홈 / Rumah Tangga / Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu / BAB 2 - KUSEMBUNYIKAN PRIA ITU DI BALIK TEMBOK RUMAH

공유

BAB 2 - KUSEMBUNYIKAN PRIA ITU DI BALIK TEMBOK RUMAH

last update 게시일: 2026-09-29 11:29:16

“...hh.” 

Sebelah kaki Gendhis yang hendak melangkah mundur sontak terhenti. 

Meski dadanya masih sesak akibat pasokan udara yang mendadak sempit juga ketakutan yang memanipulasi otaknya–Gendhis tidak buta untuk bisa melihat bagaimana bagian dada dari tubuh itu masih naik turun. 

“M–mas, jangan disini!”

Gendhis berbisik ragu. Namun sedikit demi sedikit ia coba seret kakinya kembali maju mengecek pria itu.

Telapaknya refleks menutupi hidung, sesekali netra cokelatnya terkatup kala melihat betapa naas luka yang tersaji di hadapannya. 

Ia meneguk ludahnya susah payah ketika sandal jepitnya menyentuh ujung kain celana sang pria yang begitu lembab entah dari tanah, lumpur, atau rembesan darah yang sampai ke sana. 

Kepala Gendhis refleks menoleh ke kanan dan kirinya. Tak ada orang, kosong melompong. 

Lagi pula ini lahan belakang rumahnya, siapa yang bisa masuk ke gubuk taninya tanpa jejak seperti ini?

“Kamu ini dibawa siapa ke sini, Mas… Luka-luka begini…” Gendhis bergidik ngeri. 

Namun, nalurinya tak menemukan jalan untuk mundur dan memanggil bantuan orang-orang desa, selain kembali berjongkok mendekatinya. 

Apa mungkin ini orang desa?

Telunjuknya gemetar kala menyentuh dagu pria itu agar lebih jelas menghadap ke arahnya. 

Entah Gendhis yang terlampau anti sosial selama tiga tahun ini–demi alam beserta isinya–wajah ini tak pernah tersangkut barang setitik di memorinya.

“Mas?”

“...”

Di antara wajahnya yang babak belur terutama goresan melintang cukup dalam yang ada di pipi kirinya, bibir pria itu bergerak samar. 

Nyaris tak kasat mata jika saja Gendhis tak menatapnya sedekat ini. Hembusan nafasnya lemah, membuat Gendhis sempat tersentak mundur. 

“Kamu… kamu beneran masih hidup, Mas… Aku harus lapor ke perangkat desa kalau begini–”

Namun,

‘Gendhis, siapa ini babak belur? Temanmu, huh?’

‘Kok iso ada orang asing sekarat di ladangmu?’

‘Kamu coba bunuh orang, Ndhis?’

Segerombol bayangan reaksi warga desa saat nanti ia melapor mendadak berkelebat seperti mimpi buruk. Belum lagi peringatan Mbok Sumiyati tadi siang. 

Gendhis memejamkan penglihatannya sejenak, sebelum bola matanya bergerak liar mencari penjelasan lain. 

Tak miliki waktu tuk berpikir panjang, Gendhis akhirnya menyeret pria asing itu dengan gerobak kayu yang biasa dirinya pakai mengangkut hasil panen. 

Roda-rodanya berderit kala melintasi pematang–jalan setapak yang menghubungkan petakan ladang ke rumahnya. 

Ah, Gendhis bahkan menutupi tubuh besar itu dengan kain bekas yang tergeletak di sudut gubuk. 

Setiap ia menyeret dari depan lengan gerobak, jemarinya masihlah gemetar dan binar matanya berpencar was-was menoleh ke segala arah. 

Masa bodo dengan lelah, itu tak sebanding dengan rasa takut ketahuan yang ia alami sekarang. 

“Sedikit lagi, Ndhis,” gumamnya bermonolog.

Satu, dua, tiga langkah lagi dan ia masuk melalui pintu belakang rumahnya.

Derit pintu berdentum lirih, sebab Gendhis yang menutupnya hati-hati sekali. 

Gendhis menghembuskan napasnya panjang, kini ia bahkan tak percaya apa yang baru saja ia lakukan. 

Memasukkan orang sekarat ke dalam rumahnya dengan kenyataan bahwa ada orang lain yang berani-beraninya menerobos gubuk tani miliknya? 

***

“Aku izin bersihin kamu, yo, Mas. Kubuka kemeja bajumu sebentar.” 

Gendhis kembali menyeret tubuh itu ke atas ranjang miliknya–dulu adalah kamar orang tuanya, satu-satunya ruangan yg jauh dari jendela ruang tengah. 

Setidaknya jendela kamarnya berhadapan langsung dengan hutan di belakang. 

Gadis itu meraih ember berisi air dan kain bersih, tak lupa botol alkohol yang dahulu ia beli saat bapak sering terluka saat memanen.

Dengan gunting kecil, kemeja hitam yang rembes dengan cairan merah itu ia sobek perlahan dari bawah ke atas–memperlihatkan luka yang nyatanya lebih banyak dari yang bisa ia perkirakan.

“Ini orang habis diapain sebenernya?” Gendhis sungguh linglung dan merasa kasihan.

Entahlah, bahkan Gendhis tak sedikitpun berpikir orang yang tengah ia urus ini adalah penjahatnya. 

Sebab nalurinya tak berkehendak demikian. 

Baru saat menyeka wajahnya, Gendhis memperhatikan rupa pria itu untuk pertama kalinya. Rahangnya tegas, hidungnya bangir, alisnya tebal, dan satu luka gores cukup dalam di pipi kirinya–menonjol dibandingkan luka lainnya. 

Telapaknya sempat terhenti kala kain basah itu menyusuri bahu bidang dan otot perut yang terbentuk jelas–entah hasil mencangkul atau bela diri? 

Gendhis belum pernah melihat pria segagah ini di ladang atau pasar desa.

Jauh dari kata buruk rupa atau memang seorang rupawan?

“Mikir apa sih?” cicit Gendhis tak enak hati pada akhirnya. 

Gadis itu buru-buru menggeleng, menepis pikiran tak penting itu untuk kembali membersihkan leher dan dadanya. 

Ada luka-luka tertentu yang ia tangani akhirnya dengan cara tradisional yang masih ia ingat; seperti beberapa jenis daun yang ditumbuk kasar untuk menghentikan pendarahan.

Bahkan hingga kain celana yang mau tak mau Gendhis urus dengan mata tertutup, pada akhirnya ia berhasil menggantinya dengan kaos rumah dan celana melar peninggalan Sang Bapak.

“Badanmu panas juga?” Gendhis pun berlari kecil menuju dapur, menyalakan kompor gas satu tungku miliknya untuk merebus air. 

Begitu selesai, ia kembali membawa baskom dan mulai mengompres kening pria itu dengan kain baru seadanya. 

Gendhis mengambil kain itu saat suhunya sudah mendingin, memerasnya, lalu meletakkannya kembali di atas kening yang terasa begitu panas di bawah telapak tangannya.

“Cepat bangun, Mas.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 6 - SUARA PISTOL DI SEKELILINGNYA

    “Kita belum pernah seranjang dan aku juga belum siap untuk itu, Mas.”Semalam, genggaman Bhaskara berangsur mengendur setelah mendengar kalimat yang diucapkan Gendhis. Gadis itu tahu dari sorot matanya, bahwa Bhaskara tampak kecewa.“Aku benar-benar menyakitimu sedalam itu, ya?”Pertanyaan yang sesungguhnya tidak bisa Gendhis jawab dibalik dusta yang kini dipilihya.“Kita… kita hanya tidak seperti pasangan pada umumnya, Mas. Belum ada cinta di antara kita berdua. Aku harap kamu mengerti posisiku.”Suara dentingan sendok besi dengan cangkir keramik berisikan kopi panas itu menyadarkan Gendhis. Ayam sudah berkokok, langit sudah berubah biru cerah. Dengan telaten ia bawa kopi buatannya itu di atas nampan, berikut sup nasi yang subuh tadi ia masak. Derit pintu kamar orang tuanya–kamar Bhaskara saat ini–terdengar. “Sarapan dulu, Mas.”“Lho, Gendhis?”Gendhis bisa melihat Bhaskara yang tengah membuka jendela kamar. Hutan luas di belakangnya terlihat begitu segar. “Kamu sudah bangun pagi-p

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 5 - HILANGNYA INGATAN JUGA URUSAN RANJANG

    Kartika mengarahkan sorotan senter medisnya ke arah pupil mata Bhaskara, memperhatikan reaksinya sebelum kembali menyimpan alat itu kembali ke kantung jasnya.“Coba rasakan,” ucapnya sambil menekan pelan bagian kepala Bhaskara, “Sakit?”Mendengar ringisan Bhaskara dan bagaimana reaksi tubuhnya menjauh dari tekanan telapak tangannya cukup membuat Kartika mengangguk. “Sakit, Dok.”“Nah, itu,” ujar Kartika menyetujui. Ia menemukan jawaban dari dugaan awalnya kala mendengar kondisi Bhaskara yang diceritakan oleh Gendhis pasca pria itu sadarkan diri. Wanita berpakaian putih itu berbalik menghadap Gendhis yang masih berdiri di sisi ranjang dengan gelisah. “Dari pemeriksaan ini, ada kemungkinan suamimu mengalami benturan kepala yang cukup keras, Ndhis.”Kartika mengembuskan napas saat menyebutkan identitas tipuan Bhaskara yang dititipkan Gendhis sebelumnya, meski sepersekian detik Gendhis tahu wajah Kartika sempat berubah ketus karena ikut menipu pria ini bersamanya.“Apa itu sebabnya Mas

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 4 - PERMINTAAN TOLONG GENDHIS

    “KAMU GILA, NDHIS?!”“Bantu aku, Mbak… sekali ini aja…”“Bantu bagaimana? Kamu nyembunyiin orang terluka selama seminggu, terus sekarang bilang mau pura-pura jadi isterinya?” Gadis yang rambutnya dicepol rendah itu berkacak pinggang sementara telapak kakinya mondar-mandir di balik pintu kliniknya.“Aku bisa bantu periksa dia,” lanjut Kartika. “Tapi yang nggak bisa aku pahami itu kenapa kamu malah umpetin semuanya!”“Aku takut, Mbak.”“Takut apa, sih? Wes kamu yang nemuin dia, ‘kan?”Gendhis mengangkat wajah, alis di keningnya menekuk, sarat akan rasa ngeri, “Waktu aku nemuin dia, pintu gubuk taniku sudah terbuka. Padahal aku yakin paginya aku sudah kunci itu, Mbak. Dan lihat dia terluka parah di sana sementara aku nggak punya petunjuk siapa yang melakukannya–aku bener-bener takut, Mbak Tika.”Kartika terdiam, turut menghela napas menyaksikan sorot lelah yang terlihat dari mata Gendhis.“Kalau aku lapor, aku harus jawab apa? Balai desa saja nggak mau mengabulkan permintaanku buat meny

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 3 - AKU ISTERIMU

    “Kamu sakit toh Ndis?”Ditanyai seperti itu membuat Gendhis berdeham kikuk. Memang benar, seminggu terakhir ini ia sudah empat kali bolak-balik ke satu-satunya apotik yang paling dekat dengan rumahnya, yang letaknya di sisi timur posyandu desa. Gendhis bukan orang yang paham merawat orang sakit, ia tidak pernah menyangka akan membutuhkan obat yang macam-macam bentuknya seperti sekarang. Minyak, salep, kain kasa, dan alkohol yang hampir habis. Duh, banyak sekali.“Habis panen ya? Makanya luka-luka? Atau si Mbok?” kata Kartika, penjaga apotek sekaligus teman sekolahnya dulu bertanya, selagi ia tengah mengambil minyak yang dipinta Gendhis dari balik etalase kaca.“Anu…” Gendhis mencicit, “Tapi aku. Akhir-akhir ini lagi nggak fokus ngurus ladang, jadi sering luka.”“Lukanya dalam nggak?” tanya Kartika penasaran. “M–maksudnya?” tanyanya berimbuh.“Gimana, toh, kamu. Luka memang kelihatan dari luar. Tapi pas kamu jatuh, siapa yang tahu kalau ternyata ada luka dalam? Gak mau ke dokter aj

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 2 - KUSEMBUNYIKAN PRIA ITU DI BALIK TEMBOK RUMAH

    “...hh.” Sebelah kaki Gendhis yang hendak melangkah mundur sontak terhenti. Meski dadanya masih sesak akibat pasokan udara yang mendadak sempit juga ketakutan yang memanipulasi otaknya–Gendhis tidak buta untuk bisa melihat bagaimana bagian dada dari tubuh itu masih naik turun. “M–mas, jangan disini!”Gendhis berbisik ragu. Namun sedikit demi sedikit ia coba seret kakinya kembali maju mengecek pria itu.Telapaknya refleks menutupi hidung, sesekali netra cokelatnya terkatup kala melihat betapa naas luka yang tersaji di hadapannya. Ia meneguk ludahnya susah payah ketika sandal jepitnya menyentuh ujung kain celana sang pria yang begitu lembab entah dari tanah, lumpur, atau rembesan darah yang sampai ke sana. Kepala Gendhis refleks menoleh ke kanan dan kirinya. Tak ada orang, kosong melompong. Lagi pula ini lahan belakang rumahnya, siapa yang bisa masuk ke gubuk taninya tanpa jejak seperti ini?“Kamu ini dibawa siapa ke sini, Mas… Luka-luka begini…” Gendhis bergidik ngeri. Namun, na

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 1 - PRIA BABAK BELUR DI LADANGKU

    “Kamu… toh yo mentang-mentang anak perawan hidup sendirian— belum juga ke balai desa buat urus surat tanah, Ndhis? Nanti diserobot orang, lho.”Gendhis mendongkak dari ikatan jagung yang sedang dirapikannya.Nama ‘Gendhis’ yang berarti gula, manis, lembut kini mengangkat sebelah alis, dengan sisa tawa di ujung bibir merah mudanya. “Siapa juga yang bisa nyerobot tanah ini, Mbok?” “Satu-satunya ahli waris Bapak dan Ibu cuma aku.”Wanita paruh baya yang sedari tadi duduk bersila di antara nampan hasil panen terkekeh. Mbok Sumiyati menggenggam pisau kecil, sibuk membersihkan tanah yang menempel pada bawang-bawangan.Benar juga. Hanya Gendhis yang secara sah bisa memiliki ladang ini. “Benar. Tapi wong jahat bisa muncul kapan saja. Surat tanah belum diurus, kamu juga perempuan tinggal sendirian.” Mbok Sumiyati meliriknya. “Mbok yang jantungan setiap hari.”Gendhis mengikat rambutnya yang mulai terlepas. “Aku bisa jaga diri.”“Terus mau sendiri sampai kapan?”Pembahasan itu lagi.Gendhis

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status