LOGINMakin menjadi aja kan ini para buzzer Geza. Total banget mereka buat ngelawan Tala wkwkwk
Sambil menunggu jemputan seaplane, Tala menyempatkan diri melakukan video call dengan Sansa yang sedang les. Gadis kecil itu ditemani Geza dan Bude Sinta, sementara Tala bercuap-cuap heboh dari balik layar, menanyakan apa yang sudah dipelajari dan memamerkan sedikit suasana di bandara.Geza sendiri nyaris tak bereaksi. Pria itu hanya sesekali melengos, lebih banyak fokus pada ponselnya. Sejak Tala berangkat, Geza seperti benar-benar menjalankan perannya sebagai suami yang profesional—bahkan sudah mem-block Tala sepenuhnya dari perhatiannya.“Ya sudah, enjoy, ya,” kata Bude Sinta sebelum mengakhiri panggilan.Tala tersenyum. “Iya, Bude. Titip Sansa.”Begitu layar mati, Tala mengembuskan napas.Amika masih sibuk dengan ponselnya, dikelilingi satu koper besar, sebuah tas medium dan sebuah duffel bag yang jumlahnya tetap terasa berlebihan untuk perjalanan lima hari.Tala melirik barang-barang itu. “Mik, kita liburan lima hari. Bukan pindahan.”Amika bahkan tak mengangkat kepala. “Gue butuh
Pekerjaan Tala minggu ini justru terasa jauh lebih menumpuk karena nanti ia akan meninggalkan kantor selama tiga hari. Sebagai komisaris, ia memang tidak turun langsung mengurus pekerjaan operasional, tetapi tetap harus meninjau beberapa hal penting sebelum pergi—laporan kinerja, perkembangan proyek, keputusan investasi, serta beberapa dokumen yang membutuhkan persetujuan dan pengawasan dewan.Ia tak mau meninggalkan pekerjaan dalam keadaan menggantung, apalagi selama tiga hari ke depan ia akan sulit dihubungi.Untuk trip itu, mereka akan berangkat Sabtu pagi dari Jakarta menuju Batam. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan seaplane yang sudah diatur pihak resort menuju Pulau Bawah.“Mbak Tala, sumpah deh, aku ngiler pengin ikut,” kata Sania sambil membantu Tala memeriksa dokumen yang menumpuk di meja.“Ini karena Amika kepalang booking aja sih, San. Aku tuh nggak bisa berenang, sumpah. Takut semua aktivitas air.” Tala menandai satu halaman. “Tapi tempatnya cantik banget, jadi ya...
Tala baru saja mengirimkan pesan kepada Geza bahwa ia akan pergi trip bersama Amika, satu jam berlalu belum ada balasan.Setelah sembuh, pria itu kembali tenggelam dalam pekerjaan. Tak ada yang berubah dari dinamika mereka, meski saat sakit Geza sempat sangat clingy. Namun begitu pulih, ia kembali formal, berjarak, dan profesional seperti yang sudah mereka jalani selama dua bulan terakhir.Hari ini pun pria itu masih sibuk lembur di kantor. Seharian kemarin meskipun hari minggu Tala bahkan tak melihatnya sama sekali.Balasan pesan itu tiba-tiba masuk, singkat.Iya, silakan.Tala mengembus napas pelan saat membacanya. Entah kenapa, jawaban sesingkat itu justru membuat dadanya terasa ganjil.Melihat Tala masihh termenung di kitchen island, bude Sinta pun menghampiri.“Tala, kenapa?” Bude Sinta melirik ponsel di tangannya. “Geza nggak ngizinin kamu pergi?” tanyanya khawatir.Tala memang sudah bercerita soal agenda itu kepada Bude Sinta, meski sempat canggung mengingat bujetnya yang fanta
Pulang dari pertemuannya dengan Alleya, Tala menyempatkan diri menemui Amika di salah satu salon langganan mereka. Tak biasanya di akhir pekan seperti ini Amika tak punya agenda apa pun bersama Bastian. Apa mereka masih bertengkar seperti yang Amika ceritakan minggu lalu?Rambut Amika kini sedang dicat espresso brown, warna cokelat gelap yang membuat kulit tan-nya terlihat semakin hangat. Dipadukan dengan tubuh semampai dan berisi, penampilannya sekilas mengingatkan Tala pada model Latina yang sensual—eksotis, mahal, dan terlalu percaya diri untuk sekadar disebut cantik.“Mbak, teman saya yang ini kasih warna ini aja. Cocok nggak?” tanya Amika kepada salah satu staf salon tepat saat Tala menjatuhkan tubuhnya ke kursi di sebelahnya.“Eh, nggak. Gue nggak mau cat rambut,” kilah Tala.“Cat lah. Sekali-sekali suasana baru.” Amika langsung menoleh, matanya berbinar.“Gue tuh udah gatel pengen rombak lo biar makin aduhai. Biar pas trip nanti kita benar-benar fresh. Gue mau bikin konten.” Nad
Hal buruk yang menempel pada Tala setelah keluar dari firma—dan justru semakin parah setelahnya—adalah kebiasaannya overthinking dan rasa tidak percaya diri. Denial menjadi tembok paling aman baginya. Setiap kali disodori fakta yang tak ingin ia terima, nalurinya selalu mencari celah untuk membantah.Termasuk soal Alleya.Tala butuh bukti untuk benar-benar percaya. Selama bukti itu tidak ada, keraguan akan terus berputar di kepalanya. Karena itulah, diam-diam ia pernah menghubungi Alleya lewat media sosial. Hanya sapaaan pada umumnya, basa-basi soal kabar.Tak ada balasan.Sampai dua hari lalu, pesan itu akhirnya dibalas—tepat ketika rasa penasaran Tala sudah mereda. Toh, apa pun jawaban Alleya, rasanya tak akan banyak mengubah keputusan yang sudah ia bulatkan.Kebetulan suami Alleya sedang berdinas di Jakarta, jadi Alleya lebih dulu mengajaknya bertemu. Tala pun menerima ajakan itu sekalian melepas rindu karena sudah bertahun-tahun tak bertemu.Tala sendiri masih tak yakin apakah haru
Bude Sinta yang baru pulang dari trip bersama teman-teman kuliahnya langsung datang ke rumah begitu tahu Geza sakit. Kini ia sibuk membuatkan jamu, sementara Tala membantunya memotong rempah-rempah yang dibutuhkan.Diam-diam, yang Tala khawatirkan dari kedatangan Bude Sinta bukan soal Geza, melainkan pertanyaan tentang hubungan mereka yang belakangan merenggang. Untungnya, Tala berhasil mengalihkan pembicaraan ke perjalanan Bude Sinta kemarin.“Aku awalnya nggak sadar itu Bude, lho. Cuma lihat rombongan ibu-ibu yang tiktokan pakai jaket branded dan lucu semua, kompak banget.””Nggak nyangka teman kuliahnya Bude seseru itu.”“Ya begitulah. Marni memang teman Bude yang paling centil dari zaman dulu.” Bude Sinta terkekeh. “Cocok sekarang jadi selebtok.”Tala ikut tertawa kecil. Awalnya ia hanya melihat video rombongan ibu-ibu itu lewat di FYP. Namun setelah membuka profilnya, barulah ia tahu bahwa akun tersebut ternyata cukup terkenal di TikTok dengan puluhan ribu pengikut.“Bude mau jad
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan







