LOGINBerencana memberikan kejutan untuk kekasihnya, Emily malah mendapati sang kekasih sedang berhubungan intim dengan selingkuhannya di hotel. Ingin membalas perbuatan kekasihnya itu, Emily meminta pria asing untuk menghabiskan malam panas bersamanya. Hanya satu malam. Namun, siapa sangka, Emily kembali dipertemukan dengan pria asing itu sebagai pria pilihan mendiang ibunya dalam sebuah wasiat, dan sekaligus boss baru di tempat Emily bekerja. Gila! Emily sudah melakukan hubungan panas satu malam dengannya. Apa yang harus Emily lakukan? Apakah status mereka hanya sebatas hubungan satu malam? Atau … hubungan mereka akan berlanjut sesuai wasiat mendiang ibunya?
View More“Emily?” Jantungnya nyaris berhenti. Suara itu … membuat Emily menoleh ke belakang. IDi sana, berdiri seorang pria yang tak tahu malu. Membuat momen sore indah itu malah tidak sebaik tadi. Sungguh, Emily benci kehadirannya di sini. “Jorell.” Suaranya terdengar tajam dan dingin. Pria itu menyunggingkan senyum santai. “Aku tak percaya … kau lebih dulu tiba di sini, Emily. Kau lebih pintar dari yang kuduga.” Jorell kini berjalan. Dia menghampiri Emily dengan senyum penuh maksud. Emily tidak menyambut. Matanya menatap tajam. “Apa yang kau lakukan di sini?” “Aku? Aku ingin bertemu dengan orang tuamu. Kau pikir, karena kekasih barumu menekan orang tuaku, aku akan tinggal diam saja? Aku akan menuntut balik semua yang digunakan oleh ibu dan ayahmu.” “Emily mendengus. “Kekasihku? Kau benar-benar tidak waras.” “Jangan pura-pura suci! Kau pikir aku tidak tahu? Orang tuaku mendapat surat somasi! Ancaman langsung ke pabrik kami! Nama kekasihmu—si Harry itu—tertulis jelas!” Emily menahan n
"Akhirnya kau pulang juga," kata Iriana, ibu tiri Emily yang baru saja menyambut kedatangan pulang ke tempat kediaman orang tuanya dulu. Emily menyoroti kedatangannya saat ia membawa tas. "Apa yang kau bawa dari kota?" Dia bertanya lagi tanpa memikirkan Emily yang sudah melakukan perjalanan selama 3 jam lamanya."Emily?" Sosok ayah muncul dari depan serta memandang Emily penuh kerinduan."Ayah," ucapnya, kini meletakkan tas di atas sofa kemudian mendekati sang ayah untuk memeluk.Emily berhamburan ke dalam pelukan sang ayah. Memeluk pria yang tak lagi muda itu dengan penuh kasih meskipun ia tahu rasa sakit dalam diri ditimbulkan dari hubungan yang diciptakan oleh ayahnya sendiri. Iriana yang melihat pemandangan seperti itu rasanya sangat jengkel. "Apa kabarmu, Ayah?" tanya Emily, melepaskan kini dekapannya untuk memandang wajah nya."Ayah sehat, Emily. Kenapa tidak kau katakan pulang hari ini? Ayah bisa menjemputmu, Nak," ucap Ayah Bens, kini mengusap puncak kepala Emily.Emily me
“Kau tidak lelah, ‘kan?” tanya Harry, kini memilih duduk di samping Emily.Mereka mengikuti acara inti dari gathering perusahaan. Setelah bersama tadi, Emily memilih kembali ke kamarnya sebelum menimbulkan gosip baru.Emily menggeleng dengan sebuah senyum. “Tidak. Aku suka dengan acara seperti ini sejak Paman Kendrick mengadakannya beberapa tahun lalu.”“Wow, kau memuji?”“Tentu saja,” jawab Emily sedikit mendekat ke Harry untuk berbisik. “Paman adalah pria terbaik yang kukenal, Harry.”Emily terang-terangan memuji Papa dari pria yang kini menjadi kekasihnya itu. Karena sejauh Emily mengenal keluarga dari Paman Kendrick tak pernah ada kekecewaan yang dibuat oleh keluarga tersebut terhadap ia, ayah, dan ibunya. Pun dengan mendiang dari ibu Harry."Dia sangat menyayangimu asal kau tahu, Emily," jawab Harry lagi dengan senang.Emily tak percaya begitu saja. "Bagaimana bisa kau tahu?"Harry mengulas sebuah senyum. "Nanti aku beritahu semuanya."Nama Harry terdengar dari depan sana. Pembaw
"Duduklah denganku, Emily," ucap Salvina, kini menggenggam tangan Emily.Acara gathering dari perusahaan telah tiba. Hari yang ditunggu-tunggu oleh Harry."Bukankah kata Pak Hans kita memiliki nomor kursi masing-masing, Salv?"Salvina mengingat sejenak. "Astaga ... Aku lupa. Semoga saja, kita duduk bareng."Momen yang ditunggu oleh Emily maupun Salvina akhirnya datang juga. Keduanya memang ingin sekali berlibur bersama dengan teman-teman mereka. Mengenakan pakaian santai dengan sepatu kets kesukaannya, Emily sudah tampak sangat siap mengikuti rangkaian acara perusahaan tempat ia bekerja.Kedua Gadis itu sudah mendapati nomor tempat duduknya masing-masing, dan kini keduanya sedang berjalan menuju bus yang telah tersedia di halaman perusahaan untuk mengantarkan mereka ke tempat lokasi acara."Aku di sini, Emily," kata Salvina, yang menemukan lebih dulu tempat duduknya."Sepertinya aku di bagian—"Ucapan Emily harus terjedah. Ketika ia dapati sosok pria yang ia kenal duduk di salah satu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews