Share

Bertemu Lagi

Author: PHANTOM
last update Last Updated: 2022-08-12 20:01:15

Noah menoleh dan pupilnya sedikit melebar. “Ah, Gadis Kopi!”

Viona sontak tersenyum. Siapa sangka jika dia akan bertemu Noah di tempat seperti ini. Haruskah dia memulai percakapan? Ini adalah kesempatan emas untuk lebih dekat dengan Noah.

“Kau sudah menyelesaikan bukunya?” tanya Viona.

“Buku?” Noah terlihat sedikit bingung, namun segera melanjutkan perkataannya. “Ah, benar! Aku sudah membacanya hingga selesai dan ingin mengembalikannya, tapi aku tidak membawanya sekarang.”

Alasan! Sebenarnya Noah belum sempat membacanya hingga selesai karena sibuk mempersiapkan rencana untuk menangani tuntutan yang didapat RF Group. Dia bahkan lupa menaruh bukunya di mana.

Noah melihat penampilan Viona yang terkesan lebih dewasa dibanding pertemuan sebelumnya. Tatapannya kemudian berhenti pada bibir mungil yang dilapisi lipstik warna merah. Jarinya tanpa sadar mengusap bibir merah Viona dan membuat Viona tersentak.

“Maaf, aku hanya berpikir kalau warna merah tidak cocok untukmu dan tanpa sadar ingin menghapusnya,” ungkap Noah mengenai perilakunya yang tiba-tiba.

“A-ah, begitu rupanya,” balas Viona tergagap. Jantungnya berdebar sangat kencang seolah akan lepas dari tempatnya.

Sama seperti Viona, jantung Noah pun berdebar kencang. Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati karena perbuatannya yang kurang ajar terhadap gadis yang baru dia temui dua kali.

Sejujurnya Noah terpesona dengan wajah cantik Viona. Bisa dibilang jika Viona adalah gadis pertama yang membuat Noah terpesona hanya dengan melihat wajahnya. Kulit seputih porselen, hidung mancung, bibir mungil, dan bahkan Viona memiliki bulu mata yang lentik. Viona terlihat seperti sebuah boneka hidup.

Di saat otaknya dipenuhi dengan bayang-bayang wajah Viona, ponsel Noah berdering, membuat lamunannya buyar seketika.

“Maaf, sepertinya aku harus ke belakang untuk menerima telepon,” ucap Noah sambil berlalu.

Viona tersenyum menanggapi Noah. Namun, bukan berarti dia akan diam saja. Diam-diam dia mengikuti Noah dari belakang dan hendak menguping pembicaraannya dengan seseorang di telepon.

Noah terlihat sangat serius dan beberapa kali menghela napas. Entah apa yang sedang pria itu bicarakan dengan seseorang di telepon hingga membuat raut wajahnya terlihat tidak bagus. Ah, sayang sekali karena Viona tidak bisa mendengar percakapan mereka.

Sebelum Noah mengetahui kalau dia sedang menguping, Viona kembali ke tempat duduknya dan berpura-pura memainkan ponsel.

“Kau sudah selesai?” ucap Viona ketika melihat Noah menghampirinya.

“Ya. Senang karena bisa bertemu denganmu lagi, tapi sepertinya aku harus kembali ke rumah.”

Setelah mendapat telepon, lalu kembali ke rumah. Apakah ada hal yang sangat penting sedang terjadi? Ah, Viona sangat penasaran.

***

Noah memarkirkan mobilnya di halaman depan dan bergegas masuk ke dalam rumah. Di sana, di sofa ruang tengah, seseorang yang disebut tamu penting oleh ayahnya tengah duduk dengan anggun. Meskipun ayahnya menyebut orang itu tamu penting, namun bagi Noah, orang itu sangat menganggu.

“Kau sudah datang?” ucap Daniel yang menyadari kehadiran Noah. “Duduklah!”

Tanpa mengatakan apa pun, Noah duduk di samping seorang gadis yang sedang bertamu tersebut. Gadis itu adalah putri dari kolega ayahnya sekaligus teman masa kecilnya dulu. Gadis manja yang selalu mengikutinya ke mana pun dan mengganggu ketenangannya.

“Noah, kau sudah mengenal Karin sejak lama, bukan?”

Pertanyaan konyol. Tanpa menjawab pun bukankah ayahnya sudah tahu? Namun, Noah tetap mengangguk sebagai jawaban. Karin – gadis di samping Noah – hanya diam mendengarkan, tidak seperti dirinya yang biasanya cerewet.

“Tidak perlu berbelit-belit, katakan saja inti pembicaraan ini!” tegas Noah. Dia tidak berniat meninggikan suaranya kepada ayahnya, namun keberadaan Karin membuatnya naik darah.

Daniel tersenyum. Sifat Noah yang tidak suka berbasa-basi memang sama dengan dirinya. “Ayah berniat menikahkanmu dengan Karin.”

Menikah?!

Bak disambar petir, Noah nyaris tidak bisa berkata-kata. Dia kemudian menoleh pada Karin yang tersenyum tipis. Dari senyuman itu, Noah tahu bahwa semua ini adalah ulah Karin. Gadis itu memang selalu meminta Noah untuk menjadi pasangan menikahnya sejak kecil, tak disangka jika keinginannya saat itu masih berlanjut hingga kini.

“Aku keberatan! Mengapa Ayah tiba-tiba ingin aku menikah dengan Karin?” tolak Noah. Apa pun akan dia lakukan untuk ayahnya dan perusahaan, namun untuk pernikahan, dia akan memilih pasangannya sendiri.

“Bukankah jika kita menikah akan memperkuat RF Group?” Karin tersenyum sembari menyilangkan kakinya. “Perusahaan ayahku ada di urutan nomor dua setelah RF Group. Jika kita menikah, RF Group akan menjadi perusahaan yang tidak terkalahkan.”

Lucu sekali! Tampaknya Karin menggunakan perusahaan sebagai alasan untuk bisa menikahinya. Noah tak habis pikir, dahulu ayahnya pernah menyuruhnya untuk menikah dengan orang yang dicintainya. Namun, mengapa sekarang dia justru terbujuk dengan siasat Karin?

Noah menghela napas panjang dan memijit dahinya. Dia sedang berpikir, bagaimana caranya agar pembicaraan ini selesai dan tidak akan pernah diungkit lagi.

“Ayah ... aku tidak bisa menikah dengan Karin. Aku sudah memiliki kekasih,” dusta Noah. Hanya itu satu-satunya cara yang terlintas di pikirannya yang sedang buntu.

Daniel dan Karin tertegun, tak menyangka dengan jawaban Noah yang menurut mereka mustahil.

Sebagai ayah, Daniel tidak pernah melihat Noah berkencan dengan satu gadis pun. Sedangkan Karin, dia sudah menyingkirkan semua gadis yang mencoba mendekati Noah sejak dulu. Asistennya pun berkata, kalau Noah tidak dekat dengan gadis mana pun. Namun, mengapa Noah mengatakan kalau dia memiliki seorang kekasih?

“Apa kau sedang membohongi Ayah?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Balas Dendam   Terungkap

    Viona menutup buku harian yang sempat dibacanya. Betapa dia masih tidak menyangka dengan semua tulisan-tulisan tersebut. Daniel ayah kandungnya? Selain itu, ibunya bunuh diri? Hal-hal seperti itu masih membuatnya tak habis pikir. Bagaimana dengan Noah? Bukankah itu artinya pria itu adalah saudara tirinya?Seketika Viona menaruh dahinya di atas meja, matanya terpejam, memikirkan semua hal konyol dan tidak masuk akal ini. Namun, jika melihat Demian yang menemuinya dengan wajah serius, tentu saja dia tidak berpikir bahwa pria itu sedang main-main. Jika semua ini memang adalah kebenarannya maka Viona tidak bisa diam saja. Dia sudah membalas dendam kepada orang yang tidak bersalah dan ternyata orang itu adalah ayah kandungnya. Sekarang dia mengerti, mengapa Daniel Rutherford selalu bersikap baik padanya sejak kecil. Daniel sudah mengetahui identitas Viona, namun pria itu tidak berniat mengungkapkan kebenaran yang selama ini terkubur rapat. Mengapa? Apa karena pria itu merasa sangat b

  • Salah Balas Dendam   Di Balik Masa Lalu

    Viona menatap gelas yang penuh dengan air berwarna oranye dan bulir-bulir bening di luar gelasnya. Kini, dia tengah berhadapan dengan Demian di sebuah kafe yang dekat dengan jalanan ramai. Sudah beberapa menit sejak mereka saling duduk berhadapan, namun tidak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan. Setelah cukup lama diselimuti keheningan, akhirnya Demian menghela napas panjang dan mengeluarkan sebuah dokumen yang entah apa isinya, lalu menyodorkannya ke hadapan Viona yang kemudian membuat gadis itu menatapnya bingung. “Bukalah.”Demian menyuruh Viona membuka dokumen yang dibawanya, sedangkan Viona langsung membukanya tanpa banyak bertanya. “Mengapa Anda memberikan ini kepada saya?”Viona sama sekali tidak mengerti, mengapa Demian memberikannya sebuah dokumen tes DNA yang hanya melihat sekilasnya pun dia sudah tahu.“Apa Nona sudah membacanya?”Viona lantas menggeleng. “Bacalah terlebih dahulu.”Sebelah alis Viona terangkat, namun dia berniat untuk tidak bertanya lebih

  • Salah Balas Dendam   Aku Akan Bersamamu

    Cukup lama Viona memeluk Noah, hingga akhirnya dia melepaskan pelukan itu dan menarik lengan Noah menuju ranjang.Noah tidak tahu apa yang hendak Viona lakukan, dan dia pun sengaja tidak bertanya. Namun, dia terkejut ketika Viona tiba-tiba naik ke atas pangkuannya. Kedua matanya terbelalak, lalu dialihkan ke tempat lain. Dia bisa melihat jelas di balik pakaian basah Viona, dan itu membuatnya tak kuasa menelan ludah.“Viona, sebaiknya kau ganti pakaian lebih dulu. Aku akan meminjamkan bajuku.”Namun, Viona tak mengindahkan perkataan Noah. Gadis itu justru membungkam mulut Noah dengan bibirnya. Memagut daging tanpa tulang tersebut secara perlahan-lahan.Sontak Noah kembali membelalakkan mata. Hari ini Viona terlihat sangat agresif dari biasanya, padahal gadis itu tak pernah seperti ini.Viona melepaskan pakaiannya di hadapan Noah dan mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu. Tatapannya tertuju pada kedua iris hitam Noah, tak berniat untuk menatap ke arah lain.“Apa kau akan menola

  • Salah Balas Dendam   Aku Hanya Ingin Memeluk

    Di sebuah kafe, Viona tengah duduk berhadapan dengan seorang pria yang terlihat jauh lebih tua darinya. Cukup lama mereka di sana, membicarakan sesuatu yang penting dan berbahaya.“Kau sudah mengambil semuanya?”Viona sontak bertanya pada pria itu. Kedua matanya melirik tas besar yang dia yakini adalah uang.“Totalnya 1.4 miliar. Aku sudah bersusah payah mendapatkan uang ini, jadi semua ini adalah milikku. Selain itu, aku ingin kau segera mengirim uang yang kau janjikan padaku.”Pria itu adalah seorang magang di perusahaan RF Group yang membawa kabur uang di dalam brankas. Tentu saja itu pun karena suruhan dari Viona karena gadis itu menjanjikan sejumlah uang yang cukup menggiurkan.Mengerlingkan matanya, Viona kemudian memberikan selembar cek ke hadapan pria itu.“Aku akan membayarnya setengahnya dulu. Jika kau berhasil membuat orang itu mati karena penyakitnya kambuh maka aku akan membayarkan sisanya. Bukankah itu kesepakatan kita?”Sengaja Viona memilih seseorang yang mata duitan u

  • Salah Balas Dendam   Kematian Sang Presdir

    Daniel memijit pangkal hidungnya sembari memikirkan masalah yang terjadi di ruang produksi. Para audit tidak akan tinggal diam jika mereka menemukan sesuatu yang dianggap tidak pantas telah memasuki area produksi. Bagaimana bisa hewan menjijikkan itu bisa masuk ke sana? Padahal setiap hari selalu ada pembersihan besar-besar untuk menjaga kebersihan area produksi.Saat Daniel hendak membuka laptopnya, kemudian Demian datang secara terburu-buru. Wajahnya terlihat tidak baik, seolah ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Dan entah mengapa, Daniel memiliki firasat buruk tentang itu.“Presdir silakan lihat ini.”Demian menyodorkan dokumen yang dibawanya ke hadapan Daniel. Itu adalah dokumen yang dikirim oleh audit, dan baru sampai pagi ini.Tanpa banyak bicara, seketika Daniel mengambil dokumen tersebut dan langsung membaca setiap kata di dalamnya. Kedua matanya terbelalak dan mulutnya menjadi kelu hingga tak bisa berkata-kata. Pria itu memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. T

  • Salah Balas Dendam   Percaya

    Setelah makan malam bersama, Noah mengantarkan Viona pulang dengan mobilnya. Makan malam mereka hanya diselimuti keheningan, mengingat ada masalah yang sedang menimpa RF Group.Seperti biasa, Noah menurunkan Viona di depan rumahnya. Saat dia hendak turun dan mengantar gadis itu hingga depan pintu rumah, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka dengan penuh emosi.“Vionaaa!”Dengan perasaan kesal, Bardi mengampiri Viona yang sejak tadi ditunggunya. Kedua tangannya mengepal sempurna, bahkan rahangnya mengeras. Pria itu sungguh tidak bisa menahan amarahnya. Sejurus kemudian, dia menarik kerah baju Viona secara paksa meski di samping gadis itu ada seorang pria yang tengah berdiri tegak.“Pasti kau yang sudah memberitahu mereka soal keberadaanku, bukan?”Tak tanggung-tanggung, Bardi langsung melontarkan pertanyaan yang sangat dia yakini jawabannya. Sementara Viona, gadis itu tersenyum mengejek meski hanya bisa dilihat sekilas. Hal itu membuat Bardi semakin naik darah hingga tanpa sa

  • Salah Balas Dendam   Jangan Meremehkanku

    Sejauh ini rencana Viona berjalan dengan lancar. Dalam hatinya dia sangat ingin tertawa keras, namun tentu saja tidak bisa ditunjukan di hadapan Noah. Sebaliknya, dia harus menunjukan rasa simpati dan menghibur Noah yang tengah menyalahkan diri sendiri.Yang sangat ingin Viona lihat saat ini adalah ... bagaimana ekspresi Daniel? Membayangkannya saja tidak cukup. Dia ingin melihat ekspresi pria paruh baya itu dengan mata kepalanya sendiri.“Noah, itu salahmu. Tikus adalah hewan liar yang bisa muncul kapan saja. Suatu kebetulan karena tikus itu terlihat oleh para audit di hari ini.”Viona tidak tahu harus menghibur Noah dengan cara apa. Bersandiwara di hadapannya saja sudah cukup melelahkan, namun dia memang harus melakukannya.Noah masih memejamkan mata, namun otaknya sedang berpikir keras. Bagaimana bisa ada tikus yang masuk ke ruang produksi di saat para audit sedang melakukan peninjauan? Kebetulan juga karena Viona ada di sana? Namun, apa benar itu suatu kebetulan?Sebenarnya Noah t

  • Salah Balas Dendam   Tikus

    Noah pergi lebih padi dari biasanya ke kantor, sedangkan Viona akan datang lebih siang dan setelah para audit hadir di RF Group. Tentu saja itu hanya alasan. Lagi pula, Viona harus menyiapkan sebuah kejutan untuk RF Group sebelum dia datang ke sana. Viona pergi ke toko hewan liar yang menyediakan berbagai macam hewan liar yang tidak seharushnya dijadikan peliharaan. Dia membeli satu tikus kecil yang hendak dibawa ke RF Group sebagai kejutan. Memasukkannya ke dalam tas make-up yang dilubangi sedikit untuk memberinya udara. Audit adalah orang yang memeriksa kualitas produksi secara langsung. Jika mereka menemukan sesuatu yang kotor dan menjijikkan di ruang produksi maka akan mempengaruhi penilaian terhadap RF Group. Dengan langkah gontai, Vioan berjalan menuju ruangan Noah. Namun, sebelum memasuki ruangan, dia terlebih dahulu menanyakan keberadaan Noah kepada Bella yang merupakan sekretarisnya. “Noah?” Viona memanggil Noah begitu dia masuk ke dalam ruangan. Tampak pria itu yang masi

  • Salah Balas Dendam   Dinding Bertirai

    Tengah malam, Viona keluar dari kamar untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Dia pergi ke dapur, namun saat melewati ruang tengah, dia mendapati Noah yang masih belum tidur dan sedang memainkan laptop.Viona berinisiatif menghampirinya, menanyakan apa yang dilakukan pria itu di saat orang-orang sudah lelap dalam tidurnya.“Sedang mengerjakan apa?”Mendengar suara feminim tersebut, sontak Noah menoleh dan tersenyum. Lingkaran hitam di bawah mata pria itu terlihat sangat jelas, menandakan bahwa pria itu sama sekali belum memejamkan mata barang sedetik pun.“Ah, aku sedang mempersiapkan laporan untuk audit besok. Mereka akan datang ke RF Group untuk mengecek produk secara langsung, dan aku sedang mebuat laporan singkat mengenai produk terbaru kami.”“Audit?”Seketika Viona menarik sudut bibirnya secara tipis. Itu adalah kesempatan bagus untuk menjatuhkan nama baik RF Group dalam waktu yang singkat. Dia bersyukur karena Noah selalu terbuka mengenai pekerjaannya, padahal seharu

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status