Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 155- Temu Kangen

Share

155- Temu Kangen

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-08-20 13:56:36
Hal buruk yang menempel pada Tala setelah keluar dari firma—dan justru semakin parah setelahnya—adalah kebiasaannya overthinking dan rasa tidak percaya diri. Denial menjadi tembok paling aman baginya. Setiap kali disodori fakta yang tak ingin ia terima, nalurinya selalu mencari celah untuk membantah.

Termasuk soal Alleya.

Tala butuh bukti untuk benar-benar percaya. Selama bukti itu tidak ada, keraguan akan terus berputar di kepalanya. Karena itulah, diam-diam ia pernah menghubungi Alleya lewat m
Sora Carita

Ini buzzer Geza gak abis-abis ya, banyak sekaleee apa gak makin keguncang itu Tala? wkwkwk Enjoy guys

| 5
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Sora Carita
Para buzzernya geza itu ahahaha makin banyak deh tuh bala bantuan
goodnovel comment avatar
naraaa
ini yang komen dibayar gezaa keknyaa HAHAHA
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
mau cari suami yg modelan gimana lagi sih talaaaaa...udah sesayang itu lo mas ejanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   156- Rencana Trip

    Pulang dari pertemuannya dengan Alleya, Tala menyempatkan diri menemui Amika di salah satu salon langganan mereka. Tak biasanya di akhir pekan seperti ini Amika tak punya agenda apa pun bersama Bastian. Apa mereka masih bertengkar seperti yang Amika ceritakan minggu lalu?Rambut Amika kini sedang dicat espresso brown, warna cokelat gelap yang membuat kulit tan-nya terlihat semakin hangat. Dipadukan dengan tubuh semampai dan berisi, penampilannya sekilas mengingatkan Tala pada model Latina yang sensual—eksotis, mahal, dan terlalu percaya diri untuk sekadar disebut cantik.“Mbak, teman saya yang ini kasih warna ini aja. Cocok nggak?” tanya Amika kepada salah satu staf salon tepat saat Tala menjatuhkan tubuhnya ke kursi di sebelahnya.“Eh, nggak. Gue nggak mau cat rambut,” kilah Tala.“Cat lah. Sekali-sekali suasana baru.” Amika langsung menoleh, matanya berbinar.“Gue tuh udah gatel pengen rombak lo biar makin aduhai. Biar pas trip nanti kita benar-benar fresh. Gue mau bikin konten.” Na

  • Sebelum Tiga Tahun   155- Temu Kangen

    Hal buruk yang menempel pada Tala setelah keluar dari firma—dan justru semakin parah setelahnya—adalah kebiasaannya overthinking dan rasa tidak percaya diri. Denial menjadi tembok paling aman baginya. Setiap kali disodori fakta yang tak ingin ia terima, nalurinya selalu mencari celah untuk membantah.Termasuk soal Alleya.Tala butuh bukti untuk benar-benar percaya. Selama bukti itu tidak ada, keraguan akan terus berputar di kepalanya. Karena itulah, diam-diam ia pernah menghubungi Alleya lewat media sosial. Hanya sapaaan pada umumnya, basa-basi soal kabar.Tak ada balasan.Sampai dua hari lalu, pesan itu akhirnya dibalas—tepat ketika rasa penasaran Tala sudah mereda. Toh, apa pun jawaban Alleya, rasanya tak akan banyak mengubah keputusan yang sudah ia bulatkan.Kebetulan suami Alleya sedang berdinas di Jakarta, jadi Alleya lebih dulu mengajaknya bertemu. Tala pun menerima ajakan itu sekalian melepas rindu karena sudah bertahun-tahun tak bertemu.Tala sendiri masih tak yakin apakah haru

  • Sebelum Tiga Tahun   154- Melindungi

    Bude Sinta yang baru pulang dari trip bersama teman-teman kuliahnya langsung datang ke rumah begitu tahu Geza sakit. Kini ia sibuk membuatkan jamu, sementara Tala membantunya memotong rempah-rempah yang dibutuhkan.Diam-diam, yang Tala khawatirkan dari kedatangan Bude Sinta bukan soal Geza, melainkan pertanyaan tentang hubungan mereka yang belakangan merenggang. Untungnya, Tala berhasil mengalihkan pembicaraan ke perjalanan Bude Sinta kemarin.“Aku awalnya nggak sadar itu Bude, lho. Cuma lihat rombongan ibu-ibu yang tiktokan pakai jaket branded dan lucu semua, kompak banget.””Nggak nyangka teman kuliahnya Bude seseru itu.”“Ya begitulah. Marni memang teman Bude yang paling centil dari zaman dulu.” Bude Sinta terkekeh. “Cocok sekarang jadi selebtok.”Tala ikut tertawa kecil. Awalnya ia hanya melihat video rombongan ibu-ibu itu lewat di FYP. Namun setelah membuka profilnya, barulah ia tahu bahwa akun tersebut ternyata cukup terkenal di TikTok dengan puluhan ribu pengikut.“Bude mau jad

  • Sebelum Tiga Tahun   153- Soal Trust Issue

    Tala terkekeh canggung. Entah kenapa, rasanya Geza sengaja membiarkan pembicaraan itu mengarah ke sana.“Nggak ada hubungannya kali, Vin. Nggak ngaruh. Kerjaan ya kerjaan, buat skala perusahaan kalian yang segede itu ya tetep bakal banyak,” balas Tala diplomatis.“Kata siapa nggak berpengaruh?” Geza menyahut tenang.“Kamu seberpengaruh itu buat saya.”“Mas Geza!”Arvin yang sejak tadi memperhatikan keduanya langsung terkekeh. “Tuh, kan, Mbak. Saya tuh selalu berdoa semoga kalian langgeng dan bahagia terus.”Ia mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan ekspresi dramatis.“Soalnya kalau kalian nggak bahagia, taruhannya nyawa saya sama satu tim, Mbak. Kami yang bakal kena imbasnya.”Tala terdiam. Jangan-jangan ini juga bagian dari trik Geza? Meminta bala bantuan untuk mengubah keputusan cerainya? Huh. Menyebalkan.“Mas, please deh. Yang profesional,” tegur Tala, menyorot Geza sebal.“Of course. Profesional, sesuai kemauan kamu.” Geza mengangkat alis tipis. “Sesuai kesepakatan. Sesuai

  • Sebelum Tiga Tahun   152- Kurang Digendong Doang

    Pagi datang, dan saat membuka mata, Tala mendapati Geza sudah lebih dulu terjaga. Pria itu berbaring menyamping, menatapnya lurus.“Udah baikan?” tanya Tala sambil mengusap matanya.“Lumayan.” balas Geza, suaranya sedikit sengau terlihat pilek.“Semalam aku udah kontak Rena. Jadwal kamu juga udah diatur. Jadi hari ini istirahat aja,” ujar Tala.Geza mengangguk pelan.“Aku berangkat lebih pagi hari ini. Nanti Bi Yuni bikinin sarapan. Mau sup lagi atau bubur?” tanya Tala.“Bubur bikinan kamu. Yang kayak bikinan Mbak Jani,” jawab Geza.“Oke. Nanti aku bikinin sebelum berangkat.”Tala baru hendak bangkit ketika tangan Geza terulur, menahan pergelangan tangannya.“Ta, di sini aja.”Tala menoleh. “Aku kerja.”“Kerjaan kamu bisa diatur.” Geza melepas tangannya perlahan, lalu bersandar pada headboard. “Minta tolong Sania atur jadwal kamu hari ini.”Nada suaranya terdengar santai, tetapi tatapannya seolah tak menerima banyak ruang untuk dibantah.“Nggak bisa, Geza. Nanti Bi Yuni bisa bantu kam

  • Sebelum Tiga Tahun   151- Singa Demam

    Pulang dari Janitra, Tala mendapati Sansa sudah tertidur pulas. Kata Sus Lia, Geza langsung masuk kamar begitu pulang sekitar pukul tujuh dan melewatkan makan malam. Pria itu juga terlihat kurang fit, hanya sempat meminta Sus Lia menemani Sansa sampai tidur.Tala akhirnya berdiri di depan pintu kamar Geza. Ia sempat ragu, tak tahu akan mendapat respons seperti apa setelah belakangan ini mereka menjaga jarak.“Geza, kamu nggak makan?” panggilnya.Hening.Tala mengetuk sekali lagi. Tetap tak ada sahutan. Akhirnya ia membuka pintu sendiri. Terserah kalau nanti Geza marah.Di atas ranjang, Geza meringkuk di balik selimut, hanya sebagian wajahnya yang terlihat.“Za?” panggil Tala pelan.Tak ada respons. Tala melangkah mendekat, lalu menarik sedikit ujung selimut.Tubuh pria itu menggigil. Wajahnya pucat, napasnya berat, dan dahinya terasa panas saat punggung tangan Tala menyentuhnya.“Ya ampun, Geza...” Tala spontan menarik tangannya. “Kamu sakit?”Bibir pria itu bergerak lemah.“Ta... hau

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   3- Rumah Bagi Sansaya

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda

  • Sebelum Tiga Tahun   2- Warisan Rumit

    Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k

  • Sebelum Tiga Tahun   1- Kehilangan yang Tak Terduga

    Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status