LOGINSatria melirik ke sekeliling lobi utama perusahaan. Matanya menatap lantai pualam yang mengkilap, sisa pot tanaman hias mahal yang masih utuh, dan kaca kaca besar yang membatasi ruangan."Tunggu sebentar," ucap Satria sambil mengangkat tangan kanannya, menghentikan langkah enam pengawal bertubuh raksasa itu.Satria menoleh ke arah Gilang dan Broto dengan wajah polos tanpa dosa."Kalau kalian benar benar mau olahraga sama saya, kita main di luar saja yuk. Di lobi sini terlalu sempit buat banting bantingan. Sayang barang mahal Nona Vera kalau sampai pecah lagi kena badan pengawal kalian," ajak Satria santai seraya menunjuk ke arah pelataran parkir depan gedung yang sangat luas.Mendengar ajakan bernada meremehkan itu, wajah Gilang langsung mengeras. Urat di pelipisnya berkedut menahan emosi. Salah satu pengawal kekar yang berdiri paling depan juga ikut terpancing amarahnya."Sialan, bocah kurang ajar!" bentak pengawal berwajah garang itu dengan suara serak. "Cepat mau babak belur saja k
Berikut adalah Bab 169, di mana niat baik sang pendekar malah dianggap sebagai kelemahan oleh tamu yang sombong.Bab 169: Usiran Halus dan Tantangan AroganMelihat urat leher Gilang yang sudah menonjol karena marah, Satria menarik napas panjang. Pendekar itu tiba tiba mengubah sikapnya. Dia menurunkan tangannya dan memasang wajah yang sangat tenang, mencoba memberikan satu kesempatan terakhir agar lobi ini tidak berubah menjadi arena pembantaian siang bolong."Bapak Broto dan Mas Gilang yang terhormat," ucap Satria dengan nada suara yang jauh lebih sopan dan bersahabat dari sebelumnya. Dia bahkan menunjuk ke arah pintu kaca utama dengan telapak tangan terbuka. "Saya mohon pengertiannya. Nona Vera sedang banyak pekerjaan penting hari ini. Pintu keluar ada di sebelah sana. Silakan tinggalkan gedung ini dengan tenang, mumpung urusannya belum panjang. Kasihan petugas kebersihan kami kalau harus membersihkan sisa sisa keributan lagi."Mendengar ucapan Satria yang tiba tiba menjadi sopan it
Baru saja Satria memenangkan satu ronde permainannya, suara ketukan keras dan tergesa gesa terdengar dari arah pintu kayu jati. Tanpa menunggu jawaban dari dalam, daun pintu ruangan CEO itu langsung terbuka lebar.Sekretaris Vera melangkah masuk dengan wajah pucat dan napas terengah engah."Maaf mengganggu, Nona Vera," lapor sekretaris itu dengan suara panik. "Ada dua orang tamu tidak diundang di lobi bawah. Mereka memaksa naik untuk bertemu Nona. Petugas keamanan sudah mencoba menahan, tapi mereka malah mengamuk dan mengancam akan menghancurkan lobi kalau Nona tidak segera turun."Mendengar laporan tersebut, Satria langsung mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku celana. Rasa bosan yang sedari tadi menyiksanya langsung menguap tanpa sisa. Pemuda itu berdiri dari sofa empuknya, mengerutkan kening dengan tatapan tajam yang siap menerkam."Tamu tidak diundang bikin keributan di lobi?" gumam Satria pelan. Dia menoleh ke arah meja kerja bosnya. "Apa perlu saya saja yan
Begitu keluar dari lift khusus eksekutif di lantai teratas, Vera berjalan cepat dengan langkah anggun menuju ruang kerjanya. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat menyapa sang bos besar. Satria mengekor tepat di belakang Vera dengan langkah santai, mengabaikan tatapan penasaran para karyawan wanita yang mengagumi postur tegapnya.Sesampainya di depan pintu kayu jati besar bertuliskan Direktur Utama, sekretaris pribadi Vera langsung berdiri dari mejanya untuk membukakan pintu.Satria baru saja berniat berdiri di samping pintu luar seperti pengawal pada umumnya, tapi Vera langsung menahan lengannya."Satria, kamu ikut masuk ke dalam," perintah Vera sambil melangkah masuk ke ruangannya yang luas dan sangat mewah itu.Satria mengangkat alisnya bingung, tapi dia tetap menurut dan melangkah masuk. Pintu ruangan tertutup rapat dari luar. Ruangan CEO itu memiliki jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Di salah satu sudut ruangan, t
Mobil Alphard hitam itu melaju membelah kepadatan lalu lintas pagi ibu kota. Suasana di dalam mobil cukup tenang. Vera duduk di kursi belakang, sibuk membaca setumpuk dokumen proyek dengan kacamata bacanya. Satria duduk di kursi depan di samping Pak Maman, matanya mengawasi jalan raya dengan santai.Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Insting pendekar Satria kembali menangkap sesuatu yang tidak beres.Sudah tiga kali mobil mereka berbelok melewati rute yang berbeda untuk menghindari macet, tapi ada satu mobil sedan berwarna abu abu yang terus menempel di belakang mereka dengan jarak yang sangat konsisten.Satria melirik kaca spion samping. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi panik sedikit pun."Pak Maman, coba Bapak perhatikan spion tengah," ucap Satria dengan nada suara rendah dan tenang. "Ada sedan abu abu yang menguntit kita dari perempatan lampu merah pertama tadi."Pak Maman langsung melirik kaca spion. Wajah sopir tua itu seketika memucat. Trauma kejar kejaran semalam mas
Vera meletakkan tisyu bekas mengelap mulutnya ke atas piring yang sudah bersih. Dia melirik jam tangan klasiknya, lalu berdiri dari kursi dengan anggun. Blazer kerja sewarna abu-abu gelap yang terpasang di tubuhnya langsung menegaskan kembali auranya sebagai seorang CEO yang tegas."Satria, cepat habiskan makanan kamu," perintah Vera sambil merapikan sedikit kerah bajunya. "Sepuluh menit lagi kita berangkat ke kantor. Dokumen proyek Haryo harus segera ditandatangani di depan dewan direksi hari ini juga. Setelah kejadian semalam, saya tidak mau mengambil risiko jalan sendirian tanpa pengawal."Mendengar perintah itu, Satria langsung mengangguk cepat. Dia buru-buru menenggak habis sisa air putih di gelasnya."Baik, Non Vera. Saya sudah siap dari tadi kok," jawab Satria dengan nada penuh kelegaaan.Bagi Satria, perintah ke kantor ini bagaikan sebuah jalur penyelamatan darurat. Dia akhirnya bisa berdiri dan menjauhkan kakinya dari jangkauan kaki Kiki yang sedari tadi terus menggodanya di
Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran
Sementara Satria sedang menikmati Wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran Jepang yang sejuk, situasi yang sangat kontras terjadi di belahan lain kota Jakarta.Di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, tepatnya di lantai 40 yang merupakan penthouse pribadi, suasana terasa begitu
Satria mengerjap cepat. "H-hukuman dobel gimana maksudnya, Ki?"Bukannya menjawab, Kiki malah mencondongkan tubuhnya ke depan. Gadis itu menempelkan kedua telapak tangannya di dada bidang Satria yang terbalut kaus hitam, lalu dengan berani mendorong tubuh pemuda itu ke belakang.Karena posisi duduk
Satria mengerang tertahan di dalam tenggorokannya. Akal sehatnya berteriak keras menyuruhnya untuk mendorong tubuh Kiki menjauh. Ini salah. Ini sangat berbahaya. Tapi insting alaminya sebagai laki laki muda benar benar memberontak habis habisan. Wangi tubuh Kiki, rasa manis di bibirnya, dan sensasi







