LOGINPulang dari pertemuannya dengan Alleya, Tala menyempatkan diri menemui Amika di salah satu salon langganan mereka. Tak biasanya di akhir pekan seperti ini Amika tak punya agenda apa pun bersama Bastian. Apa mereka masih bertengkar seperti yang Amika ceritakan minggu lalu?Rambut Amika kini sedang dicat espresso brown, warna cokelat gelap yang membuat kulit tan-nya terlihat semakin hangat. Dipadukan dengan tubuh semampai dan berisi, penampilannya sekilas mengingatkan Tala pada model Latina yang sensual—eksotis, mahal, dan terlalu percaya diri untuk sekadar disebut cantik.“Mbak, teman saya yang ini kasih warna ini aja. Cocok nggak?” tanya Amika kepada salah satu staf salon tepat saat Tala menjatuhkan tubuhnya ke kursi di sebelahnya.“Eh, nggak. Gue nggak mau cat rambut,” kilah Tala.“Cat lah. Sekali-sekali suasana baru.” Amika langsung menoleh, matanya berbinar.“Gue tuh udah gatel pengen rombak lo biar makin aduhai. Biar pas trip nanti kita benar-benar fresh. Gue mau bikin konten.” Na
Hal buruk yang menempel pada Tala setelah keluar dari firma—dan justru semakin parah setelahnya—adalah kebiasaannya overthinking dan rasa tidak percaya diri. Denial menjadi tembok paling aman baginya. Setiap kali disodori fakta yang tak ingin ia terima, nalurinya selalu mencari celah untuk membantah.Termasuk soal Alleya.Tala butuh bukti untuk benar-benar percaya. Selama bukti itu tidak ada, keraguan akan terus berputar di kepalanya. Karena itulah, diam-diam ia pernah menghubungi Alleya lewat media sosial. Hanya sapaaan pada umumnya, basa-basi soal kabar.Tak ada balasan.Sampai dua hari lalu, pesan itu akhirnya dibalas—tepat ketika rasa penasaran Tala sudah mereda. Toh, apa pun jawaban Alleya, rasanya tak akan banyak mengubah keputusan yang sudah ia bulatkan.Kebetulan suami Alleya sedang berdinas di Jakarta, jadi Alleya lebih dulu mengajaknya bertemu. Tala pun menerima ajakan itu sekalian melepas rindu karena sudah bertahun-tahun tak bertemu.Tala sendiri masih tak yakin apakah haru
Bude Sinta yang baru pulang dari trip bersama teman-teman kuliahnya langsung datang ke rumah begitu tahu Geza sakit. Kini ia sibuk membuatkan jamu, sementara Tala membantunya memotong rempah-rempah yang dibutuhkan.Diam-diam, yang Tala khawatirkan dari kedatangan Bude Sinta bukan soal Geza, melainkan pertanyaan tentang hubungan mereka yang belakangan merenggang. Untungnya, Tala berhasil mengalihkan pembicaraan ke perjalanan Bude Sinta kemarin.“Aku awalnya nggak sadar itu Bude, lho. Cuma lihat rombongan ibu-ibu yang tiktokan pakai jaket branded dan lucu semua, kompak banget.””Nggak nyangka teman kuliahnya Bude seseru itu.”“Ya begitulah. Marni memang teman Bude yang paling centil dari zaman dulu.” Bude Sinta terkekeh. “Cocok sekarang jadi selebtok.”Tala ikut tertawa kecil. Awalnya ia hanya melihat video rombongan ibu-ibu itu lewat di FYP. Namun setelah membuka profilnya, barulah ia tahu bahwa akun tersebut ternyata cukup terkenal di TikTok dengan puluhan ribu pengikut.“Bude mau jad
Tala terkekeh canggung. Entah kenapa, rasanya Geza sengaja membiarkan pembicaraan itu mengarah ke sana.“Nggak ada hubungannya kali, Vin. Nggak ngaruh. Kerjaan ya kerjaan, buat skala perusahaan kalian yang segede itu ya tetep bakal banyak,” balas Tala diplomatis.“Kata siapa nggak berpengaruh?” Geza menyahut tenang.“Kamu seberpengaruh itu buat saya.”“Mas Geza!”Arvin yang sejak tadi memperhatikan keduanya langsung terkekeh. “Tuh, kan, Mbak. Saya tuh selalu berdoa semoga kalian langgeng dan bahagia terus.”Ia mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan ekspresi dramatis.“Soalnya kalau kalian nggak bahagia, taruhannya nyawa saya sama satu tim, Mbak. Kami yang bakal kena imbasnya.”Tala terdiam. Jangan-jangan ini juga bagian dari trik Geza? Meminta bala bantuan untuk mengubah keputusan cerainya? Huh. Menyebalkan.“Mas, please deh. Yang profesional,” tegur Tala, menyorot Geza sebal.“Of course. Profesional, sesuai kemauan kamu.” Geza mengangkat alis tipis. “Sesuai kesepakatan. Sesuai
Pagi datang, dan saat membuka mata, Tala mendapati Geza sudah lebih dulu terjaga. Pria itu berbaring menyamping, menatapnya lurus.“Udah baikan?” tanya Tala sambil mengusap matanya.“Lumayan.” balas Geza, suaranya sedikit sengau terlihat pilek.“Semalam aku udah kontak Rena. Jadwal kamu juga udah diatur. Jadi hari ini istirahat aja,” ujar Tala.Geza mengangguk pelan.“Aku berangkat lebih pagi hari ini. Nanti Bi Yuni bikinin sarapan. Mau sup lagi atau bubur?” tanya Tala.“Bubur bikinan kamu. Yang kayak bikinan Mbak Jani,” jawab Geza.“Oke. Nanti aku bikinin sebelum berangkat.”Tala baru hendak bangkit ketika tangan Geza terulur, menahan pergelangan tangannya.“Ta, di sini aja.”Tala menoleh. “Aku kerja.”“Kerjaan kamu bisa diatur.” Geza melepas tangannya perlahan, lalu bersandar pada headboard. “Minta tolong Sania atur jadwal kamu hari ini.”Nada suaranya terdengar santai, tetapi tatapannya seolah tak menerima banyak ruang untuk dibantah.“Nggak bisa, Geza. Nanti Bi Yuni bisa bantu kam
Pulang dari Janitra, Tala mendapati Sansa sudah tertidur pulas. Kata Sus Lia, Geza langsung masuk kamar begitu pulang sekitar pukul tujuh dan melewatkan makan malam. Pria itu juga terlihat kurang fit, hanya sempat meminta Sus Lia menemani Sansa sampai tidur.Tala akhirnya berdiri di depan pintu kamar Geza. Ia sempat ragu, tak tahu akan mendapat respons seperti apa setelah belakangan ini mereka menjaga jarak.“Geza, kamu nggak makan?” panggilnya.Hening.Tala mengetuk sekali lagi. Tetap tak ada sahutan. Akhirnya ia membuka pintu sendiri. Terserah kalau nanti Geza marah.Di atas ranjang, Geza meringkuk di balik selimut, hanya sebagian wajahnya yang terlihat.“Za?” panggil Tala pelan.Tak ada respons. Tala melangkah mendekat, lalu menarik sedikit ujung selimut.Tubuh pria itu menggigil. Wajahnya pucat, napasnya berat, dan dahinya terasa panas saat punggung tangan Tala menyentuhnya.“Ya ampun, Geza...” Tala spontan menarik tangannya. “Kamu sakit?”Bibir pria itu bergerak lemah.“Ta... hau
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh







