LOGINKang Ji Won seorang kartunis di platform never Webtoon. Gadis yang sangat menyukai musim salju. Baginya menunggu salju turun untuk pertama kalinya merupakan hal yang menyenangkan. Karena peristiwa itu mengingatkan dirinya dengan seseorang yang telah lama ia tunggu. Siapa sebenarnya sosok yang ditunggu Ji Won? Lalu bagaimana kelanjutan Ji Won dalam menunggu datangnya musim salju?
View MoreIf I wanted to survive I had to do it again… To keep the gnawing emptiness at bay, to find a sliver of warmth in the perpetual chill of the alleyways, I had to be fast, invisible, and utterly ruthless. The memory of my last meal—a stale crust shared with a stray cat—was a sharp goad in my side. Today, I wouldn't eat crumbs; I'd eat well.
So when my tired eyes spot a rich-looking man from behind with his wallet sticking out of his expensive coat, I took a chance. He looked like the kind of person who wouldn't notice a missing wallet until he was comfortably settled in a high-backed chair, ordering a vintage brandy. Perfect. I slipped from the shadows like a ghost, my practiced movements silent and quick. My fingers brushed the buttery leather of the coat, a texture miles removed from the threadbare rags I wore, and closed them around the thick wallet. Success. I began to retreat and melt back into the crowd heartbeat away from freedom when... Just as I felt the asphalt of the alley under my worn boots, a massive hand clamped around my wrist, not painfully, but with an absolute authority that stopped me dead. A deep, resonant voice, like distant thunder, rumbled right next to my ear. "Don't fight, little one, I won't harm you!" he whispered, while grazing the shell of my ear, with his hot breath and warm lips. The unexpected intimacy, the sheer proximity of this stranger, sent a sudden unfamiliar sensation rolling down my body, settling low in my belly—a dizzying mix of fear and something akin to a startling jolt of electricity. He smelled expensive, like aged leather and pipe smoke, a scent that spoke of warmth and security, things I knew only in dreams. With my hand still clutched around his expensive-looking wallet, I looked through my eyelashes at the giant man in front of me. He wasn't merely tall; he was an imposing fortress of a man, clad in tailored black wool that seemed to absorb the weak street light. His face, shadowed by the brim of a hat, was a puzzle of sharp angles and a tightly controlled expression. Yet, his eyes—when he lowered his head—were piercing, the color of dark night sky and held a surprising, almost gentle quality that contradicted his size and the predicament I was in. His warm hand—easily twice the size of mine—still encircled my wrist, a gentle but unbreakable manacle, as he stared down at me. In that moment, the noisy bustle of the street faded. The world shrank until it was just him and me, locked in an absurd tableau: the seasoned pickpocket caught by her towering mark. "Can I have my hand and my wallet back now, little one?" He husked next, his voice softening just a fraction. The low tone vibrated in the air between us, making me swallow hard, a dry, nervous gulp, as his unwavering eyes pinned me down on the spot. I could run, perhaps, if I dropped the wallet and bit his hand, but the thought felt exhausting and pointless under his gaze. The truth was stark and undeniable. God, I was doomed! But somehow, as his thumb slowly traced the sensitive pulse point on my wrist, the doom felt less like a guillotine blade and more like a precipice, a terrifying drop into an unknown, perhaps even richer, fate. Who was this man? And why wasn't he shouting for the police?Seperti hakekatnya, sesuatu yang telah berakhir pasti telah selesai. Begitu pula penantian panjangku selama kurang lebih dua puluh tahun selama ini. Bukan perkara mudah menjadi seorang yang selalu menunggu datangnya musim salju yang turun. Kini bukan hanya musim salju yang telah berakhir, namun sebuah musim yang menghangatkan datang memeluk ragaku. Iya, musim semi.Bunga-bunga kini mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Cherry blossom yang awalnya meranggas karena musim gugur kini mulai menampakkan wujud indahnya. Bahkan seperti Azalea yang beberapa hari gersang kini mulai tumbuh daun-daun kecil serta kuncupnya.Kota Incheon yang awalnya terasa dingin menusuk hingga ke rongga tulang, kini berangsur-angsur mulai hangat sehangat mentari pagi, bahkan di beberapa hari ini prakiraan cuaca ku dengar cukup bersahabat dengan kami.Menjadi istri dari seorang CEO Never Webtoon tak membuatku harus bermalas-malasan. Aku masih menjalani aktivitas lamaku yakni menggamb
Aku duduk termenung di sebuah kamar hotel yang sudah ku pesan untuk bermalam selama aku tinggal di negara khatulistiwa ini. Setelah prosesi pemakaman dari seorang yang sangat penting bagiku, salah satu keluarga Abi mengantarkan aku ke hotel ini. Meski ini merupakan kali pertama kami bertemu, namun keluarga Abi sangat baik padaku. Mereka bahkan tak menyangka bahwa sang putra yakni Abi memiliki sahabat di masa lalu ketika mereka tinggal di Incheon.Dengan keras aku menolak permintaan keluarga Abi agar aku tinggal sementara dengan mereka selama aku di Indonesia. Pun sama halnya dengan Diana. Wanita yang belakangan ku ketahui merupakan calon istri Abi tersebut berusaha meminta agar aku tinggal dengannya. Aku tak ingin merepotkan mereka semua. Mereka sudah cukup berduka dan aku tak ingin memperburuk keadaan.Melihat dari ketulusan dan keikhlasan Diana lah hatiku terasa tergerak untuk ingin mengenal lebih jauh dokter wanita tersebut. Ia bahkan rel
Tubuh lemas lelaki itu kini dibawa oleh beberapa petugas kesehatan ke sebuah ruangan khusus. Karena aku tak mengenal tempat dan negara ini, aku hanya mengikuti langkah kaki Diana dan orang-orang yang membawa tubuh lemah Abi. Air mataku tak berhenti bercucuran, entah sudah berapa lama aku tak menangis hingga seperti ini. Aku merasa takut, sangat takut dia pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya.Masih segar dalam ingatanku, belum sampai satu jam saat kami duduk berdua menikmati pemandangan sore hari. Aku sedikit lelah setelah melakukan perjalanan jauh dari Incheon ke kota Jakarta. Lalu aku menyandarkan punggungku ke bangku taman yang masih berada dalam kompleks rumah sakit. Aku menemani Abi menikmati suasana menjelang senja.Mungkin senja ini merupakan senja Pertama dan terakhirku menemani Abi. Tak berapa lama Abi tidak sadarkan diri, aku menjerit-jerit dengan histeris memanggil petugas medis yang berada tak jauh di lokasi kami berada saa
Ku berjalan menelusuri setiap jengkal bangunan tempat Abi dirawat. Perasaanku berkecamuk semenjak aku menginjakkan kakiku di bandara. Perasaan sedih, sesal, kecewa melebur menjadi satu. Aku mengikuti langkah kaki Diana dari belakang. Wanita itu akan membawaku menemui pria malang tersebut. Ku rindu senyum manisnya yang dulu, ku rindu kata-kata manisnya yang dulu.Dari luar jendela kaca ku lihat sosok lelaki yang tengah berbaring tak berdaya. Aku mencoba menguatkan diriku sendiri untuk masuk guna menemui Abi. Diana memohon padaku agar aku tak menangis di hadapan Abi nanti. Bahagia bisa aku tak menangis? Bahkan saat ini juga aku tak mampu menahan air mataku yang jatuh begitu saja.Meningioma adalah penyakit yang diderita Abi. Meski aku tak seberapa paham akan penyakit ini, namun dari penjelasan Diana aku bisa menyimpulkan bahwa Abigail kehilangan Indra penglihatannya disebabkan oleh sel tumor yang menekan syaraf di otaknya. Karena
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews