Partager

Bab 125

last update Date de publication: 2026-07-23 22:29:24

Matahari sore meredup, menyisakan semburat warna jingga yang memantul di kaca depan sebuah mobil sedan mewah. Di depan gerbang sebuah pabrik tekstil yang padat, ratusan buruh mulai berhamburan keluar setelah bel tanda berakhirnya jam kerja berbunyi nyaring.

Di antara kerumunan pekerja yang tampak lelah, sosok Ningrum berjalan perlahan dengan tas kain sederhana di pundaknya. Satrio yang sejak tadi menunggu segera mengarahkan kendaraannya mendekat, lalu menurunkan kaca mobil sembari memberikan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 157

    Malika menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan seiring dengan hilangnya sisa-sisa ketegangan dalam dirinya. "Aku mengerti sekarang, Rio. Maaf kalau tadi sempat salah paham. Kejadian di kampus dulu dengan Ayunda... jujur saja, itu membuatku agak trauma dan terlalu cepat menarik kesimpulan saat Pak Nikko bicara seperti itu."Satrio menggeleng pelan, sorot matanya melembut. "Kamu tidak salah, Malika. Justru aku yang harus meminta maaf karena lingkungan di sekitarku sering kali menyeretmu ke dalam masalah."Malika tersenyum kecil, binar matanya kembali bersih dan hangat seperti saat mereka masih sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. "Sudahlah, yang penting semuanya sudah jelas. Hari sudah mulai malam, aku harus segera pulang sebelum jalanan semakin macet.""Mari kuantar sampai ke depan lobi," ajak Satrio, melangkah di samping Malika dengan jarak yang sangat sopan.Sepanjang perjalanan menuju lantai bawah, suasana di antara mereka terasa begitu tenang. Ketiada

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 156

    Satrio tidak segera bersuara. Ia melangkah tenang menuju dispenser, membiarkan bunyi aliran air yang mengisi gelas kacanya menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan mencekam di dalam pantry. Di balik kemeja abu-abu gelapnya, liontin giok pemikat berdenyut stabil, memancarkan gelombang yang perlahan menyerap hawa panas yang menguar di antara keempat wanita itu.Setelah meneguk airnya hingga setengah gelas, Satrio membalikkan tubuhnya. Sepasang matanya menyapu wajah mereka satu per satu dengan tatapan datar, namun sarat akan intimidasi yang mendalam."Jika agenda utama kalian berkumpul di sini adalah untuk membicarakan kejadian di lantai lima, aku sarankan kalian segera kembali ke meja kerja masing-masing," ucap Satrio dengan suaranya yang rendah, berat, dan penuh penekanan.Kata-kata Satrio yang begitu dingin dan menusuk seketika meruntuhkan keberanian Adirah dan Selina. Adirah menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas cangkir tehnya dengan wajah yang kembali memucat karena

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 155

    Keributan hebat di lorong lantai lima antara Satrio dan Nikko siang itu tidak butuh waktu lama untuk menyebar. Isu mengenai dua pria petinggi sementara yang seolah-olah sedang memperebutkan Malika, si anak baru yang polos, langsung meledak menjadi buah bibir terhangat. Kabar angin itu berembus kencang, terutama di kalangan wanita-wanita berpengaruh di kantor pusat Shine Group yang selama ini selalu menaruh perhatian lebih pada setiap jengkal langkah kaki Satrio.Menjelang sore hari, suasana di dalam pantry utama lantai delapan tampak begitu tegang. Adirah, Selina, dan Maya sengaja berkumpul di sana. Mereka berdiri melingkari meja konter dapur dengan cangkir kopi dan teh di tangan masing-masing, menggunjingkan kejadian heboh yang baru saja mengguncang lantai lima.Adirah mengaduk teh hangatnya dengan gerakan yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada binar kepuasan yang samar di sepasang matanya yang sempat meredup kemarin. "Kalau menurutku, baguslah kalau Pak Nikko mulai melirik M

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 154

    Persaingan di lantai eksekutif Shine Group kini bergeser ke arah yang lebih sunyi namun jauh lebih mematikan. Nikko Prambudi bukan orang bodoh. Melalui jaringan desa-desus staf kantor dan pengamatannya sendiri, ia mulai mencium aroma kedekatan yang tidak biasa antara Satrio dan Malika, staf baru di divisi HRD. Bagi Nikko, Malika adalah umpan sekaligus titik lemah baru Satrio yang bisa ia manfaatkan. Nikko sudah bertekad bulat untuk menyingkirkan Satrio dari perusahaan, namun ia tahu diri setelah mendapat peringatan keras dari ibunya, Sisilia. Kali ini, ia harus bergerak dengan cara yang sangat halus, rapi, dan tidak terang-terangan.Strategi baru pun disusun. Nikko mulai ikut berpura-pura mendekati Malika di sela-sela jam kantor. Tentu saja, tindakan itu ia lakukan bukan karena ia menyukai gadis itu. Malika yang selalu tampil anggun, bersahaja, dan berpakaian tertutup sama sekali bukan tipe wanita kesukaan Nikko. Selera Nikko sejak dulu adalah wanita yang berpakaian seksi, berani,

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 153

    Tekanan di dalam ruang makan keluarga Malika semakin semakin berat, seolah-olah seluruh udara telah diisap habis dari udara. Liontin giok kuno yang melingkar di balik kemeja Satrio berguncang hebat, memancarkan hawa panas yang membakar kulit dadanya. Rasanya seperti ada sebongkah arang membara yang dipaksa menempel. Satrio mencengkeram pinggiran meja makan kayu, menahan erangan sakit agar tidak lolos dari tenggorokannya. Wajahnya yang semula segar kini berubah pucat pasi, dan sebutir keringat dingin berukuran besar mulai menetes dari pelipisnya."Satrio? Kamu tidak apa-apa, Nak?" suara istri profesor Wahyu terdengar bergaung di telinga Satrio, terdengar menjauh seiring dengan pandangannya yang mulai mengabur.Satrio mencoba menarik napas, namun paru-parunya terasa seperti dikunci. Energi dari sisa puasa Weton keluarga ini benar-benar menolak keras keberadaan energi pemikat yang bersemayam di tubuhnya. "Ma-maaf, Tante... Prof..." Satrio terbata-bata, suaranya parau dan bergetar. Ia

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 152

    Keesokan pagi, Satrio duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong, menghirup udara dalam-dalam. Namun, hasil yang didapatnya nihil. Aroma wangi mawar yang biasanya melekat erat di setiap sudut ruangan itu tidak pernah kembali lagi. Kamar itu kini hanya menyisakan bau debu dan kayu tua yang mati.Satrio terbangun dengan rasa hampa dan kehilangan yang luar biasa di dadanya. Sebuah lubang besar menganga di hatinya, menyisakan rasa perih yang tak kasat mata. Ia melirik ke luar jendela, menatap kunci mobil sport merahnya di atas meja. Meskipun saat ini ia sudah memiliki apartemen mewah, mobil mahal, jabatan mentereng, dan ribuan wanita kantor yang siap bertekuk lutut di bawah perintah dan pesonanya, Satrio tahu semua itu semu. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kejayaan mistis serta segala kemudahan yang ia nikmati selama ini tidak pernah lepas dari peran dan pengorbanan Putih. Tanpa dewi gaib itu, ia hanyalah pria biasa yang beruntung.Untuk menghapus rasa kesedihan yang terus mencengkeram

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 5

    Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 4

    Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 3

    Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 1

    Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status