MasukWhen Zara discovers her abusive fiancé cheating with her best friend,she flees to a bar where a mysterious stranger offers her refuge. One night with Josh changes everything—but their whirlwind romance built on passion and pregnancy hides a devastating secret. As Josh’s fake feelings turn achingly real and Roberts vendetta turns deadly, Zara must navigate a web of family betrayal,supernatural mysteries and her own shattered trust . But when love transcends the boundaries between life and death, Zara discovers that sometimes you must lose everything to find who you really are.
Lihat lebih banyak"Akhirnya keluar juga kamu, Kinara!"
Seruan itu menyapa Kinara tepat saat kakinya menapak keluar dari lift lantai divisinya di gedung PT Danantara. Pria bertubuh jangkung dengan setelan jas mahal berdiri dengan bersedekap di tengah lorong, menyunggingkan senyum remeh yang amat ia kenali. Rian Ardiansyah, mantan suaminya. Langkah Kinara terhenti seketika. Tiga tahun telah berlalu sejak perceraian resmi mereka, namun kehadiran Rian selalu berhasil memicu trauma tersembunyi. Dulu, mereka menikah karena kesalahan satu malam yang terjadi setelah Kinara melakukan pertemuan dengan seorang klien. Ada yang menaruh obat di minumannya. Kinara yang tak sadarkan diri tidur dengan seorang pria. Ia sama sekali tak mengingat detail yang terjadi. Di bawah pengaruh minuman itu, ia akhirnya hamil. Tak selang berapa lama, Rian datang mengakui kesalahannya, dan Kinara yang terlanjur hamil tidak punya pilihan lain selain menerima lamaran Rian. Ayahnya yang terlanjur malu mendesak keduanya melangsungkan pernikahan beberapa hari setelah pengakuan itu. Rumah tangga mereka berjalan selama dua tahun. Selama itu juga Kinara tidak merasakan kehangatan atau pun perhatian. Awalnya, ia memaklumi jika mereka menikah tidak didasari cinta. Ternyata, pria itu berselingkuh sejak tahun pertama pernikahan mereka. Ia dinikahi hanya demi harta dan status keluarganya. Pengalaman itulah yang membentuk Kinara hari ini. Ia menjadi seorang wanita yang dingin, berjarak, bersumpah tidak akan pernah lagi membiarkan pria mana pun mengendalikan hidupnya. "Sedang apa kamu di sini, Rian?" tanya Kinara datar sambil merapikan blazer abu-abunya. "Ini area terbatas perusahaan. Orang luar tidak bisa masuk sembarangan." Rian terlihat tersinggung. "Orang luar? Kamu menyebut mantan suamimu sendiri sebagai orang luar, Kinara? Angkuh sekali kamu. Merasa hebat sekarang hanya karena jabatan yang diberikan ayahmu itu?" "Kita sudah resmi bercerai tiga tahun lalu secara hukum," pangkas Kinara cepat, melipat kedua tangan di dada. Menatap datar mantan suaminya. "Jadi ya, kamu adalah orang luar. Kalau ada urusan bisnis, hubungi admin divisiku. Kalau tidak ada, silakan pergi." Sejak melihat chat mesra yang ia temukan tiga tahun lalu di ponsel pria itu, Kinara sudah lama membuang nama Rian dari daftar prioritas di hidupnya. Semua telah ia kubur bersama cincin kawinnya. Sekarang, pria itu datang lagi hanya untuk membuat jam kerjanya berantakan. Rian tertawa sumbang, melangkah mendekat dengan gaya arogan yang biasa ia gunakan untuk menundukkan Kinara dulu. "Aku datang ke sini bukan untuk urusan bisnis," ujar Rian dengan nada melunak, namun terkesan sangat merendahkan. "Aku datang untuk memberi kamu kesempatan kedua. Kita rujuk!" Kinara terdiam sejenak. Alisnya bertaut pelan. "Rujuk? Kamu bercanda?" "Aku bicara serius, Kinara. Aku tahu hidup sebagai janda di lingkungan korporat itu berat. Kamu dipandang sebelah mata oleh orang-orang, digosipkan sana-sini, dan harus membesarkan Arka sendirian. Kasihan anak kita. Dia butuh sosok seorang ayah." Kinara menghela napas pelan. Lagi-lagi soal statusnya. Ia sudah terlalu sering mendengar varian cibiran yang sama. Menjadi janda di usia muda dengan posisi tinggi sebagai senior manager tidak semudah yang dibayangkan. Setiap hari, ia harus berhadapan dengan tatapan meremehkan para jajaran direksi yang meragukan kemampuannya. Belum lagi, banyak bisik-bisik miring dari rekan kerja yang sering menudingnya naik jabatan karena dia anak Presdir perusahaan. Banyak yang mencibirnya tak memiliki kemampuan untuk jabatannya saat ini. Bahkan menyinggung status janda miliknya sebagai salah satu kegagalan terbesar. Kinara sudah terbiasa menghadapi semua itu. Ia tidak membuang energi untuk tersinggung. Ia hanya menatap Rian lurus. “Aku menolak,” ujar Kinara. “Ada hal lain? Jika tidak, silakan pergi. Jangan bawa-bawa nama Arkana ke dalam masalahmu sendiri.” Raut wajah Rian mengeras, topeng keramahannya terkelupas seketika. "Dengar, Kinara," suara Rian merendah penuh nada ancaman. "Bisnis keluargaku sedang butuh dana, dan ayahmu pasti tak akan membiarkan menantunya melarat. Kalau kita rujuk, reputasimu akan bersih. Kamu tidak jadi janda lagi. Aku sudah dengar, orang-orang selalu mencibir status jandamu, kan? Ini penawaran menguntungkan untuk kita berdua." Kinara menatap Rian lama. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak berubah. Selalu menganggap wanita yang dijadikan istri sebagai alat untuk mencapai kepentingannya sendiri. Dulu, Rian menelantarkannya demi selingkuhan, dan kini setelah bangkrut, ia datang berlagak menjadi pahlawan pembersih nama baik. Padahal yang Rian ingin memanjat lewat status Kinara sebagai putri seorang Presdir. Bagaimana mungkin seseorang tak punya cermin untuk melihat dirinya sendiri? Sungguh menjijikkan. "Kamu benar-benar tidak berubah, Rian. Selalu egois dan licik," komentar Kinara, ia menghela napas pelan. "Aku tidak butuh laki-laki untuk menopang hidupku. Aku tidak butuh kamu untuk membesarkan Arka. Dan aku sama sekali tidak butuh pria tidak berguna seperti kamu untuk menjaga reputasiku. Aku mampu berdiri sendiri." Tentu saja, penolakan itu langsung membakar ego Rian. Pria itu mendadak maju dan mencengkeram pergelangan tangan Kinara dengan kuat. "Kamu cuma janda tua, tidak usah sok jual mahal!" bentaknya. "Tanpa status pernikahan, kamu itu tidak ada harganya, cuma tunggu waktu buat dijatuhkan dari kursi manajermu itu! Kamu butuh aku!" Emosi Kinara yang dari tadi berusaha ditekan, akhirnya lepas saat hinaan itu meluncur begitu saja dari mantan suaminya. Sudah tiga tahun ia berjuang mati-matian agar orang lupa akan status janda itu, tiga tahun membuktikan bahwa semua ini berkat usaha kerja kerasnya. Orang-orang berpikir ia naik jabatan jalur dalam, padahal ditekan habis-habisan oleh ayahnya. Harus bekerja lebih keras daripada orang lain di perusahaan. Rian yang tak tahu apa-apa seenaknya menindas harga dirinya. "Lepaskan tanganku!" perintah Kinara murka, mencoba menghempaskan cengkeraman Rian. "Rian, lepaskan. Aku bisa panggil security sekarang juga!" "Panggil saja! Mari kita buat skandal sekalian, agar semua orang melihat betapa tak tahu dirinya—" Sebuah suara bernada berat dan tenang mendadak memotong kalimat Rian dari arah belakang. "Maaf, Pak. Sepertinya Anda terlalu kasar pada seorang wanita." Sebelum Rian sempat menoleh, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangan Rian yang sedang menahan Kinara. Dengan sekali dorongan dan puntiran keras yang menyakitkan, pria asing itu memaksa Rian melepaskan cengkeramannya. "Agh!" Rian meringis kesakitan sambil melangkah mundur dua tindak. "Siapa kamu?! Berani-beraninya campur tangan!" Kinara langsung mundur, mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Di sampingnya, berdiri seorang pria muda bertubuh jangkung dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu menatap Rian tajam, berdiri memasang badan di depan Kinara. "Saya staf baru di divisi pengembangan bisnis. Anak magang baru untuk belajar di kantor ini," jawab pria muda itu santai sambil menunjukkan ID Card-nya. "Nama saya Leo. Dan tugas saya pagi ini adalah memastikan sampah tak diundang ini tidak mengotori lorong kerja yang dipimpin ibu manajer kami."Chapter 93Zara’s POVFew weeks on, the moving truck arrived on a crisp Saturday morning. Not that I had much to move. A year of living in Green’s apartment hadn’t accumulated much beyond Phoenix’s toys and my clothes. Everything fit into a dozen boxes.“Are you sure about this?” Green asked, watching the movers load the last box. “You’re always welcome to stay here, you know. For as long as you need.”“I know. And I love you for that.” I adjusted Phoenix on my hip. He was fascinated by the moving truck, pointing and babbling excitedly. “But it’s time. Time to build something stable for Phoenix. Time to really start over.”“With your mom.”“With my mom,” I repeated, still getting used to saying it. “She has that huge mansion with more rooms than she knows what to do with. And she wants us there. She wants to be part of Phoenix’s life. Part of my life.”Green hugged me carefully, mindful of Phoenix between us. “I’m going to miss having you down the hall.”“I’m not disappearing. I’ll vi
Chapter 92Zara’s POVThe week after Josephine’s big reveal to me felt like living in a dream. I kept looking at the check, at the company documents, at my bank account that now had numbers I’d never imagined seeing. It didn’t feel real.But there was something else weighing on my mind. Something I needed to do.The money from Josh’s assets. Ten million dollars sitting untouched in an account because I’d never been able to bring myself to use it. It had felt like blood money, like profiting from loss, like accepting payment for pain.Now, with Josephine’s gift securing Phoenix’s future and mine, I finally knew what to do with it.I spent two days researching charities. Organizations that helped abuse survivors. Shelters for women escaping domestic violence. Programs that provided therapy for trauma victims. Legal aid funds for people trapped in abusive situations.I divided the ten million among fifteen different charities, carefully calculating how much each one would receive. Then I
Chapter 91Zara’s POVI called everyone the next morning. Green, Ovee, Maya, and even Emma. I needed them all to hear this in person, to share in what felt like the most surreal moment of my life.“Emergency meeting at my place,” I’d said. “Eleven o’clock. I have news.”Now they were all crowded into Green’s living room, which I was still calling home until I figured out what to do next. Phoenix was playing with his blocks in the corner while everyone looked at me expectantly.“So what’s the big news, is she your mother?” Green asked, practically bouncing in her seat. “You sounded so excited on the phone.”I took a deep breath. “I found my biological mother.”Silence.Then everyone started talking at once.“What?”“Are you serious?”I held up my hands, laughing. “Let me tell you everything.I told them everything. About the DNA test. About the results confirming she was my mother. About spending yesterday at her mansion hearing her story and telling her mine.“Oh my God, Zara,” Maya s
Chapter 90Zara’s POVThe inside of the mansion was even more impressive than the outside. High ceilings with crystal chandeliers, marble floors that gleamed under the afternoon light, artwork that looked like it belonged in museums. Everything was elegant and tasteful, speaking to wealth I’d only ever seen in magazines.“Please, sit,” Josephine said, leading me into a spacious living room with plush cream-colored sofas and floor-to-ceiling windows overlooking the gardens. “Make yourself comfortable. Can I get you anything? Water? Tea? Coffee?”“I’m okay, thank you.”“Actually, you know what? Let me have something prepared for you. Have you eaten lunch?”Before I could answer, Josephine walked to the doorway and called out, “Daniella!”A woman in her sixties appeared, wearing a simple uniform. “Yes, Mrs. Adams?”“Daniella, this is my daughter, Zara.” Josephine’s voice broke slightly on the word ‘daughter,’ like she still couldn’t quite believe it was real.Daniella’s eyes widened. “Yo












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan