로그인“KAMU GILA, NDHIS?!”
“Bantu aku, Mbak… sekali ini aja…”
“Bantu bagaimana? Kamu nyembunyiin orang terluka selama seminggu, terus sekarang bilang mau pura-pura jadi isterinya?”
Gadis yang rambutnya dicepol rendah itu berkacak pinggang sementara telapak kakinya mondar-mandir di balik pintu kliniknya.
“Aku bisa bantu periksa dia,” lanjut Kartika. “Tapi yang nggak bisa aku pahami itu kenapa kamu malah umpetin semuanya!”
“Aku takut, Mbak.”
“Takut apa, sih? Wes kamu yang nemuin dia, ‘kan?”
Gendhis mengangkat wajah, alis di keningnya menekuk, sarat akan rasa ngeri, “Waktu aku nemuin dia, pintu gubuk taniku sudah terbuka. Padahal aku yakin paginya aku sudah kunci itu, Mbak. Dan lihat dia terluka parah di sana sementara aku nggak punya petunjuk siapa yang melakukannya–aku bener-bener takut, Mbak Tika.”
Kartika terdiam, turut menghela napas menyaksikan sorot lelah yang terlihat dari mata Gendhis.
“Kalau aku lapor, aku harus jawab apa? Balai desa saja nggak mau mengabulkan permintaanku buat menyelidiki kasus mendiang Bapak dan Ibu, lalu dia?”
Gendhis menelan ludah, terpaksa ia mengucap mimpi buruknya, sisa benci itu masih bersarang di kepala tiga tahun lamanya–sebab bahkan untuk nama-nama yang ia kenal dekat saat magang di sana, tak satupun yang mau membantunya.
“Aku pun nggak tahu apa orang yang lakuin itu ke dia masih berkeliaran di sekitar rumahku atau nggak. Aku bener-bener buntu.”
Pengakuan Gendhis yang mulai terdengar logis sekaligus membuat Kartika iba akhirnya bisa mengunci kemarahan dokter medis itu.
“Aku… gak tahu mau minta bantuan ke siapa lagi. Aku cuma percaya ke kamu, Mbak,” ucapnya sedetik kemudian mendongak menatap Kartika penuh ampun.
Kartika masih menghadiahi pejaman mata erat sebelum kembali melirik Gendhis. “Bagus dia nggak mati ditanganmu karena kamu yang nunda-nunda pengobatan buatnya, Ndhis,” ujar Kartika gamblang. Wanita itu merasa, Gendhis perlu paham risiko apa yang sedang dirinya ambil saat ini.
“Aku tahu…”
Kartika menghela napas panjang, lalu berbalik menuju meja kayu tempat tas medisnya tergeletak. Jemarinya membuka satu per satu perlengkapan di dalamnya dengan gerakan yang masih menyimpan sisa dongkol.
Pagi-pagi sekali, Kartika menerima pesan dari nomor Gendhis. “Kalau bukan kamu orangnya, Ndhis. Nggak akan sudi aku tolongi, tahu?”
Gendhis Kalarasati.
Masa remajanya tak mungkin melupakan gadis yang baginya begitu polos itu.
Gadis yang rela tinggal bersama Mbah Puterinya demi menimba pendidikan yang lebih layak di desa seberang.
Gadis yang dahulu punya banyak sekali pertanyaan di benaknya–dan tak sungkan bertanya pada Kartika yang berstatus sebagai kakak kelasnya.
Gadis yang selalu rajin, selalu patuh, tetapi tak pernah memberitahu Kartika mimpi apa yang dimilikinya di saat Kartika terang-terangan bercerita ingin menjadi seorang dokter.
“Makasih, yo, Mbak Tika…” Gendhis meringis kala tatapan Kartika mulai melembut ke arahnya.
Ada kekhawatiran seorang kakak yang jelas membuat Gendhis merasa kecil sudah begitu merepotkan.
“Pulang.”
Binar kecokelatan milik Gendhis mengerjap lamban.
“Bawa pria itu ke klinikku besok pagi.”
***
Pagi-pagi sekali, Gendhis membawa Bhaskara menuju klinik Kartika. Meski langit masih sedikit kelabu, aktivitas beberapa warga desa sudah dimulai sejak sebelum ayam berkokok terdengar.
“Lho, Gendhis, ‘kan? Siapa itu?”
“Pacarmu, tho, Ndhis? Nggak pernah kelihatan, yo, tahu-tahu bawa gandengan!”
“Gendhis anaknya mendiang Arang dan Wenilaras, Bu?” kata seorang tani pada tetangga yang lain.
Gendhis membalasnya dengan senyum kikuk, tanpa jawaban, pun berusaha mempercepat langkah menarik lengan pria itu lebih dekat dan cepat.
Namun, pria di sampingnya rupanya tak main diam menyimak. Tautan di alis tebalnya mengerut, “Kenapa mereka tanya begitu, Ndhis?” suara rendahnya menyambangi kulit telinga Gendhis saat pria itu menunduk akibat perbedaan tinggi mereka. “Bukannya kita memang suami istri?”
Gendhis sontak tersedak air liurnya sendiri. Ia mendongak sekilas, mendapati wajah tegas itu begitu polos menatapnya penuh tanya.
“Kita…,” ia teguk sekali lagi ludahnya, mencoba menyusun kebohongan lain yang paling masuk akal sekarang.
“Kita… baru nikah, Mas. Aku memang nggak menyebarkan pernikahan kita di sini, kamu juga baru pindah ke rumahku belum lama ini, ‘kan? Seperti yang udah kuceritakan semalam.”
Maksud Gendhis adalah bualan tentang bagaimana pria itu baru datang ke desa dan mereka memutuskan tinggal di rumah Gendhis saja.
Pria itu diam sejenak, seolah mencerna jawaban itu sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Mas Bhaskara gak ingat, ya?”
“Satu-satunya yang aku ingat cuma namaku, Ndhis… Aku pun sudah bilang ke kamu kemarin.”
Nama itu berhasil Gendhis dapatkan semalam setelah mencoba memancing memorinya.
“Coba, Mas, inget-inget… biasanya orang manggil kamu apa?”
Pria itu terdiam cukup lama dan sesekali memejamkan mata seperti sedang membuka satu per satu laci-laci memorinya. Sebelum akhirnya, niscaya kilat yang lolos menyambar dari ruang gelap, ia menemukannya.
“Bhaskara…” gumamnya. Lalu, saat rautnya lebih yakin ia mulai menatap Gendhis,
“Bhaskara Jatikusumo.”
Mas Bhaskara.
Begitu Gendhis mulai belajar memanggilnya.
Langit mulai berubah biru, kokok ayam bersahutan dari halaman rumah-rumah warga yang dilewatinya. Di samping Gendhis, Bhaskara tampak tenang tanpa terganggu sekalipun.
“Siapa yang bisa aku percayai selain istriku?” tanya Bhaskara lembut. Senyum tipis terbit di wajahnya ketika menoleh kepada Gendhis yang pipinya mulai memerah karena terpapar terik mentari pagi.
“Jika memang begitu, pantas mereka tidak begitu mengenalku, Ndhis.”
“Kita belum pernah seranjang dan aku juga belum siap untuk itu, Mas.”Semalam, genggaman Bhaskara berangsur mengendur setelah mendengar kalimat yang diucapkan Gendhis. Gadis itu tahu dari sorot matanya, bahwa Bhaskara tampak kecewa.“Aku benar-benar menyakitimu sedalam itu, ya?”Pertanyaan yang sesungguhnya tidak bisa Gendhis jawab dibalik dusta yang kini dipilihya.“Kita… kita hanya tidak seperti pasangan pada umumnya, Mas. Belum ada cinta di antara kita berdua. Aku harap kamu mengerti posisiku.”Suara dentingan sendok besi dengan cangkir keramik berisikan kopi panas itu menyadarkan Gendhis. Ayam sudah berkokok, langit sudah berubah biru cerah. Dengan telaten ia bawa kopi buatannya itu di atas nampan, berikut sup nasi yang subuh tadi ia masak. Derit pintu kamar orang tuanya–kamar Bhaskara saat ini–terdengar. “Sarapan dulu, Mas.”“Lho, Gendhis?”Gendhis bisa melihat Bhaskara yang tengah membuka jendela kamar. Hutan luas di belakangnya terlihat begitu segar. “Kamu sudah bangun pagi-p
Kartika mengarahkan sorotan senter medisnya ke arah pupil mata Bhaskara, memperhatikan reaksinya sebelum kembali menyimpan alat itu kembali ke kantung jasnya.“Coba rasakan,” ucapnya sambil menekan pelan bagian kepala Bhaskara, “Sakit?”Mendengar ringisan Bhaskara dan bagaimana reaksi tubuhnya menjauh dari tekanan telapak tangannya cukup membuat Kartika mengangguk. “Sakit, Dok.”“Nah, itu,” ujar Kartika menyetujui. Ia menemukan jawaban dari dugaan awalnya kala mendengar kondisi Bhaskara yang diceritakan oleh Gendhis pasca pria itu sadarkan diri. Wanita berpakaian putih itu berbalik menghadap Gendhis yang masih berdiri di sisi ranjang dengan gelisah. “Dari pemeriksaan ini, ada kemungkinan suamimu mengalami benturan kepala yang cukup keras, Ndhis.”Kartika mengembuskan napas saat menyebutkan identitas tipuan Bhaskara yang dititipkan Gendhis sebelumnya, meski sepersekian detik Gendhis tahu wajah Kartika sempat berubah ketus karena ikut menipu pria ini bersamanya.“Apa itu sebabnya Mas
“KAMU GILA, NDHIS?!”“Bantu aku, Mbak… sekali ini aja…”“Bantu bagaimana? Kamu nyembunyiin orang terluka selama seminggu, terus sekarang bilang mau pura-pura jadi isterinya?” Gadis yang rambutnya dicepol rendah itu berkacak pinggang sementara telapak kakinya mondar-mandir di balik pintu kliniknya.“Aku bisa bantu periksa dia,” lanjut Kartika. “Tapi yang nggak bisa aku pahami itu kenapa kamu malah umpetin semuanya!”“Aku takut, Mbak.”“Takut apa, sih? Wes kamu yang nemuin dia, ‘kan?”Gendhis mengangkat wajah, alis di keningnya menekuk, sarat akan rasa ngeri, “Waktu aku nemuin dia, pintu gubuk taniku sudah terbuka. Padahal aku yakin paginya aku sudah kunci itu, Mbak. Dan lihat dia terluka parah di sana sementara aku nggak punya petunjuk siapa yang melakukannya–aku bener-bener takut, Mbak Tika.”Kartika terdiam, turut menghela napas menyaksikan sorot lelah yang terlihat dari mata Gendhis.“Kalau aku lapor, aku harus jawab apa? Balai desa saja nggak mau mengabulkan permintaanku buat meny
“Kamu sakit toh Ndis?”Ditanyai seperti itu membuat Gendhis berdeham kikuk. Memang benar, seminggu terakhir ini ia sudah empat kali bolak-balik ke satu-satunya apotik yang paling dekat dengan rumahnya, yang letaknya di sisi timur posyandu desa. Gendhis bukan orang yang paham merawat orang sakit, ia tidak pernah menyangka akan membutuhkan obat yang macam-macam bentuknya seperti sekarang. Minyak, salep, kain kasa, dan alkohol yang hampir habis. Duh, banyak sekali.“Habis panen ya? Makanya luka-luka? Atau si Mbok?” kata Kartika, penjaga apotek sekaligus teman sekolahnya dulu bertanya, selagi ia tengah mengambil minyak yang dipinta Gendhis dari balik etalase kaca.“Anu…” Gendhis mencicit, “Tapi aku. Akhir-akhir ini lagi nggak fokus ngurus ladang, jadi sering luka.”“Lukanya dalam nggak?” tanya Kartika penasaran. “M–maksudnya?” tanyanya berimbuh.“Gimana, toh, kamu. Luka memang kelihatan dari luar. Tapi pas kamu jatuh, siapa yang tahu kalau ternyata ada luka dalam? Gak mau ke dokter aj
“...hh.” Sebelah kaki Gendhis yang hendak melangkah mundur sontak terhenti. Meski dadanya masih sesak akibat pasokan udara yang mendadak sempit juga ketakutan yang memanipulasi otaknya–Gendhis tidak buta untuk bisa melihat bagaimana bagian dada dari tubuh itu masih naik turun. “M–mas, jangan disini!”Gendhis berbisik ragu. Namun sedikit demi sedikit ia coba seret kakinya kembali maju mengecek pria itu.Telapaknya refleks menutupi hidung, sesekali netra cokelatnya terkatup kala melihat betapa naas luka yang tersaji di hadapannya. Ia meneguk ludahnya susah payah ketika sandal jepitnya menyentuh ujung kain celana sang pria yang begitu lembab entah dari tanah, lumpur, atau rembesan darah yang sampai ke sana. Kepala Gendhis refleks menoleh ke kanan dan kirinya. Tak ada orang, kosong melompong. Lagi pula ini lahan belakang rumahnya, siapa yang bisa masuk ke gubuk taninya tanpa jejak seperti ini?“Kamu ini dibawa siapa ke sini, Mas… Luka-luka begini…” Gendhis bergidik ngeri. Namun, na
“Kamu… toh yo mentang-mentang anak perawan hidup sendirian— belum juga ke balai desa buat urus surat tanah, Ndhis? Nanti diserobot orang, lho.”Gendhis mendongkak dari ikatan jagung yang sedang dirapikannya.Nama ‘Gendhis’ yang berarti gula, manis, lembut kini mengangkat sebelah alis, dengan sisa tawa di ujung bibir merah mudanya. “Siapa juga yang bisa nyerobot tanah ini, Mbok?” “Satu-satunya ahli waris Bapak dan Ibu cuma aku.”Wanita paruh baya yang sedari tadi duduk bersila di antara nampan hasil panen terkekeh. Mbok Sumiyati menggenggam pisau kecil, sibuk membersihkan tanah yang menempel pada bawang-bawangan.Benar juga. Hanya Gendhis yang secara sah bisa memiliki ladang ini. “Benar. Tapi wong jahat bisa muncul kapan saja. Surat tanah belum diurus, kamu juga perempuan tinggal sendirian.” Mbok Sumiyati meliriknya. “Mbok yang jantungan setiap hari.”Gendhis mengikat rambutnya yang mulai terlepas. “Aku bisa jaga diri.”“Terus mau sendiri sampai kapan?”Pembahasan itu lagi.Gendhis







