共有

Bab 16. Pertemuan

作者: Min Ye-Rin
last update 公開日: 2026-09-08 18:33:06

Setelah kejadian kemarin, Helena tidak berani bahkan untuk sekedar berpapasan dengan Lucien. Dia berusaha menghindar, bahkan saat di kantor.

“Tidak usah canggung, Helena. Sekuat apapun kamu menghindar, kamu tetap akan bertemu dengannya,” gumamnya, sambil merapikan baju, lalu menuju ruangan Lucien.

“Tuan memanggil saya?” tanya Helena. Wanita itu membungkuk penuh hormat.

Lucien mengangkat wajahnya. “Iya. Bersiaplah, kamu akan menemaniku bertemu klien penting pagi ini,” katanya dingin, sambil me
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 24. Malam Di Tepi Kolam

    Mulut Helena sedikit terbuka, tapi tak ada satu katapun yang berhasil dia ucapakan. Tubuhnya tidak bergerak, bahkan ketika Lucien sudah kembali mendekat. “Apa kamu masih meragukanku?” bisik Lucien, tepat di samping telinga Helena.Dia menatap Helena sebentar, lalu sedikit menjauhkan wajahnya. Helena memalingkan wajahnya. “Bukan begitu… aku hanya tidak ingin banyak berharap lagi,” katanya lirih. “Tentang janjimu dengan Adrian. Aku sudah menganggapnya cukup, Lucien. Kamu tidak perlu terbebani lagi. Kamu sudah bebas sekarang.” Untuk beberapa saat, Lucien tidak bergerak. Dia masih menatap Helena lurus, sampai akhirnya satu kalimat darinya berhasil membuat tubuh Helena kembali menegang. “Aku tidak peduli.”Helena refleks menoleh. Belum sempat dia menatap pria itu, Lucien sudah lebih dulu menarik tengkuknya, dan kembali melumat bibirnya, kali ini lebih kasar. Tangan Helena mendorong dada Lucien. Perlakuan kasar ini, mengingatkannya pada Matteo. Dada Helena naik turun dengan cepat. Dia

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 23. Apa Semua Karena Janji?

    Helena menyandarkan tubuhnya di sofa. Berdiam diri tanpa melakukan sesuatu, membuat tubuhnya terasa begitu kaku. Lucien benar-benar menyiapkan semua kebutuhannya, bahkan untuk hal yang sepele, seperti makan dan minumnya. Untuk seseorang yang tidak bisa diam sepertinya, Helena jelas bosan. Belum lagi, malam ini terlalu sepi untuk dihabiskan seorang diri. Mata Helena menyipit ketika mendengar suara air tepat di samping balkon. “Lucien?” tanya Helena. Namun tetap tidak ada jawaban. “Lucien itu kamu?” tanya Helena lagi. Jantungnya sudah berdegup dengan cepat. Helena menelan ludahnya, lalu melangkah untuk memastikan. Tubuhnya mematung saat melihat Lucien yang masih berendam di dalam air. Pria itu menyibak rambutnya, dan kembali menyelam. “Dia berenang malam-malam begini?” gumam Helena. Alih-alih pergi, wanita itu justru semakin mendekat. “Apa nggak dingin? Aku kira, dia belum pulang dari kantor.”“Ngapain kamu disitu?” suara Lucien berhasil membuat Helena menegang. “Aku kira, kamu suda

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 22. Tinggal Bersama?

    Setelah hampir satu minggu dirawat, akhirnya Helena sudah diperbolehkan pulang. Eve masih setia menemani. Wanita itu bahkan rela izin kerja untuk merawat Helena. Dia tidak percaya sepenuhnya pada Lucien. “Kamu tetap mau ikut, kalau Helena tidak kembali ke apartemennya?” tanya Lucien, saat ketiganya sudah berada di parkiran. Pria itu bersandar di body mobil, dengan kacamata hitam yang membuat auranya semakin misterius. Eve yang merasa tersindir, hanya mendengus. Dia merangkul lengan Helena lebih erat. “Helena, kamu yakin nggak pulang ke apartemen? Lagian, aku bisa jaga kamu—”“Dia tidak akan pulang kesana,” tukas Lucien datar. Pria itu membuka kacamata, menatap Helena dan Eve silih berganti. “Tempat itu belum aman, dan tidak ada jaminan orang-orang itu tidak akan kembali.”Helene memperhatikan Lucien cukup teliti. Pria itu masih terlihat cuek, tapi semua yang dia lakukan pasti selalu ada alasan, dan itu untuk kebaikannya. Helena menggeleng. Dia menepis perasaan aneh yang merayap

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 21. Kecurigaan Helena

    Mata Helena berkedut ringan. Kepalanya terasa berat, seolah ada yang menindihnya. Tepat ketika dia mendapat kesadaran seutuhnya, orang yang ia lihat pertama kali adalah Eve. Wanita itu sudah duduk di samping ranjang dengan mata terpejam. Helena mengerjap pelan. “Eve, itu kamu?” tanyanya memastikan. Sudah lama sekali rasanya dia tidak melihat Eve.Namun tidak ada jawaban. Eve masih tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Helena bangun. Pandangannya mengedar, memindai setiap sudut ruangan berwarna putih. Rumah sakit? Kening Helena berkerut sesaat, sebelum akhirnya pupilnya melebar saat mengingat kejadian yang menimpanya semalam.“Matteo… dimana dia?” Helena bangun dengan sangat susah payah. Kepalanya semakin berdenyut nyeri. “Aku harus cari dia—”“Kamu sudah bangun?” suara berat itu memotong kalimat Helena dalam sekejap.Helena langsung mendongak, menatap ke arah pintu. Lucien—pria itu berdiri di sana. Masih tanpa ekspresi, lengkap dengan sorot mata dinginnya. Dia berjalan men

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 20. Pria Misterius

    Matteo mendorong Helena hingga tersungkur. Mata gelapnya menatap Helena tanpa belas kasih.Wanita itu mendongak. Rahangnya yang berkedut nyeri, membuat rasa bencinya pada Matteo semakin besar. Dia merogoh tasnya, mengeluarkan dua tumpuk uang dari dalam tas, lalu melemparkannya tepat di depan Matteo. “Ambil itu,” katanya. “Dan jangan pernah lagi membawa Lucien ke dalam masalah ini.”Wanita itu berdiri. Merapikan bajunya dan hendak pergi, tapi Matteo menarik tanganya, lalu mendekap tubuhnya dengan sangat erat. “Kamu pikir uang ini cukup?” bisiknya tepat di telinga Helena. “Matteo, uang itu cukup untuk melunasi salah satu hutang kita yang paling besar,” ujar Helena, sambil terus meronta. “Sisanya, aku bisa mencicil dengan gajiku. Tidak perlu lagi memeras Lucien.”Tangan Matteo yang semula mendekap tubuh Helena, perlahan mengencur. Napasnya tertahan untuk beberapa saat. Sudut bibirnya sedikit terangkat, seolah tak menyangka dengan perubahan sikap Helena yang semakin berani melawannya.

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 19. Siasat Matteo

    Helena menatap pintu apartemennya yang begitu tenang. Perlahan, dia membuka pintu itu. Ruangan masih gelap, tapi telinganya menangkap suara-suara aneh dari arah dapur. Wanita itu masuk dan sedikit berlari. “Matteo,” gumamnya, ketika melihat Matteo yang sibuk di depan kompor, lengkap dengan apron yang melekat di tubuhnya. “Kamu lagi ngapain?”Mata Helena turun pada panci kaca yang sudah mengepul di atas tungku. Namun belum selesai dengan rasa terkejutnya, dia melihat senyum di wajah Matteo. Matteo tersenyum selembut itu? Untuknya? Helena menggeleng kasar. Dia tidak boleh lagi terjebak rayuan Matteo kali ini. “Aku sudah masak sup jamur kesukaanmu. Ayo cepat, kita makan bersama,” katanya antusias. Pria itu benar-benar sibuk menyiapkan menu makan malam di meja. “Ayo, Helena. Kenapa kamu malah berdiri disitu? Buruan, nanti supnya keburu dingin.”Melihat Helena yang tidak bergerak sedikitpun, Matteo menghela napas kasar. Pria itu melangkah besar, lalu sedikit menarik tangan Helena untuk

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status