harmoni itu.Tangannya yang terselip di saku kembali terasa gatal. Baskara mengeluarkan korek api, tapi tepat saa

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 6

    Komandan Imran mengerutkan keningnya, berusaha membela Baskara.“Kamu juga aneh, Baskara. Mereka itu bukan kerabat dekatmu, kenapa malah kamu bawa tinggal di kompleks keluarga.”“Menurutku, lebih baik kamu cepat suruh mereka pergi. Jangan sampai hubunganmu sama Helena terganggu.”“Kalau kamu sungkan atau nggak tega, bilang sama aku. Biar aku yang urus.”Meski Komandan Imran tampak begitu bersemangat membela, jelas sekali ada rasa bersalah melintas di wajah Baskara.Aku dan Baskaran adalah pasangan muda.Saat itu, dia baru delapan belas tahun, sementara aku tujuh belas.Hanya berjumpa satu kali dari kejauhan, kami langsung memutuskan untuk hidup bersama. Dua minggu setelah menikah, Baskara bergabung dengan militer.Di militer, dia bertemu rekan-rekan dari berbagai penjuru negeri, mendengar cerita mereka yang bermacam-macam membuatnya menyadari perbedaan nasib manusia. Pada awalnya, setiap kali sulit tidur, dia selalu memikirkan keluarganya yang berada jauh di sana.Memikirkan istri yang

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 5

    “Mustika! Mustika!”“Dimas!”Baskara membuka setiap pintu kamar satu per satu, memeriksa setiap sudut rumah tanpa terlewat.Kosong.Sepi.Tak ada seorang pun.Aku dan anakku benar-benar sudah pergi.Tanpa sepatah kata pun.Tanpa pamit.Baskara terduduk di sofa, suasana hatinya campur aduk.Bukankah ketenangan seperti ini yang selama ini dia inginkan?Namun entah kenapa…Justru hatinya terasa semakin tak tenang.Apa mungkin… Sebenarnya dalam seminggu terakhir, dia sudah terbiasa dengan keberadaanku dan Dimas?Namun yang dia cintai bukankah Helena?Ya, wanita yang dia cintai hanya Helena.Sosok wanita seperti Helena-lah yang pantas untuk dirinya cintai.Mustika hanyalah perempuan desa.Ya, hanya perempuan dari kampung, tak lebih.Baskara mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Dia masuk ke kamar, membuka lemari dan mengeluarkan perlengkapan tidurnya yang dulu.Di hari pertama aku dan Dimas tiba di kesatuan, Baskara berkata tegas padaku.“Mustika… kamar ini untukmu. Tapi kita nggak mungkin s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status