로그인“Kamu sakit toh Ndis?”
Ditanyai seperti itu membuat Gendhis berdeham kikuk.
Memang benar, seminggu terakhir ini ia sudah empat kali bolak-balik ke satu-satunya apotik yang paling dekat dengan rumahnya, yang letaknya di sisi timur posyandu desa.
Gendhis bukan orang yang paham merawat orang sakit, ia tidak pernah menyangka akan membutuhkan obat yang macam-macam bentuknya seperti sekarang.
Minyak, salep, kain kasa, dan alkohol yang hampir habis. Duh, banyak sekali.
“Habis panen ya? Makanya luka-luka? Atau si Mbok?” kata Kartika, penjaga apotek sekaligus teman sekolahnya dulu bertanya, selagi ia tengah mengambil minyak yang dipinta Gendhis dari balik etalase kaca.
“Anu…” Gendhis mencicit, “Tapi aku. Akhir-akhir ini lagi nggak fokus ngurus ladang, jadi sering luka.”
“Lukanya dalam nggak?” tanya Kartika penasaran.
“M–maksudnya?” tanyanya berimbuh.
“Gimana, toh, kamu. Luka memang kelihatan dari luar. Tapi pas kamu jatuh, siapa yang tahu kalau ternyata ada luka dalam? Gak mau ke dokter aja, Ndhis?”
Gendhis sontak terdiam, jemarinya meremas rok batik yang ia gunakan di bawah sana.
Seminggu berlalu, luka-luka pria itu memang perlahan membaik–meski belum sadarkan diri.
Namun, sekali pun ia tak pernah membawanya ke dokter, apalagi meminta bala bantuan. Semuanya demi menjaga kerahasiaan yang sudah terlanjur ia pertaruhkan sendirian.
“Kok, bengong, Ndhis? Bener belum ke dokter, yo?”
Gendhis tergagap.
Kepalanya lekas menggeleng, sementara jawaban tak kunjung keluar dari bibirnya.
Ia hanya menghadiahkan senyum canggung kepada Kartika yang kini menyerahkan kantong plastik belanja miliknya, berharap teman sekolahnya dulu itu tak lagi menggali hal lainnya.
“Yowes, ini minyak memarnya. Lima belas ribu, Ndhis.”
***
Gendhis duduk di tepi ranjang, jemarinya mulai terbiasa membuka perban yang membalut pipi kiri sang pria–yang entah siapa identitasnya, yang tanpa kartu pengenal. Luka gores itu sudah mengering, tak lagi semengerikan dulu.
Gendhis mengoleskannya perlahan, tipis, lalu menggantinya dengan yang baru.
Kemeja batik tipis mendiang Bapak Gendhis pakaikan padanya.
Sengaja ia buka kancingnya sekarang, memperlihatkan bagian dada hingga ke perut yang memarnya mulai berubah ungu gelap bercampur kekungingan.
“Entah petaka apa yang bakal kutemui karena belum juga panggil dokter buat kamu, Mas.”
Satu yang Gendhis tak sadar adalah ketika ia fokus mengoleskan pinggang kanan sang pria, ada hembus napas tadi lemah perlahan berubah teratur, diiringi dengan terbukanya satu-satunya kelopak mata selain milik Gendhis sendiri.
Ketika jemari berurat yang semula lemas, kini tiba-tiba mencengkram balik lengan telaten yang lebih kurus dan cerah. Kontras.
Gendhis tersentak, maniknya melebar tatkala menoleh ke sisi kanannya dan menemukan sepasang mata yang ia ingat tengah terpejam sedang menatapnya tajam bagai mata pisau yang baru diasah.
“K-ka-kamu… Mas, k-kamu–”
Sebelum ia sempat menyelesaikan, kata-kata yang ada tenggorokannya tersangkut oleh cengkeraman tiba-tiba dari lengan sang pria yang kosong.
Tubuh Gendhis yang tak begitu semampai itu dipaksa berdiri dan begitu cepat punggungnya mencium dinding kamar karena hempasan keras.
“Siapa kamu?!”
Napas Gendhis tersengal, ia berusaha membebaskan lehernya dengan menggeleng keras namun cengkraman itu lebih kuat dari yang ia kira. Mata pria itu menyipit dalam, penuh was was dan curiga. “J–jawab.”
Gendhis meronta semakin kencang. Ia memukul-mukul lengan sang pria sebab napasnya mulai kopong.
Air mata mengumpul di pelupuk matanya, “L-Le… hh–le-lepas…” adu Gendhis.
Dari kaburnya penglihatan Gendhis sekarang karena terhalang tumpukan kristal air, sesuatu
yang aneh terjadi di raut wajah sang pria.
Cengkeramannya berangsur mengendur meski tetap berada di lehernya, sementara sorot matanya mendadak bergetar seperti sesuatu yang besar tengah menerobos akalnya sendiri.
Gendhis bahkan mendengar desisan dari bibir pria itu dengan kepalanya yang bergerak miring.
“Kamu… siapa?” Pria itu mengulanginya bagai mantra, persis seperti orang yang tersesat.
Tanpa dalih, cengkeraman miliknya terlepas dari leher Gendhis dan kini mengarah ke kepalanya sendiri.
“Ak- aku siapa?!"
Ia terhuyung mundur dengan lutut yang ambruk menyentuh permukaan lantai yang dingin.
Sementara Gendhis–keadaan gadis itu yang kini berjongkok tak jauh berbeda. Ia terbatuk, napasnya tersengal bersama sisa panas bekas cengkeraman di lehernya. Gendhis mencoba mengisi sebanyak-banyaknya udara untuk paru-parunya yang kelimpungan.
Meski begitu, netranya terpaku. Jelaganya terjahit pada kondisi sang pria yang lebih mengenaskan. Pria itu meringkuk, memukul kepalanya sendiri berkali-kali.
“Ini dimana–” suara rendahnya bergetar, nyaris seperti bisikan hampa. Ia masih saja menunduk seolah tengah berjuang mengais sisa isi kepalanya.
Atas mengakuan itu, manik kecokelatan milik Gendhis melebar, “Mas, kamu–”
Hilang ingatan?
Mata kosong yang kini penuh air mata itu akhirnya menatap Gendhis. Senyap, barisan kata tak mampu Gendhis utarakan atas duka yang terjadi di depan matanya sendiri.
“Mas! Kamu jangan bercanda!” entah bagaimana asalnya, Gendhis berteriak parau. Kecemasan melandanya bagai badai.
Pria itu menggeleng, air mata meluncur bebas di pipinya–tepat pada kain kasa yang baru saja Gendhis ganti, “hilang,” suaranya serak.
“Kamu.. siapa?”
Lantas apa yang akan terjadi jika Gendhis mengaku bahwa ia menemukan pria ini tergeletak penuh luka di ladangnya?
Gendhis terdiam, benaknya berkecamuk–liar antara rasa iba dan takut jika pria itu pergi tanpa kejelasan.
Di tengah kepanikan yang melonglong, sebelum akal sehatnya sempat menyelamatkan buah tindakannya, Gendhis akhirnya menyeret lutut dan kakinya mendekati sang adam.
“Aku,” Gendhis meneguk ludahnya susah payah, untuk kemudian memulai sebuah peran dan menekankan namanya dengan tegas.
“Aku isterimu, Mas. Gendhis Kalarasati.”
***
“Kita belum pernah seranjang dan aku juga belum siap untuk itu, Mas.”Semalam, genggaman Bhaskara berangsur mengendur setelah mendengar kalimat yang diucapkan Gendhis. Gadis itu tahu dari sorot matanya, bahwa Bhaskara tampak kecewa.“Aku benar-benar menyakitimu sedalam itu, ya?”Pertanyaan yang sesungguhnya tidak bisa Gendhis jawab dibalik dusta yang kini dipilihya.“Kita… kita hanya tidak seperti pasangan pada umumnya, Mas. Belum ada cinta di antara kita berdua. Aku harap kamu mengerti posisiku.”Suara dentingan sendok besi dengan cangkir keramik berisikan kopi panas itu menyadarkan Gendhis. Ayam sudah berkokok, langit sudah berubah biru cerah. Dengan telaten ia bawa kopi buatannya itu di atas nampan, berikut sup nasi yang subuh tadi ia masak. Derit pintu kamar orang tuanya–kamar Bhaskara saat ini–terdengar. “Sarapan dulu, Mas.”“Lho, Gendhis?”Gendhis bisa melihat Bhaskara yang tengah membuka jendela kamar. Hutan luas di belakangnya terlihat begitu segar. “Kamu sudah bangun pagi-p
Kartika mengarahkan sorotan senter medisnya ke arah pupil mata Bhaskara, memperhatikan reaksinya sebelum kembali menyimpan alat itu kembali ke kantung jasnya.“Coba rasakan,” ucapnya sambil menekan pelan bagian kepala Bhaskara, “Sakit?”Mendengar ringisan Bhaskara dan bagaimana reaksi tubuhnya menjauh dari tekanan telapak tangannya cukup membuat Kartika mengangguk. “Sakit, Dok.”“Nah, itu,” ujar Kartika menyetujui. Ia menemukan jawaban dari dugaan awalnya kala mendengar kondisi Bhaskara yang diceritakan oleh Gendhis pasca pria itu sadarkan diri. Wanita berpakaian putih itu berbalik menghadap Gendhis yang masih berdiri di sisi ranjang dengan gelisah. “Dari pemeriksaan ini, ada kemungkinan suamimu mengalami benturan kepala yang cukup keras, Ndhis.”Kartika mengembuskan napas saat menyebutkan identitas tipuan Bhaskara yang dititipkan Gendhis sebelumnya, meski sepersekian detik Gendhis tahu wajah Kartika sempat berubah ketus karena ikut menipu pria ini bersamanya.“Apa itu sebabnya Mas
“KAMU GILA, NDHIS?!”“Bantu aku, Mbak… sekali ini aja…”“Bantu bagaimana? Kamu nyembunyiin orang terluka selama seminggu, terus sekarang bilang mau pura-pura jadi isterinya?” Gadis yang rambutnya dicepol rendah itu berkacak pinggang sementara telapak kakinya mondar-mandir di balik pintu kliniknya.“Aku bisa bantu periksa dia,” lanjut Kartika. “Tapi yang nggak bisa aku pahami itu kenapa kamu malah umpetin semuanya!”“Aku takut, Mbak.”“Takut apa, sih? Wes kamu yang nemuin dia, ‘kan?”Gendhis mengangkat wajah, alis di keningnya menekuk, sarat akan rasa ngeri, “Waktu aku nemuin dia, pintu gubuk taniku sudah terbuka. Padahal aku yakin paginya aku sudah kunci itu, Mbak. Dan lihat dia terluka parah di sana sementara aku nggak punya petunjuk siapa yang melakukannya–aku bener-bener takut, Mbak Tika.”Kartika terdiam, turut menghela napas menyaksikan sorot lelah yang terlihat dari mata Gendhis.“Kalau aku lapor, aku harus jawab apa? Balai desa saja nggak mau mengabulkan permintaanku buat meny
“Kamu sakit toh Ndis?”Ditanyai seperti itu membuat Gendhis berdeham kikuk. Memang benar, seminggu terakhir ini ia sudah empat kali bolak-balik ke satu-satunya apotik yang paling dekat dengan rumahnya, yang letaknya di sisi timur posyandu desa. Gendhis bukan orang yang paham merawat orang sakit, ia tidak pernah menyangka akan membutuhkan obat yang macam-macam bentuknya seperti sekarang. Minyak, salep, kain kasa, dan alkohol yang hampir habis. Duh, banyak sekali.“Habis panen ya? Makanya luka-luka? Atau si Mbok?” kata Kartika, penjaga apotek sekaligus teman sekolahnya dulu bertanya, selagi ia tengah mengambil minyak yang dipinta Gendhis dari balik etalase kaca.“Anu…” Gendhis mencicit, “Tapi aku. Akhir-akhir ini lagi nggak fokus ngurus ladang, jadi sering luka.”“Lukanya dalam nggak?” tanya Kartika penasaran. “M–maksudnya?” tanyanya berimbuh.“Gimana, toh, kamu. Luka memang kelihatan dari luar. Tapi pas kamu jatuh, siapa yang tahu kalau ternyata ada luka dalam? Gak mau ke dokter aj
“...hh.” Sebelah kaki Gendhis yang hendak melangkah mundur sontak terhenti. Meski dadanya masih sesak akibat pasokan udara yang mendadak sempit juga ketakutan yang memanipulasi otaknya–Gendhis tidak buta untuk bisa melihat bagaimana bagian dada dari tubuh itu masih naik turun. “M–mas, jangan disini!”Gendhis berbisik ragu. Namun sedikit demi sedikit ia coba seret kakinya kembali maju mengecek pria itu.Telapaknya refleks menutupi hidung, sesekali netra cokelatnya terkatup kala melihat betapa naas luka yang tersaji di hadapannya. Ia meneguk ludahnya susah payah ketika sandal jepitnya menyentuh ujung kain celana sang pria yang begitu lembab entah dari tanah, lumpur, atau rembesan darah yang sampai ke sana. Kepala Gendhis refleks menoleh ke kanan dan kirinya. Tak ada orang, kosong melompong. Lagi pula ini lahan belakang rumahnya, siapa yang bisa masuk ke gubuk taninya tanpa jejak seperti ini?“Kamu ini dibawa siapa ke sini, Mas… Luka-luka begini…” Gendhis bergidik ngeri. Namun, na
“Kamu… toh yo mentang-mentang anak perawan hidup sendirian— belum juga ke balai desa buat urus surat tanah, Ndhis? Nanti diserobot orang, lho.”Gendhis mendongkak dari ikatan jagung yang sedang dirapikannya.Nama ‘Gendhis’ yang berarti gula, manis, lembut kini mengangkat sebelah alis, dengan sisa tawa di ujung bibir merah mudanya. “Siapa juga yang bisa nyerobot tanah ini, Mbok?” “Satu-satunya ahli waris Bapak dan Ibu cuma aku.”Wanita paruh baya yang sedari tadi duduk bersila di antara nampan hasil panen terkekeh. Mbok Sumiyati menggenggam pisau kecil, sibuk membersihkan tanah yang menempel pada bawang-bawangan.Benar juga. Hanya Gendhis yang secara sah bisa memiliki ladang ini. “Benar. Tapi wong jahat bisa muncul kapan saja. Surat tanah belum diurus, kamu juga perempuan tinggal sendirian.” Mbok Sumiyati meliriknya. “Mbok yang jantungan setiap hari.”Gendhis mengikat rambutnya yang mulai terlepas. “Aku bisa jaga diri.”“Terus mau sendiri sampai kapan?”Pembahasan itu lagi.Gendhis







