MasukEmily sadar bahwa dirinya hanyalah istri kedua dari Arnold, pria yang sudah lama ia cintai. Hanya saja, ia begitu pedih karena setiap malam Arnold menjadikannya boneka pemuas dan mesin pencetak ahli warisnya. Hingga kejadian tak terduga antara Emily dan CEO itu membuat semuanya berubah.... Kejadian apakah itu? Mampukah Emily bertahan dan melanjutkan pernikahannya? Di sisi lain, bagaimana perasaan Arnold sebenarnya?
Lihat lebih banyakHari-hari berlalu dengan cepat. Emily menjalani kehamilan keduanya dengan kondisi fisik yang tidak semudah sebelumnya. Rasa lelah, mual di pagi hari, hingga perubahan suasana hati yang tiba-tiba sering membuatnya merasa rapuh. Namun kali ini, ia tidak merasa sendiri. Arnold jauh lebih sigap, bahkan sering kali lebih cerewet dari Nyonya Ruby dalam menjaga kesehatan istrinya.“Jangan makan pedas dulu, nanti perutmu mulas,” kata Arnold suatu sore ketika melihat Emily mencoba mengambil sambal di meja makan.Emily mendengus gemas. “Arnold, aku hanya ingin sedikit saja. Bayangkan, seharian aku muntah, ini satu-satunya yang bisa bikin nafsu makan kembali.”Arnold menghela napas panjang. “Baiklah, tapi hanya satu sendok, ya? Jangan lebih. Kalau sampai kamu sakit, aku yang panik setengah mati.”Nyonya Ruby yang duduk di seberang meja hanya tersenyum melihat keduanya. “Kalian berdua persis anak-anak. Saling ribut tapi tidak bisa dipisahkan.”Meski sering adu mulut kecil, Emily tahu betul bahwa
“Bisa-bisa istrimu pingsan, Arnold!” Nyonya Ruby terkekeh sambil melirik sang cucu dan Arnold pun ikut tertawa. Setelah puas berbincang dan memastikan Cassie terlelap dengan tenang, Arnold akhirnya kembali ke kamarnya. Ia menarik napas lega ketika melihat Emily sudah tidur dengan posisi normal, tak lagi membelakanginya seperti beberapa malam sebelumnya. Wajahnya terlihat jauh lebih damai. Arnold mendekat, duduk di sisi ranjang, lalu menatap wajah istrinya yang tertidur. Dengan hati-hati ia mengusap helai rambut yang jatuh di kening Emily. “Terima kasih… karena sudah memberiku kebahagiaan yang berlipat,” bisiknya lirih. “Mungkin ini berat untukmu, tapi aku janji akan menemanimu melewati masa-masa sulit ini.” Dikecupnya kening Emily penuh kelembutan, lalu rasa lelah akhirnya menyeret Arnold ikut terlelap di sisinya. *** Keesokan paginya, Emily bangun lebih awal. Ada rasa rindu yang menuntunnya melangkah menuju kamar Nyonya Ruby, ingin segera menengok putri kecilnya. Ia mengetuk
Emily lebih banyak diam setelah tahu dirinya kembali hamil. Pikirannya bercampur aduk, tubuhnya pun terasa lebih cepat lelah dari biasanya. Yang membuat hatinya makin sedih, Cassie menolak minum ASI langsung darinya. Setiap kali didekatkan, Cassie hanya merengek, lalu menepis lembut seolah enggan.Demi kebaikan Cassie dan juga Emily, Nyonya Ruby akhirnya memberikan saran."Lebih baik Cassie diberi susu formula saja, Em. Dengan begitu lebih mudah juga untuk babysitter nanti membantu merawat Cassie. Apalagi trimester pertama kehamilanmu pasti berat."Nada suara Nyonya Ruby lembut, penuh pertimbangan.Emily hanya mengangguk lemah. Ia tahu mertuanya benar, meski tetap saja ada perasaan bersalah dalam hatinya karena tak bisa lagi memberi ASI langsung."Ma, Emily mau istirahat dulu," ucap Emily lirih setelah selesai makan malam. Tubuhnya sudah benar-benar lelah."Istirahatlah, Nak. Cassie biar Mama yang jaga malam ini," jawab Nyonya Ruby dengan penuh kasih.Malam itu, Nyonya Ruby memutuskan
"itu, ini maksudnya buat Cassie. Kan Cassie masih makan darimu, masih minum ASI-mu, jadi secara tidak langsung vitamin itu juga masuk ke dalam tubuh Cassie."Nada suara Nyonya Ruby lembut, penuh perhatian seperti biasa.Emily menganggukkan kepalanya pelan. Ia tahu betul, wanita paruh baya itu memang selalu begitu. Sejak dulu, sejak kehamilan pertamanya yang berakhir dengan kehilangan, Nyonya Ruby tidak pernah berhenti memperhatikannya. Hampir setiap bulan membawakan vitamin, suplemen, bahkan makanan bergizi, seolah ingin memastikan menantunya tidak kekurangan apa pun."lihat, cucuku kehausan. Beri ASI dulu," ucap Nyonya Ruby sambil menyodorkan Cassie kecil yang merengek.Emily segera menyambut bayinya. Dengan hati-hati ia menyusui Cassie. Tangisan mungil itu perlahan mereda, berganti dengan suara isapan kecil yang tenang. Emily tersenyum samar, perasaan lelahnya sedikit terobati setiap kali melihat wajah polos putrinya.Setelah Cassie tertidur dengan kenyang, Nyonya Ruby kembali menga
Emily tidur pulas di sofa, tubuh mungilnya meringkuk dengan wajah damai. Rambutnya tergerai lembut di atas bantal kecil, napasnya terdengar teratur, seakan semua lelah yang ia simpan selama ini terhapus untuk sesaat. Di sisi lain, Arnold duduk di balkon, menatap langit senja yang perlahan berubah g
Sinar matahari menyusup lembut melalui celah horden, memantulkan cahaya keemasan yang hangat ke seluruh ruangan. Emily menggeliat pelan di atas kasur, mencoba mengusir rasa kantuk yang masih menempel. Begitu matanya terbuka, kesadarannya langsung terarah pada satu hal—Cassie. Jantungnya berdetak le
Arnold menepuk-nepuk pelan pipi Emily, jantungnya berdetak kencang, matanya membelalak cemas melihat wajah istrinya yang pucat dan tak merespons. "Emily... bangun, sayang," bisiknya lirih dengan nada panik.Sementara itu, tangisan Cassie terdengar semakin keras. Bayi mungil itu menggeliat di peluka
‘Pasti ini kerjaan Tuan Arnold,’ ucap Robert dalam hati, sambil sesekali melirik Gwen yang terlihat gugup. Di sisi lain, Robert merasa kesal—karena merasa "dijebak" oleh Arnold—namun juga bahagia, karena bisa duduk kembali bersama Gwen, wanita yang masih sangat ia cintai. Perasaan yang lama dia ku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak