LOGINSuara deru mesin mobil sport mewah milik Satrio membelah keheningan malam yang kian pekat. Setelah meninggalkan hiruk-pikuk pertunjukan fashion show di Grand Hyatt, mobil itu melaju kencang meninggalkan pusat kota. Helena Vance duduk di kursi penumpang dengan pandangan mata yang kian sayu dan memuja. Wanita itu sengaja mengundang Satrio malam itu juga untuk menuju ke sebuah vila pribadi miliknya yang terletak di daerah pegunungan yang sangat sunyi. Alasan yang ia gunakan adalah untuk merancang setelan jas eksklusif yang pas untuk tubuh atletis Satrio, namun di dalam kepalanya, jerat gairah mistis liontin giok telah melumpuhkan seluruh akal sehatnya." We will be safe there, Satrio... No one can disturb us," bisik Helena dengan nada suara yang serak-serak basah, jemari lentiknya yang dingin merayap perlahan menyusuri kain celana bahan Satrio. "Vila pribadiku di atas bukit adalah tempat yang sangat privat. Aku ingin membuatkan mahakarya pakaian terbaik hanya untuk tubuh tegapmu."Sa
Satrio melangkah kembali menuju barisan kursi VIP terdepan dengan langkah yang teratur dan tenang. Di kepalanya, ia sudah menyusun rencana matang. Pengaruh ilmu pemikat jiwa universal dari Putih tidak hanya meruntuhkan pertahanan mental Helena, tetapi juga menanamkan dominasi mutlak yang tak akan bisa dihapus oleh waktu.Dari kejauhan, Madam Victoria melihat kedatangan Satrio dan langsung menegakkan posisi duduknya. "Ah, Mr. Satrio, Anda sudah kembali. Di mana Helena? Apakah pembahasan pakaian eksklusif untuk Shine International berjalan lancar?" tanya Madam Victoria dengan nada penuh perhatian dan tatapan mata yang masih tampak sayu, sisa-sisa pengaruh hipnotis siang tadi."Semua berjalan sangat lancar, Madam Victoria," jawab Satrio sembari mengambil tempat duduknya kembali. Suara baritonnya terdengar begitu berwibawa di antara alunan musik runway sesi kedua yang mulai berdentum. "Helena setuju dengan seluruh konsep yang saya tawarkan. Kami bahkan sudah merencanakan langkah berikutny
Satrio mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Helena yang sedang mematung di hadapannya. Sebuah seringai liar yang sangat tipis terukir di sudut bibir Satrio. Ia membiarkan wanita angkuh itu menikmati efek tak kasat mata dari jerat ilmu pemikat jiwa universal miliknya yang baru saja dimurnikan. Satrio tahu betul, target barunya kali ini adalah mangsa yang jauh lebih matang dan menantang.Helena menelan ludahnya yang terasa teramat kering, seluruh harga diri dan keangkuhannya sebagai desainer kelas dunia menguap tanpa sisa. Kehilangan seluruh kendali diri akibat kepungan hawa nafsu yang membakar ulu hatinya, Helena mengambil tindakan yang teramat nekat dan berani di depan para tamunya. Ia melangkah maju, lalu dengan jemari tangan yang gemetar hebat meraih pergelangan tangan kekar Satrio." Mr. Satrio, please... walk with me for a moment," bisik Helena dengan suara serak-serak basah yang terdengar sensual, matanya menatap Satrio dengan pandangan penuh permohonan terselubung.
Rangkaian acara pertemuan bisnis perdana yang menegangkan itu berlangsung dengan sangat padat hingga tanpa terasa malam pun telah tiba memeluk ibukota. Setelah seluruh proses penandatanganan berkas kesepakatan eksklusif selesai dilakukan dengan sempurna, suasana formal di dalam ruang rapat mulai mencair.Mr. Smith bangkit dari duduknya, memberikan bungkukan hormat yang teramat dalam kepada Satrio sebelum melangkah mundur. Para investor dan sosialita borjuis wanita mancanegara itu tampak mulai merapikan barang-barang mewah mereka dengan senyuman patuh yang terus menghiasi wajah-wajah cantik mereka."Thank you very much for your time today, Mr. Satrio. Pertemuan ini benar-benar sangat luar biasa," ucap wanita asing berambut pirang itu sembari memberikan kerlingan mata manja penuh arti kepada Satrio sebelum berjalan keluar dari ruangan.Satrio hanya mengangguk kaku penuh wibawa, merapikan letak jas tuksedo hitamnya dengan gerakan yang tenang. Di balik pakaiannya, liontin giok kuno kemba
Ruang pertemuan internasional di lantai atas Hotel Grand Hyatt siang itu didesain dengan tingkat kemewahan yang sangat luar biasa. Meja oval panjang berbahan marmer putih mengilat dikelilingi oleh jajaran kursi kulit yang terlihat sangat estetik. Di sekeliling ruangan, dinding kaca raksasa menyajikan panorama megah pencakar langit Jakarta yang bermandikan terik matahari siang.Di dalam ruangan tertutup itu, delegasi investor wanita asing dari kalangan jetset mancanegara sudah duduk berkumpul. Mereka adalah para sosialita borjuis yang memegang saham besar di industri mode dunia. Penampilan mereka sangat glamor, mengenakan pakaian desainer ternama Eropa dan perhiasan berlian yang berkilau mewah.Pintu ganda ruang rapat dibuka oleh petugas keamanan, dan Satrio melangkah masuk ke dalam ruangan dengan penuh karisma. Begitu langkah kakinya menapak di lantai, suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat tenang. Satrio berjalan menuju podium depan, membiarkan energi intinya
Hari ini adalah hari pertama Satri memimpin anak perusahaan internasional, Shine International Fashion & Luxury (SIFL), dan kekuatan pemikat jiwa universal dari Putih semalaman akan menjadi modal utamanya meraih sukses besar di kancah dunia mode global tanpa ada yang bisa menghalangi pergerakannya lagi.Satu jam kemudian, Satrio memacu mobil sport merah mewahnya membelah jalanan pagi menuju kantor pusat Shine Group. Aura penguasa begitu kental menyelimuti langkah kakinya saat ia melewati pintu kaca lobi utama. Keganjilan luar biasa mulai terasa nyata di sepanjang lorong koridor.Satrio berjalan tegap menuju lift khusus eksekutif. Ketika ia berpapasan dengan dua orang staf keamanan pria berbadan kekar di dekat lobi, kedua sekuriti itu langsung menghentikan langkah mereka. Satrio menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap langsung ke dalam sepasang mata kedua sekuriti pria itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Deg…! Seketika itu juga, tatapan mata Satrio yang memancarkan kilat hija
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me







